Sunday, January 20, 2013

Across The Universe

       Masih nampak sama dia, si pemuda yang dari dahulu hingga sekarang masih sibuk berdiskusi dengan pikirannya sendiri. Lihat dia disana, duduk manis sambil bersandaran di bawah pohon beringin tua yang entah sudah berapa ratus tahun umurnya. Matanya nampak begitu serius mengikuti untaian kata per kata dari buku tua yang dia pegang, sepertinya itu novel dari seorang yang dia kagumi, si Leo Tolstoy.
       Dia sekali waktu mengutip kata kata dari seorang yang juga menginspirasi dia, si Nietzche jika ternyata Tuhan telah mati, dan yang membunuhNya adalah kebaikan manusia yang secara tak langsung tak ada yang tulus, masih saja meminta sesuatu dibelakangnya, terimakasih lah, pandangan yang berlebihan lah, dan lain sebagainya.
       Sekali waktu dia membaca buku yang didalamnya ada kata "cogito ergo sum" dan dia pun mulai mengangguk ngangguk, mengamati sekitar dan kemudian mengguman dengan penuh ceria arti dari tulisan itu, "aku berfikir maka aku ada", kemudian dia lanjutkan berkata kalau si penulis kata kata itu yakni Rene Descartez adalah seorang panutan yang layak diperhitungkan.

      Tiap ada kata kata baru yang dia dapatkan dalam tiap buku yang dia baca, maka dia pun akan segera mengaplikasikan kata kata tersebut dalam kehidupannya. Pertama dia mencari logika dalam tiap kata, mendefinisikan, dan diterapkan. Entahlah, cerita tentang dia mengingatkan aku pada Don Quixote. Sekali waktu aku bertanya mengapa dan apa yang dia cari dari buku?

"aku ingin menjelajahi waktu" katanya

"aku tak ingin tunduk pada waktu" lanjutnya

"aku ingin tahu semua hal" sekali lagi dia menjawab

"aku ingin hidup seribu tahun lagi" dan ketika dia mengucapkan kalimat terakhir ini, aku sudah tahu kalau dia juga terinspirasi pada si Chairil Anwar.

Sunday, Januari 20, 2013, Jombor Station

Sunday, January 13, 2013

He Almost There When Rain Start To Fall

I

As they thought, the time already told, written in many stories, about the young age, like a fire ball flying around without any direction, in the end when eyes open, when mind widely understood, when heart has throw away the selfish idea, no more satisfaction, no more pride and joy, no more pain or whether obvious smile that always spread, then the answer is coming without question, you just did it and never thinking why it should be, but really, you did...

II

Its like getting mad to the things that we need, we want it but we never asking or trying to get it, just let it be, just let it be, just let it be till the time gone and nothing change, sometimes we don't have to think twice to make some decision, but if we feel right and we think bright then why not, someone will never running fast when they never fall, will never say good bye when they never say hello...

III

What can make you easily lie? The answer is eyes, what can make you easily honest? The answer is eyes, what can make you easily jealous? The answer is eyes, what can make you easily angry? The answer is eyes, what can make you easily smile? The answer is eyes... Like the sun is the eyes of the day, and the moon is the eyes of the night... But unfortunately the problem is my eyes is shy to see how awful the people all around... Good Sunday morning...

IV

As the way of the idea has explore, doesn't need explanation further more, just take an eyes to see, to see the deep like when you dropped into the sea, the mind more wide than the ocean, all about to come inside of mean, worrying ability just wasted the time, asking for more just hide the rime, from the eyes falling to the heart, hold the hand of spirit from the earth, sometimes idea give something, sometimes idea just give nothing...

V

Need to talk about the selfish, which all people seems to be wise, like a manner when facing the dish, trying hard to get some grace, but the real things fade into trace, and the ego always coated by embrace, follow the rule depend on the trend, no more than lend to the brand, the adolescence already end, when they happy stay at home, change the bronze to be chrome, hold tight the right till the day is come...

VI

Stranger here he are, mean come just to share, unlucky almost people just stare, people mind he care, people feeling he aware, he thought he never really be there, his mind leaving somewhere, somewhere near never land, his spirit light up like a fire, despite the dream his only desire, from the other side he admire, people life need science furthermore, because people life come from the lower to the core...

Kang Harjo, 17 Agustus 2012     

Mirror

Tak dapatkah kau tertawa lepas seperti kemarin waktu kita pertama kali bertemu? Tanpa ada harapan bahwa nantinya kita akan berkenalan dengan cara yang aneh, bertukaran cerita tentang riwayat hidup kita masing-masing. Tentang kau yang ingin merenggut bintang dan menjadikan mereka sebagai lampu tidurmu, dan tentang aku yang kau bilang bahwa lebih cocok menjadi seperti boneka robot beruang yang senangnya berceloteh panjang lebar, tanpa ada fokus cerita tentang apa dan tampak dari wajahmu yang selalu tertawa melihat caraku berbicara seperti tanpa ada koma dan titik. Intonasi tawamu sekarang hambar, bukan karena kau tengah dirundung masalah, seperti waktu buku catatan harianmu yang hilang di atas bus kopata itu. Bukan juga seperti waktu kau tak sempat memberikan uang receh pada seorang nenek-nenek tua yang tengah menggendong cucunya mengemis di depanmu namun kau acuhkan.

Kini kau berubah layaknya langit yang ketika hujan berakhir maka akan ada pelangi yang datang menghias langit namun tetap mendung dan hujan kembali berjatuhan tanpa tahu kapan akan berakhir.

Sekarang sudah berlalu 6 tahun, dan masih tetap tawamu terasa hambar.

Entah mengapa, bahkan cara tertawa pun kau lupa. Kadang kau coba untuk tersenyum, namun selalu saja tatapan matamu menyiratkan kebohongan.

Jombor, Sunday, January 13th 2013

Sunday, January 06, 2013

Mereka Yang Bertanya



Terdengar rintik hujan dalam ruang kosong itu,

Tak ada siapa dan hanya mereka,

Tak usah bertanya ada apa

Coba dengarkan suara mereka,

Lepas bercerita tentang sunyi dalam keinginan,

Tak ada tindak dan hanya rintikan,

Perlahan hingga rintikan berubah ketukan,

Diam dan dengarkan,

Jangan bertanya tentang mengapa,

Bagaimana, kapan, dan siapa,

Dengarkan sekali lagi sebelum mereka pergi,

Diam dan jangan bertanya lagi,

Ketika mereka telah pergi nanti kau ingin lagi,

Jadi diam dan biarkan,

Desahan mereka pudar,

Diam semua,

Hujan telah pergi…

Jombor, 31 Desember 2012, 23:20

The End of Last Year


Semua hal kau harapkan akan selalu ada dalam hidupmu, satu persatu akan pergi dan menghilang, meninggalkan jejak yang tak lebih dari sebuah kenangan, kadang membuatmu tersenyum, merindukannya, dan ingin agar kenangan itu kembali terjadi dalam kehidupanmu. Tapi tak pernah, semua tak lebih dari jejak, seperti jejak telapak kaki di pinggir pantai yang kemudian hilang tersapu ombak. Demi keegoisan, kadang kau ingin kenangan itu tetap ada, waktu coba kau lawan, dan semua rintangan seolah tak pernah ada, seolah hidupmu akan selalu sama selama ribuan tahun kedepan. Pernahkah kau sadar kalau dunia ini bukan hanya rumah yang kini tempati tinggal? Bukan hanya kota tempat kelahirmu yang selalu kau banggakan, dan bukan hanya tempat ini, dimana dulu hingga sekarang kita masih tetap setia bertukar cerita disini, tapi hanya ada kau dan aku, tak ada yang lain.
Kemarin, tepatnya sekita 5-6 tahun yang lalu, kita memanggil kata teman satu sama lain. Tertawa bersama, mabuk bersama, menulusuri tempoat keramaian hingga tempat paling sepi berdua, hanya berdua dan tak ada yang lain. Kita tak jarang menyandang panggilan gila, tapi apalah itu kegilaan jika ternyata mencari kesenangan pun tak bisa.
Jombor, 31 desember 2012, 23:12

Thursday, December 06, 2012

Nanti Ketika Pergi

Nanti ketika pergi, seperti matahari yang kini telah terbenam dan muncul lagi, apa kau nantinya akan datang kembali?

Nanti ketika pergi, akankah ingatan bisa pudar seperti warna yang nantinya akan kusam? Menghilang tak berbekas hingga nantinya tak perlu disesali...

Nanti ketika pergi, bolehkan mengharap kenangan berupa hujan yang menyisakan pelangi...

Nanti ketika pergi, mungkin ada yang lain akan mengganti...

Nanti ketika pergi, jangan ada lagi pesan yang tak sempat disampaikan seperti pesan dari api yang tak sempat disampaikan pada kepada kayu sebelum menjadi tiada...

Somewhere, December, 6, 2012, 09:08am

Wednesday, November 14, 2012

Question and Answer

              Seandainya dosa tidak pernah ada maka pahala tidak pernah ada, pahala tidak pernah ada maka dosa tidak pernah ada, tidak ada salah maka benar tidak ada, tidak ada benar maka salah tinggal rencana, cinta dan benci, sepi dan ramai, keberuntungan dan kesialan, cantik dan jelek, jahat dan baik, hujan dan kemarau, bahagia dan sedih, hidup dan mati, menang dan kalah, gelap dan terang, kering dan basah, pintar dan bodoh, sakit dan sehat, bahkan Tuhan dan Iblis, hampir semua hal memiliki kebalikan...

              Maka bagaimana dengan waktu? Kalau begitu siapa yang bisa menyalahkan waktu? Bahkan perbandingannya pun tak ada, bagaimana pun waktu selalu menang dan tak pernah tahu kata kalah...

               Semua menjadi tunduk pada waktu, bahkan muda pun larut dalam waktu dan tak terasa tua pun menjelma, yang baru menjadi lama, malam menjadi siang, dan bahkan semua hal ditentukan lewat detik ke detik dari waktu. Bahkan seandainya waktu tak pernah ada maka semua hal takkan pernah ada, takkan ada Nabi sebagai utusan Tuhan, takkan ada agama yang membawa ajaran Tuhan, takkan ada kitab suci dan berbagai aturan tentang agama, bahkan bumi dan seluruh alam semesta pun takkan pernah ada jika waktu tak pernah ada.

              Mengapa semua orang terlihat diam dan tidak agresif menanggapi respon dari waktu? Bahkan kematian pun takut pada waktu, kematian hanya akan menjadi ingatan lewat campur tangan dari waktu...

Somewhere, 14 November 2012, 22:41

Saturday, October 20, 2012

Dibuai Oleh Hujan Imajiner


Kau datang kesini, bercerita bahwa hidup tak selamanya linier dan hati tak selamanya tersier, padahal kau tak pernah mau tahu arti dari hidup, juga arti dari cinta. Kau dengan bangganya berkata bahwa hidup cukup dibawa santai dan tak usah terlalu dipikirkan. Aku terdiam mendengarkanmu bercerita, walau beribu penolakan dalam hati ini hendak berteriak, aku tetap diam, entah mengapa, aku hanya ingin mendengarkanmu bercerita, melihat ekspresi kekesalan yang tetap dianulir dengan senyuman terpancar mantap dari wajahmu ketika bercerita. Kau bilang waktu terus berjalan, sesekali berbalik belakang dan mempelajari kesalahan, tiap langkah itu kesalahan, apalagi kita masih muda, tiap kesalahan butuh perbaikan dan jika masa muda adalah tempat berbuat kesalahan maka masa tua atau masa dewasa adalah kebalikan dari masa muda. Kira kira begitulah kau bertesis tentang kehidupan, tentang metafora menjadi manusia yang benar benar manusia, tak hanya manusia yang berakal namun tak pernah menggunakan akal secara maksimal, manusia  yang berperasaan dan tahu benar menggunakan perasaannya.

Kau mencoba banyak hal yang kamu sukai, kau tahu bahwa kau akan gagal dan gagal, tapi kau tetap tidak peduli dan terus melangkah dengan kegagalan lainnya. Aku senang melihat kau seperti itu. 

“bagaimana dengan pikiran dan perasaanmu lewat goresan pensil dan penamu diatas kertas itu? Apa kiranya maksud dari semua itu?” tanyamu waktu melihat aku sedang menggambar.

“kehidupanku ada diatas tiap goresan pena dan pensil ini, aku coba menyerapi semua hal yang ada lewat menggambar” jawabku sekenanya.

“menurutmu apa itu kehidupan?”

“tak tahu. Kalau menurutmu apa itu kehidupan?”

“kehidupan itu hujan, datang bergerombol dari kegelapan, jatuh ke bumi dan memberikan kehidupan pada tiap hal yang terkena airnya. Kira kira seperti itulah.”

“kalau di musim kemarau seperti ini bagaimana?”
                                       
“gampang, bukannya kau tahu bahwa dari 100 persen dari pikiran manusia harusnya 98 persen imajinasi dan 2 persen ilmu pengetahuan? Iya kan? Jadi tinggal membuat hujan imajiner saja. Hidup tak usah dibuat susah, dipermudah dengan permainan pikiran saja, sedikit senyuman, dan anggap saja semua masih baik baik saja.”

“oh begitu…” jawabku sambil tak berhenti menikmati ekspresi dari wajahnya yang polos dan tanpa dosa, tapi sepertinya memang dia jauh dari dosa karena dapat dilihat dari pakaiannya dan segala macam hal yang melekat ditubuhnya menandakan dia seorang hamba Tuhan.

Jombor, 20 Oktober 2012, 07:35

Friday, August 24, 2012

Birthday 24

Yesterday on 23 August 2012 is my 24 birthday, no one say some word of congratulations just like other people when they on birthday. Really I dont care at all, but I just feel little bit ridiculous and, and sad. I dont know what to say when you was 24, I mean young and no one be your best friend, I mean someone that trusting you, someone that give you a part in their life, when your celebrating day come and they with pleasure will celebrate it together with you. I feel alone and ridiculous as clown known.

Well if the reality give this moment for me, then I will accept it in my life, save it in my memories as reminder, that my words that have saying long time ago is being real. "People born alone, work alone, success alone, win alone, and die alone...". What I already say is my consecuen when it prove into my life, so the point is I wouldnt say that I am sad while I am sad, I will say I am heavenly happy because my words come true.

Happy birthday for my self.

Thanks my shadow to be my partner all the time, shaking my hand when I celebrate something, hold my shoulder when I feel something, hug my dream when I feel down.

Because I never know what is sadness and happines. Both of them is come together in my meditation.

Monday, August 20, 2012

Animus Ambitiosus



Rain fall in the summer time,
Leave those trees on the withered,
Repudiate a void,
Make a bland taste, 
Paralyzing the expectance,
Considering by turn head in hand ,
Nothing more,
Changing core,
Nevertheless,
As people always like,
As people hopely right,
As people express too high,
Where the hiding shines appear,
When the shines of truth appears, 
Who will be the one to be,
As a matter of questionable,
As a matter of looking at the answer,
As a matter of simple swear,
I say no when you say yes,
You say good bye when I say hello,
Suddenly disappear and gone,
Even I haven't say apologize,
While the time try to chime,
Close the ears by drop the tears,
I am on my own,
I am as stupidity,
Less sense of  approximately,
I wanna going to hide,
Sleep on the reel of real,
Now the psyche on the seal...


Purwokerto, Monday August 20, 2012, 23:42