Showing posts with label My Poem. Show all posts
Showing posts with label My Poem. Show all posts

Friday, April 03, 2015

Tua

Tumbuh dan bersemilah keriput di wajah,
Hilang rasa keakraban dan percaya diri,
Diam tak berucap sepatah kata kala disapa,
Senyum pudar hilang ditelan masa,
Aku dimana tanya akal?
Tak kutahu lagi aku harus bagaimana,
Aku mau menghilang,
Menjadi gila diantara normal dan sadar,
Kebosanan merambah bak tunas kecambah,
Merambat dan mengendalikan segala yang ada,
Mimpiku yang baru seumur jagung,
Belum pula berbuah namun telah layu berguguran,
Di bawah temaram kabut mendung aku bercerita pada sunyi,
Tak ada bulan dan tak ada bintang,
Hanya dedaunan di pepohonan yang tampak muram menatapku tanpa gairah,
Baru saja umurku beranjak seperempat abad namun pikiranku...

Jogja mendung, 3 April 2015, 21:22

Saturday, March 02, 2013

Butir Pasir

Merintiklah entah hujan keberapa di musim ini, menari terbawa riuh angin, berbaur deru ujung ombak yang perlahan tenggelam dalam butiran pasir...

Angin terus mendesah, menggoyang paksa pepohonan, menciutkan nyali para penjalan kaki, hingga rintik hujan tiba-tiba hilang entah kemana...

Mentari tenggelam di laut yang tak tampak ujungnya, hati tentu penasaran bertanya ada apa di ujung sana, begitu kecil...

Melihat luasnya lautan, memandang kelabu langit yang masih menyisa mendung, hati takjub bukan main, merasa kecil...

Bak butiran pasir...

Kuta, 2 Maret 2013, 10:00 am

Thursday, February 28, 2013

Stuck in Somewhere

Could you hear the sound of the ocean,
Come with screamly whisper into your ears,
Just like want to tell you a story between future and past,
Which sometimes people called it as today,
Here I am watching the dancing wave,
Scroughing with melancholic voice,
In the afternoon of cloudy skies,
Could you see the red shine of the sun?
Before his fall into daily sleep,
As a sign the moon will come to change his place,
People and dog walking together all around,
Splash the sand with their feet,
The night suddenly close the day,
I will start this nowhere journey,
In the stranger land for anonymous stranger...

Kuta Beach, 27 February 2013, 18:54

Friday, February 15, 2013

I Will Wait For You

I don't really know what was going on,
Until I found that I was alone,
Without you here to hold my hand,
To make me back to the place where I belong to...

Sitting here waiting,
Waiting for the moment to see your smile again,
Where I can skip the knockin clock,
Where the place which is only you and me there...

I will wait,
Forget and forgive all the past,
Open the new tab,
Write over the blank page,
Drawing again and again your smiling face,
As my own inspiration...

I can't erase you on my mind,
Even I already tried,
Lost my mind,
Broke my soul,
But you still there,
More real than the real...

Even it was gone for three years ago,
But I will wait for you,
Until my hair turning grey,
Until my eyes blurry,
Until I can't spell my own name...

I will wait for you...

Jogja, 15 February 2013, 01:33

Tuesday, February 12, 2013

Bad Sucker Guy


Where we going now, could you makes my mind turning slow?
Make alive all the shadow, until all the mistake seems fade into the sorrow,
If you leave me alone, how could I coming back home?
My life nothing left than like a silly clown, turning and rolling to the town,
Looking for nothing than loosing mind, well several call me kind,
Take some laugh and telling lie to make all the people enjoy the show,
Like a garbage just need to be throw,
Try all the cure, medicine, drugs, all about loosing mind,
Today when sun goes up, admire behind the window,
The shine suddenly slap, make my eyes turning glow,
The moment changing black, for an hour the fibril getting slack,
Am I bad sucker guy? Am I try to be bad sucker guy?
How could this village boy, playing mind as a toy!
I dont know, how could the answer can be know?
Traveling around, looking around,
I got nothing to hide as a secret anymore, count all the score,
My sense as admiring, is only silly smiling,
No brave, no grave, no cave,
No love, no loose, no choose...

Somewhere around Jogja, February 12, 2013, 05:17

Sunday, February 10, 2013

Adorable Summoned



Get launch behind Satan laugh,

Nowhere man living on the edge,
Something borrowed already lost,
All about the trust and believe...

Now you got nothing to lose,
Prepare good time and take suitcase,
On the bucket-list the shows waiting the man,
But the action never more than stay on preparation,

The times running away your mind,
Seems dull and you don't know what to do,
No more trees and the sand,
You had to hide your face on the shame...

You got nothing anymore,
Preparation is all about addiction,
The shows is over and the man is die,
The actions burried into the grave...

Jogja, February, 10, 2013, 13:36

Wednesday, February 06, 2013

I am on The Wheel


If the light turning off,
I would better blurry rather than fade away,
see small light,
then I will hold it up,
put it on my pocket heart,
on the secrecy briefcase,
when the light turning on,
I am still there standing proud,
still learn and want something more,
fulfill all the things,
keep it alive,
make it as sign of simply happiness,
never feel die,
never feel useless,
emptiness is all in nature,
nothing more to protect than love it self,
nothing more to dream  than crossing the universe,
I cant stand here for long long time,
moving, playing, thinking,
creating, singing, smiling,
 The times running faster,
faster rather than rolling coaster,
leave all the loser far behind...
Jombor, 6 February 2013, 00:09

Sunday, February 03, 2013

Sesederhana Itu


Kemarin kita bertemu, 
kita berbiara panjang lebar.
mengenai segala macam hal yang kau sukai, 
yaitu seni katamu dengan senyuman,
penjelmaan imajinasi lewat raga,
sesederhana itu kau jawab...
Selang beberapa waktu kita bertemu, 
kau menyapa, 
mengajakku menuju pegelaran seni, 
aku mengiyakan, 
karena tertarik, 
sesederhana itu...
Bertemu lagi setelah beberapa pekan,
kau berontak dalam keluhan, 
menyalahkan hal yang tak tampak,
memanipulasi segala macam hal dengan kata kata,
pola pikirmu yang sederhana mulai berubah,
semua berubah katamu dengan tersenyum datar...
Ada apa tanyaku,
kau diam melihat gelasmu yang belum kau sentuh, 
entah merenungi apa hanya kau yang tahu, 
tanpa kata hingga beberapa waktu berlalu,
aku jenuh katamu pelan hingga terdengar berbisik,
jenuh akan segala macam hal yang awalnya menarik,
semakin jauh lamunanmu,
kata katamu berubah jadi suara angin,
tak terdengar,
kau seruput coklat panasmu yang sudah dingin,
kau ingin pulang,
hanya sekata lelah katamu, 
sesederhana itu...

Jombor, 3 Februari 2013, 01:07

Wednesday, January 23, 2013

Satu Gelas Kopi Lagi


Kemarin kau datang,
merusak semuanya,
merusak ritual bermain caturku,
merusak djadwal minum kopiku,
merusak ketenangan meditasiku,
merusak hal hal yang dahulu cair kini telah membeku...

Pak satu gelas kopi lagi,
pikiran melayang mencari kata,
pikiran menemukan sesosok wajah tanpa senyum,
pikiran mengiranya inspirasi,
pikiran terbodohi begitu mudah,
pikiran butuh pelajaran dan pengalaman...

Segelas berikutnya pun datang,
entah jam dinding telah berdentang berapa kali,
entah apa yang yang ada dalam pikiran ini,
entah mengapa matahari begitu telat bersinar,
entah mengapa kutunggui matahari itu menjadi cerah,
entah kapan aku akan terlelap...

Sekarang kau telah pergi,
gelas gelas kopi telah berubah botol,
gelas gelas tak lagi berwarna hitam karena ampas,
gelas gelas tak lagi bermunculan,
gelas gelas entah kapan akan datang lagi,
gelas gelas yang menemani ketika duduk sendiri...

Segelas kopi lagi,
sebelum aku benar benar tertidur,
sebelum aku melupa bentuk wajah itu,
sebelum inspirasi mengubah objek,
sebelum matahari menggila panasnya,
sebelum aku senyum padamu nantinya...

Kau telah pergi jauh,
lupa jalan untuk kembali,
lupa jika ternyata ada yang menunggu,
lupa kalau wajahmu masih terus membayang,
lupa jika ternyata aku kembali mendekat,
lupa jika matahari nanti akan tertutup dan hujan pun turun...

Segelas terakhir,
cerita menuju akhir,
cerita tentang wajah dan segelas kopi,
cerita tentang matahari dan tidur,
cerita kau yang kini telah pergi,
cerita aku yang mungkin takkan kembali...

Mungkin akan hadir segelas kopi yang lain,
bersama aku dan kau,
bersama cerita yang sempat terhenti,
bersama wangi gerimis hujan,
bersama berteduh sambil tertawa,
bersama menertawakan kebodohan lalu...

Jombor, 23 January 2013, 08:00am

Monday, August 20, 2012

Animus Ambitiosus



Rain fall in the summer time,
Leave those trees on the withered,
Repudiate a void,
Make a bland taste, 
Paralyzing the expectance,
Considering by turn head in hand ,
Nothing more,
Changing core,
Nevertheless,
As people always like,
As people hopely right,
As people express too high,
Where the hiding shines appear,
When the shines of truth appears, 
Who will be the one to be,
As a matter of questionable,
As a matter of looking at the answer,
As a matter of simple swear,
I say no when you say yes,
You say good bye when I say hello,
Suddenly disappear and gone,
Even I haven't say apologize,
While the time try to chime,
Close the ears by drop the tears,
I am on my own,
I am as stupidity,
Less sense of  approximately,
I wanna going to hide,
Sleep on the reel of real,
Now the psyche on the seal...


Purwokerto, Monday August 20, 2012, 23:42

Sunday, April 01, 2012

Penari dan Pelakon

Penari penari itu melampiaskan segenap apa yang ada dalam rasa mereka, melekuk tubuh hingga berguling menggelinjang diatas lantai, berdiri dan melompat seolah raga tengah bersatu dengan angin, diam sejenak, nafas berpacu seirama gerak, diam sejenak, musik mulai meredup, lampur mulai padam, gema tepuk tangan penonton pun berhamburan diringi sorak sorai penuh kekaguman

Dimana mereka sedang bersandiwara, mengubah kata menjadi sebuah lakon yang di besitkan makna pada tiap gerakan, wajah mereka berubah dari sembilu menjadi meria, keringat berkucur, kata bertukar kata maka lahirlah gerakan yang lain, tekstur menjadi gestur, diatas panggung mereka beraksi, mencari kepuasan yang kasat oleh mata, tak hanya sekedar untuk diri sendiri, mereka itu adalah penghibur sejati, mencari tawa, mencari perhatian, mencari kepuasan lewat ketertarikan yang tampak pada tiap mata yang memandang

Tuesday, March 06, 2012

Silences of the Fool


I
Dont ever think that you was born with different condition, all the people are same, all the people are shame, always make fool and fool again, people is a poor when try to be whore, try to be somebody else, who the hell are you people? Are you try to prove to the world that you are suck? Excuse you my friend, life is go on, burn us, buried us, then leave us on the loneliness, the real place to be happy, the real place to make us know who the hell we are, no more than dust in wind, fly over, fly over, the fade away...

II
I am the king of the high way, I pray on the top of the mountain, scream to the silly things which always come, buried my head on sand, flying gently like butterfly, quite on the silences like hurricane, I can see for a mile the melancholy wash of the setting sun, settle down the moon, on its way to the high seas the little blues farm boy following the lane, had desire to know how far away are the birds and the springs!

III
For a while I lean my elbows on the table, the lamp shines softly on these lovely book, I am fool enough to read again these stupid books, we just try to change a thing with a whisper, work hard a day just to get a mouthful of food, even momentarily for any failure to cry, mourn every step with doubt, but what you are looking for people? Imagine people on Ethiopia obvious world, I am the master of the silent, there no more word of patient, I had burn all of the passion, I will cry instead, the laughing more and more, people call me crazy whether I dont even know my self...

March, 06, 2012, Yogyakarta, 01:52

Tuesday, December 13, 2011

The Way Getting Lost

It was long way to get back home,
Sittin here like adolescent foolish fella,
See, try to be fine and hope get satisfaction,
There probably crowded with many people,
Scream aloud to my noisy ears,
Rollin around like unthinkable piglet,
Well, I have no more thing,
well, I have no more feeling,
Well, I have never thinking,
Life to fast,
Faster than roller coaster,
And,
I dont know that my babe waiting alone...

Monday, October 31, 2011

Nyanyian Sunyi Pecinta Hujan



Selalu kenangan yang menjadi pembuka cerita,
Membawa serta ingatan dan senyuman menuju kesana,
Tertegun pandangan meniti tiap rintik hujan,
Seiring kata ke kata menutur lembut ceritaan…

Kemana pergi canda tawa pengisi kekosongan itu,
Menyisa isak tangis yang kini jadi kawan pengusir cemburu,
Tarian dedaunan kering jatuh berguguran,
Kilat menyambar, Guntur menggemuruh, hati pun bernyanyi tentang kesunyian…

Selalu penyesalan muncul menjadi akibat yang tak diharapkan,
Mengapa tindakan dahulu tak terkira akan membawa kegagalan,
Tertegun pandangan menyimak hujan jatuh dan kapan akan berakhir,
Seiring ingatan tentang dia yang selalu datang ketika hujan mampir…

Mereka berkata apa selalu akan ada cerita tentang cinta?
Mungkin akan berakhir ketika lembar kehidupan baru hendak dibuka,
Akan kah kerinduan nantinya membawa kebahagiaan?
Ah kalian berhentilah berharap, ada ribuan rupa dari kebahagiaan…

Langit biru kelabu berubah,
Setitik cerah dari mentari muncul dari segalah arah,
Hujan berhenti menemani kesunyian,
Sejenak akhir dari nyanyian sunyi pecinta hujan…


Teras Kos, 31 October 2011, 14:07

Wednesday, September 14, 2011

Epos Indie Psychedelia

Mencoba mendaki gunung yang tinggi,

Berteriak yang lancang pada para hyang,

Mengharap bahwa mereka nanti kan didengar,

Setelah semua tak ada hasil,

Burung burung berhenti berkicau,

Pepohonan tadus tak terurus,

Hingga berpasra diri berkata,

Semua ini tak pernah ada,

Tak lebih dari imaji konak seorang pemimpi...


Lalu lalang pemanja jalan,

Hingar bingar mereka menerka,

Di jalan setapak mereka bersandar,

Menunggu uluran tangan mereka,

Tak bisa lagi kaki berjalan katanya,

Mulut telah terkunci dan hilang fungsi,

Tak ada kokok ayam di pagi hari,

Tak ada gongong anjing mencari kawan,

Dan semua lelap tak lagi bangun,

Menunggu ajal yang tak tahu kapan akan datang...


Mereka berkata hal yang tak dapat dimengerti,

Mereka merasa mereka layak didengar,

Seolah memaksa agar mereka di benarkan,

Angguk perangguk di beri agar mereka puas,

Nanti ketika selesai waktunya mereka diam,

Semua diam biar alam yang berbijak tindak,

Laut berbisik menghambar rasa,

Tak ada kata dan anggukan,

Lelah dan tertidur,

Tak lagi bangun karena telah mati,

Semua sudah berakhir karena mimpi telah mati...



Makassar, 14 September 2011

Thursday, April 28, 2011

Dari Anakanda Untuk Bunda


Senyummu itu tak pernah berubah,

Hanya raut keriput yang semakin bertambah,

Sini biar kukecup pipi bunda,

Kecup tanda sayang dari anakanda...

Anakanda sekarang di cap nakal sama publik,

Semua yang anakanda suka mereka caci karena muak,

Salah anakanda apa bunda?

Mereka tak mau tahu kalau semua ini untuk mereka...

Lihat bunda kucing itu berak sembarang,

Semua tikus pengganggu sudah dibabat garang,

Anjing itu datang mengganggu kucing,

Sahabat manusia katanya itu anjing...

Lihat bunda langit kembali menangis,

Orang orang pada menunggu tangis habis,

Ada juga yang tidur sambil bermalas malas,

Padahal barusan sengat hari sangat panas...

"Bunda kenapa manusia musti punya perasaan?"

"Karena rasa sayang pada sesama diperlukan..."

"Bunda lalu kenapa mereka kadang saling hantam?"

"Kadang manusia lupa kalau Tuhan itu selalu geram..."

"Apa kurang kalau hanya kecupan dan sayang buat bunda?"

"Tak ada lagi yang lebih dari pengakuan kata bunda dari anakanda..."

"Kenapa kata bijak bunda selalu saja bikin anakanda menangis?"

"Kalau anakanda tak menangis berarti rasa sayang sudah habis..."

Jogja Nasional Museum, 11 April 2011

Saturday, April 16, 2011

Tangis Anak Kecil



Tangis Anak Kecil

Debu berhembus menyapu mata,

Perlahan genangan air meluncur keluar,

Gigil angin mengusap lembut kuduk,

Bulir embun menguap di sela,

Gemertak gigi tak tertahan bergetar,

Ungkapan tak mengerti bagai katak…

Bukan tak mau tahu mereka,

Bukan pula sekali perilaku akan sukar,

Lihat bunyi kala sedang tersengguk,

Dalam penghayatan ikut terbawa,

Merah padam wajahnya terbakar,

Tanpa ungkapan sayang pertanda buruk…

Tangis anak kecil yang sedang merana,

Tak ada kawan pula cerita akan ditukar,

Duduk termenung meratap dalam gubuk,

Hanya rumput ilalang tanpa bata,

Penerang pelita alas kumuh tembikar,

Atap kardus diterpa angin pasti akan tubruk…

Wujud kesedihan beribu rupa,

Tawa dan tangis berbarengan hadir,

Selaksa jejarum perlahan menusuk,

Pedih kini kadang tak terasa,

Masa depan penuh misteri tak apalah tersasar,

Penuh kesungguhan berdiri tegak…

Rembulan tersenyum takkan mudah reda,

Mentari penghangat dengan sinar,

Hibur nyanyi dedaunan melekat sabuk,

Gemercik air mengalir penuh canda,

Lambai rerumputan menggoda hambar,

Kicau burung memaksa senyum dengan cambuk…

Bantul Yogyakarta, 15 April 2011 – 15:19

Thursday, April 14, 2011

Hal Kecil


Banyak teori seribu malas,

Ini salah dan itu salah,

Lantas yang bodoh dianggap pas,

Senang sekali mereka tertawa,

Menertawakan sesuatu yang mereka anggap sampah,

Apa mau mereka membersihkan sampah?

Atau sedikit berpikir mengolah sampah?

Jika tak ada pembersih dan pengolah sampah,

Seperti apa dunia?

Hal kecil...


Masih belajar sudah sombong,

Anggap diri paling benar,

Ego senantiasa membara,

Bodoh lagi tak mau mendengar,

Jangan lihat siapa bicara tapi resapi kata kata,

Nyawa tak lebih dari kebanggaan,

Kebanggaan akan sesuatu yang didapat dibuat,

Pikiran dan perasaan penghasil karya,

Kan dipandang ketika mati menjelang,

Hal kecil?


Bulan dan bintang nampak kecil,

Tak sadar mereka kalau dunia ini juga kecil,

Manusia itu lebih kecil lagi,

Bagaimana dengan bakteri dan kuman?

Bagaimana dengan lima elemen bumi?

Anggap saja hal kecil itu tak penting,

Hingga anda mati pun dilahap nikmat cacing tanah,

Hal kecil...


Anggap hal kecil penting kalian bilang terlalu serius,

Bukannya tawa dan senyum juga hal kecil?

Apa penting hirup udara segar di pagi hari?

Apa penting menikmati matahari tenggelam dan terbit?

Apa penting meresapi kata kata?

Apa makna sudah tak penting lagi,

Hingga materi seolah menjadi topeng,

Tak kaya materi maka bukan kawan,

Hal kecil...


Bukan berarti begitu dan begini,

Cukup mengerti jika masih mau untuk mengerti,

Kawan itu untuk berbagi,

Tak hanya tawa namun juga sedih,

Tak hanya mengisi kesendirian tapi juga keramaian,

Tak hanya membohongi dan memaafkan,

Terima kasih itu kecil namun penting,

Untuk apa?

Untuk damai dalam hati agar pikiran tak berontak,

Hal kecil...


Hujan membawa senyuman,

Lihat dentingnya diatas genangan,

Senyum perlahan melebar hingga tak tampak,

Saat cerita mulai,

Bukan kepercayaan yang dibutuhkan,

Cukup perhatian dalam pengertian,

Tak ada yang salah dalam jalin kata kata,

Semua kata bagai madu untuk lebah,

Semua kata bagai kuncup mekar buat bunga,

Semua kata bagai air buat bibit,

Semua kata bagai pelukan hangat untuk kawan,

Hal kecil,


Kadang terlupa karena keegoisan,

Merasa terlalu benar,

Merasa yang lain selalu salah,

Tak ada kebenaran dalam benar,

Tak ada kesalahan dalam salah,

Semua hanya pelajaran untuk si bodoh,

Si bodoh yang bermukim dalam pikiran,

Agar mau menerima semuanya,

Tak usah mencari jalan untuk bertahan,

Cukup menerima dengan senyuman,

Senyum tanda mengerti,

Mengerti,

Hal kecil...



Seturan Jogja, 14 April 2011 - 10:04am

Tuesday, March 29, 2011

Aku Tak Tahu


Aku Tak Tahu

Ingatkan aku kawan ketika aku melakukan kesalahan,

Benar dan salah setahuku tak ada perbedaan,

Itu pun kalau anda memang menganggap aku kawan,

Kalau memang begitu aku tak tahu…

Biru langit seakan takut tuk bersapa dengan bumi,

Kabut mendung dijadikan topeng untuk bersembunyi,

Atau ini terjadi karena semena mena perilaku makhluk bumi,

Kalau memang begitu aku tak tahu…

Aku ingat ketika kalian datang dan memuji aku dengan panggilan kawan,

Aku diam tak senyum dan tak berucap sepatah kata pun,

Dugaanku benar sekarang kalian pergi dan memanggilku Mr. sensitif man,

Mengapa aku tak tahu…

Manusia keluar dari kandungan menuju alam kehidupan sendiri,

Malangnya sendiri pula kala menuju alam kematian nanti,

Apakah saat hidup akan ada yang akan menemani?

Bodohnya aku tak tahu…


Minggu, 27 Maret 2011, 16:47, Kasihan Bantul Yogyakarta

Tuesday, November 30, 2010

Dialog Imajinasi


"Manusia takkan bisa mengampuni atau memaafkan satu sama lain, tapi mengapa juga dilakukan?"

"Itu karena ingin hati..."

"Yang bisa memaafkan dan mengampuni itu cuman Tuhan!"

"Kalau hati yang ingin mau di apa lagi? hati memang begitu..."

"Manusia itu ada dua sisi baik dan buruk!"

"Lantas?"

"Manusia hanya bisa berdamai"

"Dengan?"

"Manusia hanya bisa berdamai dengan sisi buruknya masing masing..."

"Kalau hati ingin mengucapkan kata maaf atau sesumbar kata dengan maksud tuk mengampuni sesama bagaimana?"

"Biar Tuhan yang maha tahu yang jawab..."

"Saya ajukan pertanyaan ini pada anda, pada diri anda sebagai seorang manusia! Seorang manusia yang tentunya memiliki hati yang sama dengan manusia manusia pada umumnya..."

"Hmmmm..."

"Kenapa?"

"Kalau kata lewat bibir memang mampu di ucapkan sesuka raga inginkan, namun hati? kapas pun dikalah lembut olehnya, kadang kuat bak batu karang... Kata hati siapa yang tahu?"

"Hmmmmm..."

"Kenapa? Karena isi hati cuman Tuhan yang tahu..."

"Mungkin..."