Sunday, April 01, 2012
Penari dan Pelakon
Wednesday, March 28, 2012
Sepenggal Cerita dari Si Bodoh
Kawan kawan pembaca, perkenalkan aku adalah si Bodoh. Tak perlu anda tanyakan siapa nama asliku, itu tidak penting karena kalau aku memakai nama asli makan ke bodoh akan hilang, dan aku tak inginkan itu. Aku adalah segelintir orang yang mungkin jarang atau mungkin banyak anda temui dalam kehidupan anda, dengan nama bodoh yang melekat pada diriku membuat aku bebas untuk melakukan banyak hal yang orang normal enggan lakukan, itu semua karena akulah si Bodoh. Aku tak pernah menganggap panggilan orang padaku seperti ‘hey bodoh!’ atau ‘dasar bodoh!’ menjadi sebuah masalah, itu kejujuran, dan harusnya kejujuran di tanggapi dengan senyuman, bukankah begitu?
Mereka awalnya hanya memanggilku bodoh hanya karena beberapa tindakan yang sering kulakukan memang bodoh seperti memanjat tiang listrik, bersalto ria di lantai, tidur tiduran di aspal, dan lain sebagainya. Dan itu kuanggap sebagai perhatian, lagian kalau aku menanggapi tiap panggilan bodoh yang diarahkan kepadaku bukankah justru memupuskan jati diriku sebagai orang bodoh kan? Saya tak inginkan itu. Seiring berjalannya waktu maka aku pun semakin sering melakukan banyak hal bodoh lainnya.
Aku senang membaca buku, tentunya jangan anda anggap bahwa dengan membaca buku maka akan membuatku pintar dan banyak tahu hingga nanti tidak ada lagi perkataan bodoh tentangku atau takkan ada lagi orang orang yang akan memanggilku bodoh, justru aku membaca begitu banyak buku tentang orang bodoh agar aku bisa belajar dari tulisan itu bagaimana harusnya seorang bodoh dalam menjalani hidup mereka. Ambil contoh mengenai orang bodoh yang diceritakan dalam buku ‘Zarathustra’ yang di tulis oleh orang yang dianggap bodoh di sejarah dunia tulis menulis karena perkataan terkenalnya yang menggemparkan yaitu ‘Tuhan telah mati’, dialah si Frederic Nietzche. Didalam bukunya diceritakan mengenai kehidupan si tokoh utama bernama Zarathustra yang menjauh dari kerumun penduduk di perkotaan, dia memutuskan untuk tinggal seorang diri di atas gunung dekat hutan menjauh dari kehidupan sosial yang dianggapnya membosankan karena penuh dengan intrik dan kebohongan yang berlebihan, disana dia berteman dengan hewan hewan yang mendiami hutan, dan teman baiknya yang sering diajak bertukar pikiran adalah hewan melata bernama Ular dan hewan yang terbangnya paling ditinggi di udara bernama Elang. Di cerita dalam buku ini tentu saja aku takkan mengambil inisiatif untuk ikut tinggal di atas gunung sambil berkawan dengan binatang! Ini memang tindakan bodoh, tapi yang aku inginkan adalah bodoh yang lain. Aku hanya mengambil cerita mengenai ketabahan dari Zarathustra dalam menjalani kehidupannya, beserta isi dari pikiran pikirannya dalam menanggapi segala macam hal, ini semua adalah tentang tindakan dan pikiran yang orang bodoh lakukan, itu saja.
Buku yang lain seperti seorang penderita parah penyakit Schizophrenia dari Jerman sama seperti Nietzche yang menulis buku tentang suku Indian berjudul ‘Winnetou’, coba anda bayangkan sendiri bagaimana mungkin seorang penderita schizophrenia yang belum pernah sekali pun pergi ke daratan Indian, serta tidak pernah membaca tulisan dan melihat foto tentang orang Indian dari buku atau dari internet, maklum pada waktu itu masih tahun awal 1800. Dia menjelaskan tentang suku Indian dengan begitu detail, dimulai dari pakaian, rambut, rumah, cara hidup, tarian, dan lain sebagainya padahal dia hampir setengah dari waktu hidupnya dihabiskan di dalam rumah sakit jiwa!
Hanya, jika aku membaca buku maka akan aku perlihatkan beberapa cara bodoh yang jarang dilakukan oleh orang normal, yakni takkan sedikit pun menggubris dunia luar selain dunia yang diceritakan dalam buku, ada yang mengajak berbicara maka takkan aku ladeni, ada yang mengganggu maka aku akan pindah ketempat lain, dan selalu ketika membaca akan ada headphone mendengungkan musik klasik yang melekat di telingaku dengan setelan full volume, ini salah satu wujud dari tindakan bodoh yang menurutku harus aku lakukan. Anda tak usah menanyakan lagi kenapa, karena apa anda pernah melihat orang bodoh tidak melakukan tindakan bodoh? Jika ada maka mereka itu tidak bodoh. Sedangkan aku ini orang bodoh, dan tindakan bodoh yang kulakukan adalah kewajaran di mata orang orang, saya harap bisa dimaklumkan.
Hal bodoh lainnya mungkin seperti musik kesukaan, yakni musik yang keluaran tahun 1970an kebawah semacam; Muddy Waters, The Doors, Robert Johnson, Charlie Patton, The Beatles, dll., hingga ke musik instrument ala orkhestra semacam Wolfgang Amadeus Mozart, Chopin, Bach, Beethoven, dll. Musik yang mungkin hanya orang tertentu saja yang mendengarkan, dan itulah saya. Ini jangan sekali kali anda pikirkan bahwa aku ini tidak bodoh dan keren karena mendengarkan musik berkualitas dan keren semacam itu. Alasan dari semua ini karena mereka yang diatas, setelah saya membaca biografi dari mereka ternyata mereka pada masa hidup mereka dan membuat lagu juga dianggap bodoh. Contohnya; seperti Muddy Waters yang dianggap bodoh karena mau membuat studio rekaman (Cadillac Record) bersama seorang kulit putih dari Polandia (waktu itu di Amerika sedang maraknya kasus rasis), The Beatles dianggap bodoh karena mereka membuat band dengan semua personilnya berambut panjang (waktu itu yang berambut panjang hanya wanita), The Doors dengan Jim Morrison nya yang bodoh dengan seluruh hidupnya yang hanya sampai 27 tahun dihabiskan dengan mabok minuman dan obat obatan. Beethoven atau si Beast atau si Buruk Rupa yang bodoh karena membuat masterpiece justru pada waktu dia tuli. Begitupun dengan lainnya yang jika aku jelaskan satu satu disini maka akan sangat panjang, dan kesan dari si Bodoh yang melekat pada diriku akan menghilang sama sekali.
Sekian dulu cerita dari si Bodoh untuk saat ini, mungkin beberapa waktu ke depan akan aku lanjutkan dengan kebodohan yang lain.
Yogyakarta, 26 Maret 2012, 15:57
Sunday, March 25, 2012
Me And The Clown

Saturday, March 24, 2012
About a Girl

Tuesday, March 20, 2012
Menjelang Sore Hari

"Apa kamu tahu mengapa mereka tampak seperti keranjingan dengan hidup yang terus menerus menceritakan tentang kehidupan pribadi orang lain? Tak hanya kebaikan yang mereka ceritakan, bahkan sampai kejahatan yang seharusnya tak usah diceritakan juga mereka umbar begitu saja, layaknya kran air yang gagangnya sudah rusak, terus menerus berkokok tanpa henti mereka, apa mereka hendak menjadi ayam?"
Saturday, March 17, 2012
Cerita Dalam Celengan Babi

Wednesday, March 07, 2012
Tugas Manusia adalah Menjadi Manusia

Tuesday, March 06, 2012
Silences of the Fool

Saturday, February 18, 2012
Merangkak di Teras Pagi
Malaikat pun menari nari di ujung cahaya mentari pagi yang hendak bersinar, membagi hangat pada bumi dan makhluk hidup lainnya. Sinarnya redup dari kejauhan, perlahan namun pasti, hingga nanti ketika telah muncul seutuhnya maka jangankan hendak dipandang mata, dirasa oleh tubuh pun enggan, panas tak memiliki banyak kawan. Burung burung saling beradu dalam nyanyian menyambut pagi datang, bunga bunga dan pepohonan terbangun dengan perasaan malu karena telah dibuai mesra oleh sang embun, kendaraan mulai berpacu berburu dengan waktu, manusia sibuk sibuk dan sibuk, mencari sesuap nasi untuk dapat tersenyum kenyang keesokan harinya. Seperti robot yang telah di program, semua yang nampak di depan mata terjadi sesuai dengan perkiraan, anak anak kecil tanpa dosa berlarian menuju sekolah, entah mereka bahagia karena hendak mendapatkan ilmu yang nanti ketika dewasa dapat digunakan untuk membantu orang lain, atau hanya karena dapat merasakan hidup yang ditanggung oleh diri sendiri di sekolahan, tanpa orang tua yang selalu saja melarang apa yang menjadi kesenangan oleh si anak kecil. Mereka berlari mencari kesenangan, mendengarkan guru berbicara sesuatu yang sama sekali mereka tak mengerti, tidak seperti di sekolahan orang yang telah dianggap dewasa, mereka mendengarkan apa yang mereka mengerti namun sayangnya mereka tak mau tahu akan hal itu, mereka hanya ingin mendengarkan agar si guru yang melihat mereka mendengarkan dapat berkasihan memberi si pendengar perhatian lebih lewat penilaian. Apalah itu nilai? Apalah itu ijazah dan tanda kelulusan? Sebagai kebanggaan pada diri sendiri kah atau hanya untuk membuat orang tua yang membesarkan kita bisa merasa bangga dan bahagia memiliki anak seperti itu! Lantas jika dipertanyakan mengenai kepintaran untuk apakah gunanya? Kepintaran dari kata pintar yang berarti dapat berguna untuk orang lain, dapat memudahkan kesusahan, dapat menyelesaikan yang tak terselesaikan, dapat membantu orang yang membutuhkan pertolongan, pokoknya dapat berbuat sesuatu pada orang lain, dan orang lain dapat berbahagia dengan pertolongan anda. Sama seperti menjadi berguna pada orang tua dengan menjadi anak yang rajin ke sekolah untuk menuntut ilmu, walau ilmu yang diserap disana tak ada satu pun yang dapat masuk ke otak, walau ilmu yang diajarkan disana tak memberikan rasa ingin tahu yang berlebihan pada diri sendiri, tapi untuk orang tua dan tanpa memperdulikan diri sendiri maka tetap saja dijalankan. Terserah, hidup toh hanya sekedar pilihan, dipilih hendak menjadi seperti apa dan kemudian dijalani. Masalah tidak menyenangkan dan menyenangkan dapat diatur, seperti berpura pura saja, toh yang melihat kebahagiaan itu ada kan orang lain, diri sendiri hanya bisa mengelus elus dada lantas bersabar dan bersabar hingga masa tua datang membawa begitu banyak penyesalan. Mengapa saya melakukan ini dan itu padahal saya tidak menginginkannya, mengapa saya disini dan disana padaha saya tak menginginkannya, mengapa dan mengapa diiringi penyesalan yang berkepanjangan, membuat kerutan diwajah semakin bertambah banyak dengan keluhan.
“Matahari sudah sedikit memunculkan kepalanya, cahanya sudah semakin terang, sekitaran sudah nampak jelas, jalan yang basah oleh embun dan hujan bekas semalam. Kini kemana lagi akan pergi pikiran ini, tak ingin diam, tak ingin berhenti untuk mengumbar kata kata, terlalu berisik bisik bisik itu…” kupu kupu lewat membawa cerita ini dari negeri seberang tentang seseorang yang kini hanya tertinggal menjadi tak lebih dari sebuah kenangan, dahulunya di elu elukan dan dibanggakan oleh hampir semua orang yang mengenalnya, namun ketika mati berkalang tanah, dia pun di lupakan walau kadang terlintas lewas sekilas dalam ceritaan.
“Sebentar lagi saya menjadi gila, walau sekarang sudah dipanggil gila, ah apa kau pernah mendengar tentang Newton yang dianggap gila oleh gurunya karena sama sekali tak tertarik dengan pelajaran yang diberikan di sekolahan? Atau mungkin mendengar tentang cerita mengenai Sokrates yang dianggap gila oleh kebanyakan orang yang hidup dimasanya hanya karena dia selalu saja bertingkah berbeda dari orang orang kebanyakan, mengenai si Nietzche, Albert Camus, Voltaire, dan banyak lagi lainnya, mereka orang gila yang sangat menikmati menjadi gila, anehnya mereka justru menjadi terkenal dan menjadi sumber inspirasi karena kegilaannya…” si kecoak yang selalu merasa kalau hidup itu tak lebih dari sekedar tempat sampah, mencibir dan mengatakan tidak suka pada hampir semua hal, tapi diam diam lewat mengendap selalu hadir dengan senyuman seolah dia tak pernah berkata tidak untuk semua hal. Ketika tempat sampah atau rumahnya tengah penuh penuhnya sampah, maka kawan kawannya pun datang; cacing, tikus, anjing, kucing, dan lain lain datang hendak mendapat bagian, selesai mereka dapat bagian, mereka pun pergi dan tak kunjung kembali hingga sampah rumah kecoak kembali penuh, kecoak itu hidup seorang diri, dan kawan tak lebih dari sekedar bayang ilusi, tak pernah dan tak akan menjadi nyata walau sesaat.
Di sebuah lorong waktu saya menulis ini…
Armstrong da Jimmy (si anjing yang senang mendongeng)
24 January 2012, 04:05am
Monday, February 13, 2012
Dua Kekasih Aneh

Di tengah sore menjelang matahari tenggelam meninggalkan hari, duduk dua pasangan aneh sedang memandang rintik terakhir hujan yang perlahan mulai menghilang, disamping trotoar jalan kota yang senantiasa padat dengan lalu lalang kendaraan yang entah tampak terburu buru karena apa. Mereka berbicara seolah sedang berbisik, pelan dan penuh perhatian, padahal disekitar mereka asap dan bunyi desing bising ada dimana mana, mereka seolah tak peduli.
“apa kau pernah membayangkan masa depan kita nantinya?” tanya lelaki itu pada wanita yang telah menjadi kekasihnya semenjak 3 bulan yang lalu.
“tidak, eh mungkin saja pernah” jawab wanita itu sederhana “tapi sepertinya pernah, karena saya ingin tinggal di Paris bersamamu, kau sibuk dengan duniamu dan begitupun denganku, tapi kita tetap bersama menjalani hari hari hingga kita tua dan punya banyak anak!”
Si lelaki adalah seorang penulis naskah teater, dan kebanyakan naskah yang dia buat seputar kehidupan yang dia pandang selalu abstrak, tidak jelas namun mudah dijalani, dan dia telah bergelut di dunia teater baru 5 tahun. Sedangkan wanita adalah seorang penari salsa, yang menganggap hidup adalah panggung, nafas adalah irama, dan gerak adalah tarian, walau masih baru 2 tahun namun dia menyenangi bidang ini sepenuh hati dan hendak menjadi professional penari salsa suatu hari nanti. Mereka berdua bertemu disaat matahari terbit di sebuah pantai yang jauh masuk ke desa, waktu itu wanita ini sedang dalam keadaan bosan dengan perkotaan hingga dia memutuskan untuk menenangkan perasaan dan raganya di pedalaman yang juga dekat dengan laut, karena dia sangat suka, malah bisa dibilang cinta dengan laut dengan alasan yang sukar untuk dijelaskan dengan logika, dia mempercayai bahwa laut dihuni oleh seorang dewa yang mampu dan mau mendengarkan tiap cerita dari manusia yang datang untuk mencurahkan tiap cerita yang menjadi beban dalam hidup manusia itu. Dan lelaki ini, menganggap laut adalah latihan untuk pikirannya yang mengajarkannya agar memandang segala macam hal tak hanya dari dekat, yaitu pantai yang selalu indah untuk dinikmati oleh mata, tapi memandang jauh ke depan hingga batas mata memangdang dan kemudian membayangkan apakah yang ada di ujungnya, jika mata tak mampu memandang, maka masih ada imajinasi yang dapat memperkirakan seperti apa yang ada di ujungnya, semakin lama pikiran dan imajinasinya bekerja maka perlahan muncul sebuah cerita tentang sebuah pulau yang jauh ke antah berantah, muncullah juga tokoh dan karakter baru, awan dan pepohonan yang jauh dari bayangan manusia pada umumnya, “toh ini hanyalah cerita” katanya pada diri sendiri, manusia butuh cerita untuk membuat diri mereka bisa memperkirakan untuk apa mereka hidup dan apa yang akan mereka lakukan untuk hidup.
Mereka bertemu dan kemudian saling menyapa dengan kata sederhana “hai”, saling bertukar kata sederhana yang bisa di perkirakan oleh para pembaca mengenai dari mana asalnya, untuk apa kesini, dan lain sebagainya. Hingga mereka sampai pada cerita tentang laut dan pendapat mereka tentang laut seperti apa, di lain sisi kehidupan mereka berdua memang tak jauh dari cerita seputar laut, si wanita memiliki ayah seorang asisten koki di kapal pesiar seorang milyader di selatan sana, sedangkan si lelaki memiliki ayah seorang nelayan jauh di timur sana. Karena cerita mereka saling sambung menyambung mengenai laut, mereka pun mulai saling bertukar cerita mengenai segala macam cerita cerita lampau yang sempat atau pun belum sempat di ceritakan oleh sejarah, mereka bercerita seputar mitos Flying Dutchman dan Boogieman si setan laut, Poseidon atau Neptunus dewa dari mitology Yunani kuno, Columbus dan Vasco da Gama pelaut dari Eropa yang menjelajahi dunia dengan kapal laut mereka, armada laut Viking yang garang dan perkasa di lautan, bangsa Bugis dan kapal Phinisi mereka, dan begitu banyak lagi yang lainnya. Dengan cerita ini yang mereka berdua tahu dan suka, maka pertemuan diantara mereka berdua pun semakin sering selama dua tahun terakhir sebelum si lelaki menanyakan pada wanita ini apa dia mau menjadi kekasih si lelaki, dan dengan jawaban sederhana si wanita mengiyakan.
“tapi mengapa musti ke Paris kita menghabiskan hidup kita?” tanya si lelaki yang sebenarnya sangat mengagumi kota itu.
“karena begitu banyak alasan sayang, karena disana seni dihargai, dan kau tahu sendiri kalau duniaku di tari dan duniamu di teater sama sama anak dari seni, selain itu Paris adalah kota terindah di dunia ini, setidaknya kota terindah yang mampu mata dan imajinasi bayangkan, bangunan tua yang indah berjejer rapih, bahasa mereka yang selalu terdengar romantis…”
Tiba tiba si lelaki memotong “tapi bagaimana dengan kota asalmu sendiri? Bagaimana dengan bahasa ibumu sendiri?”
“bahasa ibuku yang kupakai sekarang itu takkan pernah bisa digantikan oleh bahasa lain walau aku sendiri ingin, tapi itu takkan terjadi karena Paris itu hanya untuk kita berdua, sedangkan kampung halamanku adalah yang terindah dari yang indah oleh mata tiap manusia, tapi kalau untuk kita berdua jawabannya adalah Paris.” Jawab wanita itu sederhana
“baiklah sayangku, entah mengapa, tapi aku rasa kau lebih romantis dariku.”
“tak masalah sayang, ini hidup yang jalani kita berdua, setidaknya musti ada salah satu diantara kita yang romatis”
“Paris yang kudengar adalah kota cinta, biarkan disana cinta kita bertahan dan berkembang biak menjadi keturunan kita hingga tua menjelang”
Dikos, 12 February 2012, 18:53