Tuesday, November 22, 2016

Cinta

Kenapa kita lebih senang membagikan kebencian dan kesedihan ketimbang cinta dan kebahagiaan?

Satu membagi benci maka yang lain yang tidak tahu apa-apa ikut membenci,
Yang tak tahu ikut percaya tanpa mau tahu kebenaran seperti apa,
Awalnya hanya satu orang saja, menyebar benih yang dipupuk dengan sedikit kebodohan,
Lebih banyak, semakin banyak kebencian dimana-mana...

Ini zaman apa?
Digital memberi makan terlalu banyak informasi,
Semua yang lapar tanpa pikir langsung makan sana sini,
Buku-buku dan kebaikan ditanggalkan,
Pakaian dan warna kembali dibeda-bedakan,
Manusia dipetak-petakkan berdasar keyakinan...

Kebijakan ada dimana?
Mengapa tak hanya cinta saja yang dibagi?
Tak usah berlebihan,
Tak menyebar benci maka benci tak akan berkembang,
Diam bukan berarti tak peduli atau tak mendukung,
Bentuk keprihatin paling dalam adalah diam, seperti orang berkabung...

Cinta sudah mati, manusia yang membunuhnya.

22|11|2016, 09:47

Wednesday, November 02, 2016

Post Materialism

Dimana-mana,
Mereka terlihat saling bertukar pendapat tentang apa yang dibeli dan bukan apa yang dibuat,
Disana-sini,
Tanpa malu saling pamer apa yang dibeli dan bukan apa yang dibuat,
Apa mau dikata,
Suara dan hak pun diperjual-belikan sekarang,
Ah uang,
Kau bikin buta manusia,
Tak hanya buta,
Otak pun kau hilangkan,
Ah pemalas,
Bahkan mereka membeli kebahagiaan lewat apa yang mereka kenakan,
Pakaian, perhiasan, aksesoris dan kawan-kawannya mampu membuat hati mereka senang,
Ah kebahagiaan,
Ternyata hanya materi...

02/11/2016 12:53

Tuesday, November 01, 2016

Pemimpin Memuakkan

Rasa muak melihat badut-badut di ibukota,
Berlenggak-lenggok bak raja,
Gila harta gila kuasa,
Itu lihat di semua media,
Semacam tahi saja,
Dari jauh tercium baunya,
Semacam lihat orang berak saja,
Keserakahan tampak dari raut wajahnya,
Peraturan ini itu dibuat untuk mengatur rakyat katanya,
Untuk kesejahteraan rakyat katanya,
Katanya,
Kata nya,
Ternyata,
Rakyat pun mulai terbiasa,
Semua bohong ini bohong itu pun dipercaya,
Heboh publish ini share itu dimana-mana,
Ah mending semua tidur saja,
Jangan coblos mereka,
Biar para pemimpin tahu dan tak lagi jumawa,
Kalau tak ada pencoblos mereka cuma tahi belaka...

01/11/2016

Sunday, October 16, 2016

Negeri ku

Ini dia lucunya negeriku, punya 5 pulau besar dan sekitar 27.000 pulau kecil bertebaran dari barat hingga ke timur, sekitar 300 lebih budaya menghiasi keanekaragaman negeri ini, ada 150 gunung berapi aktif yang siap menyuburkan negeri kapan saja mereka mau. Namun selain pemimpinnya yang bodoh, jajaran mentri dan pejabat negeri pun saling membantu memperkaya diri sendiri lewat tingkah korup dan sok keraja-rajaan. Semua siaran televisi hanya menyiarkan seputar satu pulau saja, mau itu tetek bengek politik lah, budaya lah, ribuan artis goblok lah, macet dan harga sembako lah, dan lain lain blablabla. Padahal ini negeri punya kurang lebih 27.000 pulau, pemimpinnya pun berganti-gantian berasal dari satu pulau itu saja, dari pulau lain seolah dipersulit untuk sesekali berunjuk gigi. Bahasa negeriku pun diambil dari satu serapan saja, serapan pulau itu saja tentunya, bahasa kan penyambung budaya satu dan lainnya, ingat ada 300 lebih budaya berbeda.

Aduh negeriku yang tercinta, kerap kau pertanyakan tentang nasionalisme pada rakyatmu, nasionalisme omong kosong, di negeri ini takkan mungkin ada nasionalisme. Mungkin bakal ada sikap nasionalisme kalau negeri ini dipecah saja, tiap pulau merdeka dan keluar dari kekangan satu pulau yang berkuasa. Mungkin bakal ada sikap nasionalisme kalau kurikulum yang dipaksa untuk diserap dari ujung barat hingga ujung timur dihilangkan dan diganti dengan kurikulum yang sepenuhnya membahas seputar pulau-pulau mereka saja. Mungkin yah mungkin.

Undang-undang dan hukum negeri ini warisan barat, dimana barat tak jelas budaya mereka berasal dari mana, dimana barat dari jaman dahulu senangnya menjajah, dimana barat yah kebarat-baratan. Jadi terlalu banyak pertanyaan seputar barat yang tak jelas yang perlu dinalar dicari tahu jawabannya. Apa susah membuat undang-undang dan hukum sendiri? Apa masih kurang sarjana dan orang pintar negeri ini yang bisa bersatu membuat negeri ini berkembang dan menghindar dari kebobrokan pemimpin dan kebodohan yang merajalela?

Ah negeriku...


Samping tempat sampah, 16 Oktober 2016, 11:28

Monday, August 22, 2016

28

28...
Just getting married 114 days ago,
Waiting alone and counting second to second,
No candle, cake and gift,
What i'm looking for in life?
How much achievment that i have?
I dont know...

Turn off the light,
See me on the mirror,
Looking fat,
With beard and moustache,
Still waiting...

Silently... Then those mosquito start to talk,

"Its all about me" they said

"And nobody care..." I said

"Its alfoght..."

Friday, April 01, 2016

Ilusi

Kebenaran sejati itu tidak pernah ada kawan, yang ada hanya manipulasi kenyataan, hingga lewat perspektif dan cara pandang orang terdahulu maka lahirlah kata kebenaran, kebenaran hanyalah kata, kata-kata yg tertulis ataupun terlisan dari orang terdahulu tetap saja tak lebih dari sebongkah kata-kata. Mau itu kitab Tuhan lah yg dimana "dijanjikan" setelah kematian, mau itu filsafat atau buku2 apapun namanya tetap saja hanya kata-kata. Dan dimana kebenaran katamu? Kebenaran ada di kematian.


Jogja sumuk, 1 April 2016, 20:41

Wednesday, March 30, 2016

Post Liberal

Kau berlindung pada agama yg banyak massa nya, berharap pada Tuhan agar senantiasa dilindungi,  diberkahi langkahmu, rela mati demi ajarannya, surga yg cuma dongengan jadi tujuanmu, ah kau cuma si tengik anak kemarin sore. Bagaimana kalau kau sendirian? Berkoar-koar soal kebenaran layaknya anjing tanpa kepala pada segala macam mayoritas, sekarang minoritas kau sepelekan dan kau salahkan, hey kutu kupret penggemar komik ambil kaca dan lihat dirimu disana, lihat yg buruk lebih banyak dari yg baik, perhatikan kalau hidup damai tanpa musuh itu yg semua makhluk hidup inginkan...

Jogja mendung, 30 Maret 2016, 13:15

Saturday, February 06, 2016

Judge

Kebanyakan sih langsung judge, sekali berkata ini langsung judge, sekali berbuat ini langsung judge, yang bodoh melongok kepo karna kok ramai banyak yang ngejudge akhirnya ikutan ngejudge tanpa mau tahu yang dijudge apaan. Turun tanganlah para ahli judge yang sedari dulu sudah jago menjudge, beretorika dan membuat teori bualan seputar judge-judgean. Media ikut-ikutan menjudge demi pasar dan rating. Duh, otak kemana? Hati kemana? Tak tahu yang di judge itu perasaannya gimana apa? Bagaimana kalau kau yang di judge? Bagaimana kalau kau urus diri sendiri dulu yang tentu masih banyak yang perlu diperbaiki, semacam bercermin. Toh tak ada manusia yang tak pernah salah, memang agak panjang kalau mau di tindak lanjut, akan muncul banyak opini dan komentar blah blah blah, tapi tolong diam saja, kan katanya diam itu emas? Atau mungkin sudah ganti. Ah... Badut butuh piknik...

Sunday, January 31, 2016

Dusta

Ya ketika mengungkit kata kemungkinan, apalah daya nihilisme yg berujung bunuh diri akan menyeruak, menjadikan nyata tak lebih dari lelucon pasarmalam, bahkan anjing urban hanyalah kekonyolan pengais sampah restauran cepat saji, ah kau retorika menjanjikan wacana...


Jogja baks, 31 Januari 2016, 23:18

Tuesday, January 12, 2016

Money

Its all about money,
Fucking money?
All those bullshit role,
All of the greedy asshole,
So wheres God here?
Wheres Religion here?
Fucking money is your God,
Fucking money is your Religion,
Case closed.

Good bye my love.

Jogja, 12 January 2016, 14:29