Showing posts with label absurd. Show all posts
Showing posts with label absurd. Show all posts

Friday, February 14, 2014

Keberadaan

Adanya begitu banyak tawa yang tersimpan rapat dalam senyum simpul itu, kau biarkan yang lain tertawa sementara kau hanya tersenyum, padahal kau yang tengah bercerita.

Setelah ceritamu selesai, kau mulai diam, kau tak peduli sekitar, kau hanya dari jauh duduk sambil berpelukan dengan lututmu, sementara lututmu menyandang dagumu, kau melamun.

Lamunanmu jauh entah kemana, hanya kau yang mengerti, kau sejenak berbisik pada sekitar, "kenapa uang begitu penting?", kau bilang kalau kau tak tahu apa yang sedang kau pikirkan, yang jelas kau menghilang, menghilang jauh dari tempat ini.

Uang?

Kenapa musti itu yang mereka permasalahkan katamu, merka diam, kau diam, selesai.

Jogja dalam balutan debu vulkanik gunung Kelut, 14 Februari 2014, 14:34

Friday, December 20, 2013

Meta

Kutelusuri taman bunga, penuh warna, wanginya menyatu tak tahu apa namanya, mata kututup coba meresapi menyatu dengan mereka, kuberikan jiwaku agar warna-warninya bisa kumengerti, aku tak tahu apa itu, aku tak tahu apa-apa, aku ingin tahu semuanya, semuanya, biarkan aku tahu semuanya, hingga aku gila...

Kutelusuri tiap jalan itu, yang baik kujadikan buruk, yang buruk kuanggap baik, kiri dan kanan apalah bedanya, utara-selatan-barat dan timur, aku hanya ingin tahu apa rasanya, aku ingin tahu seperti apa rasa semuanya, semuanya, biarkan aku rasa semuanya, hingga aku gila...

Kudengarkan semua bunyi itu, bunyi bising kendaraan saling berpacu di kota-kota, bunyi derik kereta api yang saling bercumbu tanpa henti dengan rel, bunyi pesawat yang menggelegar menerobos awan, bunyi kapal yang mengarungi samudera, bunyi hujan, sungai, ombak, pepohonan yang tengah bercanda denga angin, aku ingin dengar semuanya, semuanya, biarkan aku dengar semuanya, hingga aku gila...

Jogja, 20 Desember 2014, 20:30

Wednesday, October 30, 2013

Hujan Oktober




Hujan mulai turun, mengiring sore hari menuju malam. Sekeliling yang sedari siang tadi sudah mulai tampak ke abu-abuan, kini mulai gelap ditemani hujan yang perlahan tapi pasti membasahi tanah dan sekitarnya. Ada dia disini, tepatnya tak benar-benar disini, iya mirip antara imaji dan nyata yang tak tahu yang mana yang benar-benar ada. Entah ini hanya sekedar fantasi atau pun sekedar fatamorgana kesendirian yang tetiba meracuni. Entahlah. Rokok lintingan yang tadinya ada beberapa batang, kini sudah berada di linting terakhir, bukan berarti sehabis ini cerita pun berakhir, atau malah jadi cerita baru akan segera di buka.

Tiba-tiba dia bertanya
“apakah aku bisa mencium bau hujan itu sewaktu rembesannya masuk ke tanah yang kering?”
“Iya jawabku, tapi aku tak dapat menjelaskan bau apa yang tercium itu, aku hanya dapat menciumnya saja dan itu cukup membuat perasaanku merasa senang, entah bau apa pun itu namanya”

Oktober 30, 2913, Yogyakarta, 16:37