Tuesday, September 08, 2015

Parasite

Quite people have the loudest mind,
Judge as a dumb because they always silent,
People on his time make boundaries,
Faraway because they can't understand,
Those old people watching around,
Trying make sense of their existence,
Until the time showed up,
He assumed all the people to shut up,
In time people changing,
Too late to realize,
When there's no more trust left,
When pathetic life become parasite,
In the end,
Don't criticize what you can't understand...

Jogja, September 8th, 2015, 14:13

Wednesday, August 26, 2015

Tanah

Telah kujajaki, kulahkahi dengan kakiku sendiri, tanpa alas biar jelas rasanya.
Terasa semua, seolah benakku dibanting, terjerembab menuju tempat apa namanya.
Kemana lagi sekarang?
Di bermacam puncak gunung, kuteriak dan bercerita pada pepohonan serta ilalang, tentang rasa dan tetek bengeknya.
Di pantai aku tiduran di pasir, menatap lembut sang mentari, mendengar lirih sunyi sang ombak, tertegun tak tahu akan seperti apa selanjutnya.

Solo, 26 August 2015

3 hari setelah ulang tahun ke 27

Monday, July 13, 2015

Batu

Banyaknya kata menuai tanya,
Sekenanya tanpa jawab,
Hendak berbuat apa tak di gubrisnya,
Batu tak pernah melunak,
Tiga malam berlalu,
Diam itu membingungkan,
Entah apa maunya,
Semua disalahkan,
Cermin ada dimana-mana,
Sesekali lihat diri sendiri,
Mungkin salah tak kemana...

Angin membelai daun di pepohonan,
Tak pernah lupa...

Wednesday, June 24, 2015

Karena

Karena hujan maka mendung ada memberi tanda.
Kamu akan pergi setelah berdua kita mengikat janji, menabuh mimpi, semua bersama kita untai kala musim tengah bersemi.
Karena bulan dan bintang menyinari.
Aku disini tak tahu menunggu apa, semua terasa hampa, tak ada tanda jawaban dari tiap tanya, tangan tak henti menengadah meminta, namun tak kunjung datang penghibur asa.

Thursday, June 04, 2015

Rindu Pantai

Kau bernyanyi, mengikut irama ombak ditepi pantai.
Kau menari, kala bulan purnama terang menyinari.
Aku termenung, melihat wajahmu tetiba murung.
Meratapi masa lalu yang suram, mengimaji masa depan yang kian kelam.
Tenggelam dalam fana, gaya hidup modern yang serba instan, dan manusia yang lupa kebaikan.
"apalah daya hati ingin berontak, namun kosong tanpa makna isi otak." teriakmu pada karang.
"ah dialektika, tak sudikah kau tadah air ditelapak tanganmu dan bercermin? Lihat apa yang telah kau perbuat, kau penuhi sekitar dengan cacian."
Tak ada lagi bunyi, semua diam serempak, bahkan sepoi angin tak lagi membelai rumput dan ilalang.
Kita berjalan pulang, tanpa kata...

Rindu pantai.
Toraja, 4 Juni 2015, 18:03

Sunday, May 31, 2015

Hari Rokok Sedunia Katanya

Lucu. Ada hari bebas asap tembakau sedunia padahal asapnya cuma sedikit. Kenapa tidak sekalian hari bebas asap knalpot kendaraan bermotor yang asapnya lebih banyak. Kalau bicara masalah kesehatan, paman rasa perokok yang baik tidak merokok didekat orang tua dan anak kecil. Kalau pun ada yang merokok di dekat kalian dan ditegur pasti dimatiin rokoknya atau ngga menjauh biar asapnya tidak kena.

Rokok buat sebagian orang itu adalah candu yang susah berhentinya, ada pun kalau berhenti sehari saja maka tak ada sesuatu yang dilakukan alias malas-malasan, seperti paman.

Lagian perusahaan rokok di negeri kita ini sudah memegang kendali di banyak bidang yang menyangkut pengembangan masyarakat, contohnya sponsor terbesar olahraga (badminton dan sepakbola) yang kita tonton di televisi, pemberi beasiswa yang paling rajin ketimbang pemerintah yang tentu tukang bohong, supponsor acara hiburan seperti musik dan pentas seni, duh coba bayangkan kalau tidak ada perokok dan perusahaan rokok pada bangkut gulung tikar karena tak ada yang beli? Mau jadi apa negeri ini yang jejeran pemerintahnya pada maling.

Sekian Dongeng sore hari dari paman.

Wednesday, April 29, 2015

Kebenaran

Ada yang berbisik hendak mencari tahu kebenaran,
Walau kebenaran selalu subjektif sama halnya dengan kesalahan,
Dimanakah berada kebenaran dan kesalahan yang universal?
Si bijak tua sekali waktu berucap,
"Bahkan jam rusak pun menunjukkan waktu yang tepat 2 kali dalam sehari."
Kebenaran ditentukan lewat agama dan hukum yang bersifat mayoritas dalam sebuah negara,
Disama-ratakan,
Dianggap seolah setara,
Padahal semua kembali lagi pada perspektif,
Kebenaran dalam agama pun bisa salah tergantung dari niatnya,
Kebenaran dalam hukum pun selalu salah karena konon yang berkuasa tak boleh salah,
Yang minoritas mencari kebenaran di jalan,
Meneriakkan dimana keadilan?
Karena kebenaran selalu subjektif,
Karena kebenaran hanya untuk mayoritas...

Solo, 29 April 2015, 19:09

Sunday, April 05, 2015

Jealous

If you didn't trust me anymore, leave me,
One thing that I always looking for is someone that I can trust, I though it was you,
If you wanna leave, please just leave and never comes back,
Leave this clown alone, alone in his own,
Likely long times ago, born and die alone,
Who cares? No more to trust if you leave me alone...

Jogja gerimis, 5 April 2015, 00:48
To you, yes you.

Friday, April 03, 2015

Tua

Tumbuh dan bersemilah keriput di wajah,
Hilang rasa keakraban dan percaya diri,
Diam tak berucap sepatah kata kala disapa,
Senyum pudar hilang ditelan masa,
Aku dimana tanya akal?
Tak kutahu lagi aku harus bagaimana,
Aku mau menghilang,
Menjadi gila diantara normal dan sadar,
Kebosanan merambah bak tunas kecambah,
Merambat dan mengendalikan segala yang ada,
Mimpiku yang baru seumur jagung,
Belum pula berbuah namun telah layu berguguran,
Di bawah temaram kabut mendung aku bercerita pada sunyi,
Tak ada bulan dan tak ada bintang,
Hanya dedaunan di pepohonan yang tampak muram menatapku tanpa gairah,
Baru saja umurku beranjak seperempat abad namun pikiranku...

Jogja mendung, 3 April 2015, 21:22

Monday, March 30, 2015

Times By Your Side

Come by your self and gone by your self,
Self though don't care with another,
Walk on your line as loners,
Every people just like a passing birds,
Flying and please don't ever come back,
Because the times always on your side,
And then,
What's in the end?

Jogja Pagi Hari, 30 March 2015, 06:41

Monday, March 09, 2015

Lucu

Hanya saja jika terlalu dipikir-pikir maka akan tampak begitu lucu,
Dimana sekitar hanyut terbawa kemasa bodohan,
Kemana otak yang dulu selalu dibanggakan?
Kemana kawan yang dulu katanya sekata dan seirama?
Kemana hidup ideal yang dulu selalu di impikan?
Kini yang terlihat hanya segilintir semangat,
Terhalang cinta yang katanya cukup begini saja,
Umur belum berkepala tiga namun sudah berputus asa,
Dialektika dan berpuluh ideologi disumbat oleh materi,
Lilin pun padam dan cerita sebentar lagi mati suri,
Ada yang datang dan banyak yang pergi,
Ah hidup begitu lucu dan Tuhan juga tak kalah lucu,
Ah mari bersenda gurau...


Jogja kala hujan, 11:05, 9 Maret 2015

Thursday, February 26, 2015

Sisa

Kau pikir selamanya itu puluhan tahun kedepan, hingga ajal datang, hingga tua menjelang, melihat anak cucu tumbuh dan berkembang.
Ternyata selamanya bisa berakhir hanya dalam sekejap mata, ada kematian siap merenggut, ada kesialan yang selalu datang menghambat, membuyarkan semua rencana, mengembalikan posisi kesendirian ketempat semula.

Apa yang kau cari? Setiap yang kau katakan selalu berbeda dengan yang kau lakukan.
Apa yang kau inginkan? Selalu kau anggap mudah tiap kesusahan.
Apa yang kau butuhkan? Kau butuh aku? Tidak, kau hanya kesepian dan butuh hiburan. Dan aku adalah badut penghibur, setia mendongengi sebelum tidur, siapapun bisa menjadi aku.

Jogja pagi hari, 26 February 2015, 10:06. To RP (yes money)

Wednesday, February 18, 2015

Alur

Sekiranya hanya terulang begitu saja,
Semua lebur menjadi tiada sesuka pencipta,
Takkan ada yang tersisa,
Semua pergi tertinggal kebodohan berupa sesal,
Muak dan mau lagi,
Ambillah sesukamu,
Tak usah menoleh karna toh aku tak terlalu ambil pusing,
Perasaan sedikit sarkas terbiasa mengakali rasa,
Kontaminasi pikiran dibalut aksara hanyut bahagia ketika sendiri,
Kawan dan lawan sesama berdansa,
Menyanyi rindu akan ketakberdayaan,
Pergi sana,
Disini tak ada lagi yang tersisa,
Toh hanya materi yang kau inginkan...

Jogja, 18 February 2015, 18:13

Monday, January 26, 2015

Lelucon Apatis

Seperti biasa, ada yang datang mengetuk pintu hanya mau bertanya "apa masih ada kursi yang kosong di dalam?"

Ketika dipersilahkan masuk, duduk dikursi yang dia suka, berbasa basi, cerita ini iti dan lain sebagainya.

Tak lama, seperti biasa akan pamit pergi sembari di ujung kalimat memberi saran komentar atau pun semangat "semoga sukses selalu".

Waktu berjalan, musim berganti, akan datang lagi yang lain, mengetuk pintu sekedar untuk bertanya "apa ada kursi yang kosong?".

Begitu seterusnya, berulang ulang hingga kebosanan meruntuhkan pintu yang sering diketuk, kursi kosong pun akan berlumut dan rubuh.

Jogja, 26 Januari 2015. 22:42

Sunday, January 25, 2015

Eternal

There's no things leave here than my only dreams,
Delicious like a cone with thousand colorful ice creams,
People come and stay in your life just a while,
People gone faster than you ever imagine,
Better and much better is spread around,
Beauty and much beauty later on will be growing old,
There's no immortality,
Knocked your heart just to saying good bye...

Jogja, 25 January 2015, 22:02

Friday, January 09, 2015

Fly Me

Its all about how we see things, its called perspective. Too much misunderstood, because no one have similar quantity of knowledge and experience. When the shit comes around, the world not small enough to find place to hide, a while, till hearts and mind can let it go....