



Malaikat pun menari nari di ujung cahaya mentari pagi yang hendak bersinar, membagi hangat pada bumi dan makhluk hidup lainnya. Sinarnya redup dari kejauhan, perlahan namun pasti, hingga nanti ketika telah muncul seutuhnya maka jangankan hendak dipandang mata, dirasa oleh tubuh pun enggan, panas tak memiliki banyak kawan. Burung burung saling beradu dalam nyanyian menyambut pagi datang, bunga bunga dan pepohonan terbangun dengan perasaan malu karena telah dibuai mesra oleh sang embun, kendaraan mulai berpacu berburu dengan waktu, manusia sibuk sibuk dan sibuk, mencari sesuap nasi untuk dapat tersenyum kenyang keesokan harinya. Seperti robot yang telah di program, semua yang nampak di depan mata terjadi sesuai dengan perkiraan, anak anak kecil tanpa dosa berlarian menuju sekolah, entah mereka bahagia karena hendak mendapatkan ilmu yang nanti ketika dewasa dapat digunakan untuk membantu orang lain, atau hanya karena dapat merasakan hidup yang ditanggung oleh diri sendiri di sekolahan, tanpa orang tua yang selalu saja melarang apa yang menjadi kesenangan oleh si anak kecil. Mereka berlari mencari kesenangan, mendengarkan guru berbicara sesuatu yang sama sekali mereka tak mengerti, tidak seperti di sekolahan orang yang telah dianggap dewasa, mereka mendengarkan apa yang mereka mengerti namun sayangnya mereka tak mau tahu akan hal itu, mereka hanya ingin mendengarkan agar si guru yang melihat mereka mendengarkan dapat berkasihan memberi si pendengar perhatian lebih lewat penilaian. Apalah itu nilai? Apalah itu ijazah dan tanda kelulusan? Sebagai kebanggaan pada diri sendiri kah atau hanya untuk membuat orang tua yang membesarkan kita bisa merasa bangga dan bahagia memiliki anak seperti itu! Lantas jika dipertanyakan mengenai kepintaran untuk apakah gunanya? Kepintaran dari kata pintar yang berarti dapat berguna untuk orang lain, dapat memudahkan kesusahan, dapat menyelesaikan yang tak terselesaikan, dapat membantu orang yang membutuhkan pertolongan, pokoknya dapat berbuat sesuatu pada orang lain, dan orang lain dapat berbahagia dengan pertolongan anda. Sama seperti menjadi berguna pada orang tua dengan menjadi anak yang rajin ke sekolah untuk menuntut ilmu, walau ilmu yang diserap disana tak ada satu pun yang dapat masuk ke otak, walau ilmu yang diajarkan disana tak memberikan rasa ingin tahu yang berlebihan pada diri sendiri, tapi untuk orang tua dan tanpa memperdulikan diri sendiri maka tetap saja dijalankan. Terserah, hidup toh hanya sekedar pilihan, dipilih hendak menjadi seperti apa dan kemudian dijalani. Masalah tidak menyenangkan dan menyenangkan dapat diatur, seperti berpura pura saja, toh yang melihat kebahagiaan itu ada kan orang lain, diri sendiri hanya bisa mengelus elus dada lantas bersabar dan bersabar hingga masa tua datang membawa begitu banyak penyesalan. Mengapa saya melakukan ini dan itu padahal saya tidak menginginkannya, mengapa saya disini dan disana padaha saya tak menginginkannya, mengapa dan mengapa diiringi penyesalan yang berkepanjangan, membuat kerutan diwajah semakin bertambah banyak dengan keluhan.
“Matahari sudah sedikit memunculkan kepalanya, cahanya sudah semakin terang, sekitaran sudah nampak jelas, jalan yang basah oleh embun dan hujan bekas semalam. Kini kemana lagi akan pergi pikiran ini, tak ingin diam, tak ingin berhenti untuk mengumbar kata kata, terlalu berisik bisik bisik itu…” kupu kupu lewat membawa cerita ini dari negeri seberang tentang seseorang yang kini hanya tertinggal menjadi tak lebih dari sebuah kenangan, dahulunya di elu elukan dan dibanggakan oleh hampir semua orang yang mengenalnya, namun ketika mati berkalang tanah, dia pun di lupakan walau kadang terlintas lewas sekilas dalam ceritaan.
“Sebentar lagi saya menjadi gila, walau sekarang sudah dipanggil gila, ah apa kau pernah mendengar tentang Newton yang dianggap gila oleh gurunya karena sama sekali tak tertarik dengan pelajaran yang diberikan di sekolahan? Atau mungkin mendengar tentang cerita mengenai Sokrates yang dianggap gila oleh kebanyakan orang yang hidup dimasanya hanya karena dia selalu saja bertingkah berbeda dari orang orang kebanyakan, mengenai si Nietzche, Albert Camus, Voltaire, dan banyak lagi lainnya, mereka orang gila yang sangat menikmati menjadi gila, anehnya mereka justru menjadi terkenal dan menjadi sumber inspirasi karena kegilaannya…” si kecoak yang selalu merasa kalau hidup itu tak lebih dari sekedar tempat sampah, mencibir dan mengatakan tidak suka pada hampir semua hal, tapi diam diam lewat mengendap selalu hadir dengan senyuman seolah dia tak pernah berkata tidak untuk semua hal. Ketika tempat sampah atau rumahnya tengah penuh penuhnya sampah, maka kawan kawannya pun datang; cacing, tikus, anjing, kucing, dan lain lain datang hendak mendapat bagian, selesai mereka dapat bagian, mereka pun pergi dan tak kunjung kembali hingga sampah rumah kecoak kembali penuh, kecoak itu hidup seorang diri, dan kawan tak lebih dari sekedar bayang ilusi, tak pernah dan tak akan menjadi nyata walau sesaat.
Di sebuah lorong waktu saya menulis ini…
Armstrong da Jimmy (si anjing yang senang mendongeng)
24 January 2012, 04:05am

Di tengah sore menjelang matahari tenggelam meninggalkan hari, duduk dua pasangan aneh sedang memandang rintik terakhir hujan yang perlahan mulai menghilang, disamping trotoar jalan kota yang senantiasa padat dengan lalu lalang kendaraan yang entah tampak terburu buru karena apa. Mereka berbicara seolah sedang berbisik, pelan dan penuh perhatian, padahal disekitar mereka asap dan bunyi desing bising ada dimana mana, mereka seolah tak peduli.
“apa kau pernah membayangkan masa depan kita nantinya?” tanya lelaki itu pada wanita yang telah menjadi kekasihnya semenjak 3 bulan yang lalu.
“tidak, eh mungkin saja pernah” jawab wanita itu sederhana “tapi sepertinya pernah, karena saya ingin tinggal di Paris bersamamu, kau sibuk dengan duniamu dan begitupun denganku, tapi kita tetap bersama menjalani hari hari hingga kita tua dan punya banyak anak!”
Si lelaki adalah seorang penulis naskah teater, dan kebanyakan naskah yang dia buat seputar kehidupan yang dia pandang selalu abstrak, tidak jelas namun mudah dijalani, dan dia telah bergelut di dunia teater baru 5 tahun. Sedangkan wanita adalah seorang penari salsa, yang menganggap hidup adalah panggung, nafas adalah irama, dan gerak adalah tarian, walau masih baru 2 tahun namun dia menyenangi bidang ini sepenuh hati dan hendak menjadi professional penari salsa suatu hari nanti. Mereka berdua bertemu disaat matahari terbit di sebuah pantai yang jauh masuk ke desa, waktu itu wanita ini sedang dalam keadaan bosan dengan perkotaan hingga dia memutuskan untuk menenangkan perasaan dan raganya di pedalaman yang juga dekat dengan laut, karena dia sangat suka, malah bisa dibilang cinta dengan laut dengan alasan yang sukar untuk dijelaskan dengan logika, dia mempercayai bahwa laut dihuni oleh seorang dewa yang mampu dan mau mendengarkan tiap cerita dari manusia yang datang untuk mencurahkan tiap cerita yang menjadi beban dalam hidup manusia itu. Dan lelaki ini, menganggap laut adalah latihan untuk pikirannya yang mengajarkannya agar memandang segala macam hal tak hanya dari dekat, yaitu pantai yang selalu indah untuk dinikmati oleh mata, tapi memandang jauh ke depan hingga batas mata memangdang dan kemudian membayangkan apakah yang ada di ujungnya, jika mata tak mampu memandang, maka masih ada imajinasi yang dapat memperkirakan seperti apa yang ada di ujungnya, semakin lama pikiran dan imajinasinya bekerja maka perlahan muncul sebuah cerita tentang sebuah pulau yang jauh ke antah berantah, muncullah juga tokoh dan karakter baru, awan dan pepohonan yang jauh dari bayangan manusia pada umumnya, “toh ini hanyalah cerita” katanya pada diri sendiri, manusia butuh cerita untuk membuat diri mereka bisa memperkirakan untuk apa mereka hidup dan apa yang akan mereka lakukan untuk hidup.
Mereka bertemu dan kemudian saling menyapa dengan kata sederhana “hai”, saling bertukar kata sederhana yang bisa di perkirakan oleh para pembaca mengenai dari mana asalnya, untuk apa kesini, dan lain sebagainya. Hingga mereka sampai pada cerita tentang laut dan pendapat mereka tentang laut seperti apa, di lain sisi kehidupan mereka berdua memang tak jauh dari cerita seputar laut, si wanita memiliki ayah seorang asisten koki di kapal pesiar seorang milyader di selatan sana, sedangkan si lelaki memiliki ayah seorang nelayan jauh di timur sana. Karena cerita mereka saling sambung menyambung mengenai laut, mereka pun mulai saling bertukar cerita mengenai segala macam cerita cerita lampau yang sempat atau pun belum sempat di ceritakan oleh sejarah, mereka bercerita seputar mitos Flying Dutchman dan Boogieman si setan laut, Poseidon atau Neptunus dewa dari mitology Yunani kuno, Columbus dan Vasco da Gama pelaut dari Eropa yang menjelajahi dunia dengan kapal laut mereka, armada laut Viking yang garang dan perkasa di lautan, bangsa Bugis dan kapal Phinisi mereka, dan begitu banyak lagi yang lainnya. Dengan cerita ini yang mereka berdua tahu dan suka, maka pertemuan diantara mereka berdua pun semakin sering selama dua tahun terakhir sebelum si lelaki menanyakan pada wanita ini apa dia mau menjadi kekasih si lelaki, dan dengan jawaban sederhana si wanita mengiyakan.
“tapi mengapa musti ke Paris kita menghabiskan hidup kita?” tanya si lelaki yang sebenarnya sangat mengagumi kota itu.
“karena begitu banyak alasan sayang, karena disana seni dihargai, dan kau tahu sendiri kalau duniaku di tari dan duniamu di teater sama sama anak dari seni, selain itu Paris adalah kota terindah di dunia ini, setidaknya kota terindah yang mampu mata dan imajinasi bayangkan, bangunan tua yang indah berjejer rapih, bahasa mereka yang selalu terdengar romantis…”
Tiba tiba si lelaki memotong “tapi bagaimana dengan kota asalmu sendiri? Bagaimana dengan bahasa ibumu sendiri?”
“bahasa ibuku yang kupakai sekarang itu takkan pernah bisa digantikan oleh bahasa lain walau aku sendiri ingin, tapi itu takkan terjadi karena Paris itu hanya untuk kita berdua, sedangkan kampung halamanku adalah yang terindah dari yang indah oleh mata tiap manusia, tapi kalau untuk kita berdua jawabannya adalah Paris.” Jawab wanita itu sederhana
“baiklah sayangku, entah mengapa, tapi aku rasa kau lebih romantis dariku.”
“tak masalah sayang, ini hidup yang jalani kita berdua, setidaknya musti ada salah satu diantara kita yang romatis”
“Paris yang kudengar adalah kota cinta, biarkan disana cinta kita bertahan dan berkembang biak menjadi keturunan kita hingga tua menjelang”
Dikos, 12 February 2012, 18:53
Sekarang kau sudah semakin lancar saja mengumbar beribu kata mengenai hal yang sama sekali tak kau ketahui, menceritakan beribu pengalaman yang tak pernah kau alami, semua tak lebih dari sekedar bohong bohongan belaka agar orang tertarik mendengarkanmu, mengikuti hidupmu, dan menjadikan dirimu bagian dari cerita hidup mereka. Saya ingat waktu kau bilang kalau kau ini adalah orang yang berprinsip, dan prinsip hidupmu takkan dapat digantikan oleh materi, kau bilang kalau hanya pelacur dan bajingan saja yang hidup tanpa prinsip. Masih ingatkah kau waktu kita sedang berjalan jalan bersama di malam hina itu, kita masuk ke gang gelap ditempat pelacuran, malam itu kita berdua cukup mabuk, 3 botol mansion dan 5 botol anggur kolesom kita teguk sembari becerita tentang mimpi mimpi kita di masa depan, aku masih ingat persis ekspressi wajahmu waktu memandang salah satu pelacur yang tengah menunggu para pemuja nafsu datang menghampirinya, tapi saying waktu itu uangmu sudah habis untuk kita pakai beli minuman. Dan maulailah kita saling berdebat mengenai beda dan sama antara manusia berprinsip dengan pelacur.
“kau ini, dari dahulu kala kau mengatakan kalau pelacur itu manusia hina, mengatakan kalau mereka ini tak jauh beda dengan binatang, mereka menjijikkan karena rela mengobral tubuh mereka demi selembar uang 50ribuan, dan banyak lagi kata kata busuk yang keluar dari mulutmu. Tapi, cobalah bercermin dan lihat sendiri tampangmu ketika memandang langsung salah satu dari mereka, mukamu seperti hyena yang kegirangan melihat bangkai didepan mata, lantas jika mereka itu menjijikkan karena mereka mengobral tubuh mereka demi uang, maka bagaimana dengan dirimu sendiri yang tidak punya uang tapi ingin menikmati tubuh mereka? Apa kau masih layak dikatakan manusia?”
“ah, kau ini, memangnya kau sendiri tak bernafsu melihat mereka? Sudah hilangkah kenormalan dalam dirimu, kau tahu sendiri kalau manusia itu diciptakan memiliki nafsu dan sekarang matamu disuguhi dengan tubuh seksi dan siap pakai malah kau seolah tak melihat apa apa, kau sudah buta!”
“haha sudahlah, kita sedang tak membicarakan mengenai diriku, aku ini anjing dank au tahu itu, tapi kau ini mengakui kalau dirimu adalah manusia yang berprinsip, prinsip hidupmu yang selalu kau banggakan itu membuatku muak, kau berkata mengenai begitu banyak hal namun hampir tak ada satupun yang benar benar kau lakukan. apa kau sudah lupa mengenai rencanamu hendak menjadi volunteer di salah satu lembaga kemanusiaan, kau hendak menolong orang orang yang tak mampu bersuara ketika sedang berhadapan dengan hokum yang selalu memberatkan mereka, kau hendak menolong pula anak anak jalanan yang tak menentu hidupnya, kau ingin menjadi seseorang yang selalu dibutuhkan, tapi sekarang aku tahu semua tak lebih dari sekedar kebohongan.”
“hey, ini semua hanya masalah waktu, dan semua kata kataku itu memang hanya kebohongan, dan hanya pada kau kawan sejatiku, kawan sial yang selalu ada disaat aku kesusahan yang aku beritahu, aku muak dengan manusia, semua manusia hanya memandang seseorang lewat apa yang mereka bisa lakukan, walau hanya bisa dalam artian lewat ceritaan, manusia memang senang dibohongi kawan, dan akulah si pembohong itu. Kau lihatlah dengan matamu sendiri, bukankah para pelacur itu memang senang dipandangi dengan pandangan penuh nafsu? Mereka dianggap ada ketika ada seseorang yang memandang mereka dengan pandangan penuh nafsu, walau memang dibarengi dengan perasaan harap harap cemas, karena tak semua orang yang datang ke tempat seperti ini punya uang untuk berseks, seperti kita! Hahaha… kau masih ingat dengan siapa aku berbicara waktu aku menceritakan tentang kehidupan, prinsip dan segala macam tetek bengek mengenai kebahagiaan? Yah, tentu saja kau ingat, aku berbicara dengan mereka yang dahulu kita berdua panggil dengan sebutan kawan, namun mereka menjauh karena melihat hidup kita yang selalu penuh dengan tawa dan menjalani hari hari seperti seorang pemalas, dan dimalam harinya kita bergelut kesah dengan minuman. Sedangkan mereka, kuliah mereka hanya 4 tahun, selesai kuliah mereka kerja di perusahaan, mendapatkan istri yang mereka boyong dari kampung halaman mereka sendiri, dan sekarang lihat dandanan necis mereka, rambut klimis, kendaraan yang dibeli dengan uang orang tua, rumah dan segala macam perabotan rumah tangga pun dibeli dengan uang orang tua mereka, handphone yang bermerk agar mereka bisa nampak trendi dan up to date. Mungkin kita yang hanya begini begini saja, kau pelukis dan aku penulis yang tak tentu masa depannya, kadang aku launching buku baru, dan kau pameran, namun belum tentu juga ada yang membeli karya kita, tak seperti mereka kawan, mereka hanya duduk santai di kantor yang ada AC-nya dari jam 8 pagi hingga 5 sore, sesekali mereka mengutak atik tumpukan kertas di meja mereka dan pula duduk berlama lamaan memandang computer yang entahlah mereka sedang mengetik apa... maaf kawan, aku melantur, mungkin efek minumannya sudah kelewatan, hahaha…”
“Apa kau tak sadar tengah menghakimi kehidupan mereka?”
“Apa aku sedang sadar sekarang? Setelah 3 botol mansion dan 5 botol anggur kolesom?”
“ah kau ini, memangnya kita minum bersama sudah berapa lama? Masak hanya sebegitu kau sudah lupa membedakan antara kewarasan dan kegilaan, dari tadi kau sudah berbicara panjang lebar mengenai kehidupan mereka seolah kau tahu persis kehidupan mereka, kau berbicara mengenai kebahagiaan hidup mereka, lantas bagaimana kalau ternyata mereka hidup seperti itu namun bahagia? Karena memang kebahagiaan kadang subjektif, kau senang dengan kata kata, dan aku senang dengan coretan. Aduh kau mengingatkanku akan masa kuliah kita dulu kala, kita berdua selesai hampir 7 tahun! Padahal kawan kawan kita semuanya sudah selesai duluan, adik kelas kita duluan, dan kita hanya tahu bersenang senang saja, haha…”
“tapi apa sekarang hidupmu tidak bahagia?”
“dengan hidup sendiri seperti ini? Mana ada wanita yang ingin hidup dengan seorang pelukis yang tidak jelas seperti aku ini! Haha…”
“sudahlah jangan merendah diri, kudengar kau lagi dekat dengan wanita nyentrik yang bekerja sebagai fotografer itu, dan sudah berapa kali aku melihat kau dengan sepeda bututmu sedang jalan jalan bersama wanita itu! Siapa namanya?”
“ah, aku jadi malu… hahaha…”
Selesai… (Roman Absurd)
Di Teater Tangga, 26 January 2012, 05:21am
Sayalah wanita yang diceritakan dalam cerita ini, sebuah cerita yang sebenarnya saya sendiri tak tahu mengapa si penulis menceritakan saya di dalamnya. Namun memang benar kalau saya ini mencitai hujan, entah dimana dan bagaimana si penulis tahu hal itu. Saya mencintai hujan sama halnya seperti pohon mencintai dedaunan atau seperti laut mencintai ombak. Mungkin sebagian orang bilang kalau saya ini aneh atau apalah, tapi bukannya mencintai sesuatu atau seseorang kadang terkesan aneh?
Cerita ini di mulai ketika saya yang sebenarnya ada diantara kebohongan atau cuma sekedar khayalan si penulis atau mungkin karena benar benar ada namun jauh dari jangkauan, maksud saya si penulis terinspirasi dari seseorang yang bukan siapa siapanya, kenal pun tidak, namun karena tulisan atau kesan dari si wanita (mungkin saya sendiri atau mungkin bukan tak tahulah) dimana ketika menceritakan tentang hujan beserta bulir per bulir yang jatuh dari langit membasahi bumi dengan penuh kelembutan dan kasih sayang membuat si penulis terkesima hingga jadilah cerita ini. Memang sulit untuk mengajak si penulis berdialog atau bercerita tentang siapakah wanita yang mencintai hujan ini sebenarnya, namanya siapa, tinggalnya dimana, dan apa alasan logis hingga wanita ini mencitai hujan sedemikian rupa.
Mendung sore mulai datang, seperti biasa di musim hujan biasanya datang pada sore hari, ketika burung burung dara pulang kekandang, petani di sawah sudah pulang ke rumah, dan para manusia yang berkeliaran di jalan dan di pasar pasar pergi berteduh dari siraman hujan yang sebenarnya sudah diketahui akan datang tiap sore hari, sekarang kan musim hujan. Mulailah wanita ini mencari tempat sepi yang tak ada satupun orang yang ada disana, walau hujan menghalang namun langkah penuh senyum wanita ini tetap saja tak berhenti walau selangkah. Sebenarnya bisa saja wanita ini mengurung diri sendiri dalam kamar untuk menikmati saat penuh harmoni kisah antara wanita ini dengan si hujan, namun itu tak dilakukannya, dia tak ingin menikmati saat saat bersama (walau dengan hujan dan bukan dengan seseorang). Perlahan hujan menetes pelan, seolah tengah mendengar aba aba dari komandan yang mengatur baris berbaris armada hujan, kloter pertama pun turun dengan rintik per rintik.
Sebelum kloter kedua turun yang dimana biasanya berseturut dengan adanya kilat menyambar dan seperdetik kemudian guntur pun ikut mengumandang, hujan pun turun seperti serangan membabi buta bangsa Anglo Saxon ketika menyerang benteng pertahanan William si Penakluk yang waktu ini hendak menguasai daratan Britania. Wanita ini sudah mendapatkan tempat berteduh dan dimulailah cerita mereka berdua, cerita tentang tukar cerita antara manusia dan hujan. Bukan cerita tentang curahan hati yang tengah dirundung duka atau tangisan keluh kesah karena bosan dan jenuh menghadapi hidup yang begitu begitu saja. Cerita mereka, maksud saya cerita tentang wanita pecinta hujan dengan hujan itu sendiri berupa kisah cinta yang diharapkan suatu saat salah satu dari rintik hujan akan menjadi seorang pangeran layaknya cerita Putri Tidur yang menunggu pangeran tampan yang datang mengecup pipinya dan kemudian terbangun dan menjalani hidup bersama pangeran dengan penuh kebahagiaan hingga akhir hayat. Ini cerita memang tak jauh dari sekedar dongengan belaka jika anda yang membaca tak percaya pada mimpi dan cita cita. Semua manusia itu diciptakan memiliki daya khayal atau imajinasi yang luar biasa luasnya, juga kemampuan mewujudkan mimpi dan cita cita dan si penulis atau pun si wanita ini tahu kalau hanya Sang Pencipta yang tahu batasnya, dan manusia tentunya dengan kehendak Sang Pencipta pun bisa mewujudkan daya khayal yang sebelumnya hanya berupa angan namun menjadi kenyataan, siapa yang tahu kehendak Sang Pencipta?
Hujan menebar siraman penuh kasihnya kesegala penjuru arah, kemana mata memandang hanya ada genangan air dan segala macam hal yang basah, terkena basah oleh zat pembawa kehidupan bernama hujan. Wanita ini jika dilihat sesaat nampak sedang melamun, tatapannya tak berpaling dari memandang hujan, semakin deras hujan turun dan menggedor genteng maka semakin hanyut wanita ini dalam cerita yang hanya mereka berdua tahu dan rasakan. Mata wanita ini terpaku pada jatuh hujan yang teratur, sebentar dalam hati wanita ini bertanya “apa ini tanda bahwa hidup manusia memang telah ada yang mengatur?”, ada yang jatuh pada dedaunan diranting pohon, ada yang menerpa kaca tepat dimana wanita ini sedang bercengkrama dalam diam dengan hujan, ada pula yang menghujam jatuh ke tanah dan berbaur dengan genangan air yang telah terbentuk di seluruh halaman warung cokelat tempat wanita ini duduk dan melamun, maksud saya melamun jika menurut pandangan orang lain yang melihat apa yang sedang dilakukan oleh wanita ini. “Lantas jika ada yang mengatur mengapa masih saja ada yang jatuh di tempat lain, mengapa hujan ini tak jatuh hanya di genteng saja atau mengapa jatuhnya sekalian langsung ke tiap genangan air yang ada di halam saja, ah atau mungkin hujan jatuh memang ada yang mengatur, sama seperti manusia ada yang mengatur kelahiran, kadang lahir, kadang pula tak jadi lahir, namun setelah hujan diatur agar turun jatuh ke bumi, setelah itu hujan menentukan lewat pilihan hendak jatuh dimana. Sama seperti manusia ketika telah lahir ke bumi, dan belajar lewat pendidikan, lingkungan dan orang tua kemudian mereka lepas ke kehidupan sendiri dan menentukan takdir mereka sendiri hendak menjadi apa nantinya…”.
Hujan semakin deras saja menerpa, tatapan si wanita ini masih saja terpaku mengamati dengan takjub rintik per rintik hujan yang jatuh berbarengan ke bumi, walau memang tak tampak lewat pandangan mata orang yang melihat wanita ini, toh ini cerita bukan tentang orang yang melihat wanita ini, tapi cerita tentang wanita ini yang mencintai hujan.
Ada cerita yang telah lama berlalu, mungkin hampir setahun yang lalu, ketika wanita ini sempat memutuskan memilih untuk membagi rasa cintanya pada hujan kepada seorang lelaki yang secara tidak langsung dia senangi karena lelaki ini mengingatkan dia pada pemeran utama pria dalam filem favoritnya yakni “Before Sunset” dan “Before Sunrise”, dimana singkat cerita didalam filem tersebut menceritakan tentang seorang lelaki dan wanita yang sama sama tidak saling kenal dan baru bertemu namun sudah saling terpikat dikarenakan satu hal yang mereka sukai satu sama lain yakni bercerita, jadi untuk orang yang membaca tulisan ini namun tidak senang menonton filem yang isinya hanya dialog atau ceritaan maka diharapkan tidak usah menonton file mini karena pasti terasa mengantukkan. Kembali ke cerita wanita pecinta hujan, wanita ini menyukai hampir tiap ceritaan dari si lelaki, dan lelaki ini pun juga merespon dengan menyukai ceritaan dari wanita ini, namun saya sebagai penulis dan mungkin beberapa dari kalian yang membaca tulisan ini akan merasa bahwa begitu gampangnya wanita ini di bodohi oleh bualan dari lelaki dimana lelaki kan memang senangnya membodohi wanita dengan kebohongan dan anehnya wanita juga ternyata senang dibodohi dengan kebohongan. Dan selang ketika wanita pecinta hujan ini memutuskan untuk mengakhiri cerita ‘cinta’ mereka, dari situ wanita ini kemudian dengan berat hati menerima bahwa memang benar jika lelaki itu hebat dalam berbohong dan wanita juga tak kalah hebat gampang dibohongi.
Harap para pembaca tidak membawa ke hati segala macam hal yang menyangkut masalah pribadi para pembaca yang dengan sembrono telah diceritakan oleh si penulis didalam cerita mengenai wanita pecinta hujan ini, maksud saya sebagai penulis meminta maaf kalau anda yang membaca adalah wanita bukan berarti gampang di bodohi lelaki lewat kebohongan, begitu juga dengan lelaki yang membaca tulisan ini jangan sangka bahwa saya memvonis bahwa anda juga pembohong sama halnya seperti lelaki yang sempat mengarungi bahtera ‘cinta’ sesaat dengan lelaki yang diceritakan di cerita ini. Ini hanya cerita tentang wanita yang mencitai hujan dengan hujan itu sendiri yang ditulis oleh saya yang bukan siapa siapanya hujan atau wanita si pecinta hujan.
Bagian I cerita wanita pecinta hujan selesai…
Kantin Kampus, 1 November 2011, 17:13

Mencoba mendaki gunung yang tinggi,
Berteriak yang lancang pada para hyang,
Mengharap bahwa mereka nanti kan didengar,
Setelah semua tak ada hasil,
Burung burung berhenti berkicau,
Pepohonan tadus tak terurus,
Hingga berpasra diri berkata,
Semua ini tak pernah ada,
Tak lebih dari imaji konak seorang pemimpi...
Lalu lalang pemanja jalan,
Hingar bingar mereka menerka,
Di jalan setapak mereka bersandar,
Menunggu uluran tangan mereka,
Tak bisa lagi kaki berjalan katanya,
Mulut telah terkunci dan hilang fungsi,
Tak ada kokok ayam di pagi hari,
Tak ada gongong anjing mencari kawan,
Dan semua lelap tak lagi bangun,
Menunggu ajal yang tak tahu kapan akan datang...
Mereka berkata hal yang tak dapat dimengerti,
Mereka merasa mereka layak didengar,
Seolah memaksa agar mereka di benarkan,
Angguk perangguk di beri agar mereka puas,
Nanti ketika selesai waktunya mereka diam,
Semua diam biar alam yang berbijak tindak,
Laut berbisik menghambar rasa,
Tak ada kata dan anggukan,
Lelah dan tertidur,
Tak lagi bangun karena telah mati,
Semua sudah berakhir karena mimpi telah mati...
Salah satu yang saya percaya hingga kini yakni manusia yang hidup dan merasakan kebahagiaan sepanjang hari harinya adalah manusia yang selalu mempercayai pada mimpi mimpi dan cita citanya, dan tentu saja itu benar adanya, namun semua itu akan kembali ke kenyataan lagi, kembali pada kebanyakan orang orang bilang kehidupan normal. Manusia yang bahagia atau manusia yang beruntung adalah manusia yang mati pada usia muda. Setidaknya itu perkataan orang orang yang tengah hidup dan menjalani mimpi dan cita citanya, dan akhirnya kehidupan seseorang tak ada yang tahu kapan akan berakhir, kehidupan manusia sudah ada yang mengatur itu sudah pasti. Manusia yang hidup hingga tua menjelang, akan merasakan lebih sedikit kebahagiaan dan banyak dihinggapi rasa sendiri dan kesepian, dimulai dari ditinggalkan oleh banyak orang dia cintai, orang tua, keluarga, kawan, dan lain sebagainya, rasa kesepian dan sendiri datang ketika kita ditinggali orang yang mencintai kita dan kita mencintai mereka, tanpa alasan dan tanpa pandang bulu.
Inilah cita citaku hendak membuat hidup yang bahagia, dimana kebahagiaanku juga dapat dirasakan sebagai sebuah kebahagiaan oleh orang orang yang ada disekitarku, walau kadang terlalu banyak yang menganggap bahwa jalanku sudah terlalu melenceng, jalanku terlalu berliku liku, hal yang setidaknya dapat dipermuda justru kupersulit. Menurutku justru karena banyaknya alasan hingga setiap tindakan yang kuperbuat terkesan dipersulit, salah satunya adalah aku ingin melakukan segala sesuatu dengan caraku sendiri, mencintai dengan caraku, dan memperhatikan dunia dengan caraku. Buku adalah jendela untuk melihat bahwa dunia ternyata begitu luas, belum lagi jika kita coba mengintip angkasa luar.
Cintaku telah pergi, cinta yang hendak aku pertahankan hingga jelang tutup usia, cinta yang aku inginkan akan tetap ada walau apa pun yang akan terjadi nantinya, semua aku jalani dengan caraku, maafkan aku sayang aku tak bermaksud untuk membuatmu kecewa dan terluka dengan caraku yang sangat berbeda dengan orang kebanyakan, orang kebanyakan seperti yang telah kau lihat di televise, di reality show, cerita cinta kawanmu, cerita cinta dalam roman pisician, atau cerita cinta dimana pun itu. Bukan maksudku untuk menjauh darimu waktu itu, sangat berat dan sakit hati ini jika mengingat masa itu, ketika kutanyakan padamu bahwa sepertinya sudah waktunya kita untuk berpisah, kita sudah terlalu berbeda dalam segala macam hal, kau suka melakukan hal yang menurutku sangat membosankan, dan aku melakukan banyak hal yang menurutmu terlalu sukar untuk dipahami.
Sungguh waktu itu aku hanya ingin bermaksud untuk menunjukkan bahwa aku ini akan berusaha tetap setiap padamu, tetap setia pada satu pasangan hingga ajal datang menjemput, menemaniku disaat tua yang penuh dengan rasa kesepian, saling menerima keriput dan kejelekan kejelekan yang semakin banyak hingga di raga dan pikiran kita. Aku menanyakan padamu bahwa kita berakhir, dan bukan tanggapan diam dan menangis yang aku harapkan, bukan pula rasa benci yang berkecamuk yang datang darimu tiba tiba, kau membenci semua tentangku waktu aku mengatakan itu, kau hendak menjauh dan bahkan melupan semua tentangku dalam kehidupanmu, sungguh perih hati ini ketika mendapatkan itu semua. Yang kuharapkan justru tanggapan positif dan dewasa darimu, yang kuharap hanya sedikit pertanyaan yang dapat membuat hubungan kita tetap berlanjut. Kita butuh keseriusan, kita terlalu jauh melangkah tanpa memikirkan sedikitpun tentang keberadaan diri kita masing masing, kita terlalu egois, kita butuh sedikit waktu untuk berpikir, bukan waktu untuk saling menjauh hingga kini untuk mencium bau parfum vanilla tubuhmu pun ku tak bisa karena setiap kita bertemu kau menjauh.
Apa kau tahu jika menjadikan seseorang pasangan hidup itu bukan untuk sementara? Tetapi untuk selamanya, ketika ada anak, cucu, hingga cicit yang nantinya lahir dari keturunan kita. Kita belum dewasa sayang. Yang kita butuhkan hanya cinta dan pengertian, saling mengerti apapun yang dilakukan oleh pasangan kita, saling mengetahui tanpa harus bertukar kata, diam penuh pendengaran, diam dengan anggukan yang dapat mengugah perasaan kita hingga tak sadar senyuman pun terpancar.
Sudah tua aku kini, dan tetap kau yang ada disini, disini didalam pikiranku, tak dapat keluar dan terus berlari tanpa arah dan tujuan, semua tentangmu telah terekam dalam pikiran, caramu tertawa, menangis, sedih, senyum, marah, bahkan ekspressimu dikala tidur pun terekam erat dalam pikiran ini. Baikalah, mungkin kau butuh waktu untuk itu semua, semuanya juga sudah berakhir, maksudku hubungan kita, namun jika kita memang ditakdirkan untuk bersama suatu saat nanti, ingat ini aku sayang kamu.
Aku terkadang bingung ketika ada seseorang yang bertanya padaku apa tak ada lagi wanita didunia ini selain dia? Dan aku jawab dengan serius tidak ada selain dia, dia saja, mungkin terlalu berlebihan tapi aku suka dia.
Entahlah, apa aku sedang hidup di dunia imajinasi yang terlahir dari mimpi dan cita citaku ketika bertemu dan merasakan kehadiran dirimu disini, di pikiran dan perasaanku. Atau mungkin aku butuhkan seseorang untuk mengembalikanku ke dunia nyata, memberikanku sediki ruang dalam hidupnya, jika memang benar bahwa jodoh satu manusia di dunia ada tujuh orang, jika memang benar jika cinta itu datang ketika kau tak memikirkan cinta, jika memang benar bahwa setelah satu orang terkasih pergi maka akan datang seorang terkasih lain. Aku tak tahu.
Untuk Bela Diyna
Tana Toraja, August 22, 2011, 22:11