Saturday, February 20, 2010

Bunga Di Taman


Alkisah ada sebuah taman, disana ada ribuan macam bebungaan serta merta menebar semerbak harum mewangi kemana mana. Di dekat taman ada seorang pemuda yang hidup penuh dengan kesendirian dan kesehariannya dipenuhi dengan kesibukan mengolah otak agar kelak bisa berguna tak hanya untuk diri sendiri tapi untuk orang lain juga. Baca, tulis, lukis, dan kawan pencerita mungkin keempat hal itu saja yang ada dalam hidupnya selama kurun waktu 21 tahun, hampir tak ada tangis dan penuh akan tawa menyempurnakan kehidupan yang seakan senantiasa dibuat agar terlihat sederhana. Kemewahan jauh dari penggapaian, walau hendak menikmati seteguk kemewahan pikiran dan pengalaman orang lain dalam novel novel kisah klasik mengenai fatamorgana glamor kehidupan seseorang yang ujung ujungnya kan berakhir jauh dari kesan bahagia, dari pengalaman orang lain tersebut membuat pemuda ini ingin hidup biasa biasa saja dan sederhana.

Koleksi buku buku dari penyair dan sastrawan abad 17 hingga 20 semacam William Shakespear, Frederic Nietzche, Gogol, Tolstoy, Albert Camus, Ivan Turgenev dan lain lain melengkapi perpustakaan kecilnya di rak buku di samping koleksi lukisan lukisan penuh perasaan akan segala macam hal yang ada disekitarnya.

Ditaman itu, penuh akan bebungaan dan rupa warna seakan menjelma seperti peri peri cantik yang senantiasa menarikan kebahagiaan tanpa adanya gangguan keegoisan dari manusia yang hendak menguasai mereka. Disana pemuda itu menatap birunya langit, cerah dan nampak beberapa awan awan yang terbawa arus angin, "apa awan awan itu merasa senang berada diatas langit" bisik hati pemuda itu.

Tiba tiba pikiran pemuda yang penuh akan imajinasi membayangkan gumpalan awan besar yang tengah menutupi terik mentari membentuk sesosok wajah wanita, wajah wanita yang sedang tersenyum padanya, yah hanya padanya sosok wanita itu tersenyum padanya. Beberapa saat wajah pemuda memerah karena malu, dia teringat pada kisah kisah klasik abad romantisisme legendaris "Romeo dan Juliet", dan hatinya pun berkata

"jikalau ku terlahir menjadi Romeo siapa yang hendak menjadi Juliet? seorang wanita dari keluarga yang jauh berbeda dariku yang penuh dengan kesederhanaan, akankah ada yang mau?"

Wajah murung pun mulai merambat membuat pemuda tak percaya diri tuk melanjutkan imajinasinya, hanya balpoin dan kertas putih dengan beberapa baris kata kata tentang hatinya yang mulai merasakan kesepian.

"yah, aku kesepian dan hendak mendapatkan kekasih yang dapat kujadikan tempat saling bertukar cinta dan kasih sayang... dan tentunya kutahu jikalau kawan mampu memberikan cinta dan kasih sayang, namun yang kuinginkan saat ini kekasih..." jerit hati sang pemuda yang tengah dirundung rasa yang tak percaya diri.

Tiba tiba ada suara entah dari mana datangnya, seakan terbawa oleh angin timur yang tengah berhembus menyapa daun telinga pemuda, mengatakan "cinta itu akan datang disaat kamu tak memikirkan akan mendapatkan cinta..."

Kembali wajah murung si pemuda tambah menjadi jadi, dia pun berteriak "bagaimana bisa kudapatkan cinta jikalau ku hanya menyendiri tanpa mencari!", dia teringat pada pepatah klasik "cinta akan datang disaat kamu mencari, namun kali ini angin timur itu membisikkan hal yang jauh berbeda cinta akan datang disaat kamu tak memikirkannya.

"ah sudahlah..." sedikit mengeluh pemuda itu berkata "biarkan saja semuanya di jawab oleh waktu dan angin..."

Mentari mulai tenggelam, dan rembulan bersiap datang berselimut malam, pemuda masih nampak murung tak tahu hendak berbuat apa untuk mendapatkan cinta, haruskah tak dipikirkan dan datang sendiri, ataukah mencari di setiap hati.

(to be continued)

(Jogja, 20 Feb 2010)

No comments: