Tuesday, November 30, 2010

Dialog Imajinasi


"Manusia takkan bisa mengampuni atau memaafkan satu sama lain, tapi mengapa juga dilakukan?"

"Itu karena ingin hati..."

"Yang bisa memaafkan dan mengampuni itu cuman Tuhan!"

"Kalau hati yang ingin mau di apa lagi? hati memang begitu..."

"Manusia itu ada dua sisi baik dan buruk!"

"Lantas?"

"Manusia hanya bisa berdamai"

"Dengan?"

"Manusia hanya bisa berdamai dengan sisi buruknya masing masing..."

"Kalau hati ingin mengucapkan kata maaf atau sesumbar kata dengan maksud tuk mengampuni sesama bagaimana?"

"Biar Tuhan yang maha tahu yang jawab..."

"Saya ajukan pertanyaan ini pada anda, pada diri anda sebagai seorang manusia! Seorang manusia yang tentunya memiliki hati yang sama dengan manusia manusia pada umumnya..."

"Hmmmm..."

"Kenapa?"

"Kalau kata lewat bibir memang mampu di ucapkan sesuka raga inginkan, namun hati? kapas pun dikalah lembut olehnya, kadang kuat bak batu karang... Kata hati siapa yang tahu?"

"Hmmmmm..."

"Kenapa? Karena isi hati cuman Tuhan yang tahu..."

"Mungkin..."

Wednesday, September 15, 2010

God and Me

"I do believe in God, God is the end of human way... I don't believe in any religion, religion make sad, religion make me cant control my own life, religion trap my step, religion make me doesn't know who I'am... I have God but I don't have any religion... I do believe in God but I don't trust any religion... So, I celebrate all of religious festivals in all religions in the whole of world..." Armstrong da Jimmy

Monday, September 13, 2010

Semut Hitam dan Manusia

Mereka berjalan bergerombol dengan sejenis mereka, tak pernah mereka hendak menoleh kebelakang jalan lurus kedepan menuju sebuah tujuan entah kemana. Semut hitam. Entah apa yang membuat mereka jika saling berhadapan dengan sesama semut hitam selalu bersapa satu sama lain, malah terlihat sedang bertukar informasi tentang sesuatu yang cuma mereka yang mengerti, dan setiap perjumpaan dan pertemuan diantara mereka diawali dan diakhiri dengan berjabat tangan. Ah manusia kenapa pula tak meniru mereka.

Semut hitam lebih senang pada segala makanan yang dimakan manusia yang rasanya manis, gula adalah favorit mereka, kata pepatah dimana ada gula disitu ada semut. Semut hitam tak suka mencari masalah, berbeda dengan semut merah yang selalu mencari masalah dengan menggigit manusia terutama, dan jika semut merah menggigit manusia maka mereka akan berakhir dengan kematian tragis, rata dengan kulit tangan manusia lewat sekali hamtam.

Semut hitam, ada yang kecil dan ada yang besar. Layaknya manusia, semut kecil tak nampak ketakutan didalam hidup mereka, mereka tak takut akan kematian saat terinjak oleh kaki manusia atau menjadi sasaran empuk buat binatang lain yang suka makan semut, mereka tetap menunjukkan ke-eksistensian mereka didepan umum. Nampaklah mereka hidup berjalan bergerombol di dinding kamar, ditempat sampah, di toilet, dan ditempat fovorit mereka dapur. Dan semut kecil jika di ambilkan contoh sebagai manusia maka mereka adalah balita menuju remaja, lihat saja istilah jaman sekarang mengenai kenakalan remaja era informatika, dimana mana selalu saja remaja yang mendominasi, di mall, di tanah lapang, di game center, dan tempat yang paling banyak yaitu ditempat hiburan. Mereka para remaja jika menurut Rhoma Irama dalam lagunya 'biasanya para remaja berpikirnya sekali saja tanpa menghiraukan akibatnya...' dan inilah samanya dengan semut hitam kecil, mereka ada dimana mana dan selalu memiliki rasa ingin tahu yang besar.

Semut hitam besar. Biasanya akan kita temuka di halaman rumah, dalam hutan, di atas gunung, dan pekuburan. Mereka lebih sering menggigit manusia, berkelahi dengan sasamanya, dan tak pernah bergerombol dengan sesamanya apalagi bertukar sapa apalagi bertemu di salah satu tempat yang banyak semut hitam besarnya. Sangat mirip mereka dengan manusia dewasa pada umumnya, anak dewasa tak pernah diam berada dalam rumah selalu berkeliaran kemana mana, ada sedikit masalah dengan sesama dewasa diakhiri dengan perkelahian, banyak juga yang senang mencari petualangan dengan naik keatas gunung untuk sebuah ketenangan,jika manusia dewasa jalan jalan bergerombol dengan sesamanya akan merasa tak nyaman karena anggapan kekanak kanakan akan mereka terima, dan manusia dewasa biasanya kelihatan angkuh dan sombong tak kenal maka tak sapa.

Andai semua manusia mau meniru cara hidup semut hitam kecil maka indahnya hidup akan sangat sayang tak nikmati apabila tak membagi rasa peduli dengan sesama walau hanya dengan tiap bertemu sapa dengan sesama manusia saling bertukar seutas senyuman, dan sangat membahagiakan apabila tak usah kenal yang penting sama sama manusia saling berjabat tangan! What a wonderful world!

Cinta akan ada dimana mana. Takkan ada rasisme, fasisme, kolonialisme, apalagi perang. Karena manusia yang tetap saja manusia, warna kulit dan kepercayaan agama takkan menggugah kita untuk saling memusuhi atau merasa jijik karena kita sama sama manusia. Menurut Max Tollenar a.k.a. Multatuli “tugas manusia untuk menjadi manusia”.

Ada dua lagi kelebihan manusia, yang membuat mereka nampak sebagai makhluk hidup paling sempurna di dunia, yaitu hati untuk perasaan dan otak untuk pikiran. Jika manusia mau tahu dan peduli bahwa tiap manusia pasti memiliki perasaan, maka takkan ada lagi rasa iri hati, sombong dan egois, semua manusia tak ingin dianggap egois dan setiap manusia tak ingin orang lain merasa iri hati pada mereka, dan sombong takkan pernah lagi ada karena semua manusia tak ingin melihat orang sombong atau orang lain menyombongkan sesuatu pada mereka. Perasaan akan lebih sensitif untuk melihat manusia lain dalam kesusahan, rasa ingin menolong akan segera merasuki alam sadar mereka untuk segera menolong, itu pasti. Toleransi, tenggang rasa, dan gotong royong yang merupakan simbol abadi rakyat Indonesia namun tak tampak pada masyarakatnya sekarang ini, mengapa? Tak tahu saya. Yang jelas jika kita ingin mengerti perasaan kita sendiri maka secara alamiah akan sama mengertinya kita pada orang lain. Walau orang lain memang memiliki watak yang berbeda beda, namun hati itu pada dasarnya tercipta untuk kebaikan.

Pikiran. Yah lagi lagi jika pikiran mampu kita gunakan dengan baik dan sungguh sungguh, apa yang takkan mungkin kita ciptakan? Kita sudah tahu mana yang harus kita lakukan, dan mana yang harus kita tinggalkan, tinggal cara penerapannya saja yang musti kita pelajari. Buku buku ilmu pengetahuan tentang apa pun ada di dunia ini, sejarah telah melahirkan para ilmuan, para seniman, dan berbagai macam orang luar biasa di dunia ini, dan semuanya ada dalam buku. Memang terkadang susah untuk mencari bukunya, namun sekarang kan sudah jaman modern, tekhnologi berkembang di segala macam bidang. Pikirkan sedikit saja jika kita ini mampu mempelajari apa saja, dan mengajarkan pada orang yang belum tahu. Rene Descartes pernah bilang “aku berfikir maka aku ada”, bagaimana mungkin manusia dikatakan ada jika tak menggunakan pikirannya! Berpikir cara untuk membahagiakan setiap manusia di dunia ini!

Apa yang tak bisa dilakukan jika kita mau belajar? Pelajari sesuatu dari diri sendiri, perasaan dan pikiran. Kemudian pelajari dunia dan mahkluk hidup yang ada di dunia, manusia dan alam yang paling utama.

Salam cinta untuk semua manusia.


Jimmy Armstrong, Purwokerto 13092010, 22:46

Friday, September 10, 2010

Untittled

The colors of the rainbow start to shine after the ends of the rain.

All the things under the skies bloody wet. Thought impossibility if the God of the rain are stay over the seas? Who is them? Poseidon or Neptune? The young brother of Zeus or Jupiter and the elder brother of Hades the underground natural ruler! Hahaha I guess not them. I think there were some incredible thing that would make it! Not because of the mythological Greece God, but maybe there was another God of the God. Someone over there maybe will saying 'why we should care?'

"About water?"

"Yes about water! Did you will say you didn't care about the water?"

"Or about the God?"

"Might several people out there didn't believe the God..."

"About human?"

"Absolutely!"

No water mean no life. No God mean no human. No human mean? mean everything. No human will no story to tell and no something to share. Water bringing life for all the thing above the earth, where the place of human stay alive.

"God?"

"Hmmm where the God staying?"

"No one know, and we shouldn't have to know"

"Why?"

"Because the God life anywhere! The God life in human mind heart and soul"

Human existence...

"What the hell about this one?"

Most of human said "the existence of human shown when they were thinking and the doing something" And another people will saying "I dont care!". Again and again...

So let we choose what we gonna to do and wanna to do...

Wednesday, September 08, 2010

Memories of a Shy Woman

35 years I mourned deeply regret will be the memories, kneeling in a shabby old wicker chair while embroidering. Sometimes I'm waiting for something that has been lost, something has gone for as long as ever. Now I just get through the day today in a lonely, lonely in a never-ending waiting. Here, this wicker chair 35 years ago a man named Karnaen has declared his love for me. But the shock of emotion makes me happy can not utter a word, nervousness makes me upset that I ran into the room and locked it, I closed my face with my hands, my cheeks flushed and I held a deep shame in my heart that either come from anywhere. I stand long enough emotion was mingled happily in the room, because to me it Karnaen same feelings as I feel. Until I realized when Karnaen calling calling my name outside the house near the old wicker chair. I do not know what I must do, my lips locked and the keys seemed to disappear for some where, my body forced my legs to stand up to Karnaen but I think I'm paralyzed.I just sat frozen without a word and do not know what to listen to words of love Karnaen shouted outside the home. Flutter in my chest that whatever its name, seemed suffocating.

My name is Ning, 53 years old I now tread, I was old enough, without companion, without requiring the person I'm happy for my partner to cook food, cook the most delicious food ever made. Only for himself. Karnaen.

War is natural to bring Karnaen eternity, where he's waiting for me until we eventually reunited there. But why did he go so fast, so fast did not have time to bring me into the aisle, biting both above the sacred bond of eternal nan. "It was all because of me, which can not be met said it was time ..." groaned within me, while I cry for the memories. As if the memory was talking to thought.

"That's the shy girl oh memories, you will be missed at that time has long passed ..."

"But he could not understand why the happy glow on my face that indicates that a sense of who I think just as he felt?"

"Humans have a sense of the senses must be stimulated so that they can be used, when your throat's dry then with idle hands and your mouth will work together to drinking water was a little thirsty fleeting ..."

"I think my explanation is too lengthy tele and I do not understand at all!"

"Is it enough in praise of beauty only by the eye? Or food delicacy enjoyed only by the mouth? "Lamented memories

"Well, I was wrong when I and Karnaen met when me and my friend was on the way to school and she came over and said what my answer when he said that he loved me yesterday in front of my house, but not a word that I was able to pronounce, and I hope he does not berpatah zeal in searching whether I love him too ... And indeed I loved him ... "

"One says yes you can change everything and did not throw you in a prolonged remorse over this ..." the final word from memory

The last words from the memory of him waking in reverie, the old days it has carved a face that no longer young. Now a distant memory that is written and haunting memories of that spread through the story to the story. The story of a woman's memories of the shy ...

End ...

July 1, 2010
Inspiration From: Theater Performances "Remember Memories of a Shy Woman"

Jimmy The Clown (English Version)

Once, somewhere far away on another planet that resembles Earth is almost exactly live person. Someone who, if we view the common people in general view is shown as someone who, hmmmm how to think about mentioning the word politely to a freak?

The physical looks of it seems not much different from those of others within it is located, 164cm tall and weighs 55kg. Only the appearance of eccentricity in keseharianna activity which makes it look different, be advised it works as a 'clown'.

Clown name, according to people who had exchanged greetings with him is Jimmy.People familiar with the name calling in the form of Jimmy Clown cool. And people do not know or did not know and those who do not want to know about her will say 'oh, sibadut nan crazy weird is that? " ekspressi complete with quivering lips seemed indifferent and did not want to continue discussing the sign of Jimmy. But that's Jimmy, and he was happy with his life. While there are certainly others like it do not like. 'Life should be balanced between laughter and anger, between smiles and trash, between love and betrayal' of a time kubersapa him.

Jimmy, it seems eccentric appearance. Long wavy hair shoulder length, but because it looks neat if he treat her hair with bersampo every day. Necklace and bracelet competitive advantage, piling stacks enliven the neck and wrists, when walking a little bit sexy because walking is always singing a happy song. Thick-framed glasses and glass are not too close together to cover her face minus the usual normal, not heroic intent.

'Hah! What you say? "

'He does not like clowns! just look at his appearance far, far away from the impression of a clown! you are making there! "

'Yes indeed you are correct. Jimmy did not wear distinctive clothing clowns in general, with a small red ball attached to the nose, also with colorful patterned gombrang clothes and a pillow worn around the stomach to look fat or anything with a pair of shoes on his feet too big to be making trouble as he stepped up to look as if she were dancing. One thing I want to emphasize to you! He is not the clowns in general, he's special! "

'Specials as what you mean? "

'Let you specify what what is being done by a clown until he deserves being a clown says? "

For a moment the man lifted imajiansi remember remember not determine what the characteristics of a clown when doing the action.

'Clown approximately wiggled her hips and belly are often the same as too big, too often obscure applauding themselves, and another one is always calling people who watch the show laugh out loud with a stupid action. "

'That's Jimmy's life that you just described, but the passing another viewpoint. "

'Mean? "

'Instead of a clown there for a smile? or just laughter from others who got a glimpse of the action watching the clown? "

'Yes right and its relationship with the Jimmy? "

'You should try to know the Jimmy's first, at least invite her to come chat that you are interested. Then you'll get one thing, namely to feel happy, smiling and always carry an intellectual class farce that will make the amazed wonder. Will also be many other things that you get after completion of your chat. I and several people I have relayed this to try and always successful. "

He is a clown in a strange version, well I think if that had not had time to get a polite word to compose a strange word. But very happy and very good friends with him who had never seen in his life dogged by problems.

He is the Jimmy. Jimmy the Clown.

To be continued ...

Monday, August 30, 2010

Jimmy the Clown

Alkisah, disuatu tempat jauh di planet lain yang menyerupai bumi hampir sama persis hiduplah seseorang. Seseorang yang jika kita pandang dengan pandangan orang umum pada umumnya maka akan nampak seperti orang yang, hmmmm bagaimana kira kira menyebutkan kata sopan untuk orang aneh?

Tampak fisik orang itu nampak tak jauh berbeda dari orang orang lain dilingkungan tempatnya berada, tinggi semampai 164cm dan berat 55kg. Hanya penampilan eksentriknya dalam beraktifitas keseharianna yang membuatnya nampak berbeda, maklum kerjanya sebagai 'Badut'.

Nama badut itu, menurut orang orang yang sempat bertukar sapa dengannya adalah Jimmy. Orang yang akrab dengannya memanggil dengan sebutan keren berupa Jimmy Clown. Dan orang tak tahu atau tak kenal dan orang orang yang tak mau tahu akan dirinya akan mengatakan 'oh, sibadut gila nan aneh itu?' lengkap dengan ekspressi acuh dan nampak bibir bergetar tanda tak ingin melanjutkan pembahasan mengenai Jimmy. Tapi itulah Jimmy, dan dia senang dengan kehidupannya. Walau ada yang suka tentu ada pula yang tak suka. 'Hidup harus seimbang antara tawa dan marah, antara senyum dan caci maki, antara cinta dan penghianatan' suatu waktu kubersapa dengannya.

Jimmy, nampak eksentrik penampilannya. Rambut berombak panjang sebahu, namun rapih karena kelihatan jika dia merawat rambutnya dengan bersampo setiap hari. Kalung dan gelangnya saing bersaing, tumpuk menumpuk meramaikan leher dan pergelangan tangannya, kala berjalan sedikit agak seksi karena sambil berjalan senantiasa melantunkan sebuah lagu gembira. Kaca mata berbingkai tebal dan kaca yang tak minus juga merapat menutupi wajahnya yang biasa biasa saja, tak gagah maksudnya.

'hah! apa anda bilang?'

'dia tak mirip dengan badut! lihat saja penampilannya yang jauh, sangat jauh dari kesan seorang badut! anda mengada ada!'

'iya memang anda benar. Jimmy tak memakai pakaian khas badut pada umumnya, dengan bola merah kecil menempel di hidung, pula dengan pakaian gombrang bercorak warna warni dan sebuah bantal dipakai di sekeliling perut agar kelihatan gemuk atau pun dengan sepatu kegedean di sepasang kakinya hingga dapat membuatnya kesulitan saat melangkah hingga terlihat seolah sedang menari. Satu hal yang ingin saya tekankan pada anda! Dia bukan badut pada umumnya, dia spesial!'

'spesial seperti apa maksud anda?'

'coba anda sebutkan apa apa saja yang dilakukan oleh seorang badut hingga dia layak menyandang kata badut?'

Sejenak orang itu melayangkan imajiansi mengingat ingat apakah gerangan kekhasan dari seorang badut kala melakukan aksi.

'kira kira badut sering menggoyangkan pinggul dan perutnya yang sama sama kegedean, pula sering bertepuk tangan sendiri tak jelas, dan satu lagi selalu mengajak orang yang menonton pertunjukannya tertawa terbahak bahak dengan aksi konyolnya.'

'itulah hidup si Jimmy yang barusan anda jelaskan, namun lewat sudut pandang yang lain.'

'maksudnya?'

'bukannya badut ada untuk sebuah senyuman? atau sekedar tawa dari orang lain yang sekilas sempat menonton aksi si badut?'

'iya benar dan hubungannya dengan si Jimmy?'

'anda harus coba mengenal si Jimmy terlebih dahulu, minimal mengajak dia ikut obrolan yang anda minati. Maka anda akan mendapatkan satu hal, yaitu merasa senang tersenyum dan selalu membawa banyolan berkelas intelektual yang akan membuat terheran heran. Pula akan banyak hal lain yang akan anda dapatkan setelah selesainya obrolan anda. Saya dan beberapa orang yang telah saya sampaikan hal tersebut mencoba dan selalu berhasil.'

Dialah badut dalam versi aneh, yah sekiranya menurut saya yang belum sempat mendapatkan kata sopan untuk menggubah kata aneh. Namun sangat berbahagia dan sangat bersahabat baik dengan dia yang terlihat tak pernah dalam hidupnya dirundung masalah.

Dialah si Jimmy. Jimmy the Clown.

Bersambung...

Wednesday, August 25, 2010

22 Years Old

‎"Finally the time is come, the time called twenty two... Too many word of wisdom saying that there would be no future, if you just working hard without any hope... And I sitting down under the dark skies, no candle and no cake just friends and some story to tell... How could we being something, if we just sit in the same place... Its time to move on, move on to the future with a little hard will..."

Thursday, August 12, 2010

Kenang Kenangan Seorang Wanita Pemalu

35 tahun lamanya kumeratapi penyesalanku akan kenangan yang mendalam, duduk bersimpuh di sebuah kursi rotan tua lusuh sembari menyulam. Kadang kumenanti sesuatu yang telah hilang, sesuatu yang telah pergi untuk selama lamanya. Kini kuhanya bisa melewati hari hari dalam kesepian, kesepian dalam penantian yang tak kunjung berujung. Disini, dikursi rotan ini 35 tahun yang lalu seorang lelaki bernama Karnaen telah menyatakan cintanya padaku. Namun keterkejutanku dalam haru bahagia membuatku tak dapat berucap kata, kegugupan membuatku kalut hingga kuberlari masuk kedalam kamar dan menguncinya, kututup mukaku dengan kedua tangan, kedua pipiku memerah dan kutahan rasa gregetan mendalam dalam hatiku yang entah datangnya dari mana. Cukup lama kutahan haru bercampur bahagia ini didalam kamar, dikarenakan perasaan Karnaen padaku ternyata sama seperti halnya yang kurasakan. Hingga kutersadar saat Karnaen memanggil manggil namaku di luar rumah dekat kursi rotan tua itu. Ku tak tahu apa yang musti keperbuat, bibirku serasa terkunci rapat dan kuncinya menghilang entah kemana, ragaku memaksa kakiku tuk berpijak menghampiri Karnaen namun kurasa aku lumpuh. Ku hanya terduduk beku tanpa kata dan tak tahu hendak berbuat apa mendengarkan teriak kata cinta Karnaen di luar rumah. Debaran dalam dadaku yang entah apa namanya, serasa menyesakkan.

Namaku Ning, usiaku kini menginjak 53 tahun, cukup tua usiaku tanpa pendamping, tanpa seseorang yang mengharuskanku bahagia memasakkan makanan untuk pasanganku, memasak makanan paling lezat yang pernah dibuat. Hanya untuk dirinya. Karnaen.

Perang itu membawa Karnaen menuju alam keabadian, tempat dia menungguku hingga kami nantinya kan dipersatukan kembali disana. Namun mengapa dia pergi begitu cepat, begitu cepat hingga tak sempat memboyongku menuju pelaminan, bersanding berdua diatas ikatan suci nan abadi. “Ah ini semuanya karena diriku, yang tak dapat bersua kata waktu itu…” keluh batinku, sembari kutangisi kenangan itu. Seolah kenangan itu bercakap dengan batinku.

“Itulah kenangan wahai gadis pemalu, engkau akan merindukan kala itu saat telah lama berlalu…”

“Namun mengapa dia tak mengerti rona bahagia di wajahku yang menandakan bahwa rasa yang kurasa sama halnya dengan yang dia rasa?”

“Manusia memiliki kepekaan indra yang musti dirangsang agar dapat difungsikan, saat tenggorokanmu kering maka dengan siaga tangan dan mulutmu akan berkerjasama tuk menengguk air agak dahaga itu cepat berlalu…”

“Aku rasa penjelasanku terlalu bertele tele dan aku tak mengerti sama sekali!”

“Apakah cukup keindahan hanya di puji oleh mata? Ataukah kelezatan makanan hanya dinikmati oleh mulut?” ratap kenangan

“Yah, aku yang salah ketika aku dan Karnaen bertemu ketika aku dan teman temanku sedang dalam perjalanan menuju ke sekolah dan dia menghampiriku dan mengatakan apa jawabanku ketika dia mengatakan bahwa dia mencintaiku kemarin didepan rumahku, namun tak sepatah kata pun yang aku mampu ucapkan, dan kuharap dia tak berpatah semangat dalam mencari apakah aku mencintainya juga... Dan memang aku sangat mencintainya...”

“Satu kata iya darimu dapat mengubah semuanya dan tak melemparkanmu dalam penyesalan yang berkepanjangan selama ini...” akhir kata dari kenangan

Kata terakhir dari kenangan membuatnya terbangun dalam lamunan, hari tua itu telah mengukir raut wajahnya yang tak lagi muda. Kini tinggal kenangan yang tertulis dan terngiang dalam ingatan yang tersebar lewat cerita ke cerita. Cerita tentang kenangan seorang wanita pemalu...

End...

Juli 1, 2010
Inspirasi Dari: Pementasan Teater "Kenang Kenangan Seorang Wanita Pemalu" (W.S. Rendra) di LIP

Saturday, July 10, 2010

Mes Souvenirs

Il était une fois...

Je me demandais, si elle se souvient de moi à tous.
Plusieurs fois, j'ai souvent prié
Dans l'obscurité de ma nuit,
Dans l'éclat de ma journée...

Donc, si vous entrez dans la zone pleine de nourriture qui se sent trop sucré
Lorsque le vent souffle d'un volcan et la mer qui a conduit à l'océan
Je me souviens qu'une fois il a vécu.
Il est devenu mon véritable amour...

Thursday, June 17, 2010

Penggembala Kambing Dari Antah Beranta

Si penggembala kambing itu sudah mulai menggiring para kumpulan bebek yang konon karena sejarah warnanya kuning, kau giring bebek bebek kuning itu menuju alam kampung halamanmu, dimana kampung halamanmu itu tak ada satu pun daun yang berwarna hijau di tiap pepohonan yang telah mati entah karena apa. Pula tak ada satu pun bunga disana apalagi mengharapkan akan adanya taman yang penuh bebungaan, semuanya hanya nampak kegelapan disana sini di kampung halamanmu itu wahai si penggembala kambing yang berwajah muram. Hingga kududa dan mungkin serupa dengan dengan prasangka jikalau di kampung halamanmu itu suram seperti itu di karenakan kebencian terhadap sesama penghuni kampung.

Manusia barok, dimana dia kawanmu dan juga kawan baikku. Kau coba ajak dia tuk menuju kesana ke kampung halamanmu, namun di tolak oleh si manusia barok itu dan ujung dari cerita kau si penggembala kambing mengibarkan bendera entah apa warna dan gambarnya tak jelas, sebagai tanda jikalau kau telah menebar kebencian pada kawan baikku si manusia barok.

Manusia barok kawanku, berjalan kemana pun arah angin segar berhembus, bukan ke tempatmu yang ada hanyalah angin buritan. Dia manusia barok kawanku adalah seorang pecinta mimpi dan kau si penggembala kambing adalah pembenci mimpi. Kawanku itu pecinta mimpi sama halnya dengan diriku dan akan selalu begitu hingga ajal nantinya akan datang menjemput.

Aku selalu heran padamu wahai si penggembala kambing, mengapa otakmu seperti otak cacing tanah? Atau malah mungkin lebih kecil dari cacing tanah. Dan anehnya setelah kutanyakan hal ini padamu wahai si penggembala kambing, kau malah bangga akan hal itu sembari tertawa seperti burung gagak yang sedang kegirangan mendapatkan bangkai. Itulah mungkin yang membuatmu tak mau ambil pusing dengan pentingnya arti mimpi untuk masa depan.

Kebecinmu wahai penggembala kambing hitam dengan janggot yang panjang lancip serta merta sepasang tanduk runcing tajam pula ekor panjang yang tajam di bokongmu. Kebencianmu membuat segala macam hal yang tengah berada di genggamanmu atau pun ikut mengikut di belakangmu serupa gerombolan bebek kuning itu akan dengan khidmatnya mengikuti kesenanganmu dalam membenci, membenci segala macam hal yang ada di dekat mereka. Ku selalu bertanya bingung, mengapa semua orang yang ada didekatmu selalu membenci tanpa perlu mencari tanya tentang sebab? Sebab hingga layak tuk dibenci, sebab untuk mengapa mereka dibenci, sebab dan lain lain, dan tentunya sangat membingungkan dan bodohnya dirimu dan para pengikutmu wahai si penggembala kambing.

Ah si penggembala kambing dari antah beranta, dari kampung halamanmu yang penuh dengan kebencian dan keburukan tanpa alasan. Disana tak ada warna warni indah kehidupan, dan mengapa pula banyak yang ingin mendengarkan dan berjalan mengikut dibelakangmu? Karena mungkin otak mereka yang ikut itu serupa denganmu, lebih kecil dari otak cacing tanah.

Akhir cerita adalah aku. Aku yang dulunya kawanmu namun bukan pengikutmu, dan kuharap sekarang masih seperti itu. Mengapa pula sekarang kau benci diriku tanpa sebab? Apa ada yang tak beres dari diriku terhadapmu hey si penggembala kambing?

Apa musti kutanyakan padamu 'mengapa kau benci diriku?'


The End - Kantin Pojok, 15 June 2010

Saturday, June 12, 2010

Roads Not Only Unidirectional


I left the bench, lay the final candidate hardback book above ...

Now onwards it so memorable, it does not mean a break also the road traveled but others prove the wide streets and waited for the lead ...

Ridiculed, scorned and avoided as an option?

Proud of, admired and approachable as an option?

So where happiness when taking an option?

Reflected in the increasingly heavy regret taking steps to immediately and stop running ...

Smile in the hard work to knock down all the things people said about the impossibility ...

Life's only once, from toddlers to teenagers to adults to older workers bound senile and forgotten until death comes as the end ...

As long as there semagnat eternal flames of burning tanks, even the wind from all corners of the eyes with a flick of the wind storm about to come crashing into the ranks of future plans will not melt the heart with trepidation ...

Just choose one way and sacrificed as a serious one, realize your dreams, or stop in place and then die ...

Cafeteria, May2010

Wednesday, March 31, 2010

The Early Morning Babble


The old man with a cane propped on his hands so as not to headfirst fall to the ground while a voice over the hum in his mouth as like to sing some song either, but it was presumably he could no longer sing a melodious and as exciting as when he is still young man, briefly recalled memories knocked on his mind "fitting myself so likewise the future like an old grandpa who passed just now, go ahead of the death was old age will come true, if we were not die young ..."

The morning sun haven't come to shine, ah very noisy the bustle of the highway on this morning, what a busy day and where they will be go, looking for life may be? Ah yes they are looking for a bite of life with a fist drenched in sweat profusely out of their pores to pore myself feel alive today, for the sake of the family and for the future lives complicated and full of surprises meander will be matters that suddenly all coming like the time of a maze box.

"Where are you going to go with four bags safari uniform, complete the same with the eagle emblem on the chest, was like a father Umar Bakri, just when about to go teach ..."

Greetings sarcastically late morning more like wailing voice-driven of the table above fractions asbestos, almost without tone and intonation, well the name is sarcasm. Returned by a friend who felt "Ah, you just take care of your mind, take them duel and decide who will wins, and the winners are the considered as the lord of yourself"


"Oh you think I'm crazy!"

"Perhaps you are overly sensitive my young man, the narrator habits often solitary and had a sensitive levels above average is already inherent in you"

"Needless to say, if the tellers are able to rhyme the word heart in writing"

"Well come on, let's tell the others. One does where you are today? Are there other activities besides looking for a needle in your ID and a haystack of life, or to find the heart where the harbor of the poem and rhyme?"


"Hmmm seems to look for heart today and tomorrow, but tomorrow is not just a rhyme rhyme harbor, but the harbor of love and dreams ..."

"Ah you say the word sounds corny my friend ..."

"Hahaha do not have to be taken dizziness is a friend, my only one narrator, to be heard or risk humiliation well which always greeted with a smile ... The story tellers would not swallowed the time ..."

Yogyakarta, 31 March 2010

Saturday, March 06, 2010

Ikan Kecil (Roman Absurd)



Didalam sebuah kolam kecil itu, dengan air keruh yang terlihat begitu hijaunya bak menyatu dengan jutaan lumut yang telah terurai, hingga saat kusentuh airnya begitu kental dan bau amisnya menyeruak membuatku mual dalam sesaat dan segera berlari lari kecil menuju ke air pancuran didekat kolam itu yang nampak lebih jernih tuk menyeka tanganku yang baunya tak tertahankan.

Seketika sejuk air yang masih jatuh perlahan membasahi sekujur tangan hingga lenganku, jemariku pun ambil ulah dengan tak henti hentinya menjentikkan air itu kemana mana, begitu terlanaku pada air jernih ini, pikiranku pun seketika melayang mengingat masa balitaku dulu, 15 tahun yang telah lalu.

Sewaktu balita, betapa cintaku pada air waktu itu, hingga kini pun begitu.

Hingga saat itu musim hujan telah tiba, satu persatu rintikan hujan jatuh perlahan tapi pasti dari langit mengundang ketertarikanku yang tengah diliput rasa ingin tahu yang menggebu gebu, dan seketika rasa penasaran berbalut kegirangan yang terpancar dari raut wajahku tanpa berpikir panjang langsung keluar kepekarangan rumah sembari membuka semua pakaianku satu persatu hingga nampak tak jauh beda dengan kerbau yang sedang berlumuran lumpur di sawah, dan tentunya telanjang bulat.

Tapi, waktu itu kan masih dalam ruang lingkup kanak kanak mana sempat memikirkan ataupun merasakan tentang adanya malu. Maka terguyurlah aku ditengah buraian air hujan yang menjatuhiku satu persatu dengan begitu manjanya. Ku menari nari berputar putar tak jelas arah dengan menyanyikan sepatah lagu twinkle twinkle little star how I wonder what you are berulang ulang. Bagaimana tak kuhafal lagu ini, jikalau hampir tiap pagi hari siaran tv nasional dinyanyikan oleh seekor komodo berperut buncit dan berwarna hijau, dan saat senang seperti ini dengan spontan kulantunkan perlahan lagu ini. Hingga tak sadar rapuhnya kakiku tersandung batu dan terguling guling di kubangan air hujan yang telah menyatu dengan lelehan tanah, membentuk sebongkah lumpur cair kecoklatan, membuatku nampak seperti adonan kue coklat yang siap masuk dalam oven. Namun ini tak membuatku gentar apalagi menangis, malah justru membuat ulahku semakin menjadi jadi. Sekujur tubuhku yang telah terselimuti kubangan lumpur terlihat begitu menikmatinya, apalah kebahagiaan terpenting buat anak kecil selain tertawa walau terliput banyaknya kekangan aturan dari keluarga yang melarang ini dan itu, dan tak lupa waktu itu gelak tawa kebebasan kudendangkan. Ku telah lupa diri sesaat! Dan sekali lagi, mana sempat ku memikirkannya!

Apakah masih ada yang lain yang dibutuhkan manusia selain kebebasan dalam kebahagiaan.
Namun malang tak bisa ditangkal. Kebebasan, kebahagiaan waktu ku balita hanya bersifat sementara. Dan seketika lenyap tawa bahagiaku, lenyap sudah nyanyianku, lenyap pula kebebasan yang saat itu masih tak tahu apalah artinya kata itu, lenyaplah semuanya berganti jerit tangis tanpa henti yang terus menerus ku teriakkan dalam kamarku, tak lupa mengacak acak seluruh isi kamarku yang pintunya dikunci dari luar dengan begitu gemasnya, seprei dan selimut kuhamburkan kemana mana dengan rasa kesal yang amat mendalam, seluruh pakaianku yang tertata rapih dalam lemari yang di urut sesuai warna dan bentuknya oleh Bunda kukeluarkan hingga berserakan tak karuan memenuhi seluruh lantai kamarku berbagi tempat dengan seprei dan selimut.

Kesenanganku saat itu telah direnggut oleh rasa cinta kasih Bunda akan kesehatanku nantinya, yang berujung dengan jeweran yang sebenarnya tak begitu sakit sakit ketelingaku dan diikuti dengan tamparan lembut berulang kali kepantatku yang waktu itu masih berlumur lumpur yang membuat pakaian Bunda kotor juga dan pula tak tertutupi sehelai benang pun. Digiringnya ku ke dalam kamar mandi dan diguyurlah aku dengan air dari timba berulang ulang hingga nampak bersih kembali, dan sesekali air mengalir masuk kedalam mulutku yang terusan bernyanyi tangis, kemudian ku dimasukkan ke dalam kamar dan memakaikanku piama tidur, kemudian mengunci kamarku dari luar, agar tak kembali melakukan hal bodoh yang telah membuat Bunda khawatir.

Tangisku pun telah terhenti seiring gema suara adzan magrib yang memekak dari mesjid samping rumahku yang kemudian di susul berhentinya denting hujan yang mengetuk perlahan diatas genteng genteng rumah yang kulihat dari sela tirai gorden jendela kamarku di lantai dua yang pintunya terkunci dari luar.

Saat keberbalik arah menuju saklar untuk hendak menyalakan lampu kamarku, karena gelap malam mulai merangsek masuk kedalam kamarku. Seketika seolah tak sadar dengan apa yang telah terjadi kumerasa tak mengenal lagi di mana aku sedang berada sekarang. Apa yang terjadi dalam kamarku! Seruku dalam hati yang lugu dicampur bimbang. Seraya tersenyum kecut mengingat kembali beberapa menit yang lalu saat kekhalafanku kambu, ku katakan betapa bodohnya anak yang melakukan ini dan memukul pelan dahiku. Kamarku kali ini tak jauh berbeda dengan kamar milik Kapten Hook dalam film Peterpan yang telah kutonton lima kali, karna begitu tertariknya aku pada tokoh Petepan yang tak ingin merasakan jadi anak dewasa. Malah jika dilihat lebih jelas kamarku mirip dengan kapal pecah dan karam ketengah lautan mirip di discocery channel siaran favorit Ayahku yang mantan anak buah kapal waktu mudanya.

Entah mengapa dengan sendirinya naluri dasar diriku yang di samping rajin menabung di celengan plastik berbentuk ayam, ku juga suka dengan kerapian, tentunya sangat berbeda saat ini. Maka mulailah kurapikan seluruh isi kamarku yang telah kuhafal betul tata letak dan susunannya di karenakan Bunda selalu mengajakku membantunya tuk sekedar melipat baju dan merapikan tempat tidurku dan pula dari bayi hingga kuberanjak naik kelas 2 SD ini ku telah menempati kamar ini, di dalam kamar kecil berukuran 4 x 4 dengan warna biru tua yang mendominasi di antara tembok, lemari, gorden, hingga jendela dan pintu, bahkan seprei, selimut, bantal, dan pakaianku pun ternyata rata rata berwarna biru. Dan ini semua dikarenakan waktu kecil dulu aku suka sekali warna biru, begitu pun Bunda yang kurasa sangat dekat denganku diantara ke tujuh saudaraku yang lain, walau kenyataan kadang berkata sebaliknya. Warna biru hingga kini pun masih menyimpan begitu banyak misteri bagiku, dan ketertarikanku padanya bukan dari materi sekarang, namun pada hal hal yang berwarna biru seperti langit cerah yang berwarna biru, pula warna biru ini yang membuatku jatuh cinta pada hujan hingga saat ini.

Biru langit yang cerah, bermahkotakan putihnya awan yang seolah berjalan kesana kemari diatas langit berganti kemelut awan hitam yang datang tiba tiba membumbung berkumpul menjadi satu menutupi seluruh warna birunya langit, menutupi sinar terang sang mentari, perlahan menjatuhkan titik demi titik airnya keseluruh permukaan bumi, bulir air yang menggenang perlahan membentuk kubangan disana sini, dan membuatku tersenyum lebar seketika itu entah mengapa. Kurasakan dalam tiap kesendirian saat hujan, seakan hujan bercerita tentang tiap bulirnya yang terjatuh membentuk bulatan, yang jika dilihat tiap sisi dengan pandangan membelanya menjadi dua seakan bulir hujan itu memberikan seutas senyuman yang melebar hingga terbentur pada bulatan lain yang juga ikut tersenyum. Senyuman balas senyuman kataku dalam hati.

Dari sekitaran tempatku berada, suara suara kodok mulai berisik dengan nyanyian mereka yang tak kumengerti, mirip dengkuran Ayah saat tidur malahan. Dan nyanyian kodok semakin memperseru genderang riang bulir hujan yang mengetuk satu persatu di atas genteng rumahku.

Kembali ke ikan kecil di dalam kolam yang keruh dan berwarna hijau, ikan ikan kecil itu berenang renang kesana kemari di depan mataku sore ini di sebuah taman berhias hijaunya rumput hijau disekitarannya dan beberapa pohon kelapa disamping sebuah jalan setapak dari kumpulan batu batu krikil kecil di taman kampusku. Di sekitaran kolam taman pun terlihat beberapa anak kecil yang sedang mencari botol botol bekas dan memasukkannya kedalam karung yang dijinjingnya di pundak dan sesekali mereka saling lari lari kecil mengelilingi kolam dengan riang gembira, seolah tak ada masalah dalam hari hari mereka selama ini. Dan aku yang sendirian kala itu hanya memandang sekeling dan sesekali memandang mereka, dan ikan ikan kecil itu, tampak sedikit kemiripan diantara mereka, ikan ikan kecil dan anak kecil berjinjing karung di pundaknya.

Pula, disisi lain tak jauh dari kolam, tepatnya di belantara hijaunya rerumputan nampak rombongan mahasiswi yang berpenampilan begitu muslimahnya sedang berdiskusi seru tentang sesuatu, dan nampak dari ekpressi mereka satu persatu yang begitu khidmat mengungkapkan argument mereka tentang sesuatu yang tentunya menjadi tema diskusi merek, entah apa itu.

Tak jauh di samping dari tempatku berada, ada pula beberapa mahasiswa yang juga tak mau kalah seru berdiskusi tentang sesuatu, sesekali mereka tertawa bersamaan dan sesekali hanya satu yang tertawa, dan sebagian dari bahan diskusi mereka diakhiri dengan tawa dan tawa. Entah maksud dari tawa itu untuk mempererat jalinan pertemanan dari mereka, ataupun untuk tak menyinggung perasaan kawan yang berargumen namun jauh dari pokok pembahasan. Tak tahulah aku.

Dan aku sendiri, sembari menghisap dalam dalam sebatang rokokku sibuk memperhatikan sekitaranku sambil sekali kali menatap serius ikan ikan kecil yang terus terusan mondar mandir kesana kemari di dalam kolam berair keruh dan berwarna hijau didepanku. Sedikit ibah rasa dalam hatiku melihat ikan ikan kecil itu yang tak bisa merasakan kebebasan berenang keluar dari kolam kecil itu, terkekang ikan ikan kecil itu didalam kolam yang terbuat dari tembok yang di satukan dengan krikil krikil kecil seukuran kepalan tangan anak kecil. Hanya terdapat sebuah jembatan kecil yang membelah kolam itu, nampaknya sebagai pemanja mata manusia memandang kola mini agar sekiranya terlihat lebih indah, pula ini sebagai salah satu upaya pihak kampus tuk membuat mahasiswa mahasiswi agar tak bosan berada dikampus, walau hanya disekitaran kolam saja. Dan dijembatan itulah satu satunya tempat berteduh ikan ikan kecil dalam kolam yang bagiku sangat kotor dan bau ini, tempat ikan ikan kecil itu berteduh dari sengatan terik mentari kala siang hari dan gigil udara saat malam hati.

Begitu malangnya nasibmu ikan ikan kecil dalam kolam kotor ini. Apakah kalian merasa kekesalan yang mencuat pada pengkonstruksi kampus yang hanya menjadikan kalian sebagai tak lebih dari sebuah hiasan dari kolam ini?

Aku tak tahu mungkin kalian tak memilik pikiran tuk sedikit berpikir tentang semua yang telah terjadi pada kalian disisa kehidupan kalian dalam kolam ini yang kotor, keruh dan berwarna hijau ini. Namun kutahu bahwa kalian ini wahai ikan ikan kecil makhluk ciptaan Tuhan yang pasti memiliki rasa. Rasa tuk bebas seperti ikan ikan kecil dalam film kartun Nemo.
Pandanganku teralih pada julang tinggi pohon kelapa di sekitar kolam. Hidup pohon kelapa ini tentunya sangat berbeda dengan ikan kecil dalam kola mini. Tentunya sangat berbeda.
Pohon kelapa yang menjulang tinggi ke langit disamping kolam dengan suburnya, dan ikan ikan kecil itu bagaikan narapidana yang hanya tahu mondar mandir didalam jeruji kolam kecil dan berbau dilumuri air berwarna hijau. Pohon kelapa tak mempunyai batasan untuk tumbuh tinggi menjulang keatas langit selagi pohon kelapa itu mempunya kesanggupan, mengingat pepatah kuno semakin tinggi pohon maka semakin kencang angin yang sewaktu waktu mampuh mengoyahkan hingga tumbang menyatu dengan tanah.sangat berbeda dengan kalian wahai ikan ikan kecil bisikku pada mereka dengan haru, kalian hanya mampu berenang kesana kemari didalam sebuah kolam kecil yang tak tahu secara jelas berdiameter berapa… hmmm, yang jelas kecil.

Begitu kecil dan sempitnya ruang lingkup hidupmu wahai ikan ikan kecil yang malang. Inikah salah satu bentuk nyata dari kenaifan sifat dasar manusia? Padahal, daratan sebagai tempat hidup manusia di dunia ini lebih kecil dari tempat seharusnya kalian hidup wahai ikan ikan kecil yang terkekang tak bebas dalam kolam kecil ini, yah tempatmu di air yang lebih besar dan luas wilayahnya di dunia ini daripada daratan tempat manusia berkembang biak.

Hujan itu air yang jatuh dari langit dan di daratan pun tak keluar dari ruang terjang sang hujan, bahkan lautan dan samudera pun di bawah kuasa hujan tuk mengetuk bumi dengan badai dan sekali kali angin kencang dimana tempat seharusnya kalian ikan ikan kecil bisa lebih bebas berenang mengelilingi dunia. Tahu kah kalian ikan kecil bahwa kalian hidup dari air yang datang dari langit, yah dari langit!

Kenyataan berkehendak lain terhadap bumi manusia dikarenakan air yang seharusnya tempat hidupmu ikan ikan kecil, gara gara air yang jatuh dari langit atau hujan.

Air hujan yang membuat tanah tempat manusia bermukim menjadi lembek hingga akhirnya longsor, air bah dari sungai yang meluap hingga kedaratan menghilangkan tak hanya pemukiman tempat manusia hidup namun bahkan hingga nyawa tak terelakkan di lenyapkan oleh air. Bahkan yang masih melekat dalam ingatan manusia mengenai kedahsyatan air lewat ombak besar bernama tsunami melayangkan secara sporadis nyawa ribuan manusia. Dan sejarah pun mencatat mendetil kedahsyatan dari air tempat kalian ikan ikan kecil seharusnya hidup, bukan di kolam yang tak jelas warna airnya dan begitu kotornya di depan mataku ini. Dan semestinya dengan jelas kalian ikan ikan kecil tak layak tinggal di tempat seperti ini melainkan koloni kuman kuman dan bakteri bahkan cacing cacing pemakan kotoran yang layak bermukin ditempat seperti ini.

Air tempatmu hidup ikan ikan kecil tempat kalian bernafas melalui insang, begitu pun manusia hidup di bumi ini membutuhkan udara. Bagaimana mungkin ikan ikan kecil itu dapat bernafas melalui insang dengan air yang tak lagi bersih, begitu pun dengan manusia di bumi ini yang tentunya tak bisa bernafas lega dengan banyaknya polusi.

Seandainya manusia punya sedikit saja kepekaan rasa untuk bisa sedikit peduli merasakan kehidupanmu di air keruh nan kotor ini sebagai sesama mahkluk hidup di bumi ini. Meskipun hanya lewat tulisan.

Kolam kampus, 13 June 2009

Saturday, February 20, 2010

Bunga Di Taman


Alkisah ada sebuah taman, disana ada ribuan macam bebungaan serta merta menebar semerbak harum mewangi kemana mana. Di dekat taman ada seorang pemuda yang hidup penuh dengan kesendirian dan kesehariannya dipenuhi dengan kesibukan mengolah otak agar kelak bisa berguna tak hanya untuk diri sendiri tapi untuk orang lain juga. Baca, tulis, lukis, dan kawan pencerita mungkin keempat hal itu saja yang ada dalam hidupnya selama kurun waktu 21 tahun, hampir tak ada tangis dan penuh akan tawa menyempurnakan kehidupan yang seakan senantiasa dibuat agar terlihat sederhana. Kemewahan jauh dari penggapaian, walau hendak menikmati seteguk kemewahan pikiran dan pengalaman orang lain dalam novel novel kisah klasik mengenai fatamorgana glamor kehidupan seseorang yang ujung ujungnya kan berakhir jauh dari kesan bahagia, dari pengalaman orang lain tersebut membuat pemuda ini ingin hidup biasa biasa saja dan sederhana.

Koleksi buku buku dari penyair dan sastrawan abad 17 hingga 20 semacam William Shakespear, Frederic Nietzche, Gogol, Tolstoy, Albert Camus, Ivan Turgenev dan lain lain melengkapi perpustakaan kecilnya di rak buku di samping koleksi lukisan lukisan penuh perasaan akan segala macam hal yang ada disekitarnya.

Ditaman itu, penuh akan bebungaan dan rupa warna seakan menjelma seperti peri peri cantik yang senantiasa menarikan kebahagiaan tanpa adanya gangguan keegoisan dari manusia yang hendak menguasai mereka. Disana pemuda itu menatap birunya langit, cerah dan nampak beberapa awan awan yang terbawa arus angin, "apa awan awan itu merasa senang berada diatas langit" bisik hati pemuda itu.

Tiba tiba pikiran pemuda yang penuh akan imajinasi membayangkan gumpalan awan besar yang tengah menutupi terik mentari membentuk sesosok wajah wanita, wajah wanita yang sedang tersenyum padanya, yah hanya padanya sosok wanita itu tersenyum padanya. Beberapa saat wajah pemuda memerah karena malu, dia teringat pada kisah kisah klasik abad romantisisme legendaris "Romeo dan Juliet", dan hatinya pun berkata

"jikalau ku terlahir menjadi Romeo siapa yang hendak menjadi Juliet? seorang wanita dari keluarga yang jauh berbeda dariku yang penuh dengan kesederhanaan, akankah ada yang mau?"

Wajah murung pun mulai merambat membuat pemuda tak percaya diri tuk melanjutkan imajinasinya, hanya balpoin dan kertas putih dengan beberapa baris kata kata tentang hatinya yang mulai merasakan kesepian.

"yah, aku kesepian dan hendak mendapatkan kekasih yang dapat kujadikan tempat saling bertukar cinta dan kasih sayang... dan tentunya kutahu jikalau kawan mampu memberikan cinta dan kasih sayang, namun yang kuinginkan saat ini kekasih..." jerit hati sang pemuda yang tengah dirundung rasa yang tak percaya diri.

Tiba tiba ada suara entah dari mana datangnya, seakan terbawa oleh angin timur yang tengah berhembus menyapa daun telinga pemuda, mengatakan "cinta itu akan datang disaat kamu tak memikirkan akan mendapatkan cinta..."

Kembali wajah murung si pemuda tambah menjadi jadi, dia pun berteriak "bagaimana bisa kudapatkan cinta jikalau ku hanya menyendiri tanpa mencari!", dia teringat pada pepatah klasik "cinta akan datang disaat kamu mencari, namun kali ini angin timur itu membisikkan hal yang jauh berbeda cinta akan datang disaat kamu tak memikirkannya.

"ah sudahlah..." sedikit mengeluh pemuda itu berkata "biarkan saja semuanya di jawab oleh waktu dan angin..."

Mentari mulai tenggelam, dan rembulan bersiap datang berselimut malam, pemuda masih nampak murung tak tahu hendak berbuat apa untuk mendapatkan cinta, haruskah tak dipikirkan dan datang sendiri, ataukah mencari di setiap hati.

(to be continued)

(Jogja, 20 Feb 2010)

Tuesday, January 05, 2010

Eksistensi Sang Waktu



Langit pun tampak terukir raut sedih sore itu, terlihat dari kumulan awan hitam yang mengerubungi dan menutupi birunya langit sedari pagi menjelang ditandai dengan secercah sinar berupa senyum mentari yang perlahan muncul dari sela sela pegunungan di daerah barat. Tampak murung langit dengan ditandai mata langit sang mentari seolah terkatup dalam kemurungan mendung yang menutupi sumringah senyum mentari...

Megahnya pemandangan langit sore seperti dalam cerita cerita roman klasik yang mengilustrasikannya lewat paduan kata demi kata tentang langit yang nampak seperti bongkahan emas seakan tinggal harapan, kini tak ada lagi kicauan burung gereja yang hendak pulang ke sarang, tak ada lagi rombongan itik bersama majikannya yang menggiring mereka pulang kekandang, pula tak ada lagi terlihat riuh hiruk pikuk keramaian kota yang seakan terlihat seperti para gladiator bertempur dalam sebuah holocaust penuh kesengitan kesemuanya berteduh mencoba menghindarkan raga dari terjangan denting demi denting hujan yang berjatuhan perlahan dari kumulan awan hitam, langit menangis...

Deruh gemuruh mesin knalpot dan keluhan lelah penat manusia bermandikan peluh menghias seluruh tubuh yang lelah sehabis menuntaskan rutinitas serba monoton begitu melulu, mana pula bersifat formal yang harus dikerjakan mau tak mau, bernama kerja. Kesemuanya bergumul menghasilkan nada tanpa symphony, tanpa diakhiri dengan gerai tepuk tangan penonton, juga tanpa kepuasaan idealis seorang musisi diatas panggung, yang puas mungkin hanya Tuhan jikalau Tuhan memang benar ada...

Sang malam pun menjelang berwujud dalam reinkarnasi dari sang siang, nampak gelap tanpa ada hiasan ribuan bintang yang menari nari ditemani sang rembulan, tertutup satu penampakan yang tak diinginkan, mendung. Syahdu temaram lampu kota yang mengitari tiap emperan jalan ikut dalam jajaran harapan yang tak kunjung nampak malam ini...

Harapan dibumbui sedikit doa, ironik dan terlihat penuh kesian siaan dimata para manusia manusia yang jauh dari mimpi, sanga waktu pun tak mau tahu akan kesemua hal menyangkut keduniawian dan manusia pun tak tahu menahu siapa yang menggerakkan tingkah laku sang waktu, seakan kesemuanya terhipnotis takluk dalam perintah sang waktu, hingga ajal manusia pun menjadi permainan kecil sang waktu, dalam sekejap kehidupan seorang manusia dapat berubah 180 derajat, dari hidup sehat bugar tanpa cacat sebagai perhiasan di tubuh dapat berakhir dalam balutan kain putih menutupi jasad tanpa roh...

Terbesit pertanyaan memecah keheningan saat menatap rintikan hujan jatuh perlahan satu persatu, gelap malam seakan memeras air mata langit dari kumulan awan hitam...

"Apakah Tuhan itu adalah waktu itu sendiri? ataukah waktu adalah wujud dari Tuhan itu sendiri? Waktu kah yang menciptakan ide mengenai Tuhan? ataukah sebaliknya Tuhan menciptakan waktu?" tanya perasaan setelah bernegosiasi dengan pikiran hendak ditujukan pada diri sendiri hendak menjawab apa...

Tanpa pikir panjang diri menjawab "Lantas kafirkah aku bila hendak memilih waktu lebih dahulu ada ketimbang Tuhan itu sendiri?"

Perasaan menimbang dan berucap kata bijak "Alasanmu apa dulu?"

"Aku pernah beragama diantara salah satu dari ketiga agama yang diturunkan oleh keturunan dari Abraham atau Ibrahim, dan aku sempat mempejarinya agak tekun hingga nampak seperti seseorang yang tak pernah dibayangkan pernah ada dalam diriku yang saat ini dan didalam kitab sucinya aku dapatkan dimana konon langsung dari perkataan Tuhan yang turun lewat wahyu mengatakan kalau Tuhan pernah bersumpah tepatnya berjanji menggunakan kata Waktu/Masa... Apakah kuasa waktu itu hingga membuat Tuhan menggunakan kata waktu, bahkan jagad raya dengan kecepatan pemikiran teknologi manusia saat ini masih bimbang mengukur ketepatan cepat dari cahaya yang lebih cepat dari kedipan mata...

"Tuhan itu tak bisa dibandingkan dan disandingkan dengan apa pun itu" perasaan kembali mengatur agar laju pembicaraan tak sampai mengundang permusuhan dengan kaum agamawis, diikuti dengan anggukan setuju si pikiran...

"Iya, tapi apa salah kalau saya mempelajarinya! saya hanya ingin meneruskan perkembangan pikiran saya yang penuh keingintahuan tentang segala hal, dan waktulah yang selalu membuat deguban jantung menggebu tanda bersemangat tuk mempelarinya lebih dalam lagi, saya hanya ingin tahu intinya... Tak pernah terbesit kata tuk menjamah keeksisan Tuhan yang masih kucari apa benar benar ada atau pun tidak..."

Pikiran dan perasaan "..."

Sembari kuhisap sebatang rokok kretek bercampur racun nikotin, seduhan kopi hitam menurut para ahli mampu menetralkan efek nikotin berkat bantuan si kaffein. Tak lupa ku putar putar bolpoin hingga nampak seolah lagi berpikir tentang asal muasal sang waktu. Tak terasa malam pun semakin gelap, hujan pun sedari beberapa menit lalu tak nampak lagi, sekililing tempatku sekarang juga tak nampak lagi batang hidung manusia manusia yang sempat berteduh bersamaku disini hendak menghindar dari terjangan hujan. Hanya yang nampak dari ujung parkiran satu kendaraan tua yang menungguku dengan setia hendak kutunggangi menelusuri seluk beluk kehidupan dengan peralatan perang berupa perasaan ala humanism dan pikiran ala scientist sembari sesekali membertukan gemercing keduanya dalam ring imajinasi hingga ronde beberapa tulisan pun tercipta...

Kantin Pojok, Des 09

Walekumsalam...