Tuesday, June 04, 2013

Aku dan Bintang Kecil



Disana dia bersinar, jauh diatas sana hingga hanya mata saja yang mampu menggapainya, berjuta cahaya jaraknya. Aku hanya berharap dapat memilih satu diantara mereka, memilih secara acak, siapa pun mereka jika nanti dapat kesempatan untuk kumiliki salah satunya, ya hanya satu, maka akan kupertahankan bagaimana pun caranya.
Kini ada satu diantaranya yang datang, tak aku tahu, kenal pun hanya sekedar lewat, namun aku suka. Kesukaan berubah pada rasa aneh yang mungkin dapat dikatakan sayang, aku hendak menjaganya, memberi ruang dan waktu diantara aku dan dia, aku ingin dia bahagia, paling tidak bahagia semenjak kenal denganku.
Waktu berjalan begitu cepat dan tak terasa sudah berjalan dua bulan sekarang, aku dan dia menjalin hubungan sederhana yang kami sepakati bernama ‘simplest love’, tak ada rahasia diantara kita, universe akan menjadi saksi bahwa kami saling mempercayai satu sama lain. Aku dan bintang kecilku, mengarungi dan mencari titik sambung antara kita berdua, selalu begitu hingga sekarang, kadang ada hal yang membuat kami merasa terlalu jauhsatu sama lain untuk dapat terkait, namun kami coba tuk mengaburkannya dan menganggapnya bukan sebuah masalah.
Semua hal tercipta berbeda, paling tidak nampak berbeda untuk indera, jika perbedaan yang kita cari dalam hidup yang hanya sekali ini, maka akan tampak begitu banyak perbedaan, dan apa jadinya jika perbedaan yang kita cari? Maka hanya perpisahan juga yang akan ditemukan.
Kemarin sebelum bertemu dengan dia, aku namakan dia bintang kecil, aku bagai mata kompas yang tak tahu arah dan terus berputar tak jelas hendak menunjukkan arah mana, entah itu timur atau barat, selatan atau utara, entahlah. Dia datang, senyumannya memberiku arah berupa alasan, alasan mengapa dan untuk apa, siapa dan kapan, dimana hendak memulainya, memulai untuk mewujudkan mimpi-mimpiku yang sebelumnya hendak aku lupakan. Cahaya di matanya cukup untuk membuatku merasa begitu penting, keberadaanku dianggap, perhatiannya membuatku luluh, atau mungkin apa yang aku rasakan hanyalah uforia rasa senang karena akhirnya rasa kesepian yang lama menyelimuti perlahan memudar, aku tak begitu memikirkannya.
Jika pun masa depan memberikan hal lain, maksudku jika nanti kami tak bersama maka biarlah sekarang aku jalani dengan kebahagiaan, aku berikan semuanya pada dia, aku percaya akan takdir, lagi pula siapa yang dapat memastikan seperti apa masa depan nantinya jika bukan diri kita sendiri?
Setelah dua bulan berjalan, aku masih tetap percaya bahwa cahaya yang dia bawa dalam kehidupanku akan bertahan selamanya. Semoga waktu, alam semesta beserta isinya membantu mewujudkannya, dan tentu tanpa restu dari Sang Pencipta penguasa alam semesta, penguasa waktu maka semuanya takkan ada artinya. With love to you my Little Star in this World aka Lintang Alit Pratiwi.

Ciputat, Juni 04, 2013, 20:09