Tuesday, December 10, 2013

Seruk

Ah manusia, hujan minta panas, panas minta hujan, sukanya meminta, minta dan meminta lagi, ketika diberi malah mengeluh ingin yang lain, dikasih yang lain malah semuanya ditinggalkan, entah apa beda ingin dan butuh...

Ah manusia, katanya makhluk sosial, semua yang dilakukan atas dasar sosialisasi, bersosial dan sosialisasi, mau tak mau nyata terlihat kalau sebenarnya manusia hanya takut merasa sendiri, takut tak dikenal, takut ketahuan yang sebenarnya, iya takut kalau nanti mati sendiri dan tak ada satupun yang menangisi...

Ah manusia, setidaknya sangat lihai beralibi, yang tahu sebenarnya diri sendiri, yang lain hanya mencari tahu dan sedikit berspekulasi...

Entah kemana lagi mencari kebenaran dalam diri si manusia, ah manusia...

Jogja, 8 Desember 2013, 16:16

Utopianist

Mata tertutup, raga terdiam, mulut terkatup, pikiranku seolah tengah terbang telanjang mengarungi lautan dengan sampan dan dayung kuas...

Angin timur tengah ke barat, kutebarkan layar kanvasku, setelah di barat aku ke selatan, ke utara setelah itu, sebelum pulang akan kuseduh kopi sambil menghisap rokok kretek ku di atas sana, jari telunjuk meneropong puncak yang jauh di tengah sana, Himalaya...

Setelah itu apalagi yang akan kucari? Mungkin aku akan menjadi penari, menari-narikan jariku di atas kertas putih layar putih hingga nanti akan ada orang yang akan mengerti, mempelajari, kalau hidup bukan cuma disini, kenapa tak seluruh alam semesta kau jejaki...

Jogja, 9 Desember 2013, #utopia 22:58

Saturday, December 07, 2013

Berandai

Lihatlah, mengenai awal hanya berupa perspektif yang akhirnya menjadi panutan. Ide yang hanya sesumbar terucap dan nyatanya di sakralkan. Konsep malah kian diperhitungkan oleh beberapa dengan pertumpahan darah.

Tak kau lihatkah? Putaran zaman, jelajah waktu, melirik penuh hasrat pada tiap simbol, memaknai lewat semiotika, dan kau masih bertanya apa aku bisa memikirkan itu semua?

Otak, hati, jiwa. Muntahlah, keluarkan semua, toh tak lebih dari perandaian, berandai-andai akan seperti apa nantinya, tak jadi tak masalah, toh hanya majas perandaian.

Kau tertawakan badut itu, banyak juga yang parno dan takut, padahal mereka penghibur...

#RomanAbsurd Jogja, Dec 07, 2013 03:24

Thursday, December 05, 2013

Sembilu

Berputat putar kesegala arah, tak lelahkah kau seperti menari, sebentar-bentar kau menyanyi ditengah gulita seperti anak balita, kau tak peduli, cukup bebal kau sekarang...

Anjing di ujung jalan sana terus memperhatikanmu, cukup lama menatapmu dengan wajah lugunya, kau senyumi dia, dia malah berlalu, kau sendiri, tak ingin kau di anggap membusuk ditengah sunyi, katamu kau berbahagia sendiri disana...

Berteman sembilu dari pada ditengah keramaian yang kau temui hanya kebohongan, kau sesapi tiap sepi, kau hirup nafasnya hingga pikiranmu pun menghilang, tetap kau kukuh mengaku kalau kau bahagia, bersemedi ditengah kegelapan dengan sunggingan senyum yang terus merekah di bibirmu...

Jogja, #absurditas 05/12/2013 19:37

Tuesday, December 03, 2013

Sekat

Lukamu kau tutur lewat cerita malam itu, kala lampu dan rumah tetangga padam dan tak ada penerangan, yang ada hanya alunan kata-kata penuh semangat bercerita tentang masa lalu. Padahal sebelumnya kita belum pernah bertemu sebelumnya, tak mungkin tak ada alasan mengapa waktu mempertemukan kita, padahal bisa saja kamu menolak ajakanku dengan alasan sederhana yakni kita belum kenal.
Malam itu tertinggal pertanyaan, banyak pertanyaan dalam benak ini, aku serasa sudah mengenalmu selama hidupmu. Bukannya tak baik menceritakan masa lalu suram pada orang asing? Bisa saja si orang asing mencari kesempatan yang justru dapat membuatmu menjadi lebih merana, tapi rasanya kamu tak peduli dan terus saja bercerita.
Jam berganti, berdentang menuju jam berikutnya, dan waktu pun berlalu tanpa sedikit pun rencanaku tuk menggoreskan wajahmu di atas kanvas tak terlaksana. Iya, aku lebih tertarik menyimakmu bercerita, aku malu mengakui kalau aku suka kamu justru dari apa yang tak terlihat orang lain, aku suka kepribadian kamu yang ingin bebas terbang seperti burung, ingin berbagi kebahagiaan pada sesama seperti ceritamu dengan anak-anak jalanan itu, seperti keluargamu yang sangat kamu cintai, seperti hidupmu yang sangat penuh lika-liku yang dimana takkan tampak jika orang hanya melihat wajah polosmu. Aku serasa ingin menjadi bagian dari cerita itu.
Ah waktu, aku bahkan ingin menukar waktu tidurku dengan hanya menemanimu. Ah kasmaran, datangmu begitu tiba-tiba, padahal baru pertemuan pertama. Ah mungkin aku cuma pembual, atau mungkin aku hanya seseorang yang kesepian.
Sekali aku pernah membaca cerita yang berkata bahwa apa yang kita inginkan selalu berbeda dengan apa yang akan kita dapatkan, iya mungkin saja kamu akan menjauh setelah aku mengatakan suka padamu, siapa aku ini? Jadi mungkin lebih baik aku menjauh pergi meninggalkanmu dengan cara membuat pikiranku terhenti dengan cairan bodoh itu, berpura-pura kalau aku ini sampah dan kamu terlalu muda untukku. Bencilah aku kalau perlu, walau aku tahu kau terlalu baik untuk melakukan itu.
Ah malam, tenggelamkanlah aku dalam angan, biar semua berlalu cepat tanpa aku harus membuka hati, aku memang ditakdirkan sendiri seperti Hemmingway di Man Without Woman, seperti Tolstoy di Krutzer Sonata, seperti Kerouac di Lonesome Traveler.
Gunung buatlah aku segera merindukanmu, menghilang dari manusia dan segala macam perasaan semacam ini.
Berbahagialah hidupmu wanita yang aku sukai, iya katakanlah aku sekedar suka biasa, tak lebih, biar kamu tak usah terlalu memikirkannya. Selamat datang dan sampai berjumpa lagi.

Jogja, 3 Desember 2013, 20:45

Saturday, November 30, 2013

Tarian Sunyi

Aku menari, menggerak gestur dari imaji,
Aku menghilang, redup dan sekeliling pun hening,
Aku menari, menyanyi dalam sunyi,
Aku bergerak, walau raga diam yang nampak,
Aku menari, menikmati musim berganti,
Aku kedinginan, ketika matahari justru terik kegirangan,
Aku kepanasan, ketika hujan tak henti berjatuhan,
Aku masih menari, tarian bisu ditengah sunyi,
Aku menikmati, raga kelelahan dan aku pun mati,
Tetap aku tak peduli, setelah mati aku hidup lagi...

Jogja, 30 November 2013, 11:48

Friday, November 29, 2013

Senja

Biru selendang langit tertutup kemelut awan putih bersayap berlian,
Hanyut terbawa menuju kegelapan, kala cakar senja mulai menerkam,
Hilang memudar dan penguasa kegelapan beserta mahkota bulannya bertandang,
Semua yang tadi nampak penuh warna terbelah menjadi kepingan bintang,
Aku menghilang,
Menari bersama anak gadis sang iblis,
Kami bercinta,
Hingga tak ada yang tersisa,
Kosong menyatukan kami dalam keabadian,
Hingga nanti semua galaksi tahu bahwa akulah penguasanya,
Aku tertawa,
Mereka pun akan menangis sembari mengucap namaku berulang kali, ratusan kali, jutaan kali,
Melantunkan namaku dalam tiap alun nada dan suara,
Hingga mereka mati berkalang tanah,
Aku menghidupkan lagi mereka kembali dengan bentuk yang berbeda,
Yang dulu jadi manusia kini menjadi lintah dan cacing tanah,
Yang dulu melata kini jadi manusia,
Aku tertawa...

Jogja,29 November 2013 17:15

Tuesday, November 19, 2013

Masa

Masa lalu, dapatkah aku memilih untuk menghilangkanmu dari kehidupan atau mungkin sekedar pura-pura lupa kalau kau pernah ada? Aku muak ketika orang bertanya kau berasal dari mana, apa yang membuat kau menjadi seoerti sekqrang, juga mengapa aku harua menjadi seperti aku yang sekarang ini. Mengapa aku harus menjadi diri sendiri padahal masa laluku selalu menjadi hantu. Kalau boleh memilih bolehkan masa lalu aku rubah dan mengganti sesuai seperti apa yang aku inginkan. Dari dulu sampai sekarang semuanya tampal salah, sangat salah dan aku mau lupa.

Masa depan, mengapa kau begitu misterius? Kadang membuatku beranggapan begitu yakin tapi malah sering membuat kecewa, ketika kau datang dalam rupa mimpi, iya kau buat aku tersenyum dan penuh rasa yakin akan seperti apa kau dikemudian hari, tapi selalu saja berakhir dengan ribuan pertanyaan yang ujungnya membuat kecewa. Iya aku muak dengan sebutan pemimpi, yang lain hanya tertawa dan dibenak mereka terukir jelas kata kata yang tak percaya bahwa nantinya akan terwujud.

Sekarang, kemana kau pergi? Kau tinggalkan aku saat aku coba mengejarmu dari belakang. Kau bius aku dengan kebohongan yang kau selipkan lewat botol-botol, dedaunan, dan jamur agar aku bisa merasa senang, tapi setelah mereka merenggut kesadaranku maka kau pun pergi. Sungguh memuakkan. Aku bosan hidup dengan segala macam kebohongan ini.

Jogja, 19 November 2013, 02:00

Thursday, November 14, 2013

Anak Kecil

"Berlarilah, tembusi kelebat hujan itu dengan senyuman"

Terlihat dari kegembiraan raut wajah anak kecil yang sedang menyemangati dirinya sendiri itu, dia bermain hujan seorang diri di sebuah lapangan kecil tepat depan rumahnya, kawan-kawannya yang belum tertarik pada awal hujan turun dan menghentikan pertandingan sepakbola mereka yang baru 15 menitan mereka rasakan itu spontan berhamburan ikut bergelut dengan lumpur dan siraman hujan dari langit, serasa ingin hanyut bersama kebahagiaan anak kecil yang sudah terlebih dahulu basah kuyub itu.

Tahun ke tahun berlalu begitu cepat, tak terasa si anak kecil yang selalu kegirangan melihat hujan dan selalu tak peduli jika hanya dia seorang yang menikmatinya telah beranjak 1/2 abad. Namun hujan selalu menjadi kawan baiknya hingga sekarang. Buktinya bisa dilihat jika anak kecil yang sudah beranjak deqasa itu tak pernah sakit jika bersenda gurau dengan hujan, bahkan ketika dia sedang deman atau batuk dan kemudian bermandi air hujan maka sakitnya pun akan menjadi baikan.

Ah apalah, asap rokok, kopi hitam atau sebotol bir sangat membantu memperindah hujan beberapa tahub belakang ini. Bukan karena si anak kecil yang sudah dewasa itu sudah tak tertarik bermain hujan, tapi dikarenakan dia malas mencuci saja.

Jogja, 14 November 2013, 17:34

Tuesday, November 12, 2013

Kertas

Harusnya tak kau bawa serta rasa itu,
Harusnya kau hanya ingin berbagi cerita, tak lebih,
Apa jadinya sekarang?
Kau mulai berpikir terlalu jauh tentang berbagai macam hal yg cuma kau juga yg rasakan,
Kau mulai kaku dan keseimbangan dalam diri mulai rentah,
Kau sudah berubah menjadi bukan kau yg aku kenal.
Sekarang kau harus buka mata,
Rasa akan datang dengan sendirinya, bahkan tak perlu kau cari, rasa akan ada begitu saja bahkan sebepum kau mempersiapkan diri.
Ah aku ingin minum whiskey, tak ada whiskey anggur pun jadi...

Jogja, tengah malam, 12 November 2013