Wednesday, March 28, 2012

Sepenggal Cerita dari Si Bodoh

Kawan kawan pembaca, perkenalkan aku adalah si Bodoh. Tak perlu anda tanyakan siapa nama asliku, itu tidak penting karena kalau aku memakai nama asli makan ke bodoh akan hilang, dan aku tak inginkan itu. Aku adalah segelintir orang yang mungkin jarang atau mungkin banyak anda temui dalam kehidupan anda, dengan nama bodoh yang melekat pada diriku membuat aku bebas untuk melakukan banyak hal yang orang normal enggan lakukan, itu semua karena akulah si Bodoh. Aku tak pernah menganggap panggilan orang padaku seperti ‘hey bodoh!’ atau ‘dasar bodoh!’ menjadi sebuah masalah, itu kejujuran, dan harusnya kejujuran di tanggapi dengan senyuman, bukankah begitu?

Mereka awalnya hanya memanggilku bodoh hanya karena beberapa tindakan yang sering kulakukan memang bodoh seperti memanjat tiang listrik, bersalto ria di lantai, tidur tiduran di aspal, dan lain sebagainya. Dan itu kuanggap sebagai perhatian, lagian kalau aku menanggapi tiap panggilan bodoh yang diarahkan kepadaku bukankah justru memupuskan jati diriku sebagai orang bodoh kan? Saya tak inginkan itu. Seiring berjalannya waktu maka aku pun semakin sering melakukan banyak hal bodoh lainnya.

Aku senang membaca buku, tentunya jangan anda anggap bahwa dengan membaca buku maka akan membuatku pintar dan banyak tahu hingga nanti tidak ada lagi perkataan bodoh tentangku atau takkan ada lagi orang orang yang akan memanggilku bodoh, justru aku membaca begitu banyak buku tentang orang bodoh agar aku bisa belajar dari tulisan itu bagaimana harusnya seorang bodoh dalam menjalani hidup mereka. Ambil contoh mengenai orang bodoh yang diceritakan dalam buku ‘Zarathustra’ yang di tulis oleh orang yang dianggap bodoh di sejarah dunia tulis menulis karena perkataan terkenalnya yang menggemparkan yaitu ‘Tuhan telah mati’, dialah si Frederic Nietzche. Didalam bukunya diceritakan mengenai kehidupan si tokoh utama bernama Zarathustra yang menjauh dari kerumun penduduk di perkotaan, dia memutuskan untuk tinggal seorang diri di atas gunung dekat hutan menjauh dari kehidupan sosial yang dianggapnya membosankan karena penuh dengan intrik dan kebohongan yang berlebihan, disana dia berteman dengan hewan hewan yang mendiami hutan, dan teman baiknya yang sering diajak bertukar pikiran adalah hewan melata bernama Ular dan hewan yang terbangnya paling ditinggi di udara bernama Elang. Di cerita dalam buku ini tentu saja aku takkan mengambil inisiatif untuk ikut tinggal di atas gunung sambil berkawan dengan binatang! Ini memang tindakan bodoh, tapi yang aku inginkan adalah bodoh yang lain. Aku hanya mengambil cerita mengenai ketabahan dari Zarathustra dalam menjalani kehidupannya, beserta isi dari pikiran pikirannya dalam menanggapi segala macam hal, ini semua adalah tentang tindakan dan pikiran yang orang bodoh lakukan, itu saja.

Buku yang lain seperti seorang penderita parah penyakit Schizophrenia dari Jerman sama seperti Nietzche yang menulis buku tentang suku Indian berjudul ‘Winnetou’, coba anda bayangkan sendiri bagaimana mungkin seorang penderita schizophrenia yang belum pernah sekali pun pergi ke daratan Indian, serta tidak pernah membaca tulisan dan melihat foto tentang orang Indian dari buku atau dari internet, maklum pada waktu itu masih tahun awal 1800. Dia menjelaskan tentang suku Indian dengan begitu detail, dimulai dari pakaian, rambut, rumah, cara hidup, tarian, dan lain sebagainya padahal dia hampir setengah dari waktu hidupnya dihabiskan di dalam rumah sakit jiwa!

Hanya, jika aku membaca buku maka akan aku perlihatkan beberapa cara bodoh yang jarang dilakukan oleh orang normal, yakni takkan sedikit pun menggubris dunia luar selain dunia yang diceritakan dalam buku, ada yang mengajak berbicara maka takkan aku ladeni, ada yang mengganggu maka aku akan pindah ketempat lain, dan selalu ketika membaca akan ada headphone mendengungkan musik klasik yang melekat di telingaku dengan setelan full volume, ini salah satu wujud dari tindakan bodoh yang menurutku harus aku lakukan. Anda tak usah menanyakan lagi kenapa, karena apa anda pernah melihat orang bodoh tidak melakukan tindakan bodoh? Jika ada maka mereka itu tidak bodoh. Sedangkan aku ini orang bodoh, dan tindakan bodoh yang kulakukan adalah kewajaran di mata orang orang, saya harap bisa dimaklumkan.

Hal bodoh lainnya mungkin seperti musik kesukaan, yakni musik yang keluaran tahun 1970an kebawah semacam; Muddy Waters, The Doors, Robert Johnson, Charlie Patton, The Beatles, dll., hingga ke musik instrument ala orkhestra semacam Wolfgang Amadeus Mozart, Chopin, Bach, Beethoven, dll. Musik yang mungkin hanya orang tertentu saja yang mendengarkan, dan itulah saya. Ini jangan sekali kali anda pikirkan bahwa aku ini tidak bodoh dan keren karena mendengarkan musik berkualitas dan keren semacam itu. Alasan dari semua ini karena mereka yang diatas, setelah saya membaca biografi dari mereka ternyata mereka pada masa hidup mereka dan membuat lagu juga dianggap bodoh. Contohnya; seperti Muddy Waters yang dianggap bodoh karena mau membuat studio rekaman (Cadillac Record) bersama seorang kulit putih dari Polandia (waktu itu di Amerika sedang maraknya kasus rasis), The Beatles dianggap bodoh karena mereka membuat band dengan semua personilnya berambut panjang (waktu itu yang berambut panjang hanya wanita), The Doors dengan Jim Morrison nya yang bodoh dengan seluruh hidupnya yang hanya sampai 27 tahun dihabiskan dengan mabok minuman dan obat obatan. Beethoven atau si Beast atau si Buruk Rupa yang bodoh karena membuat masterpiece justru pada waktu dia tuli. Begitupun dengan lainnya yang jika aku jelaskan satu satu disini maka akan sangat panjang, dan kesan dari si Bodoh yang melekat pada diriku akan menghilang sama sekali.

Sekian dulu cerita dari si Bodoh untuk saat ini, mungkin beberapa waktu ke depan akan aku lanjutkan dengan kebodohan yang lain.

Yogyakarta, 26 Maret 2012, 15:57

Sunday, March 25, 2012

Me And The Clown


I dont know, since I can use my brain to write all the things that happen into my life, I probably thought that I was be one of the Clown in the circus of life, I jump and walk like everybody watch me, sometimes they loudly laughing because a things that I accidentally did.

I dont know, but I enjoy it, I love it!

If a once life is useful to another so why we gonna runaway? No I dont want run, no matter what people call and say about all the things that I done, as long as could I make other people laughing and I listening then it will be did.

I am the Clown on this life, I am the Clown of this life.

Saturday, March 24, 2012

About a Girl


That girl come and sit on the corner of my brain. She just runaway from her identity as usual normal person. She sharing lot of things; country, flower, garden, rain, rainbow, shadow, fog, and many others. But she never talk about her self, that make no sense for me because she just come without any permit or demanding from me, and I just smile and open widely my ears to listen to her. I am just human being which love to be kind person as I wish, I need to talk about lot of thing to another people sometimes, just like her did to me.

Time by time, day by day, and she suddenly gone without any permit and demanding from me. It is okay, but I will never do same just like what did to another people, actually that was hurt me so much. No words of the end, no smile or whether a little hug for the ending, just gone like dust in the wind.

Later on I know, by unwanted admiring from another side I saw that she has have a boyfriend, I know that wasn't my business but actually who am I? I mean, is that your reason come and gone so fast because at the time you feel so lonely and need someone else to be on your side, and you found me. I never want to ask you why, I never want to begging you to come back again, I just dont know what to do. Then be better to keep quite and let it away. Why? Because I dont even know your self, I mean all about you, not flower, garden, etc.

I hear from somewhere that you shouldnt have to know who, you gone because you doesnt want if I falling in love with you, you see when I talk about some story is just like this story is all about my care to you, because all the time when need someone then I come to you, you probably think that I falling in love in you, but that wasnt true my friend. I just guess that you come to my life because you need a friend and I give my hand, I cant give you my heart and be your boyfriend because of many reason, one of them is because I dont even know your self, how can I falling love to someone that I havent know?

I just feel sad when you go, you go because you think that I falling in love to you, you scare it could be happen, you doesnt want some stranger like me will be your boyfriend.

I have a girl on my mind, and she will always be mine, how can I fall in love to you if I was have one? No way, you can call me whatever you want, geeky, creepy, stranger, or whatever, but for once again I say sad to you, you already gone just because you think that I fall in love to you, impossible because I dont even know your self.

Nice to meet you, and see you on the other side of our life, my widely arm and openly heart will welcoming you if you want back again to sharing thousand story.

Yogyakarta, 24 Maret 2012, 18:16

Tuesday, March 20, 2012

Menjelang Sore Hari


"Apa kamu tahu mengapa mereka tampak seperti keranjingan dengan hidup yang terus menerus menceritakan tentang kehidupan pribadi orang lain? Tak hanya kebaikan yang mereka ceritakan, bahkan sampai kejahatan yang seharusnya tak usah diceritakan juga mereka umbar begitu saja, layaknya kran air yang gagangnya sudah rusak, terus menerus berkokok tanpa henti mereka, apa mereka hendak menjadi ayam?"

"Entahlah, dari dahulu kala, memang begitulah guna mulut manusia, untuk berkomunikasi. Dulunya hanya keluhan mengenai diri sendiri yang diceritakan, mereka bercerita tentang kesulitan rumah tangga, ladang tempat bercocok tanam, hingga tentang ternak mereka yang malas makan. Lambat laun rasa bosan datang, mereka sudah tak peduli dengan rumah tangga, makanya ada banyak suami istri yang cerai, anak menggelandang karena istilah 'broken home', istri selingkuh, suami menyeleweng, anak pun mulai mabok mabokan dan memakai obat terlarang, bahkan anehnya dengan kehidupan seperti itu mereka malah tak ingin membahasnya! Mereka bosan! Apalagi dengan ladang tempat mereka bercocok tanam! Lihat saja sekarang, mana ada ibu ibu rumah tangga yang masih menanam bunga di depan rumah mereka untuk mempercantik pekarangan? Juga mana ada bapak rumah tangga sekarang ini yang masih sempat menyibukkan diri dengan membuat kebun sayur di belakang rumah? Ibu dan bapak membuat taman bermain untuk anak mereka pun mereka lupakan! Dan yang lain, seperti ternak, seandainya kendaraan bermotor tidak pernah ada, mungkin semua orang akan berlomba lomba untuk berternak kuda sebagai kendaraan, sapi dan kerbau sebagai pengangkut barang, dan lain sebagainya. Tapi sekarang sudah terasa mustahil, tapi mungkin masih bisa dilaksanakan seandainya kamu atau saya memilih untuk tinggal di desa yang jauh dari keramaian kota."

Sambil memandang jauh dari teras rumah tempatku duduk, melintasi pohon pohon yang masih nampak hijau, semilir jernih air mengalir di kali kecil depan rumah seakan membisikkan tentang kesejukan, di ujung sana ada gunung, di seberang hutan ada air terjun, dan lihat ada bentangan hutan juga. Sore ini, puluhan burung bangau terbang melintas atap rumah, batinku berbisik, di kota takkan mungkin bisa mendapatkan pemandangan seperti ini.

"Ah, kamu melamun saja, tadi belum tuntas ceritanya, lanjutkanlah"

"Iya, mengenai alasan mengapa orang orang sekarang senang berbicara tentang orang lain?"

"Iya... Kau ini pendongeng yang payah, aku mengenalmu sudah 40 tahun, sekarang kau sudah bersamaku 40 tahun lamanya! Dulunya aku tak pernah sangka akan menikah dengan seorang pendongeng, mempunyai 5 orang anak, 15 cucu, dan 5 orang cicit!"

"Haha, baiklah sayangku, ini semua karena memang manusia mempunya empati dan rasa peduli yang kelewat tinggi pada orang lain, ketimbang memperhatikan diri sendiri. Disamping itu, karena rumput tetangga selalu nampak lebih hijau, tapi ini hanya untuk orang orang yang selalu memandang segala macam hal lewat satu sisi saja, yaitu keindahan, padahal mereka tidak tahu kalau indera manusia yang selalu saja pandai berbohong adalah mata mereka. Keindahan itu seperti kamu, yang indah tak hanya dari luar, namun juga dari dalam."

"Ah, sudah kakek kakek masih saja merayu." kata si nenek sambil tersipu malu.

"Yah harus dong, bukankah semakin tua semakin jadi? Haha, tapi ini semua untuk kelanggengan kita bertukar cerita sayang, biarkan saja keriput bertambah, rasa sayang pun ikut bertambah..."

Seorang cicit bernama Nusantara pun datang, sambil malu malu dia pun mulai bernyanyi "Matahari tenggelam, hari sudah malam, terdengar burung hantu, suaranya merdu..."

20 Maret 2012, 03:35 am, Daerah barat Yogyakarta

Saturday, March 17, 2012

Cerita Dalam Celengan Babi


Bunyi kring kring uang logam berjatuhan satu persatu, tumpuk menumpuk hingga tak terhitung jumlahnya, angka di uang logam pun beragam, besarnya pun berbeda, ada kecil dan besar, ada tebal dan tipis, pula ada beberapa yang tak terawat tampak dari bentuknya yang telah bopeng dan berlumut, semua ada disini dalam celengan babi berwarna putih. Setiap keping masuk kedalam celengan babi disertai satu buah harapan dan impian, atau mungkin dapat dikatakan doa pada sang pencipta, ini bukanlah sekedar tabungan untuk pemilik celengan babi namun lebih mirip seperti guna batu di korek api, ini lebih mirip pemicu tiap tindakan masa depan katanya.

"ketika yang ada hanya angan dan impian tanpa ada pemicu tindakan maka tindakan takkan sepenuhnya dapat berjalan lancar, aku butuhkan pemicu, aku butuh Tuhan tentu saja, aku butuh inspirasi, mungkin seperti kebanyakan seniman yang nampak sedang larut dalam pikiran mereka ketika sedang menghisap dalam rokoknya, disini rokok sebagai pemicu, sedangkan aku sendiri tak begitu senang dengan rokok. Atau mungkin seperti seniman lainnya yang senang mencari inspirasi dengan naik kepuncak gunung atau kepinggir pantai atau pergi ketempat mana saja yang dapat memicu imajinasi mereka, tapi aku lebih senang menyendiri disini, ditempat tak ada suara selain derak nafasku sendiri, ditempat tak ada gerakan selain gerak tanganku yang sibuk menggores pena menulis cerita. Dan koin koin itulah pemicu imajinasiku, aku sangat menyenangi bunyinya yang menurutku aneh dan khas."

"kenapa musti celengan babi" tanyaku sambil menyeruput kopi hitam dan menyalakan rokok yang entah sudah yang keberapa.

"babi itu adalah binatang mamalia paling jorok dan paling pemalas, padahal babi memiliki hidung yang tepat berada di depan mata mereka, menonjol keluar dari wajah mereka dan lubang hidungnya sangat besar pula, namun kenyataan berkata lain, mereka pun merasa tak jijik sedikit pun makan makanan yang telah bercampur dengan tahi mereka sendiri, mereka memang jorok dan menjijikkan, tapi mereka menyadari itu semua lewat tingkah laku mereka, dimana ketika berjalan mereka menunduk menatap tanah, mereka malu dan sadar jelas dengan itu. Babi menjadi pemalas karena saya yakin untuk soal bersosialisasi dengan binatang lain pun mereka sudah tahu diri, mereka tentu takkan diterima dimana pun, makanya tubuhnya penuh dengan lemak, kerjaan mereka hanya bermalas malas tidur tiduran menunggu waktu makan datang, dan juga menunggu waktu tepat datang mengambil mereka untuk dijadikan makanan. Tapi coba lihatlah binatang lainnya yang sering dijadikan ikon celengan, kelinci misalnya, kelinci terlalu lembut, padahal hidup penuh semangat itu tidak mudah dan keras, butuh kerja keras, sedangkan kelinci yang lemah lembut apa yang mereka bisa lakukan selain makan wortel dan berlompat lompat ria kesana kemari? Apa mereka bisa berlari kencang layaknya babi hutan yang membuat pemangsa mereka musti ekstra keras untuk menangkap mereka, mereka berlari bahkan tanpa melihat jalan!"

Mendengar kelinci disepelekan, walau sejujurnya saya tak terlalu senang dengan kelinci, maka saya pun mencoba membela kelinci dengan tanpa alasan "tapi kelinci itu memberikan kesenangan pada sebuah kesenangan, kelembutan mereka berpadu dengan telinga panjang mereka yang selalu awas, mereka dapat mendengar tentunya lebih baik dari babi, jika disambungkan dengan celengan maka dapat diartikan bahwa tiap koin yang masuk telah didengar oleh celengannya sendiri sebagai saksi, ditambah dengan doa pada tiap keping koinnya sebagai perantara pada Tuhan, dan saya rasa ini paduan yang istimewa, ada anda sendiri, Tuhan dan celengan kelinci." Saya akui pernyataan saya ini sangat bodoh.

Sembari tertawa terbahak dia menjawab, "tiap keping koin yang bergemeletak dalam celengan babi ini adalah antara aku dan Tuhan saja yang musti tahu, sedangkan babi yang setahuku pemalas dan sepertinya bodoh juga tak perlu ikut tahu mengenai doaku dan impianku, tapi disisi lain dia berguna sebagai penyemangat lewat keburukannya yang terlalu sering disepelekan, padahal babi aku rasa adalah salah satu binatang bijak dan sangat menerima dirinya apa adanya, seandainya manusia di ibaratkan babi maka mungkin akan membuat kita kagum sekaligus bertanda tanya yang banyak sekali, coba bayangkan ada seseorang yang menjijikkan tingkah lakunya namun dia percaya diri dan tahu diri, ditambah dia bertanggung jawab atas tiap tingkah lakunya, bukankah hidup dengan penuh kejujuran yang tak perlu diumbar dengan kata kata akan lebih menakjubkan? Yah seperti itulah babi, makanya aku memilih celengan babi agar terselip sedikit saja kebijakan lewat tahu diri dalam tiap doa dan impianku, walau menjijikkan di mata orang mengenai doa dan impiaku tapi aku akan tetap percaya diri, toh ini hidupku juga, tanpa maksud hendak menyombongkan diri dengan berkata aku melulu."

"tentu saja hanya orang bodoh yang menganggap 'aku' adalah simbol kesombongan, ditiap cerita yang diceritakan tanpa ada aku atau saya maka akan terkesan seolah bukan cerita, walau memang lebih bagus mengatakan kami ketimbang aku atau saya, tapi untuk cerita maka berbeda lagi ceritanya, satu cerita ada untuk satu orang saja, walau ceritanya dialami oleh begitu banyak orang, tapi tiap orang punya imajinasi dan cara pandang yang berbeda, dan ketika dibuat cerita maka akan berbeda."

Celengan masih tetap berlanjut di masuki koin, bergemerincing dari satu koin ke koin lainnya, menyisa gaung bunyi kring kring, ada doa dan impian kasat mata juga yang melayang entah kemana, begitulah cerita dalam celengan babi.

Jimmy si Pendongeng, Kamar Kosan, 08 Maret 2012, 00:50

Wednesday, March 07, 2012

Tugas Manusia adalah Menjadi Manusia


"Jangan pernah mempercayai orang yang mengatakan bahwa dirinya adalah orang biasa biasa saja..." Scott Fitzgerald

Adam dan Hawa di ciptakan ke bumi kurang lebih 14.000 tahun yang lalu sebagai seorang berTuhan pertama, entahlah, begitu banyak versi cerita tentang Adam dan Hawa, ada yang mengatakan bahwa mereka berdua adalah manusia pertama di bumi namun begitu banyak halangan untuk mengiyakannya, salah satunya adalah peradaban manusia yang jauh sudah ada semenjak sebelum Adam ada. Dan yang lainnya adalah mengenai ras kulit manusia di bumi, mana mungkin dan sangat tidak logis jika Adam itu berkulit putih lantas bagaimana dengan ras kulit kuning di Indonesia dan sekitarnya, ras kulit hitam Afrika, ras kulit merah di Indian, dan lain sebagainya. Sangat tidak mungkin jika dikatakan bahwa karena suhu di Afrika itu panas makanya orang orang disana hitam, mustahil. Di Indonesia saja, yang letak pulau pulaunya tepat dibawah garis khatulistiwa, dimana berarti tepat jatuh di bawah sinar matahari, persis sama dengan Afrika, namun mengapa warna kulitnya berbeda? Selain itu banyak lagi alasan yang mengatakan bahwa memang Adam dan Hawa bukan manusia pertama yang diciptakan, melainkan Adam dan Hawa adalah manusia ber-Tuhan pertama yang diciptakan. Pada zaman itu, manusia sibuk ber-Tuhan-kan patung patung yang mereka buat seenaknya sendiri, meminta minta pada pohon besar atau pun pada gunung dan lain sebagainya, mungkin Tuhan merasa kasihan pada mereka, karena Tuhan pun tahu jika pohon dan gunung dan lain sebagainya pun meminta padanNya.

Ini bukanlah cerita besar mengenai warna kulit manusia atau pun tentang penciptaan manusia, tapi hanya cerita sepele mengenai manusia itu sendiri, dimana manusia memiliki dua hal penting yang layak dipertanyakan kegunaannya, yaitu pikiran dan perasaan. Pikiran manusia tak ada batas untuk di isi dengan apa pun, begitu pun dengan perasaan tak ada batasan untuk merasakan segala macam hal, merasakan desir angin yang menggelitik dari ujung rambut hingga ujung jari kaki, sampai manusia pun mampu merasakan rasa sakit yang diderita oleh seekor burung yang salah satu sayapnya patah. Manusia dengan manusia lainnya justru berkebalikan, memikirkan dan kemudian melakukan segala macam hal untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, maka lahirlah politik, ilmu yang terlalu sering disalah gunakan oleh orang orang yang menganggap dirinya pintar. Manusia dengan manusia lainnya dalam hal merasakan pun kini hanya tinggal cerita lama, kini manusia merasa enggan untuk saling memberi hanya karena slogan 'memberikan uang tidak berarti membantu', padahal perasaan manusia siapa yang tak akan merasa senang jika dibantu? Jangan pernah sungkan untuk membantu, karena dahulu kala guru guru pun berprinsip seperti itu, tapi sekarang mungkin sudah jarang yang ada, yaitu 'guru sebagai seorang yang tanpa tanda jasa' yang berarti memberikan ilmu tanpa sungkan sungkan.

Apakah memang benar kalau ternyata tak ada manusia yang berbeda? Jika ada orang yang melebihkan diri maka mereka adalah orang yang sombong itu benar, sedangkan jika ada orang yang merendahkan diri maka mereka itu orang yang sombong paling parah. Mengapa? Karena memang tak mungkin Tuhan menciptakan manusia itu berbeda, Tuhan lebih tahu sifat dasar manusia yang penuh dengan rasa cemburu, Tuhan tak ingin ada yang membuat manusia satu dengan lainnya saling membunuh hanya karena ada perbedaan diantara mereka.

Siapakah manusia yang merasa berbeda di dunia ini? Apa manusia itu takkan merasakan sakit apabila di cubit? Apa manusia itu takkan tertawa jika di gelitik? Apa takkan berdarah apabila ditusuk dengan pedang, tak makan makanan dan minuman yang sama, tak merasa haus dan lapar, dan lain sebagainya? Tidak mungkin ada yang berbeda dari manusia satu dengan manusia lainnya, mungkin ada sedikit hal yang membuat satu manusia dengan manusia lainnya tampak berbeda seperti agama, budaya, ras, fisik, ekonomi, dan lain sebagainya, tapi itu bukanlah alasan tepat untuk mengatakan bahwa tiap manusia itu berbeda, tiap manusia itu sama saja, dan tugas utama manusia.

Agama lebih bersifat personal, itu hubungan satu manusia pada Tuhannya, ingat satu manusia pada Tuhannya, dan tempat beribadahnya pun tak berbeda; ada mesjid, gereja, vihara, sinagog, dan lain lain, apalah arti sebuah nama jika gunanya sama. Sedangkan budaya adalah hasil karya manusia dalam sebuah komunitas atau kumpulan manusia yang memutuskan untuk hidup bersama, membantu satu sama lain, dan membuat peraturan hidup untuk mereka bersama, hingga lahirlah budaya lewat tutur kata dalam bahasa, adat istiadat, pakaian adat, rumah dan lain sebagainya, dan semua kebudayaan di bumi ini sama saja tujuannya yakni untuk membuat semua manusia yang ada disana bisa merasa nyaman dan bahagia, hanya berbeda nama, dan lagi lagi apalah arti sebuah nama jika tujuannya sama. Ras atau warna kulit adalah misteri Tuhan, entah apa tujuan Tuhan dibalik warna kulit, tapi yang jelas warna kulit memberikan manusia sebuah pelajaran penting yakni jangan sekali kali memandang berbeda seseorang hanya karena warna kulit saja, atau labih tepatnya jangan pernah memandang segala sesuatu dari luarnya, warna kulit memang berbeda, tapi pikiran dan perasaan tiap manusia itu sama. Fisik, masih mirip dengan ras, ada orang pendek dan tinggi, jelek dan cantik, hitam dan putih, dan lain sebagainya, tapi itu membuat manusia akan tampak berbeda? Memang benar, tapi apa akan tidak dikatakan sebagai manusia jika ada dua orang dimana satu cantik dan satunya jelek duduk berdua? Tetap saja tak ada perbedaan, masalahnya hanya satu untuk fisik ini yakni 'inner beauty' yakni perpaduan antara pikiran dan perasaan yang digabung dalam sebuah tindakan, membuat tiap manusia yang melakukan hal seperti ini takkan dipandang dari fisiknya, dan ini membuat mereka tampak seperti manusia yang sangat manusia, maksud saya mampu menggunakan dengan baik guna pikiran dan perasaan, dan memang seperti itulah gunanya. Sedangkan yang terakhir, ekonomi, satu hal yang sarat dengan kesombongan dan kebohongan, padahal tiap manusia bisa mencarinya, dan juga apa gunanya menyombongkan ekonomi lewat pakaian dan gaya hidup? Jawabannya tidak ada selain kebodohan, bodoh karena ingin dianggap berbeda dan patut dibedakan, bodoh karena tak tahu jika tiap manusia bisa berlagak seperti dia, bodoh karena menyembunyikan pikiran dan perasaan yang ada pada dirinya, menyembunyikan pikiran lewat kebodohan bergaya hidup dan menyembunyikan perasaan karena hendak menyakiti perasaan orang lain lewat gaya hidup, padahal semua manusia sama, ada pikiran dan perasaan.

Tugas utama manusia ada di bumi ini adalah untuk menjadi manusia seutuhnya, ini kata Max Havelaar aka Multatuli aka Edward Douwes Dekker. Dan tambahan dari saya menjadi manusia seutuhnya yang tahu menggunakan pikiran untuk berpikir dan perasaan untuk merasa.

Hidup ini mudah semudah mencengkram gemas kapas, dan pula susah seperti coba menghancurkan batu karang dengan kepalan tangan...

Kamar Kos di pagi hari, Rabu /07 Maret 2012 / 09:35 am

Tuesday, March 06, 2012

Silences of the Fool


I
Dont ever think that you was born with different condition, all the people are same, all the people are shame, always make fool and fool again, people is a poor when try to be whore, try to be somebody else, who the hell are you people? Are you try to prove to the world that you are suck? Excuse you my friend, life is go on, burn us, buried us, then leave us on the loneliness, the real place to be happy, the real place to make us know who the hell we are, no more than dust in wind, fly over, fly over, the fade away...

II
I am the king of the high way, I pray on the top of the mountain, scream to the silly things which always come, buried my head on sand, flying gently like butterfly, quite on the silences like hurricane, I can see for a mile the melancholy wash of the setting sun, settle down the moon, on its way to the high seas the little blues farm boy following the lane, had desire to know how far away are the birds and the springs!

III
For a while I lean my elbows on the table, the lamp shines softly on these lovely book, I am fool enough to read again these stupid books, we just try to change a thing with a whisper, work hard a day just to get a mouthful of food, even momentarily for any failure to cry, mourn every step with doubt, but what you are looking for people? Imagine people on Ethiopia obvious world, I am the master of the silent, there no more word of patient, I had burn all of the passion, I will cry instead, the laughing more and more, people call me crazy whether I dont even know my self...

March, 06, 2012, Yogyakarta, 01:52

Saturday, February 18, 2012

Merangkak di Teras Pagi

Malaikat pun menari nari di ujung cahaya mentari pagi yang hendak bersinar, membagi hangat pada bumi dan makhluk hidup lainnya. Sinarnya redup dari kejauhan, perlahan namun pasti, hingga nanti ketika telah muncul seutuhnya maka jangankan hendak dipandang mata, dirasa oleh tubuh pun enggan, panas tak memiliki banyak kawan. Burung burung saling beradu dalam nyanyian menyambut pagi datang, bunga bunga dan pepohonan terbangun dengan perasaan malu karena telah dibuai mesra oleh sang embun, kendaraan mulai berpacu berburu dengan waktu, manusia sibuk sibuk dan sibuk, mencari sesuap nasi untuk dapat tersenyum kenyang keesokan harinya. Seperti robot yang telah di program, semua yang nampak di depan mata terjadi sesuai dengan perkiraan, anak anak kecil tanpa dosa berlarian menuju sekolah, entah mereka bahagia karena hendak mendapatkan ilmu yang nanti ketika dewasa dapat digunakan untuk membantu orang lain, atau hanya karena dapat merasakan hidup yang ditanggung oleh diri sendiri di sekolahan, tanpa orang tua yang selalu saja melarang apa yang menjadi kesenangan oleh si anak kecil. Mereka berlari mencari kesenangan, mendengarkan guru berbicara sesuatu yang sama sekali mereka tak mengerti, tidak seperti di sekolahan orang yang telah dianggap dewasa, mereka mendengarkan apa yang mereka mengerti namun sayangnya mereka tak mau tahu akan hal itu, mereka hanya ingin mendengarkan agar si guru yang melihat mereka mendengarkan dapat berkasihan memberi si pendengar perhatian lebih lewat penilaian. Apalah itu nilai? Apalah itu ijazah dan tanda kelulusan? Sebagai kebanggaan pada diri sendiri kah atau hanya untuk membuat orang tua yang membesarkan kita bisa merasa bangga dan bahagia memiliki anak seperti itu! Lantas jika dipertanyakan mengenai kepintaran untuk apakah gunanya? Kepintaran dari kata pintar yang berarti dapat berguna untuk orang lain, dapat memudahkan kesusahan, dapat menyelesaikan yang tak terselesaikan, dapat membantu orang yang membutuhkan pertolongan, pokoknya dapat berbuat sesuatu pada orang lain, dan orang lain dapat berbahagia dengan pertolongan anda. Sama seperti menjadi berguna pada orang tua dengan menjadi anak yang rajin ke sekolah untuk menuntut ilmu, walau ilmu yang diserap disana tak ada satu pun yang dapat masuk ke otak, walau ilmu yang diajarkan disana tak memberikan rasa ingin tahu yang berlebihan pada diri sendiri, tapi untuk orang tua dan tanpa memperdulikan diri sendiri maka tetap saja dijalankan. Terserah, hidup toh hanya sekedar pilihan, dipilih hendak menjadi seperti apa dan kemudian dijalani. Masalah tidak menyenangkan dan menyenangkan dapat diatur, seperti berpura pura saja, toh yang melihat kebahagiaan itu ada kan orang lain, diri sendiri hanya bisa mengelus elus dada lantas bersabar dan bersabar hingga masa tua datang membawa begitu banyak penyesalan. Mengapa saya melakukan ini dan itu padahal saya tidak menginginkannya, mengapa saya disini dan disana padaha saya tak menginginkannya, mengapa dan mengapa diiringi penyesalan yang berkepanjangan, membuat kerutan diwajah semakin bertambah banyak dengan keluhan.

“Matahari sudah sedikit memunculkan kepalanya, cahanya sudah semakin terang, sekitaran sudah nampak jelas, jalan yang basah oleh embun dan hujan bekas semalam. Kini kemana lagi akan pergi pikiran ini, tak ingin diam, tak ingin berhenti untuk mengumbar kata kata, terlalu berisik bisik bisik itu…” kupu kupu lewat membawa cerita ini dari negeri seberang tentang seseorang yang kini hanya tertinggal menjadi tak lebih dari sebuah kenangan, dahulunya di elu elukan dan dibanggakan oleh hampir semua orang yang mengenalnya, namun ketika mati berkalang tanah, dia pun di lupakan walau kadang terlintas lewas sekilas dalam ceritaan.

“Sebentar lagi saya menjadi gila, walau sekarang sudah dipanggil gila, ah apa kau pernah mendengar tentang Newton yang dianggap gila oleh gurunya karena sama sekali tak tertarik dengan pelajaran yang diberikan di sekolahan? Atau mungkin mendengar tentang cerita mengenai Sokrates yang dianggap gila oleh kebanyakan orang yang hidup dimasanya hanya karena dia selalu saja bertingkah berbeda dari orang orang kebanyakan, mengenai si Nietzche, Albert Camus, Voltaire, dan banyak lagi lainnya, mereka orang gila yang sangat menikmati menjadi gila, anehnya mereka justru menjadi terkenal dan menjadi sumber inspirasi karena kegilaannya…” si kecoak yang selalu merasa kalau hidup itu tak lebih dari sekedar tempat sampah, mencibir dan mengatakan tidak suka pada hampir semua hal, tapi diam diam lewat mengendap selalu hadir dengan senyuman seolah dia tak pernah berkata tidak untuk semua hal. Ketika tempat sampah atau rumahnya tengah penuh penuhnya sampah, maka kawan kawannya pun datang; cacing, tikus, anjing, kucing, dan lain lain datang hendak mendapat bagian, selesai mereka dapat bagian, mereka pun pergi dan tak kunjung kembali hingga sampah rumah kecoak kembali penuh, kecoak itu hidup seorang diri, dan kawan tak lebih dari sekedar bayang ilusi, tak pernah dan tak akan menjadi nyata walau sesaat.

Di sebuah lorong waktu saya menulis ini…

Armstrong da Jimmy (si anjing yang senang mendongeng)

24 January 2012, 04:05am

Monday, February 13, 2012

Dua Kekasih Aneh


Di tengah sore menjelang matahari tenggelam meninggalkan hari, duduk dua pasangan aneh sedang memandang rintik terakhir hujan yang perlahan mulai menghilang, disamping trotoar jalan kota yang senantiasa padat dengan lalu lalang kendaraan yang entah tampak terburu buru karena apa. Mereka berbicara seolah sedang berbisik, pelan dan penuh perhatian, padahal disekitar mereka asap dan bunyi desing bising ada dimana mana, mereka seolah tak peduli.

“apa kau pernah membayangkan masa depan kita nantinya?” tanya lelaki itu pada wanita yang telah menjadi kekasihnya semenjak 3 bulan yang lalu.

“tidak, eh mungkin saja pernah” jawab wanita itu sederhana “tapi sepertinya pernah, karena saya ingin tinggal di Paris bersamamu, kau sibuk dengan duniamu dan begitupun denganku, tapi kita tetap bersama menjalani hari hari hingga kita tua dan punya banyak anak!”

Si lelaki adalah seorang penulis naskah teater, dan kebanyakan naskah yang dia buat seputar kehidupan yang dia pandang selalu abstrak, tidak jelas namun mudah dijalani, dan dia telah bergelut di dunia teater baru 5 tahun. Sedangkan wanita adalah seorang penari salsa, yang menganggap hidup adalah panggung, nafas adalah irama, dan gerak adalah tarian, walau masih baru 2 tahun namun dia menyenangi bidang ini sepenuh hati dan hendak menjadi professional penari salsa suatu hari nanti. Mereka berdua bertemu disaat matahari terbit di sebuah pantai yang jauh masuk ke desa, waktu itu wanita ini sedang dalam keadaan bosan dengan perkotaan hingga dia memutuskan untuk menenangkan perasaan dan raganya di pedalaman yang juga dekat dengan laut, karena dia sangat suka, malah bisa dibilang cinta dengan laut dengan alasan yang sukar untuk dijelaskan dengan logika, dia mempercayai bahwa laut dihuni oleh seorang dewa yang mampu dan mau mendengarkan tiap cerita dari manusia yang datang untuk mencurahkan tiap cerita yang menjadi beban dalam hidup manusia itu. Dan lelaki ini, menganggap laut adalah latihan untuk pikirannya yang mengajarkannya agar memandang segala macam hal tak hanya dari dekat, yaitu pantai yang selalu indah untuk dinikmati oleh mata, tapi memandang jauh ke depan hingga batas mata memangdang dan kemudian membayangkan apakah yang ada di ujungnya, jika mata tak mampu memandang, maka masih ada imajinasi yang dapat memperkirakan seperti apa yang ada di ujungnya, semakin lama pikiran dan imajinasinya bekerja maka perlahan muncul sebuah cerita tentang sebuah pulau yang jauh ke antah berantah, muncullah juga tokoh dan karakter baru, awan dan pepohonan yang jauh dari bayangan manusia pada umumnya, “toh ini hanyalah cerita” katanya pada diri sendiri, manusia butuh cerita untuk membuat diri mereka bisa memperkirakan untuk apa mereka hidup dan apa yang akan mereka lakukan untuk hidup.

Mereka bertemu dan kemudian saling menyapa dengan kata sederhana “hai”, saling bertukar kata sederhana yang bisa di perkirakan oleh para pembaca mengenai dari mana asalnya, untuk apa kesini, dan lain sebagainya. Hingga mereka sampai pada cerita tentang laut dan pendapat mereka tentang laut seperti apa, di lain sisi kehidupan mereka berdua memang tak jauh dari cerita seputar laut, si wanita memiliki ayah seorang asisten koki di kapal pesiar seorang milyader di selatan sana, sedangkan si lelaki memiliki ayah seorang nelayan jauh di timur sana. Karena cerita mereka saling sambung menyambung mengenai laut, mereka pun mulai saling bertukar cerita mengenai segala macam cerita cerita lampau yang sempat atau pun belum sempat di ceritakan oleh sejarah, mereka bercerita seputar mitos Flying Dutchman dan Boogieman si setan laut, Poseidon atau Neptunus dewa dari mitology Yunani kuno, Columbus dan Vasco da Gama pelaut dari Eropa yang menjelajahi dunia dengan kapal laut mereka, armada laut Viking yang garang dan perkasa di lautan, bangsa Bugis dan kapal Phinisi mereka, dan begitu banyak lagi yang lainnya. Dengan cerita ini yang mereka berdua tahu dan suka, maka pertemuan diantara mereka berdua pun semakin sering selama dua tahun terakhir sebelum si lelaki menanyakan pada wanita ini apa dia mau menjadi kekasih si lelaki, dan dengan jawaban sederhana si wanita mengiyakan.

“tapi mengapa musti ke Paris kita menghabiskan hidup kita?” tanya si lelaki yang sebenarnya sangat mengagumi kota itu.

“karena begitu banyak alasan sayang, karena disana seni dihargai, dan kau tahu sendiri kalau duniaku di tari dan duniamu di teater sama sama anak dari seni, selain itu Paris adalah kota terindah di dunia ini, setidaknya kota terindah yang mampu mata dan imajinasi bayangkan, bangunan tua yang indah berjejer rapih, bahasa mereka yang selalu terdengar romantis…”

Tiba tiba si lelaki memotong “tapi bagaimana dengan kota asalmu sendiri? Bagaimana dengan bahasa ibumu sendiri?”

“bahasa ibuku yang kupakai sekarang itu takkan pernah bisa digantikan oleh bahasa lain walau aku sendiri ingin, tapi itu takkan terjadi karena Paris itu hanya untuk kita berdua, sedangkan kampung halamanku adalah yang terindah dari yang indah oleh mata tiap manusia, tapi kalau untuk kita berdua jawabannya adalah Paris.” Jawab wanita itu sederhana

“baiklah sayangku, entah mengapa, tapi aku rasa kau lebih romantis dariku.”

“tak masalah sayang, ini hidup yang jalani kita berdua, setidaknya musti ada salah satu diantara kita yang romatis”

“Paris yang kudengar adalah kota cinta, biarkan disana cinta kita bertahan dan berkembang biak menjadi keturunan kita hingga tua menjelang”

Dikos, 12 February 2012, 18:53

Friday, January 27, 2012

Sudahlah Pembohong

Sekarang kau sudah semakin lancar saja mengumbar beribu kata mengenai hal yang sama sekali tak kau ketahui, menceritakan beribu pengalaman yang tak pernah kau alami, semua tak lebih dari sekedar bohong bohongan belaka agar orang tertarik mendengarkanmu, mengikuti hidupmu, dan menjadikan dirimu bagian dari cerita hidup mereka. Saya ingat waktu kau bilang kalau kau ini adalah orang yang berprinsip, dan prinsip hidupmu takkan dapat digantikan oleh materi, kau bilang kalau hanya pelacur dan bajingan saja yang hidup tanpa prinsip. Masih ingatkah kau waktu kita sedang berjalan jalan bersama di malam hina itu, kita masuk ke gang gelap ditempat pelacuran, malam itu kita berdua cukup mabuk, 3 botol mansion dan 5 botol anggur kolesom kita teguk sembari becerita tentang mimpi mimpi kita di masa depan, aku masih ingat persis ekspressi wajahmu waktu memandang salah satu pelacur yang tengah menunggu para pemuja nafsu datang menghampirinya, tapi saying waktu itu uangmu sudah habis untuk kita pakai beli minuman. Dan maulailah kita saling berdebat mengenai beda dan sama antara manusia berprinsip dengan pelacur.

“kau ini, dari dahulu kala kau mengatakan kalau pelacur itu manusia hina, mengatakan kalau mereka ini tak jauh beda dengan binatang, mereka menjijikkan karena rela mengobral tubuh mereka demi selembar uang 50ribuan, dan banyak lagi kata kata busuk yang keluar dari mulutmu. Tapi, cobalah bercermin dan lihat sendiri tampangmu ketika memandang langsung salah satu dari mereka, mukamu seperti hyena yang kegirangan melihat bangkai didepan mata, lantas jika mereka itu menjijikkan karena mereka mengobral tubuh mereka demi uang, maka bagaimana dengan dirimu sendiri yang tidak punya uang tapi ingin menikmati tubuh mereka? Apa kau masih layak dikatakan manusia?”

“ah, kau ini, memangnya kau sendiri tak bernafsu melihat mereka? Sudah hilangkah kenormalan dalam dirimu, kau tahu sendiri kalau manusia itu diciptakan memiliki nafsu dan sekarang matamu disuguhi dengan tubuh seksi dan siap pakai malah kau seolah tak melihat apa apa, kau sudah buta!”

“haha sudahlah, kita sedang tak membicarakan mengenai diriku, aku ini anjing dank au tahu itu, tapi kau ini mengakui kalau dirimu adalah manusia yang berprinsip, prinsip hidupmu yang selalu kau banggakan itu membuatku muak, kau berkata mengenai begitu banyak hal namun hampir tak ada satupun yang benar benar kau lakukan. apa kau sudah lupa mengenai rencanamu hendak menjadi volunteer di salah satu lembaga kemanusiaan, kau hendak menolong orang orang yang tak mampu bersuara ketika sedang berhadapan dengan hokum yang selalu memberatkan mereka, kau hendak menolong pula anak anak jalanan yang tak menentu hidupnya, kau ingin menjadi seseorang yang selalu dibutuhkan, tapi sekarang aku tahu semua tak lebih dari sekedar kebohongan.”

“hey, ini semua hanya masalah waktu, dan semua kata kataku itu memang hanya kebohongan, dan hanya pada kau kawan sejatiku, kawan sial yang selalu ada disaat aku kesusahan yang aku beritahu, aku muak dengan manusia, semua manusia hanya memandang seseorang lewat apa yang mereka bisa lakukan, walau hanya bisa dalam artian lewat ceritaan, manusia memang senang dibohongi kawan, dan akulah si pembohong itu. Kau lihatlah dengan matamu sendiri, bukankah para pelacur itu memang senang dipandangi dengan pandangan penuh nafsu? Mereka dianggap ada ketika ada seseorang yang memandang mereka dengan pandangan penuh nafsu, walau memang dibarengi dengan perasaan harap harap cemas, karena tak semua orang yang datang ke tempat seperti ini punya uang untuk berseks, seperti kita! Hahaha… kau masih ingat dengan siapa aku berbicara waktu aku menceritakan tentang kehidupan, prinsip dan segala macam tetek bengek mengenai kebahagiaan? Yah, tentu saja kau ingat, aku berbicara dengan mereka yang dahulu kita berdua panggil dengan sebutan kawan, namun mereka menjauh karena melihat hidup kita yang selalu penuh dengan tawa dan menjalani hari hari seperti seorang pemalas, dan dimalam harinya kita bergelut kesah dengan minuman. Sedangkan mereka, kuliah mereka hanya 4 tahun, selesai kuliah mereka kerja di perusahaan, mendapatkan istri yang mereka boyong dari kampung halaman mereka sendiri, dan sekarang lihat dandanan necis mereka, rambut klimis, kendaraan yang dibeli dengan uang orang tua, rumah dan segala macam perabotan rumah tangga pun dibeli dengan uang orang tua mereka, handphone yang bermerk agar mereka bisa nampak trendi dan up to date. Mungkin kita yang hanya begini begini saja, kau pelukis dan aku penulis yang tak tentu masa depannya, kadang aku launching buku baru, dan kau pameran, namun belum tentu juga ada yang membeli karya kita, tak seperti mereka kawan, mereka hanya duduk santai di kantor yang ada AC-nya dari jam 8 pagi hingga 5 sore, sesekali mereka mengutak atik tumpukan kertas di meja mereka dan pula duduk berlama lamaan memandang computer yang entahlah mereka sedang mengetik apa... maaf kawan, aku melantur, mungkin efek minumannya sudah kelewatan, hahaha…”

“Apa kau tak sadar tengah menghakimi kehidupan mereka?”

“Apa aku sedang sadar sekarang? Setelah 3 botol mansion dan 5 botol anggur kolesom?”

“ah kau ini, memangnya kita minum bersama sudah berapa lama? Masak hanya sebegitu kau sudah lupa membedakan antara kewarasan dan kegilaan, dari tadi kau sudah berbicara panjang lebar mengenai kehidupan mereka seolah kau tahu persis kehidupan mereka, kau berbicara mengenai kebahagiaan hidup mereka, lantas bagaimana kalau ternyata mereka hidup seperti itu namun bahagia? Karena memang kebahagiaan kadang subjektif, kau senang dengan kata kata, dan aku senang dengan coretan. Aduh kau mengingatkanku akan masa kuliah kita dulu kala, kita berdua selesai hampir 7 tahun! Padahal kawan kawan kita semuanya sudah selesai duluan, adik kelas kita duluan, dan kita hanya tahu bersenang senang saja, haha…”

“tapi apa sekarang hidupmu tidak bahagia?”

“dengan hidup sendiri seperti ini? Mana ada wanita yang ingin hidup dengan seorang pelukis yang tidak jelas seperti aku ini! Haha…”

“sudahlah jangan merendah diri, kudengar kau lagi dekat dengan wanita nyentrik yang bekerja sebagai fotografer itu, dan sudah berapa kali aku melihat kau dengan sepeda bututmu sedang jalan jalan bersama wanita itu! Siapa namanya?”

“ah, aku jadi malu… hahaha…”

Selesai… (Roman Absurd)

Di Teater Tangga, 26 January 2012, 05:21am