Sunday, May 22, 2011

Ini Semua Demi Ego


“Matahari tenggelam, hari sudah malam,

Terdengar burung hantu, suaranya merdu…”

Seroang anak lelaki di hanyutkan disungai berkat pertolongan seorang Ibu yang sayang pada anaknya, anaknya hendak dibunuh oleh penguasa yang sialnya telah menjadi suaminya. Berita itu di umumkan, dia seorang berkuasa, mendapat firasat buruk dari dukunnya yang berkata bahwa nanti akan ada seorang anak lelaki yang lahir di tahun ini yang akan menjatuhkanmu dari kursi kekuasaan, dan keluarlah perintah itu, perintah untuk membunuh semua anak kecil yang lahir di tahun itu. Kasihan? Dia sudah kalap, kekuasaan yang memberikan dia segalanya, dengan mudah mendapatkan apa yang dia inginkan dengan sekali perintah, ada yang menolak tak memberi apa yang dia pinta akan berujung terkapar sunyi dalam lumbung tanah, dia dapat memenuhi semua ambisi yang diinginkan membuat dia tak tahu menahu lagi apa itu rasa. Anak lelaki yang terbilang kecil diberbagai pelosok negeri tempat dia berkuasa di kubur hidup hidup, ada yang dipenggal, atau mungkin ada juga yang di tenggelamkan di sungai dan lautan.

Ibu itu, menyayangi anaknya, anak yang dikandung selama sembilan bulan, dibuai dan dimanja semenjak lahir dengan susuan dan ciuman yang tak hentinya dia berikan siang dan malam, hingga datang perintah berupa pengumuman dari suaminya sang pemimpin yang hendak membunuh semua anak lelaki yang lahir di tahun itu. Termasuk anaknya sendiri yang terlahir sebagai anak kecil. “Malang benar nasibmu anakku” ratap ibunda ketika menghanyutkan anaknya diatas keranjang dari anyaman rotan tahan air tempat anaknya tidur, menghanyutlah anaknya dibawa arus air, teriring tangis pedih ibunda yang tentu saja takkan pernah rela menjauh dari anaknya, tapi apa daya, daripada anak kecil tak berdosa merenggang nyawa, mending menjauh dan masih hidup walau tak tahu akan hanyut entah kemana. “Sayang ibu sepanjang masa anakku, semoga Tuhan itu ada dan menolongmu lewat perantara manusia lain, hingga kau besar nanti datanglah kembali ke Ibunda, ingat nak sayang Ibu sepanjang masa…”

Selang bertahun tahun berlalu, tak ada satu pun keraguan dari dalam diri sang penguasa akan nasibnya sendiri yang akan di taklukkan oleh seorang anak kecil yang mungkin setiap saat akan datang untuk menjatuhkannya dari kursi kuasa, semua anak kecil telah tertumpas. Tanpa sepengetahuannya bertahun tahun yang lalu, seorang anak kecil telah dihanyut ke sungai, anak kecil itu telah di temukan oleh seorang petani yang sedang memandikan kerbaunya di sungai, pertama yang melihat justru kerbaunya yang keranjingan, dikira si petani ada seekor ular yang datang hingga kerbaunya mengaum panik tak jelas, ternyata yang melintas adalah sebuah keranjang, ketika keranjangnya dia ambil dan keranjangnya diteliti baik baik, dia pun membuka kelambu yang menutupi keranjang itu, apa jadinya? Sontak anak kecil itu menangis ketika cahaya matahari menerpa wajahnya, dan tentu saja petani itu tak kalah kagetnya dan tak menyangka kejadian ganjil itu.

Tak ada cerita istimewa dan berbeda dari yang kita sudah ketahui dari berbagai macam cerita yang telah kita baca sebelumnya, termasuk apa saja yang terjadi pada sang raja dalam kurung waktu bertahun tahun selama dia menjabat menjadi penguasa, begitupula Ibunda sang anak yang anda sudah bisa mengira kira kira apa saja yang dia lakukan selama proses penungguan tanpa kepastian anak yang telah dia hanyutkan di sungai, atau bahkan apa yang dilakukan petani yang sedang memandikan kerbaunya disungai dan mendapatkan keranjak hanyut yang berisi anak kecil didalamnya. Semua cerita sama saja seperti apa yang anda bayangkan, seperti si penguasa yang masih saja memerintah sekehendak hatinya saja, untuk pemuasan keegoisannya, lewat kata kata yang belum jelas juga kebenarannya oleh si peramal sang penguasa menggiring tiap langkah langkahnya. Ada yang membangkang padanya dengan mencoba memberontak pada tiap keputusannya maka dengan mudah saja orang itu ditangkah oleh pasukannya dan kemudian di gantung di depan umum, membuat bergidik dan berpikir puluhan kali tiap warga yang dia kuasai untuk coba coba melawan perintahnya. Semuanya berjalan dengan tiap tindakan dari pasukannya yang nampak tak memiliki otak dan hati, sekali perintah turun langusng dituruti, tanpa dipikir logis atau manusiawinya perintah itu, mereka juga sudah terlanjur tergiur oleh gaji dan nama tentara kerajaan yang mereka dapat hingga mampu membuat segan rakyat biasa, ditambah ketakutan mereka sendiri pada tiap perintah penguasa yang jika mereka tak patuhi kepala jadi taruhan.

Sedikit berbeda buat Ibunda anak yang dirundung duka terus menerus selama bertahun tahun semenjak dia menghanyutkan anaknya, perasaan terluka yang semakin lama semakin membuat hati si Ibunda menjadi tak karuan, lebih besar kesensitifan dari perasaan si Ibunda membuat pikiran logisnya sudah tak berguna, tak ada lagi yang hendak dia lakukan selama bertahun tahun itu. Kurus selayaknya mayat yang masih bernyawa, hanya dua kemungkinan yang ditunggu yakni kematian dan kebahagiaan yang masih tak jelas, apakah anaknya masih hidup atau kah sudah mati ditenggelamkan arus air. Air mata Ibu malang itu telah habis, malah air matanya yang terkesan terpaksa keluar ketika bayang bayang wajah polos anaknya yang tak berdosa itu menggerayang di benaknya terpaksa keluar, air mata yang menyerupai darah, tak cair layaknya air mata manusia, tapi kental yang warnanya agak kehitaman. Kasihan? Anda takkan pernah bisa membayangkannya sampai anda merasakannya sendiri. Nampak gila kadang kadang Ibu anak tak berdosa itu, kadang tertawa keras sendiri ketika bayang anaknya yang tertawa kecil yang lucunya tak terkira saat dia kelitik manja datang menyergap di benaknya, namun tiba tiba lamunannya buram dan teriak tangis yang membahana mengganti adegan itu. Sontak saja para pembantu dan petugas keamanan di kediamannya bersama sang penguasa menjadi kaget dan prihatin. Ketika dokter kediaman yang tentu saja menyerupai kerajaan mencoba memeriksa penyakit apakah gerangan yang sedang di derita oleh istri sang penguasa maka nihil dan tak ada jawaban, ketika diajak berbicara pun, si Ibunda tetap bungkam, tak dapat berucap, mengunyah makan pun tak bisa, tenaganya untuk bangun dari tempat tidur sudah habis, untuk minum pun tak bisa, setiap mencoba minum atau makan pasti dimuntahkan. Tak beberapa hari kemudian Ibunda anak yang tak berdosa itu pun meninggal dan di makamkan secepat penduduk melupakannya.

Sedang apa yang terjadi pada petani itu? Sama saja, tak ada hal yang istimewa, sama seperti awal mula kehidupan dia yang telah memiliki 7 anak sebelum anak dalam keranjang itu dia dapatkan, tetap miskin dan melarat. Untuk makan lewat usaha pertanian, dimana pertanian hanya dua kali setahun panen, untung buat petani yang tempat bertaninya tanah dia sendiri, tapi malang buat petani kita satu ini, dia bekerja ditanah orang lain. Kerbaunya pun milik orang lain, gaji mengembala kerbau hanya seberapa, gaji menjaga lahan pertanian bisa dibayangkan hanya berapa pula, dengan 7 anak apakah anda bisa bayangkan bagaimana menghidupi mereka dengan gaji tak seberapa? Dan datanglah anak baru itu menambah beban hidup petani malang, dengan apa lagi dia hendak mempertahankan semua ini agar tetap hidup, dengan 7 anak ditambah satu anak lagi! Untung saja yang namanya petani atau kalangan bawah di masyarakat selalu saja menghadapi kehidupan dengan senyuman, menganggap segala hal pasti ada jalan dengan usaha, mereka hidup dengan kerja keras semenjak lahir, dan sekarang tentu saja tak patah arang semangatnya. “Hidup selalu menyenangkan ketika kita selalu berusaha untuk membuatnya nampak menyenangkan” kira kira begitulah prinsip hidupnya yang dia dapat dari ayah si petani, terpatri di benaknya hingga kini.

Kita selalu saja terbuai oleh cerita cerita yang berakhir dengan bahagia dan selalu merasa kasihan pada cerita cerita yang berakhir dengan kesedihan. Manusia terlalu perasa! Dan memang itulah kebenaran tentang manusia, seperti kata orang yang menyayangi manusia lain lewat tulisannya zaman dahulu yaitu “Tugas manusia adalah menjadi manusia”. Manusia memiliki dua hal, akal untuk berpikir dan hati untuk merasa, menggunakan pikiran agar bisa berguna untuk manusia lain, menggunakan pikiran untuk bisa mempertahankan kehidupan agar bisa tetap bersemangat menghadapi hidup yang serba tak terduga. Juga guna hati untuk merasa, merasakan segala macam hal yang terjadi didalam hidup, mengangis ketika sedih, tertawa ketika senang, dan sedih ketika hal hal mengenai kemanusiaan di langgar oleh manusia lain, senang ketika semua manusia saling menghargai kebebasan menjalani kehidupan yang mereka pilih, perasaan manusia adalah simbol nyata seorang manusia dikatakan seorang manusia, tanpa perasaan maka manusia tak beda dengan “Homo Homini Lupus” atau manusia satu adalah serigala untuk manusia lainnya, memakan hak hak hidup manusia lain, mengacuhkan hak hidup manusia lain. Banyak yang mati oleh satu orang manusia, sejarah telah menulis kenyataan bodoh itu, kenapa itu terjadi? Ini semua demi ego.

Apa yang terjadi pada anak kecil yang tak berdosa itu? Terpaksa di layarkan diatas keranjang untuk menjauhi kematian yang telah di ikrar oleh sang penguasa lalim nan bodoh. Si Ibunda malang tak bermaksud, justru kecintaan yang terlalu datang memaksa keadaan, Ibu mana yang rela anaknya dibunuh? Disitulah ada pilihan, pilihan selalu menjadi jalan, dan tak semua pilihan bagus, selalu saja didalam pilihan ada resiko, dan manusia memilih untuk mendapatkan resiko, resiko yang baik untung dan resiko buruk buntung. Anak kecil itu apa yang hendak dikata? Beruntung atau buntung kah? Mati atau mendapat kehidupan yang bisa saja mati kapan saja diatas keranjang yang dihanyut di sungai, atau mungkin hidup dengan keberuntungan yang tak jelas juga? Siapa yang tahu! Untung saja masih ada Tuhan. Tuhan bertindak selalu berbeda dengan apa yang diinginkan manusia, kenapa? Karena Tuhan saya rasa ingin mengajarkan manusia agar tak terlalu bergantung padaNya, Tuhan ingin melihat manusia berusaha sendiri, mencurahkan keringat dan usaha untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, Tuhan memberi restu dan manusia yang melaksanakan.

Anak kecil itu yang sekarang sering kita lihat di dalam televisi, kita tangisi karena kasihan terhadap dia, apa anak kecil itu senang di tangisi? Dia sangat membenci tangisan kita, dengan tangisan tanda peduli itu membuat mereka merana, merana karena anda mengira bahwa dia hidup tak bahagia. Apalah kehidupan bahagia itu, yang merasakan bahagia ada orang yang sedang menjalani. Dan saran saya, matikan televisi anda, televisi memaksa anda selalu saja kebanyakan menangis dan mengumpat tak jelas, mari membaca buku saja, pelajari sejarah.

Kasihan Bantul, 17 May 2011, 18:19

Thursday, April 28, 2011

Dari Anakanda Untuk Bunda


Senyummu itu tak pernah berubah,

Hanya raut keriput yang semakin bertambah,

Sini biar kukecup pipi bunda,

Kecup tanda sayang dari anakanda...

Anakanda sekarang di cap nakal sama publik,

Semua yang anakanda suka mereka caci karena muak,

Salah anakanda apa bunda?

Mereka tak mau tahu kalau semua ini untuk mereka...

Lihat bunda kucing itu berak sembarang,

Semua tikus pengganggu sudah dibabat garang,

Anjing itu datang mengganggu kucing,

Sahabat manusia katanya itu anjing...

Lihat bunda langit kembali menangis,

Orang orang pada menunggu tangis habis,

Ada juga yang tidur sambil bermalas malas,

Padahal barusan sengat hari sangat panas...

"Bunda kenapa manusia musti punya perasaan?"

"Karena rasa sayang pada sesama diperlukan..."

"Bunda lalu kenapa mereka kadang saling hantam?"

"Kadang manusia lupa kalau Tuhan itu selalu geram..."

"Apa kurang kalau hanya kecupan dan sayang buat bunda?"

"Tak ada lagi yang lebih dari pengakuan kata bunda dari anakanda..."

"Kenapa kata bijak bunda selalu saja bikin anakanda menangis?"

"Kalau anakanda tak menangis berarti rasa sayang sudah habis..."

Jogja Nasional Museum, 11 April 2011

Saturday, April 16, 2011

Tangis Anak Kecil



Tangis Anak Kecil

Debu berhembus menyapu mata,

Perlahan genangan air meluncur keluar,

Gigil angin mengusap lembut kuduk,

Bulir embun menguap di sela,

Gemertak gigi tak tertahan bergetar,

Ungkapan tak mengerti bagai katak…

Bukan tak mau tahu mereka,

Bukan pula sekali perilaku akan sukar,

Lihat bunyi kala sedang tersengguk,

Dalam penghayatan ikut terbawa,

Merah padam wajahnya terbakar,

Tanpa ungkapan sayang pertanda buruk…

Tangis anak kecil yang sedang merana,

Tak ada kawan pula cerita akan ditukar,

Duduk termenung meratap dalam gubuk,

Hanya rumput ilalang tanpa bata,

Penerang pelita alas kumuh tembikar,

Atap kardus diterpa angin pasti akan tubruk…

Wujud kesedihan beribu rupa,

Tawa dan tangis berbarengan hadir,

Selaksa jejarum perlahan menusuk,

Pedih kini kadang tak terasa,

Masa depan penuh misteri tak apalah tersasar,

Penuh kesungguhan berdiri tegak…

Rembulan tersenyum takkan mudah reda,

Mentari penghangat dengan sinar,

Hibur nyanyi dedaunan melekat sabuk,

Gemercik air mengalir penuh canda,

Lambai rerumputan menggoda hambar,

Kicau burung memaksa senyum dengan cambuk…

Bantul Yogyakarta, 15 April 2011 – 15:19

Thursday, April 14, 2011

Hal Kecil


Banyak teori seribu malas,

Ini salah dan itu salah,

Lantas yang bodoh dianggap pas,

Senang sekali mereka tertawa,

Menertawakan sesuatu yang mereka anggap sampah,

Apa mau mereka membersihkan sampah?

Atau sedikit berpikir mengolah sampah?

Jika tak ada pembersih dan pengolah sampah,

Seperti apa dunia?

Hal kecil...


Masih belajar sudah sombong,

Anggap diri paling benar,

Ego senantiasa membara,

Bodoh lagi tak mau mendengar,

Jangan lihat siapa bicara tapi resapi kata kata,

Nyawa tak lebih dari kebanggaan,

Kebanggaan akan sesuatu yang didapat dibuat,

Pikiran dan perasaan penghasil karya,

Kan dipandang ketika mati menjelang,

Hal kecil?


Bulan dan bintang nampak kecil,

Tak sadar mereka kalau dunia ini juga kecil,

Manusia itu lebih kecil lagi,

Bagaimana dengan bakteri dan kuman?

Bagaimana dengan lima elemen bumi?

Anggap saja hal kecil itu tak penting,

Hingga anda mati pun dilahap nikmat cacing tanah,

Hal kecil...


Anggap hal kecil penting kalian bilang terlalu serius,

Bukannya tawa dan senyum juga hal kecil?

Apa penting hirup udara segar di pagi hari?

Apa penting menikmati matahari tenggelam dan terbit?

Apa penting meresapi kata kata?

Apa makna sudah tak penting lagi,

Hingga materi seolah menjadi topeng,

Tak kaya materi maka bukan kawan,

Hal kecil...


Bukan berarti begitu dan begini,

Cukup mengerti jika masih mau untuk mengerti,

Kawan itu untuk berbagi,

Tak hanya tawa namun juga sedih,

Tak hanya mengisi kesendirian tapi juga keramaian,

Tak hanya membohongi dan memaafkan,

Terima kasih itu kecil namun penting,

Untuk apa?

Untuk damai dalam hati agar pikiran tak berontak,

Hal kecil...


Hujan membawa senyuman,

Lihat dentingnya diatas genangan,

Senyum perlahan melebar hingga tak tampak,

Saat cerita mulai,

Bukan kepercayaan yang dibutuhkan,

Cukup perhatian dalam pengertian,

Tak ada yang salah dalam jalin kata kata,

Semua kata bagai madu untuk lebah,

Semua kata bagai kuncup mekar buat bunga,

Semua kata bagai air buat bibit,

Semua kata bagai pelukan hangat untuk kawan,

Hal kecil,


Kadang terlupa karena keegoisan,

Merasa terlalu benar,

Merasa yang lain selalu salah,

Tak ada kebenaran dalam benar,

Tak ada kesalahan dalam salah,

Semua hanya pelajaran untuk si bodoh,

Si bodoh yang bermukim dalam pikiran,

Agar mau menerima semuanya,

Tak usah mencari jalan untuk bertahan,

Cukup menerima dengan senyuman,

Senyum tanda mengerti,

Mengerti,

Hal kecil...



Seturan Jogja, 14 April 2011 - 10:04am

Tuesday, April 05, 2011

Cerita Cinta Rantau


2 bulan yang lalu…

“Saya datang ke kota ini sebenarnya untuk belajar, ingat belajar! Belajar segala hal yang saya suka saja, dan kalau kalian mau bermain main saja dan menganggap semua hal itu kecil dan tak penting silahkan, tak usah ajak ajak saya gabung dengan kalian lagi, kalian mau menjauh dan tak mau jadi teman saya lagi, saya tak peduli! Saya bukan teman kalian lagi”

Mentari kemarin bersinar begitu terang hingga kepalaku terasa seakan tengah terbakar, disenggol sedikit saja dengan perilaku sederhana maka luap emosi sudah tak kepalang bisa ditahan, dan akhirnya kata kata yang tak terncana hendak dikeluarkan langsung saja keluar tanpa komando, bukan maksud hati hendak begitu. Sudah dua malam saya tak bisa tidur, entah kenapa pikiran saya masih belum bisa berdamai dengan perasaan saya, walau dengan bantuan alkohol yang berlebihan tak juga mampu menahan debur ombak kenangan kala bersama dengan wanita itu. Wanita ini wanita yang datang tiba tiba dalam hidup saya, dan tak tahu apa yang dia cari dari diri saya, saya menganggap diri saya ini seperti badut, dan malah orang orang yang kenal sama saya menganggap saya ini aneh dan aneh, yah tak pernah saya dengar mereka mengatakan bahwa saya ini normal seperti mereka, entahlah saya juga tak tahu siapa saya, cuma menganggap kalau saya ini badut, terseralah orang lain mau bilang apa tentang saya.

Sungguh luar biasa wanita ini, sebelum sempat tahu namanya, dia sudah tahu kalau saya sudah tak beragama lagi sekarang, suka minum alkohol hingga mabuk tak sadarkan diri. Tapi dengan lugu dia bilang “saya suka semua hal tentang abang, apapun itu, apalagi kalau abang sudah bercerita tentang apa saja, disitu abang kelihatan sangat menarik untuk saya, dan kalau pun orang lain ada yang bilang ini dan itu, peduli tahi lah bang…”. Apa yang saya lakukan ketika itu, tak ada selain diam tanpa kata, barusan kali ini ada orang yang secara langsung bilang ke saya kalau suka dengan cerita cerita saya, saya memang sangat suka dan menikmati momen kala bercerita. Tiga hari saja saya berkenalan dengan wanita ini, hari pertama dia datang ke kos saya dan malah dia ketiduran hingga tengah malam, di kira sedang berada dikamar sendiri, dan waktu bangun dia langsung bingung dan ekpressi malu dari wajahnya tak tertahankan hingga akhirnya dia buru buru pamit pulang. Hari kedua saya datang ke rumahnya, disana saya di perkenalkan dengan adiknya yang dia anggap sangat dekat dengan dia sampai sampai tak mirip orang yang bersaudara kandung secara umum, malah mirip sahabat paling dekat kata dia, dan disana lagi lagi saya melakukan apa yang dia suka, yaitu bercerita, hingga tanpa disadari tengah malam pun datang dan saya pamit pulang itu pun karena sudah berapa kali saya lihat dia sedang menguap. Hari ketiga saya bertemu dengan dia waktu ban motor butut saya sedang ditambal di penambalan ban depan kampus, dia pun menemani saya di penambalan ban itu hingga selesai, entah apa yang dia piker dan rasakan waktu itu, soalnya wajah dia nampak begitu berseri seri tiap saat, ah saya sangat senang sekali waktu itu! Selesainya dipenambalan ban, saya tanya ke dia “mau kemana sore ini?” waktu itu kebetulan hari favorit saya, yaitu hari rabu, tak usah ditanya kenapa saya senang dengan hari rabu yang jelas kalau tiap hari rabu saya pasti senang, itu saja. Dia jawab “tak kemana mana bang, saya juga lagi bete kemana mana, kalau abang mau kemana?”. Saya menatap langit sore yang nampak sedang mendung dan kemudia menjawab “hmmm kayaknya tidak kemana mana deh, mau hujan… bagaimana kalau kita ke kos saya saja bertukar cerita?”, tak perlu ditunggu jawab panjang dari dia, cukup “Iya!”. Dan sesampainya di kosan, saya pun bercerita tentang banyak hal, dan seperti dua hari kemarin dia menyimak dengan seksama, seperti balita yang sedang mendengar dongengan dari bundanya sebelum tidur. Lagi lagi tak terasa, waktu pun beranjak ke jam 10 malam, dan dia mau beranjak pulang, katanya

“sudah larut malam, saya mau pulang rumah dulu bang…”

“oh iya…” jawab saya dengan ekspressi datar

“besok besok kayaknya saya bakal sering datang ke sini deh bang, ceritanya abang kayak tak ada habisnya, dan tetap seru seperti biasa…”

“oh iya silahkan, kalau mau sering sering ke sini, saya sangat senang sekali kalau bisa bercerita sama orang yang senang dengar cerita cerita saya…”

Sesampainya diluar, sebelum dia cabut pulang, saya memandu dia untuk mendekat ke saya, dan tanpa basa basi layaknya tokoh utama dia serial percintaan, saya langsung tanya ke dia

“anda mau tidak kalau jadi pacar saya?”

Tak ada jawaban dari dia, hanya palingan wajah kemerahan menahan malu saja yang dia berikan, dan saya pun bilang ke dia sembari membalik wajah dia kembali menatap mata saya “jadi saya ditolak yah? Ya sudah lah…”, kemudia dia jawab dengan malu malu khasnya “iya, saya mau jadi pacar abang…” dan dia pun balik ke kos, dan saya pun senyum senyum kegirangan.

Hari sekarang…

Tapi cerita diatas sudah berakhir dengan tanpa alasan jelas dari dia, dan dikarenakan alasan tak jelas dari dia ini, pikiran dan perasaan saya saling beradu argument dari dalam, hanya kebingungan yang nampak dari luarnya. Sebenarnya saya terlalu egois dan bodoh, baru tiga bulan semenjak saya bersama dia, saya tak pernah tahu bagaimana bertindak sebagai seorang pacar yang benar seperti apa yang dia inginkan, dan akhirnya dia pun mulai berbohong dan berbohong ke saya, padahal saya tahu dia sedang bohong, dia tak berbakat dalam hal itu, dan saya hanya diam dan menanyakan ke dia

“lelaki seperti apa yang anda suka?”

“tak tahu…” jawab dia

“kenapa anda mau jadi pacar saya?”

“hehe tak tahu bang…”

Bahkan saya pun ragu kalau benar benar suka sama dia semenjak saya dan dia jadian, saya hanya senang sama dia karena dia senang mendengar cerita saya, dan mengapa pula saya mau membuka hati saya sama dia? Tak tahu, saya tak tahu. Pikiran dan perasaan saya berkecamuk, hingga akhirnya dia minta pisah saja, dan saya tanya ke dia

“kenapa? Apa saya pernah menyakiti anda?”

“tidak bang…”

“terus kenapa anda mau pisah?”

“tak tahu bang, kayaknya kita memang tak cocok…”

Saya pun diam, tak ada lagi kata kata yang ingin terucap, dia punya hak ingin berpisah dan saya bisa apa? Dan akhirnya kita pun berpisah, kenalan tiga hari, dan berpisah setelah tiga bulan bersama. Memang benar kata pepatah ‘penyesalah datang belakangan…”, dan ternyata saya jatuh cinta pada dia setelah kami berpisah. Dan kini saya bisa apa? Saya pun sempat mengajak dia untuk balikan beberapa minggu kemudian, dan bilang sudah tidak bisa lagi bersama saya, belakangan saya tahu dari teman saya yang juga sekarang sudah jadi teman dia kalau dia sudah tak mau lagi berpacaran sama orang yang sudah putus dengan dia. Perasaan dan pikiran saya pun mengajukan ide ide bodoh pada saya disaat alkohol sudah menguasai saya untuk mengirimkan dia surat yang isinya kira kira seperti ini

“saya ini seorang pembohong, cerita cerita saya semuanya cuman bohongan, dan hanya orang orang bodoh dan tolol yang mau mendengarkan cerita cerita saya, dan kalau anda suka berarti anda ini bodoh… Saya itu tak pernah percaya sama semua hal, agama pun tak saya percayai, apalagi anda… PS: tak usah dibalas”

lagi lagi penyesalan untuk kedua kalinya datang mengunjungi saya, kebodohan saya memang sangat bodoh diantara orang orang bodoh. Saya mengirim surat itu ke dia dengan maksud agar dia menjauh dari saya, dan kalau perlu tak usah menganggap bahwa dia pernah mengenal saya, walau memang sangat berat, tapi saya sudah terlanjur jatuh cinta pada dia, dan kalau dia sudah tak mau lagi dengan saya, mending sekalian menjauh dari saya, dia datang tiba tiba dan perginya juga sesuka dia.

Semenjak kejadian surat terakhir itu, saya pun mengalihkan perhatian saya pada segala macam hal yang bisa menyibukkan saya seperti; mencari kerja dan diterima disalah satu tempat kerja yang fokus ke bidang advertising dan saya kebetulan juga dapat pekerjaan yang sesuai dengan bakat saya yang senang menggambar, yaitu menjadi illustrator, walau saya bekerja cuma bertahan sebulan karena bosan kerja dengan orang lain, maunya memiliki tempat kerja sendiri atau paling tidak jadi freelancer. Saya pun mulai membaca buku buku yang menyita banyak pikiran seperti buku buku filsafat, seperti Mitesisifus dari Albert Camus, The End of Reason dari Jean Paul Sartre, Zarathustra dari Frederic Nietzsche, dan Manifesto Communist dari Mark & Angel, dan banyak lagi yang lainnya. Kegiatan lama saya yaitu melukis pun kembali saya jalani, adapun kesibukan lainnya seperti mencari info acara live music apa saja dan pentas seni dimana pun berada di kota ini pun saya jabanin, kembali rajin berkuliah, sampai ke acara acara wayang dan acara Koes Plus-an didaerah perkampungan pun tak jarang saya datangi, itu semua hanya untuk menenangkan perasaan dan pikiran saya. Itu semua untuk melupakan dia yang telah pergi.

Sedikit cerita tentang dia lagi, yakni kira kira tak cukup sebulan setelah perpisahan saya dan dia, dan dia pun mendapatkan pacar baru, hati saya mengambil alih diri saya dengan mengatakan “yah dia kan cantik, wajarlah mudah dapat pengganti, dan wanita kan banyak di dunia ini, dan lagian perjalanan anda untuk merantau masih panjang, sehabis dikota ini belajar, masih banyak tempat yang lain…”, pikiran saya pun menambahkan “tenang saja, ingat kata Shakespeare lewat sahabat si Romeo, si Benville yang bilang ke Romeo sewaktu melihat perbedaan besar antara Romeo dan Juliet, Benville si sahabat baik Romeo pikir kalau lebih baik jika mereka saling menjauh saja, walau Romeo sudah jatuh hati pada Juliet, ‘kamu gampang melupakan dia (Juliet) dengan cara membuka mata dan hatimu untuk wanita lain’, dan saya kira itu tak susah. Memang dasar teori yang sangat mudah untuk dikatakan namun sangat susah dilakukan. Tapi yang jelas akan saya coba. Dan lagian ini hidup cuma sekali, marilah membuatnya jadi banyak warna, kesedihan karena wanita hanya salah satu warnanya, masih ada ribuan warna lainnya yang menunggu untuk dirasakan di tempat perantauan lain nantinya.

Beberapa hari saya menyendiri dan bermeditasi dalam rangka berdamai dengan perasaan dan pikiran saya, hingga akhirnya perasaan dan pikiran bisa sedikit bisa menerima semua yang telah terjadi, dan pikiran saya pun berinisiatif mengajak saya untuk sekali lagi mengirimkan dia surat ke rumahnya, yang isinya kira kira

“Maafkan saya atas segala kebodohan saya, semoga anda senantiasa berbahagia dengan pilihan anda, untuk kebaikan kita berdua mending jika secara tak sengaja kita bertemu entah dimana, anggap saja kita tak saling kenal. Anda tak usah merasa tak enak atau apalah. Maafkan saya, saya memang aneh… semoga hidup kalian bahagia selamanya… PS: tak usah dibalas”

Sembari menyenandungkan lagu dari Bob Dylan – Blowing In The Wind “How many road must a man walk down, before you call him a man… dst.”, saya pun merasa agak tenangan sekarang, memang untuk menjadi seseorang, apalagi saya yang sedang mencari siapa diri saya, musti banyak jalan berliku yang musti ditempu.

Armstrong da Jimmy

Bantul Yogyakarta, Minggu 27 Maret 2011, 21:16

Tuesday, March 29, 2011

Aku Tak Tahu


Aku Tak Tahu

Ingatkan aku kawan ketika aku melakukan kesalahan,

Benar dan salah setahuku tak ada perbedaan,

Itu pun kalau anda memang menganggap aku kawan,

Kalau memang begitu aku tak tahu…

Biru langit seakan takut tuk bersapa dengan bumi,

Kabut mendung dijadikan topeng untuk bersembunyi,

Atau ini terjadi karena semena mena perilaku makhluk bumi,

Kalau memang begitu aku tak tahu…

Aku ingat ketika kalian datang dan memuji aku dengan panggilan kawan,

Aku diam tak senyum dan tak berucap sepatah kata pun,

Dugaanku benar sekarang kalian pergi dan memanggilku Mr. sensitif man,

Mengapa aku tak tahu…

Manusia keluar dari kandungan menuju alam kehidupan sendiri,

Malangnya sendiri pula kala menuju alam kematian nanti,

Apakah saat hidup akan ada yang akan menemani?

Bodohnya aku tak tahu…


Minggu, 27 Maret 2011, 16:47, Kasihan Bantul Yogyakarta

Thursday, March 10, 2011

Kawan Itu Ilusi


Seperti hujan yang senantiasa berkawan dengan awan, namun tanpa sepatah kata mampu terucap oleh hujan untuk awan, namun hujan terlebih dahulu hilang telan bumi. Atau seperti sepasang kawan antara kayu dan api, belum sempat bertukar kata, apalagi menjadi sebuah cerita antara kayu dan api, kayu terlebih dahulu menjadi arang. Antara langit dan bumi tak ada kata kawan diantara mereka, tak bisa pula mereka disatukan dengan ikatan, jarak antara mereka membuat mereka tak saling bergantungan, malah membuat mereka saling membenci dan saling iri karena satunya ada di langit dan satunya ada di bumi, mungkin secara tak langsung dapat diberikan contoh seperti bumi memberikan pantulan uap panas dari matahari, uap itu melayang menuju langit, bergabung dengan awan dan kemudian jadilah hujan, beberapa orang mungkin akan berkata bahwa dengan hujan dari langit akan membawa kehidupan di bumi, memang itu benar adanya, tapi coba lihat dengan seksama bagaimana dengan manusia? Kala hujan turun manusia jadi pemalas, ada pula yang terburu buru, bahkan ada yang membatalkan janji. Inikah kehidupan? Membuat sesuatu yang tak seharusnya terjadi, terjadi!

Apa itu kawan?

Kawan menurut pujangga adalah penghibur dikala susah dan peramai dikala senang, sesuatu yang mustahil terjadi apabila tak ada maksud lain yang diinginkan dibelakangnya, seperti kawan yang datang menghibur dikala ada kawan yang sedang susah karena tentu saja dia juga butuh dihibur kala dia merasa kesusahan oleh kawan yang sudah dia hibur tadinya, begitu pula dengan menjadi peramai kawan yang sedang merasakan kesenangan, mereka juga butuh diramaikan kala sedang merasakan kesenangan. Jadi kesimpulannya, setiap manusia tak ingin merasa kesepian. Ada pula kawan yang selalu saja ada, dia tak peduli dengan dirinya sendiri walau kawannya tak peduli pada dirinya, yang dia tahu hanya satu menjadi penghibur dan peramai yang selalu ada untuk kawan kawannya, dia selalu saja diam tak menanggapi apa yang sedang dia rasakan, dia sedih atau pun senang tak ada bedanya, namun akan terlalu berbeda rasanya kala dia sedang ikut merasakan salah satu kebahagiaan dari temannya, negitu pula kala kawan dia merasakan kesedihan maka dialah orang yang paling merasakan kesedihan itu. Sedangkan rasa untuk dirinya sendiri tak ada. Manusia macam apa ini? Saya sebut dia badut sejati. Badut tak peduli pada saat panas atau pun dingin tetap saja kostumnya sama, tak peduli sedang sedih atau pun senang ekspresinya sama saja tetap tersenyum, untuk apakah kostum lucu dan menggelikan itu? Untuk penonton. Dan untuk apakah ekspressi senang yang selalu ada diwajahnya itu? Untuk penonton. Bagaimana dengan perasaan badut sendiri, apa ada penonton yang ingin cari tahu apa yang sedang dirasakan si badut, adakah dia sedang bersedih hati kala sedang menghibur penonton, jawabannya tak ada satu pun orang yang ingin tahu hal itu.

Satu satunya hal yang dapat membuat kawan itu terasa ada, walau memang kebanyakan hanya berupa ilusi yang tak nyata adalah ketika saling bertukar cerita, entah apa pun itu ceritanya, cerita tolol, bodoh, konyol, kebohongan, kejujuran, curahan hati sedang kasmaran, patah hati, kesal, senang atau pun sampai cerita yang mengharu biru hingga terasa mampu menyayat nyayat batin, namun sejatinya memang hanya lewat cerita kawan itu akan terasa ada. Ada pendengar dan ada yang didengar. Ada indra mulut, mata dan telinga sebagai perantara cerita, tempat kontak nyata dan langsung dimana ada keberadaan pencerita dan pendengar cerita. Pula ada otak sebagai pengatur alur cerita agar tak terasa membosankan. Dan tak lupa ada hati untuk merespon berbagai macam kemungkinan mengenai apa yang sedang diceritakan, ada emosi yang akan timbul ketika saling bertukar cerita, berupa ekspresi dan tanggapan. Dengan itu semua kawan yang hanya ilusi terasa ada.

Ketika cerita tak ada lagi, maka kawan kembali menjadi ilusi.

Kawan ilusi semacam kawan yang pasti ada disaat kita lagi memiliki sesuatu yang mereka inginkan, mereka ada tanpa harus dipanggil atau dikabarkan, karena mereka dengan sendirinya akan dengan sadar mencari apa yang mereka inginkan. Mereka ada dimana mana, dan selalu ingin segera mendapatkan yang mereka inginkan. Contohnya ketika ada kesempatan untuk mendapatkan kebanggaan karena hendak diakui, kehebatan kala mereka mampu memberikan keberadaan diri, kebohongan dengan tingkah selalu ada pada diri mereka, kejujuran apalah artinya jika ada maksud yang hendak mereka capai, mereka akan mati membusuk apabila tahu bahwa mereka ternyata sendiri dan kesepian. Apa itu yang namanya kawan?

Kawan itu ilusi, tak ada kawan yang mampu dengan sendiri perhatian pada orang yang sedang membutuhkan perhatian, tak ada kawan yang mampu membaca benak orang yang sedang dirundung rasa sedih yang mendalam, tak ada tindakan yang gratis diberikan, tak ada makanan maka tak ada bantuan, tak ada kopi dan rokok maka tak ada cerita, apa itu kiranya sesuatu yang bernama kawan?

Kawan itu ilusi, sediakan saja satu meja makan yang penuh dengan minuman dan makanan yang serba mewah, maka dengan sendirinya orang orang yang mengaku kawan akan datang dengan wajah dihiasa senyum yang kelewat lebar, bahkan orang gila di rumah sakit jiwa pun akan mampu berekspresi seperti itu kala dapat ajakan makan. Apa itu yang hendak anda katakan sebagai kawan?

Coba anda sedang dalam keadaan melarat, orang tua anda bangkrut, tak ada materi yang mampu ada berikan pada orang lain, kendaraan sudah terjual, kos atau rumah anda sudah disita, anda sekarang sebatang kara, anda sekarang sudah jauh dari anda yang dulunya, anda sekarang kesepian, karena sudah pasti satu persatu orang yang mengaku pada anda adalah kawan anda sudah pergi menjauh mencari kawan yang lain tentunya. Saya rasa berlebihan jika anda masih merasa masih memiliki kawan yang mampu menolong anda. Apa itu kawan namanya?

Anda bisa saja sedikit berpikir ketika membaca tulisan omong kosong dari orang yang tak jelas ini, itu pun jika anda masih punya pikiran. Atau pun anda bisa saja mencemoh dan bahkan mengejek hina tulisan ini, itu pun jika anda merasa tak apa apa jika anda mendapatkan hal serupa dari orang lain seperti apa yang sudah anda lakukan. Anda punya pikiran dan perasaan, begitu pula orang yang menulis cerita ini.

Sekedar hanya ingin bercerita.

Salam sapa hangat.

Armstrong da Jimmy (Si Pendongeng)

Senin, 07 Maret 2011, 02:36am

Tuesday, November 30, 2010

Dialog Imajinasi


"Manusia takkan bisa mengampuni atau memaafkan satu sama lain, tapi mengapa juga dilakukan?"

"Itu karena ingin hati..."

"Yang bisa memaafkan dan mengampuni itu cuman Tuhan!"

"Kalau hati yang ingin mau di apa lagi? hati memang begitu..."

"Manusia itu ada dua sisi baik dan buruk!"

"Lantas?"

"Manusia hanya bisa berdamai"

"Dengan?"

"Manusia hanya bisa berdamai dengan sisi buruknya masing masing..."

"Kalau hati ingin mengucapkan kata maaf atau sesumbar kata dengan maksud tuk mengampuni sesama bagaimana?"

"Biar Tuhan yang maha tahu yang jawab..."

"Saya ajukan pertanyaan ini pada anda, pada diri anda sebagai seorang manusia! Seorang manusia yang tentunya memiliki hati yang sama dengan manusia manusia pada umumnya..."

"Hmmmm..."

"Kenapa?"

"Kalau kata lewat bibir memang mampu di ucapkan sesuka raga inginkan, namun hati? kapas pun dikalah lembut olehnya, kadang kuat bak batu karang... Kata hati siapa yang tahu?"

"Hmmmmm..."

"Kenapa? Karena isi hati cuman Tuhan yang tahu..."

"Mungkin..."

Wednesday, September 15, 2010

God and Me

"I do believe in God, God is the end of human way... I don't believe in any religion, religion make sad, religion make me cant control my own life, religion trap my step, religion make me doesn't know who I'am... I have God but I don't have any religion... I do believe in God but I don't trust any religion... So, I celebrate all of religious festivals in all religions in the whole of world..." Armstrong da Jimmy

Monday, September 13, 2010

Semut Hitam dan Manusia

Mereka berjalan bergerombol dengan sejenis mereka, tak pernah mereka hendak menoleh kebelakang jalan lurus kedepan menuju sebuah tujuan entah kemana. Semut hitam. Entah apa yang membuat mereka jika saling berhadapan dengan sesama semut hitam selalu bersapa satu sama lain, malah terlihat sedang bertukar informasi tentang sesuatu yang cuma mereka yang mengerti, dan setiap perjumpaan dan pertemuan diantara mereka diawali dan diakhiri dengan berjabat tangan. Ah manusia kenapa pula tak meniru mereka.

Semut hitam lebih senang pada segala makanan yang dimakan manusia yang rasanya manis, gula adalah favorit mereka, kata pepatah dimana ada gula disitu ada semut. Semut hitam tak suka mencari masalah, berbeda dengan semut merah yang selalu mencari masalah dengan menggigit manusia terutama, dan jika semut merah menggigit manusia maka mereka akan berakhir dengan kematian tragis, rata dengan kulit tangan manusia lewat sekali hamtam.

Semut hitam, ada yang kecil dan ada yang besar. Layaknya manusia, semut kecil tak nampak ketakutan didalam hidup mereka, mereka tak takut akan kematian saat terinjak oleh kaki manusia atau menjadi sasaran empuk buat binatang lain yang suka makan semut, mereka tetap menunjukkan ke-eksistensian mereka didepan umum. Nampaklah mereka hidup berjalan bergerombol di dinding kamar, ditempat sampah, di toilet, dan ditempat fovorit mereka dapur. Dan semut kecil jika di ambilkan contoh sebagai manusia maka mereka adalah balita menuju remaja, lihat saja istilah jaman sekarang mengenai kenakalan remaja era informatika, dimana mana selalu saja remaja yang mendominasi, di mall, di tanah lapang, di game center, dan tempat yang paling banyak yaitu ditempat hiburan. Mereka para remaja jika menurut Rhoma Irama dalam lagunya 'biasanya para remaja berpikirnya sekali saja tanpa menghiraukan akibatnya...' dan inilah samanya dengan semut hitam kecil, mereka ada dimana mana dan selalu memiliki rasa ingin tahu yang besar.

Semut hitam besar. Biasanya akan kita temuka di halaman rumah, dalam hutan, di atas gunung, dan pekuburan. Mereka lebih sering menggigit manusia, berkelahi dengan sasamanya, dan tak pernah bergerombol dengan sesamanya apalagi bertukar sapa apalagi bertemu di salah satu tempat yang banyak semut hitam besarnya. Sangat mirip mereka dengan manusia dewasa pada umumnya, anak dewasa tak pernah diam berada dalam rumah selalu berkeliaran kemana mana, ada sedikit masalah dengan sesama dewasa diakhiri dengan perkelahian, banyak juga yang senang mencari petualangan dengan naik keatas gunung untuk sebuah ketenangan,jika manusia dewasa jalan jalan bergerombol dengan sesamanya akan merasa tak nyaman karena anggapan kekanak kanakan akan mereka terima, dan manusia dewasa biasanya kelihatan angkuh dan sombong tak kenal maka tak sapa.

Andai semua manusia mau meniru cara hidup semut hitam kecil maka indahnya hidup akan sangat sayang tak nikmati apabila tak membagi rasa peduli dengan sesama walau hanya dengan tiap bertemu sapa dengan sesama manusia saling bertukar seutas senyuman, dan sangat membahagiakan apabila tak usah kenal yang penting sama sama manusia saling berjabat tangan! What a wonderful world!

Cinta akan ada dimana mana. Takkan ada rasisme, fasisme, kolonialisme, apalagi perang. Karena manusia yang tetap saja manusia, warna kulit dan kepercayaan agama takkan menggugah kita untuk saling memusuhi atau merasa jijik karena kita sama sama manusia. Menurut Max Tollenar a.k.a. Multatuli “tugas manusia untuk menjadi manusia”.

Ada dua lagi kelebihan manusia, yang membuat mereka nampak sebagai makhluk hidup paling sempurna di dunia, yaitu hati untuk perasaan dan otak untuk pikiran. Jika manusia mau tahu dan peduli bahwa tiap manusia pasti memiliki perasaan, maka takkan ada lagi rasa iri hati, sombong dan egois, semua manusia tak ingin dianggap egois dan setiap manusia tak ingin orang lain merasa iri hati pada mereka, dan sombong takkan pernah lagi ada karena semua manusia tak ingin melihat orang sombong atau orang lain menyombongkan sesuatu pada mereka. Perasaan akan lebih sensitif untuk melihat manusia lain dalam kesusahan, rasa ingin menolong akan segera merasuki alam sadar mereka untuk segera menolong, itu pasti. Toleransi, tenggang rasa, dan gotong royong yang merupakan simbol abadi rakyat Indonesia namun tak tampak pada masyarakatnya sekarang ini, mengapa? Tak tahu saya. Yang jelas jika kita ingin mengerti perasaan kita sendiri maka secara alamiah akan sama mengertinya kita pada orang lain. Walau orang lain memang memiliki watak yang berbeda beda, namun hati itu pada dasarnya tercipta untuk kebaikan.

Pikiran. Yah lagi lagi jika pikiran mampu kita gunakan dengan baik dan sungguh sungguh, apa yang takkan mungkin kita ciptakan? Kita sudah tahu mana yang harus kita lakukan, dan mana yang harus kita tinggalkan, tinggal cara penerapannya saja yang musti kita pelajari. Buku buku ilmu pengetahuan tentang apa pun ada di dunia ini, sejarah telah melahirkan para ilmuan, para seniman, dan berbagai macam orang luar biasa di dunia ini, dan semuanya ada dalam buku. Memang terkadang susah untuk mencari bukunya, namun sekarang kan sudah jaman modern, tekhnologi berkembang di segala macam bidang. Pikirkan sedikit saja jika kita ini mampu mempelajari apa saja, dan mengajarkan pada orang yang belum tahu. Rene Descartes pernah bilang “aku berfikir maka aku ada”, bagaimana mungkin manusia dikatakan ada jika tak menggunakan pikirannya! Berpikir cara untuk membahagiakan setiap manusia di dunia ini!

Apa yang tak bisa dilakukan jika kita mau belajar? Pelajari sesuatu dari diri sendiri, perasaan dan pikiran. Kemudian pelajari dunia dan mahkluk hidup yang ada di dunia, manusia dan alam yang paling utama.

Salam cinta untuk semua manusia.


Jimmy Armstrong, Purwokerto 13092010, 22:46