Saturday, March 17, 2012

Cerita Dalam Celengan Babi


Bunyi kring kring uang logam berjatuhan satu persatu, tumpuk menumpuk hingga tak terhitung jumlahnya, angka di uang logam pun beragam, besarnya pun berbeda, ada kecil dan besar, ada tebal dan tipis, pula ada beberapa yang tak terawat tampak dari bentuknya yang telah bopeng dan berlumut, semua ada disini dalam celengan babi berwarna putih. Setiap keping masuk kedalam celengan babi disertai satu buah harapan dan impian, atau mungkin dapat dikatakan doa pada sang pencipta, ini bukanlah sekedar tabungan untuk pemilik celengan babi namun lebih mirip seperti guna batu di korek api, ini lebih mirip pemicu tiap tindakan masa depan katanya.

"ketika yang ada hanya angan dan impian tanpa ada pemicu tindakan maka tindakan takkan sepenuhnya dapat berjalan lancar, aku butuhkan pemicu, aku butuh Tuhan tentu saja, aku butuh inspirasi, mungkin seperti kebanyakan seniman yang nampak sedang larut dalam pikiran mereka ketika sedang menghisap dalam rokoknya, disini rokok sebagai pemicu, sedangkan aku sendiri tak begitu senang dengan rokok. Atau mungkin seperti seniman lainnya yang senang mencari inspirasi dengan naik kepuncak gunung atau kepinggir pantai atau pergi ketempat mana saja yang dapat memicu imajinasi mereka, tapi aku lebih senang menyendiri disini, ditempat tak ada suara selain derak nafasku sendiri, ditempat tak ada gerakan selain gerak tanganku yang sibuk menggores pena menulis cerita. Dan koin koin itulah pemicu imajinasiku, aku sangat menyenangi bunyinya yang menurutku aneh dan khas."

"kenapa musti celengan babi" tanyaku sambil menyeruput kopi hitam dan menyalakan rokok yang entah sudah yang keberapa.

"babi itu adalah binatang mamalia paling jorok dan paling pemalas, padahal babi memiliki hidung yang tepat berada di depan mata mereka, menonjol keluar dari wajah mereka dan lubang hidungnya sangat besar pula, namun kenyataan berkata lain, mereka pun merasa tak jijik sedikit pun makan makanan yang telah bercampur dengan tahi mereka sendiri, mereka memang jorok dan menjijikkan, tapi mereka menyadari itu semua lewat tingkah laku mereka, dimana ketika berjalan mereka menunduk menatap tanah, mereka malu dan sadar jelas dengan itu. Babi menjadi pemalas karena saya yakin untuk soal bersosialisasi dengan binatang lain pun mereka sudah tahu diri, mereka tentu takkan diterima dimana pun, makanya tubuhnya penuh dengan lemak, kerjaan mereka hanya bermalas malas tidur tiduran menunggu waktu makan datang, dan juga menunggu waktu tepat datang mengambil mereka untuk dijadikan makanan. Tapi coba lihatlah binatang lainnya yang sering dijadikan ikon celengan, kelinci misalnya, kelinci terlalu lembut, padahal hidup penuh semangat itu tidak mudah dan keras, butuh kerja keras, sedangkan kelinci yang lemah lembut apa yang mereka bisa lakukan selain makan wortel dan berlompat lompat ria kesana kemari? Apa mereka bisa berlari kencang layaknya babi hutan yang membuat pemangsa mereka musti ekstra keras untuk menangkap mereka, mereka berlari bahkan tanpa melihat jalan!"

Mendengar kelinci disepelekan, walau sejujurnya saya tak terlalu senang dengan kelinci, maka saya pun mencoba membela kelinci dengan tanpa alasan "tapi kelinci itu memberikan kesenangan pada sebuah kesenangan, kelembutan mereka berpadu dengan telinga panjang mereka yang selalu awas, mereka dapat mendengar tentunya lebih baik dari babi, jika disambungkan dengan celengan maka dapat diartikan bahwa tiap koin yang masuk telah didengar oleh celengannya sendiri sebagai saksi, ditambah dengan doa pada tiap keping koinnya sebagai perantara pada Tuhan, dan saya rasa ini paduan yang istimewa, ada anda sendiri, Tuhan dan celengan kelinci." Saya akui pernyataan saya ini sangat bodoh.

Sembari tertawa terbahak dia menjawab, "tiap keping koin yang bergemeletak dalam celengan babi ini adalah antara aku dan Tuhan saja yang musti tahu, sedangkan babi yang setahuku pemalas dan sepertinya bodoh juga tak perlu ikut tahu mengenai doaku dan impianku, tapi disisi lain dia berguna sebagai penyemangat lewat keburukannya yang terlalu sering disepelekan, padahal babi aku rasa adalah salah satu binatang bijak dan sangat menerima dirinya apa adanya, seandainya manusia di ibaratkan babi maka mungkin akan membuat kita kagum sekaligus bertanda tanya yang banyak sekali, coba bayangkan ada seseorang yang menjijikkan tingkah lakunya namun dia percaya diri dan tahu diri, ditambah dia bertanggung jawab atas tiap tingkah lakunya, bukankah hidup dengan penuh kejujuran yang tak perlu diumbar dengan kata kata akan lebih menakjubkan? Yah seperti itulah babi, makanya aku memilih celengan babi agar terselip sedikit saja kebijakan lewat tahu diri dalam tiap doa dan impianku, walau menjijikkan di mata orang mengenai doa dan impiaku tapi aku akan tetap percaya diri, toh ini hidupku juga, tanpa maksud hendak menyombongkan diri dengan berkata aku melulu."

"tentu saja hanya orang bodoh yang menganggap 'aku' adalah simbol kesombongan, ditiap cerita yang diceritakan tanpa ada aku atau saya maka akan terkesan seolah bukan cerita, walau memang lebih bagus mengatakan kami ketimbang aku atau saya, tapi untuk cerita maka berbeda lagi ceritanya, satu cerita ada untuk satu orang saja, walau ceritanya dialami oleh begitu banyak orang, tapi tiap orang punya imajinasi dan cara pandang yang berbeda, dan ketika dibuat cerita maka akan berbeda."

Celengan masih tetap berlanjut di masuki koin, bergemerincing dari satu koin ke koin lainnya, menyisa gaung bunyi kring kring, ada doa dan impian kasat mata juga yang melayang entah kemana, begitulah cerita dalam celengan babi.

Jimmy si Pendongeng, Kamar Kosan, 08 Maret 2012, 00:50

No comments: