Friday, June 19, 2009

Senyuman Tuk Labirin Waktu (Puisi)

Asalamulekum...


Menunggu... selalu saja ramai diikuti iring iringan kata terlambat dan selalu menyebalkan menggoyangkan ekornya di akhir jejak tiap langkahnya...

Waktu... kadang bahkan tak jarang kata acuh kudendangkan seakan mengejek berupa kata acuh ke daun kupingmu, dan kau tanggap dengan palingan wajah sembari kedua tangan kau lekatkan dengan ekspresi yang begitu angkuhnya...


Senyumku... melepaskan seolah rela dirimu yang telah berlalu tanpa seutas senyuman khasmu yang kau berikan gratis kemarin kemarin, dan diriku bagaikan sehabis menuntaskan sebuah karya diatas kanvas seolah hati tak apa apa karnanya...


Senyummu... Ohw dikau yang telah pergi jauh bersama orang yang telah mendahuluiku menggenggap tanganmu begitu eratnya di depan mataku sore itu, seperti malam yang datang memeluk sang rembulan saat bintang bintang menari ria saat mentari tidur dengan nyenyaknya...


Suaraku... Hanya mampu kulukiskan di atas seutas kertas tanpa ada manipulasi kebohongan yang mungkin terdengar begitu melangkolisnya...


Tulisanku... Sebaris tak sadar menjadi lembar, hingga begitu banyaknya kubercerita tentangmu dan tentangmu tanpa ada sedikit campur tangan dari mulutku, hingga kumenyadari kau telah memilih seseorang mungkin dikarenakan dirimu terlalu lama menungguku mengungkapkannya hingga seakan dalam mimpi kumelayang tinggi nan jauh dan terjerembab dalam ruang labirin waktu yang mungkin takkan ada habisnya...


Waktu... seutas senyuman untukmu sebelum dan sesudahnya, anggaplah aku terlalu naif tak mau dikalahkan olehmu, aku kan menjadikan dirinya seperti dinding tembok bercat putih dan diriku mungkin rela menjadi seekor cicak yang terus diam tanpa suara melangkah perlahan meninggalkan penuh jejak langkahku disana hingga tanpa ada sangkut paut mulutku berbicara sepatahpun tanpa ada sangkut paut olehmu waktu kelak di dinding hatinya...


Djendelo, The Armstrong


Walekumsalam...

Sunday, June 07, 2009

Rembulan Pun Tahu Mentari Muncul Menjelang Pagi

Asalamulekum...


Indahnya gemercik air terjun diatas pegunungan yang dihiasi bulir bulir embun yang masih terisa di pucuk daun bermahkotakan bunga dengan rupa penuh akan warna.

Pagi ini musim hujan pun datang, dan disini kumasih sendiri dengan kehidupanku yang menurut penduduk sekitar aneh. Senyumanku takkan luput kala berpandangan mata dengan para penduduk yang dengan sengaja ataupun tidak bertatapan mata saat ku melakukan aktifitas dengan berjinjingkan peralatan lukis di pundak dan sebaki ubi goreng tetangga yang tahu dengan jelas tujuanku menetap sekian lamanya di kampung ini. Disalah satu kampung yang dikelilingi pegunungan yang menjulang tinggi kelangit, tak kalah tingginya dengan gedung pencakar langit ala Amerika. Dengan menatapkan mata kesegala pelosok yang terlihat hanyalah hijau dan hijau. Pula disamping hutan yang lebat terhampar birunya danau. Tak jarang diriku terpaku oleh menyeruaknya warna warni pelangi sehabis hujan lokal datang bertamu. Dan disanalah diriku kehilangan dirimu.

Sabtu, dua tahun sebelum kepergianmu...

Kulingkarkan cincin perak buatan asli kampungmu ini dijari manismu dengan sumpah tuk menemanimu hingga ajal menjelang. Senyumanmu yang tak mampu kulupakan, dengan menghilangnya hampir seluruh bola matamu kala tersenyum membuatku semakin gemas hendak membelainya manja, dan tak ingin sedetik pun menjauh darimu. Kita telah berjanji tuk menyatukan hati kita yang diawali oleh sebuah persahabatan kala dibangku kuliah.

Waktu pertama kumengenalmu, nampak dalam anganku sosok seorang gadis kecil yang dahulunya sewaktu kelas 2 SD pernah singgah dalam dunia cinta monyetku. Dan setelah kuberanikan diri tuk bertanya padamu tentang hal itu, kamu malah menjawab dengan tangan berlenggok di pinggang.

"loh? ternyata kamu toh yang dulu sering nitipin wafer Superman di dalam tasku?"

Pertanyaan itu disusul oleh senyuman. Dan degub jantungku pun tak karuan kala itu, hendak meledak kiranya jikalau bisa. Dan memang waktu itu hanya satu tahun kuhanya bisa menatapmu dengan tatapan kosong layaknya anak kecil mengagumi manisnya gulali, namun kali ini perasaan itu memang semanis dengan paras wajahmu yang gulali pun serasa kalah manisnya.

Itu sekitar 25 tahun yang lalu di Sumatera, tempat dimana kumeminangmu dan melangkah mengalun bahtera rumah tangga di sebuah desa kecil dan terpencil dengan pemandangan indah salju abadi Gunung Jayawijaya sebagai pemandangannya, tepatnya di perbatasan Timika dan Jayawijaya, diatas sebuah gunung tinggi dan disebuah rumah yang berhasil ku beli dari pameran lukisku ke 14-ku di Jogja.

Waktu seakan semakin menyayat nyayat dinding perasaanku kala mengingatmu meninggalkanku dengan seorang anak laki laki yang kita beri nama Cicero Al-Gazali yang berarti Cecero seorang konseptor tentang paham Humanisme agar memandang manusia satu dengan lainnya lebih mementingkan perasaan ketimbang pikiran, dan Al-Gazali berarti berilmu pengetahuan yang tak terbatas.

Kini dia telah genap berusia 2 tahun, dan tak mampu kumenahan tangis kala memandang matanya kala senyum sangat mirip dengan indah matamu.

Kini kuketahui bahwa rembulan pun tahu mentari muncul menjelang pagi yang berarti syahduhnya rembulan yang menghilang ditelan waktu akan berganti dengan indahnya sang mentari yang terbit kala pagi hari menjelang. Rembulan itu dirimu dan Mentari kecil ini adalah anak kita berdua.

PS: Kusayang kamu... Dan selalu merindukanmu...


Walekumsalam...

Sunday, May 17, 2009

Puisi "Penjejak Malam"

Asalamulekum...



Mari merasakan dan mengungkapkan segala sesuatu yang ada di dunia ini lewat filsafat...

Selimut lembah malam menutupi raga dari cekaman terik sang mentari yang semakin menampakkan kehebatannya ditengah kondisi alam yang tak menentu...

Seperti sebuah bintang dari kejauhan diluar batas lintas kecepatan mata berkedip, menyendiri sendiri di keramaian lautan angkasa bertabur jutaan planet dengan atmosfer perasaan yang begitu naif untuk mudah tersentuh...


Tawa mengikuti jejak langkah tangis lembar jawaban sebuah arti kehidupan begitu nampak oleh indra namun aksi menunggu reaksi tuk mampuh menjamak dan memilah ribuan pertanyaan yang menunggu giliran kini tertumpuk bak jutaan fosil bangkai yang memenuhi tingkah imajinasi...


Siang begitu panas membendung alur pikir dan rasa, formalitas taraf hidup seakan menjadi lumut tanpa warna dan rasa yang melekat abadi dan tanpa henti memaksakan kehendak tuk memberontak mencoba keluar dari lingkar labirin tanpa akhir kebenaran dalam lingkup kebohongan yang buram dan tak jelas...

By: The Armstrong




Walekumsalam...

Wednesday, May 06, 2009

Laptop Hilang

Asalamulekum...

Dinding kamar serasa semakin sempit dikala siang hari dimana matahari lagi terik teriknya bersinar bagai lampu 1500000s watt yang menyala nyala tiada hentinya hingga membuat jalan raya terlihat mengepulkan asap putih bercampur debu debu jalan yang tertiup laju dan deru kendaraan yang lalu lalang.

Kipas angin menemani suasana siangku kali ini dengan wajah tertunduk namun bibir sedikit tersenyum. Bukan berarti aku saat ini telah menjadi Gila dikarenakan LAPTOPKU hilang!. namun diakrenakan ku memikirkan akan hal bersambung dengan kehidupanku dari pertama dilahirkan hingga kini apa sajakah yang telah kulakukan hingga hal seperti ini terjadi...

Satu kata yang terbesit adalah KARMA...

Hingga ku mulai tersenyum dikala data awal skripsiku pada semester depan mulai merintis karirnya hilang lenyap tanpa ada back up sebelumnya di flash disk ataupun dikomputer kamarku.

Kedua kulebarkan senyumanku lebih lagi ketika kuteringat ketika kumpulan tulisan puisiku yang rencananya awal bulan ini akan masuk penerbit, pun telah hilang terbawa oleh laptopku. Sekali lagi karna belum ku save atau back up di flash disk ataupun ke komputer kamarku. hingga satu kata lagi terbesit dengan cepatnya yaitu LENYAP.

Menyendiri dalam kesepian yang kuciptakan sendiri ditemani oleh dentingan senar gitar dari John Lennon yang menyenandungkan lagu "Let it Be"...

"When I found my self in times of trouble mothers Mary come to me... Speaking words of Wisdom Let it Be..."

Dan mulailah hidupku kembali seperti semula, dengan menganggap bahwa semuanya tak pernah terjadi...

Mengingatnya justru membuat terbuai oleh rasa penyesalan...

Mengingatnya dapat menyita banyak waktuku dalam keputus asaan...

Ku tak inginkan ini... Kuingin hidupku dipenuhi senyuman khasku...

Bukankah semuanya juga bakal kembali padaNya, tak terkecuali Laptopku... jika nyawa saja akan kembali padaNya.

Kesimpulan positiveku saat ini adalah "Mungkin ada Laptop yang lebih baik yang akan datang nantinya dengan sendirinya tanpa ada rasa sadar terlebih dahulu..."

Sekian...

Walekumsalam...

Tuesday, April 14, 2009

SeSedikit Kisah Tentang Kawanku Seorang Demonstran

Asalamulekum...

Langit pun terlihat begitu terik hari ini, tak ada lagi alunan musim semi yang dahulu membuyarkan pandangan dengan jejatuhan lembar lembar dedaunan yang senantiasa menari nari tertiup angin didepan pengarangan rumahku. Hamparan jalanan tersengat panas hingga terliat mengepul berasap. Terlihat pula seorang anak kecil tetangga sebelah rumah yang sepulang dari sekolah dasar tampak bermuka lesuh dan begitu tak bersemangatnya menelusuri tiap langkah pada siang hari ini…

30 menit pun berlalu, terik mentari pagi yang sewaktu pertama kali menampakkan wujudnya di selah selah rimbunnya pegunungan membawa semangat tuk segera memulai aktifitas dan nyanyian merdu sang burung nuri menyambutnya sembari menari nari menampakkan bahwa hari ini akan baik baik saja… namun kenyataannya itulah mula dari terik panas yang tak karuan hari ini…

Selayaknya kue yang pada awal mula meraciknya dari berbagai macam bahan menimbulkan bau yang sangat mengundang penasaran indera hidung tuk kembang kempis menikmatinya, hingga bahan bahan dari gula, terigu, cream, susu, keju, coklat, dan sebagainya yang pertamanya sudah diracik hingga menghasilkan setalang adonan yang menyatukan berbagai macam bau harum dari bahan bahannya. Karena kita tak pernah tahu rasa dari setalang adonan sebelum menjadi sepiring kue yang telah matang. Pula benak hanya bisa memprediksi akan rasa yang akan dihasilkan nantinya.

Begitulah hari ini, ketika perasaan menyatakan hari ini akan baik baik saja. Namun mentari sangat menyengat menyiksa otak kewalahan menghadapinya.

Perlahan mulai kubaringkan diriku di sebuah kursi kayu tua dari bambu di peron rumah. Menikmati semilir angin yang terasa memaksa pohon tuk bergoyang goyang membelai pemandangan terik mentari. Bisikan dari sepasang headset yang mengalunkan dentingan gitar akustik dari Fast Ball perlahan melayangkan benakku ikut bernyanyi sembari memejamkan mata…

Sometimes I feel, Like I am drunk behind the wheel
The wheel of possibility, However it may roll

Give it a spin, See if you can somehow factor in
You know there's always more than one way, To say exactly what you mean to say

Sementara telingaku menyimak dengan khusuknya lagu tersebut, hingga lengkingan kucing yang terlindas motor didepan rumahmu tak ku gubris, hanya lirikan mataku yang terbuka sebentar lalu dengan sendirinya tertutup lagi ketika kudapati si kucingnya ternyata tidak mati dan hanya berlari dengan sedikit gontai menuju ke balik pagar rumah orang yang berada di depan rumahku. Huh… apa benar kata orang orang dahulu kala jikalau kucing itu memiliki 9 nyawa? Ngapain juga kupikirkan…

Kuteringat pada seseorang di depan rumah yang dimasuki oleh seekor kucing tadi yang tak mati ditabrak mobil kijang keluaran tahun 90an.

Dia adalah si Odeng, namanya entah dari mana dan kapan dia mulanya bernama yang aneh di dengarkan dan di ucapkan itu. Dia seorang yang sangat peduli akan perkembangan negara Indonesia pada saat ini terutama akan kebijakan kebijakan pemerintah terhadap rakyat, perkembangan masyarakat golongan menengah kebawah seperti pemulung, pengemis, dan gelandangan jalanan lainnya, dan dia bertekad dalam dirinya untuk hendak mempertahankan dan memperjuangkan semua itu walau harus berkorban. Dan salah satu bentuk pengorbanannya adalah menjadi pendemo, malah menjadi pemimpin demo dalam berbagai macam aksi yang dia galang bersama kawan kawannya, walaupun kata demo tak pernah terbesit dipikiranku untuk ikut serta didalamnya, dan pastinya bukan dikarenakan aku acuh dan tak peduli akan rakyat! Namun dikarenakan “apa sudah tak ada jalan lain lagi selain turun ke jalan raya melakukan aksi yang dimana bisa berakibat yang jauh dari pikiranku dan keinginanku tuk melakukannya yaitu mengganggu orang lain”.

Demo menurutku adalah salah satu aksi yang beratas nama memperjuangkan keselewengan pemerintah terhadap rakyatnya, dan ini sangat aku dukung, namun bukan dengan cara turun kejalan sambil ber-orasi, namun lewat tulisan yang kutahu masih belum mampu tuk menulis yang baik. Aku tak melarang ataupun tak mendukung aksi mereka para pendemo, namun menurutku itu kesia siaan belaka. “bagaimana mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan jikalau pemerintah tak mau menggubris mereka”. Iya ini merupakan usaha tuk bisa didengarkan oleh para wakil rakyat tapi apakah mereka bisa memimikirkan dampak dari semuanya? Dimulai dari tidak digubrisnya mereka oleh pemerintah, bentrok dengan aparat polisi, menghambat lalu lintas, dan tahukah mereka yang melaju di lalu lintas itu rakyat juga? Dimana ada yang sedang terpacu oleh waktu dikarekan aktifitas ataupun sesuatu yang berbau gawat darurat! Huh what I can say…

Lanjut kecerita kawan yang rumahnya berada di sebrang jalan depan rumahku. Dia seumuran denganku, sekampus denganku di fakultas yang sama pula di salah satu kampus swasta di Jogja. Fakultas yang kami emban saat ini adalah FISIPOL. Dari namanya sudah terbayang akan rumitnya mata kuliah yang di pelajari disana, dan fakultas ini tak pernah habis habisnya membahas akan kata Politik. Politik dan politik.

Dia cukup akrab denganku. Apalagi dalam hal cerita bercerita seputar sastra dan filsafat. Yah aku sangat suka dengan sastra dan filsafat, begitu pun dirinya. Dan ini yang kusukai dari dia saat bercerita, disamping dia pendengar baik dengan jiwa social yang tinggi, juga seorang yang kerjanya membaca dan membaca di kantin kampus hingga dijuluki kutu buku oleh teman teman yang lain. Disamping koleksi buku bukunya yang banyak, dia juga sering memberiku referensi mengenai novel novel yang didalamnya banyak mengandung unsure “humanism” salah satu ideologi faforitku. Hehehe memang berat jikalau ingin dipikirkan namun jika dicoba tuk mencintai segala macam sesuatu maka hidup akan tambah terasa indahnya dan hidup akan selalu merasakan damai.

Malam kian terasa cepat berlalu dan pagi pun serasa tak sabar lagi menampakkan birunya langit dikala ngantuk dan malas merajalela dalam benak, seakan memaksakan kehendak tuk segera memulai aktifitas. Desember bulan ini, musim hujan tak begitu terasa. Dedaunan nampak masih bertahan bertengger dengan rapinya didahan dahan, ranting pun seakan mengikuti alur angin bergoyang goyang ke kiri dan ke kanan. Tak terasa sudah dua bulan kabar seorang kawan yang tinggal di depan rumahku, teman sekampusku, teman berceritaku sudah tak lagi terngiang dan menjadi pokok pembicaraan di kalangan mahasiswa dan Koran Koran local. Yah, kawanku seorang demonstran sejati yang siap berjuang melawan teriknya mentari, berteriak melalui toa hingga urat urat lehernya pun kelihatan, kawan yang selalu setia mendengarkan tiap cerita kawan kawannya yang lain. Kawanku telah terjebak dalam tanah, menuju ke kehidupan berikutnya. Di alam kematian.

Kejadiannya begitu cepat, suaranya tawanya yang ramah selalu menemani saat saat diskusi seputar apa saja yang diadakan di kantin kampus. Kini tak ada lagi, serasa berkabung kantin di tinggalkannya, hanya dikarenakan oleh sebuah batu kecil sebesar kepalan manusia yang terinjak laju ban mobil yang kalang kabut kala dia hendak berjalan jalan kaki sekedar tuk menikmati indahnya sore hari di sekitar jalan depan rumah.

Darah segar pun bercucur dengan derasnya kala itu, menutupi seperempat zebra cross jalan, yang putih menajdi merah darah, yang hitam semakin memperdalam warnanya, siapa pun yang melihatnya akan miris menahan mual dikarenakan sebagian otaknya pun tercecer saat batu itu mendarat tepat mengenai batok kepala bagian belakangnya. Tepat di bagian otak kecilnya hingga di terjerembab jatuh, terkulai tak berdaya hingga kumunan orang orang pun mengelilinginya dengan mimik tangan menutupi sebahagian wajah dan mengintip di selah selah jemari mereka.

Dan aku yang waktu itu melihat kejadian itu secara langsung tak bisa melupakannya kejadian ini hingga 3 tahun berikutnya baru mulai sedikit merasa paranoid akan kejadian yang menimpa kawanku itu bisa berkurang efeknya.

Segera ambulance datang menggotong mayatnya tuk segera di periksa dan segera melakukan pertolongan yang menurut mereka semaksimal mungkin, walaupun secara kasat mata kemustahilan itu sudah tampak adanya sebuah kehidupan.

Dia telah pergi tuk selamanya.

Kawanku.



Walekumsalam...

Friday, March 27, 2009

Kenangan Denganmu Naik Vespa

Asalamulekum...


seperti kumunan sebongkah kotak besar dan kecil...

tersusun tak menentu hingga membentuk sebuah hati...

seperti itulah perasaan... rumit tuk menjelaskannya...

Senja pun telah tenggelam sekian jam yang lalu, suasana semakin diperkeruh kerumuman lalu lalang orang orang di sekitar jalanan yang kukira sehabis jalan jalan sekedar tuk melihat lihat atau bahkan ikut serta dalam perayaan “Sekatenan” di alun alun kota, yaitu acara tahunan yang dieselenggarakan di kota Jogja oleh Sultan untuk melepas keramat bulan Muharram. Riuk gembira seorang anak kecil yg digandeng tangan oleh ayahnya yang membelikan manisan gula yang dipegang erat ditangan kanannya dan tangan kirinya sibuk menggenggam erat tangan sang ayah membuatku sedikit ingat iri akan masa kecilku yang rabun akan arti sebuah kegembiraan.

Kuamati sekeliling, langkahku perlahan selangkah demi selangkah menapaki riuk keramaian disekitar perampatan antara jalan menuju alun alun cuman beberapa meter dari diadakannya sekatenan, ujung jalan dari Jl. Malioboro, jalan menuju Jl. K.H. Ahmad Dahlan, dan jalan menuju Jl. Gondomanan, tepatnya di “0 kilometer” (aka 0 km) kota Jogja mengamati tiap wajah hampir ratusan atau bahkan ribuan yang lalu lalang tanpa ada satupun yang kukenal. Di tengah kesendirian yang memang kusengaja ingin menyendiri saat itu, padahal kutahu ada kawan kawanku yang tadi berbarengan denganku beranjak dari kontrakan menuju ke “angkringan BI” (angkringan: semacam tempat nongkrong versi mini dengan gerobak yang menjual nasi bungkus ukuran mini yang sering disebut nasi kucing) di depan pekarangan gedung BI.

Rencana awal kita menuju gedung BI yang tepat berada di dekat perampatan 0 km, adalah untuk bertemu sapa dengan kawan dari luar kota yang kebetulan lagi berlibur ke kota Jogja bersama 2 orang kawannya. Namanya Jember dari Jember, diberikan nama Jember karena berasal dari Jember tak tahu awalnya mengapa anak anak yang lain memanggilnya Jember, ini semua berkat olahan kata kata aneh dari si Mbek kawanku, otak dari rencana menuju ke depan pekarangan gedung BI, si Jember datang ke Jogja bersama kawannya yang sekaligus berstatus pacar bernama Dini seorang cewe yang judesnya bejubel namun tetap ramah diajak ngobrol (dengar dengar dari cerita si Mbek, Jember dan Dini awalnya kenalan kemudian bertemu dan saling jatuh hati lewat via internetan loh?), dan satu lagi kawan si Dini ehmm bernama Ratih si cewe bergigi behel yang selalu tersenyum dengan perawakan riang gembira saat diajak ngobrol(halah lebay sepertinya). Sekali mungkin karena adanya kata kebetulan lagi, kedua cewe ini ternyata berasal satu daerah dengan diriku Makassar, walaupun diriku bukan asli Makassar tapi disana ku tinggal selama mengecap bangku SMA.

Sedikit cerita mengenai kawan kawanku yang lain. Si Afgan adalah seorang Pekalongan sejati dengan perawakan agak pendiam jika pertama kenalan, namun jikalau sudah mulai keluar kepribadian gokilnya bisa berubah 90 derajat. Si Budi adalah seorang Solo agak pendiam juga namun memang pendiam kok perawakannya, selalu bersedia jikalau diajak ngobrol serius, dan sekarang lagi mengembangkan selera humornya yang kurasa agak kurang, hehehe. Si Mbek satu asal dengan si Budi dari Solo dengan perawakan yang sama dengan rambut keritingnya yg kagak jelas, namun selalu heboh tiap saat. Si Jude satu asal denganku dari Makassar namun aseli Ambon tapi anehnya mukanya agak ke indo-indoan, dengan perawakan yang selalu di mirip miripin dengan idolanya si Jim Morrison dimulai dari style rambut sampe kostum keseharian dan dia pun berjanji dengan penuh keyakinan bakal bersedia mati demi musik (hohoho lebay bukan?), dan satu lagi pacar Jude si Ririn adalah satu satunya dari kami yang aseli Jogja, dengan perawakan yang kekanak kanakan, dan manjanya super duper menyebalkan.

Dengan puluhan armada burung gereja yang sibuk mondar mandir diatas awan di sekitar pekarangan gedung ke-Sultanan kota Jogja semakin memperuwet suasana malam, kuamati segerombolan pengamen jalanan dengan berbagai alat musik yang mereka mainkan semabari mendendangkan sebuah lagu dari Iwan Fals tentang si Bento, dan dalam hati ku juga ikut bernyanyi mengikuti irama dari petikan gitar kayu si pengamen yang nampak menghayati bait demi bait lagu bang Iwan.

Huh, rasa bosan dan ingin bercerita pun datang ke benakku dan kutapakki kembali langkahku menuju ke kawan kawan yang lain, waktu menyendiri telah usai.

“kemana aje lu?” teriak si Afgan

“hehehe, mondar mandir kagak jelas aja bung” jawabku dengan senyuman kagak jelas

“wah, si Armstrong ini lagi mikirin opo toh? Negara ora usah dipikirin, wis ono sing mikirin.” gurau garing dari si Budi

Si Jude dan pacarnya si Ririn berbarengan menyindir “wah, dasar seniman aneh, pasti lagi nyari inspirasi yah?… hahaha”

Dan kompak yang lainnya pun ikutan tertawa “hahahahahaha”

Dan diriku hanya diam tanpa satupun kata yang terucap hanya raut bibirku yang senyum aneh pada kedua pasangan aneh si Ririn n Jude yang mengingatkanku pada Sid n Nancy, pasangan Rock n Roll.

Mbek pun bergumam yang lebih mirip bernyanyi “ajakku pergi dari sini, sangat suntuk disini…” lagu dari Slank yang memang saat ini suasana sangat menyuntukkan dengan lalu lalang orang orang yg begitu ramainya hingga serasa lagi berada dalam pasar.

Si Ririn menyarankan “gimana kalau kita ganti suasana? Kita ke gubuk yuk? Udah 2 jaman lebih neh kita disini, nyari tempat yang enak gitu bwat cerita ceritaan..”

Dan semuanya pun setuju dengan saran Ririn tuk beranjak ke kafe Gubuk yang letaknya agak jauh, tak menunggu lama kita pun segera beranjak pergi. Jude dan Ririn yang datang dengan vespa mini warna merah sudah siap beranjak, motor GL pro si Budi dipinjam si Jember yang boncengan dengan Dini, sementara Budi dibonceng Afgan, dan diriku mengajukan diri dengan senyuman tanpa maksud mengajak Ratih tuk kubonceng dengan vespa tuaku berwarna hijau yang kuberi nama Jimmy dan dengan senyuman khasnya pun di menerima (dan kata Yuhuuuuu pun terteriak dalam hatiku… loh!), sementara si Mbek pun harus rela menanggung beban naik motor sendirian.

Dan disinilah mulai sebuah cerita yang membuatku hingga sekarang senantiasa mengawang awang senyum sendiri kagak jelas. Apa artinya tak tahulah.

Ratih…

Kita pun beranjak menuju ke kafe Gubuk.

Di perjalanan terjadilah perbincangan diriku dan Ratih.

“ehmmm, udah pernah naik vespa sebelumnya?” tanyaku basa basi memulai perbincangan

“mmmm, belum pernah” jawabnya polos

“wah, brarti kamu bruntung dong malam ini?’

“hehehe, iya…”

“udah pernah dengar lagunya Naif yang naik vespa blum?”

“udah… trus skarang ngalamin” (berharap dalam hati moga moga dijalan tidak mogok seperti dalam lagu)

“udah kemana aja di Jogja?”

“belum kemana mana, baru ke kopi joss di samping stasiun tugu” (kopi joss: kedai kopi yang menyajikan kopi hitam dengan celupan arang hitam disatukan dalam sebuah gelas)

Dan, tanpa mikir panjang, agar perjalanan terasa menyenangkan buat Ratih maka diriku pun yang memang berada pada posisi paling belakang dari rombongan, mengambil jalur lain dikarenakan ada banyak tempat yang ingin kuperlihatkan pada Ratih di kota Jogja yang memang baru terlihat indahnya dikala malam hari. Pertama kuajak dia menuju ke kopi joss yang sudah di datangin tadi sore, dengan maksud ingin memperlihatkan padanya kalau kopi joss itu ramainya kalo malam hari, dan Ratih pun kaget waktu melewati kopi joss yang ramainya bejibun dengan kiri kanan nampak duduk diatas tikar disamping trotoar jalan sering disebut lesehan. Tempat kedua kuajak Ratih melihat tempat nongkrong mahasiswa pada malam hari di Kalicode, yang dipenuhi oleh mahasiswa mahasiswa pecinta cerita dan secangkir kopi sepanjang trotoar jalan juga duduk secara lesehan.

“eh, ku pengen lihat UGM dong?” kata Ratih.

Dan dengan kecepatan kura kura pun kupacuh Jimmy menuju kesana. Disampainya disana, suasana nampak ramai pula dengan mahasiswa yang nongkrong di warung warung depan kampus dan duduk2 lesehan menikmati malam.

Ditengah perjalanan menuju Gubuk, kami ditemukan oleh rombongan anak anak yang lain yang ternyata sedari tadi menunggu kami berdua, dengan pandangan yang menyangka diriku membawa lari Ratih ke suatu tempat.

“weh, Armstrong kau kemana saja bawa temanku?” kata Dini yang nampak khawatir karna kami berdua lewat jalur yang lain.

“hehehe, cuman ngajak gw jalan jalan liat Jogja kok” jawab Ratih

“iya kok, gw cuman ngajak ratih liat suasana Jogja kek gemana kalo malam hari” jawabku.

Trus kulanjutkan “tenang aja, gw bakal jagain temanmu kok?” tanyaku pada Dini

Dan kawan yang lain pun melihat dengan keheranan karna jarang jaranganya diriku berani berhadapan denga cewe. Terutama si Mbek yang langsung menyindir

“wah, si Jimmy bakal dapat pelanggan kursi belakang neh?” dan semuanya pun terbahak tak karuan. Dan diriku pun merona (sungguh lebaynya diriku malam ini…).

Perjalanan pun dilanjutkan dengan iringan Budi dan Afgan di belakang yang jaga jaga kalo diriku nantinya salah jalur lagi. Tinggal sedikit lagi kita sampai ke kafe Gubuk, satu kejadian sial pun menimpa diriku dan yang kubonceng, yaitu kebandelan dari si Jimmy apalagi kalau bukan penyakit motor tua yang dinamakan “Mogok”. Sembari mengingat dalam benakku akan lagu dari Naif

Naik vespa keliling kota dengan hati riang… vespa mogok dijalan turun pula hujan…

Untuk saja malam ini tidak turun hujan, dan mulailah kuacak acak mesinnya Jimmy, dan tak sampai semenit Jimmy pun sadar kembali. Dan perjalanan yang tinggal sebentar lagi nyampai ke kafe Gubuk pun dilanjutkan.

Diam diam si Ratih nyanyi lagu Naif dibelakangku sambil senyam senyum. Diriku pun ikut bernyanyi dengannya.

Malang tak dapat ditolak, si Jimmy pun kembali mogok padahal baru jalan beberapa meter. Sial teriakku dalam hati.

“Ada apa denganmu Jimmy?”

“ Apa dirimu grogi karena bonceng cewe?”

“Apa karna dirimu memang grogi abis karna baru bonceng cewe lagi setelah hampir 2 tahun yang lalu terakhir bonceng sahabatku yang datang ke Jogja yang berasal dari Samarinda itu?”

“huh, Jimmy… oh Jimmy…”

Bagai orang jatuh dari pohon kelapa, ketiban buah kelapa pula. Hujan tiba tiba turun titik demi titik, semakin memperjelas lagu dari Naif yang Naik Vespa. Dan diriku pun berinisiatif tuk menyelamatkan Ratih dari kehujanan (halah), dengan menanyakan pada Afgan dan Budi yang dengan muka penuh tawa akan kebandelan Jimmy sudah standby di belakang kami dari tadi yang juga berhenti ketika Jimmy tiba tiba saja mogok tanpa aba aba terlebih dahulu (yaiyalah). Belum diriku menanyakan perihal mending ngantar si Ratih duluan aja ke kafe Gubuk si Afgan udah duluan mengajukan diri tuk mengantar Ratih duluan ke gubuk dikarenakan hujan sudah mulai turun. Dan Budi pun dengan tawa yang garing pun siap menemaniku mengobrak abrik mesin dari si Jimmy yang bandelnya minta ampun.

Hujan pun turun dengan derasnya. Ratih pun sudah sampai di kafe Gubuk. Diriku dan Budi pun masih sibuk menggedor gedor mesin Jimmy hingga akhirnya sadar kembali. Fyuhhhh…

Sesampainya di kafe Gubuk dengan agak basah kuyup. Diriku hanya diam diam menahan malu pada si Ratih, dikarenakan telah menyusahkan dirinya dengan kebandelan si Jimmy. Dengan sedikit keahlianku dalam menggambar komik pun mulai kukerahkan untuk minta maaf sama si Ratih, maka mulailah diriku menggambar sendiri tanpa ada satupun yang tahu di tengah keramaian anak anak yang lain pada main kartu remi.

Setelah gambar kartun Ratih pun selesai dengan latar gambar si Jimmy lagi mogok dan dengan raut muka Ratih di gambar itu yang lagi kesal selesai, maka kuberikan padanya sebagai tanda maaf karena telah merepotkan.

“neh, gambarmu dengan si Jimmy yang lagi mogok” sembari menyodorkan selembar kertas dengan gambar dirinya dengan si Jimmy disana

“ciyeeeeeeeeeeeee… suit suit…” teriak anak anak yang lain

“wahhh… makasih yah?” jawab Ratih

Lanjutnya “kagak apa apa kali, lagian juga mogok kan ga bisa diduga…”

Dalam hati kumerasakan sesuatu yang tak bisa diungkap dengan kata kata.

“eh, ntar klo udah balik ku dibonceng dengan Jimmy lagi yah sampai ke hotel?” ajak Ratih yang kukira sudah nyesal dan tak mau lagi naik Jimmy yang tukang mogok.

“hehehe, dengan senang hati kan kuantar, dan kali ini bisa kupastikan si Jimmy kagak mogok lagi…” jawabku sumringah

Jam pun menunjukkan pukul 02.00 saatnya tuk pulang. Dan kafe Gubuk pun sudah mau tutup dengan aba aba lampu lampu mulai dimatikan.

Diriku pun melaju ke hotel tempat Ratih dan Dini nginap, dengan hati yang menggebu gebu… Betapa senangnya malam ini pikirku. Dan dengan sukses dan tanpa mogok berhasil kuantarkan Ratih sampai ke hotel.

Seusai kuantarkan ratih ke hotel dengan perasaan lega, ku mulai beranjak pulang bersama kawan kawan yang lain ke kontrakan.

“makasih yah Armstrong? Besok besok kalo ke Jogja lagi pengen dong dibonceng pake Jimmy lagi…” kata Ratih

“okey… pasti kubonceng dengan Jimmy lagi dah, asal kamu kagak kapok aja dengan kebandelan Jimmy…” diakhiri dengan senyuman

“ngga kapok kok… malah ketagihan” sembari tersenyum nantang

“yaudah, gw balik dulu yah? Dagh…” senyuman terakhir malam ini, karna besok mungkin takkan ketemu lagi.

“dagh…” senyumannya manis sekali...

Beranjak pulang ke kontrakan, entah mengapa rasa senang yang terlihat berlebihan dari raut wajahku hingga sempat dipertanyakan dengan pertanyaan yang sudah bisa di tebak apaan oleh anak anak yang lain. Dan kujawab dengan singkat

“May be… hahaha”

Semenjak malam itu bersama dirimu, ehmmm Ratih. Dirku jadi keingat mulu dengan lagunya Naif yang judulnya Naik Vespa itu… tapi sayangnya lagunya cuman mirip sedikit dengan kejadian malam itu bersamamu…

Naif - Naik Vespa

Pergi di hari Minggu, Bersama pacar baru (keknya belum… :D)
Naik vespa kliling kota, Sampai binaria (sampai di kafe…)
Hatiku jadi gembira (Yupppp, pastinyaaa…!)


Sesampainya di sana, Duduk dua-duaan (huhuhu duduknya beramai ramai… :()
Makan roti buaya, Dengar lagu kita (minum kopi…)
Kita menari bersama (hahaha untung kagak sampe nari)


Di batang pohon kan kuukir nama kita, Tanda sayang selalu (kalo ini kuukir di kertas putih…)


Sore hari telah menjelang. Saatnya untuk pulang (hmmm malam menjelang pagi…)
Vespa mogok di jalan. Turun pula hujan. Berteduh kita di taman (hehehe… ngga pake berteduh ding))


Lihat 'dik itu melati. Indah nian berseri (hmmm mogoknya dekat kali’ :()
Kan ku petik untukmu. Simpan dalam hati. Nanti ku ambil kembali (hehehe, tenang kagak bakal kuminta kok kertas itu…)


The End…

*________________*

Walekumsalam...

Friday, March 20, 2009

Kedai Kopi Ningratri

Asalamulekum...

ningratri tampak dari depan...

Pertama tama kita akan membahas tentang arti, guna, dan makna daris I sebuah nama yang udah tak lazim lagi ditelinga kita yaitu… Kopi…

Kopi adalah termasuk biji bijian yang awalnya sebelum dipetik dari pohonnya ditunggu menjadi agak kemerahan, dikarenakan eh karena kalo belom warna kemerahan atau keijo ijoan belum matang brarti… (iya ga seh???)

Proses pembuatan kopi sebelum menjadi sebongkah biji bijian yang berwarna ke itam itaman seperti pada gambar yang beredar dipasaran pada umumnya, itu sbelumnya telah mengalami banyak improvisasi. Disamping pembakaran yang memakai alat tertentu dan kalo alat klasiknya yang di bakar dalam gerbong kecil yang tertutup. Di goyang goyang, diputar putar hingga warna kulit kopi agak kegosongan dan berwarna ke hitam hitaman.

Setalah kopi menghitam mulailah proses penggilingan menjadi serbuk halus yang nantinya tingga menunggu proses penyeduhan dengan berbagai macam cara, baik dengan hanya mencampurnya dengan air panas sajjah, atopun ditambahkan gula secukupnya, dan kadang pula di improvisasi dengan campuran susu, crim, dan malah ada yang sampai mencampurnya dengan kayu manis, dan bahkan kayu yang telah dibakar menjadi arang (biasa disebut kopi joss).

Umumnya kopi mengalami klimaks dari sebuah kenikmatan apabila dinikmati kala malam hari dimana mata yang mulai sayu kelelahan bisa menjadi agak segar dan siap menikmati malam dengan seutas cerita dengan kawan ataupun sekadar menghabiskan malam dengan berbagai macam kesibukan lainnya (contoh: lembur kerja, dll). Kadang pula kopi terasa begitu nikmat dalam lambung ketika diseduh dipagi hari, dikala mentari masih tampak mengantuk menunjukkan wujudnya diselah pepohonan membangunkan ayam yang langsung teriak kaget dengan nada ‘kukkuruyukkkkk’…

Tergantung dari seberapa senangnya seseorang terhadap kopi, dan seberapa berartinya kopi bagi tiap penikmatnya. Hingga ada sebuah kedai kopi bernama Ningratri yang kebetulan cabang dari kedai kopi legendaris dari kota pelajar Jogjakarta “Blandongan” yang mengatakan begini “selamatkan anak bangsa dari kekurangan kopi”… luar biasa kan!

Yah inilah bentuk ekspresi dari kecintaan terhadap kopi, kalao menurut tante “Dewi Lestari” aka Dee yang sampai membuat sebuah novel yang berjudul “Filosofi Kopi”, isi dari novel ini yang menjadi inti dari seutas kata tentang filosof adalah “tiap seduhan kopi dengan berbagai macam takaran dan campuran itu memiliki makna filsafat”. Hmmm that’s rights anyway…

Malam pun menjelang, lampu lampu jalan pun mulai menampakkan diri dengan semburan cahaya yang remang remang ditiap sisi jalan kota Jogja. Tikar tikar anyaman pun mulai di jalarkan di tiap sisi sepanjang jalan Malioboro, tanda penjual masakan khas jogja ‘gudeg’ siap berjualan. Maklum sebagian besar penjual makanan di Jogja memang baru buka kalo malam hari mulai menjelang. Apalagi hari ini hari sabtu, otomatis rame bangettttss…

Sepanjang jalan yang kulalui nampak lalu lalang orang orang yang habis beraktifitas, maklum jam sekrang udah nunjukkin 9.00 pm. Dan tak jarang si Jimmy (my scooter) meraung raungkan bunyi dari knalpotnya tanda iri pada sepasang muda mudi yang boncengan dengan pasangannya dan terlihat begitu mesranya… (ohwww noo!!!)

Dengan hati penuh suka dan duka akan hari ini yang telah berlalu kulaju si Jimmy dengan kecepatan diatas rata2, hmmm coba bayangin kecepatan kura kura sungai balap lari, kira kira begitulah kecepatannya.

Karena eh karena niat malam ne pengen keluar nyari inspirasi bwat gambar gambar di kertas sketsa gw, yang rencana bwat pemanis buku puisi gw yg lagi coming soon. Jadi, gw inisiatif mencari tempat nongkrong sembari menghirup udara malam dan menikmati secangkir kopi dengan nuansa lalu lalang kendaraan yang saling melaju berpacu dengan waktu, kupilihlah kedai kopi yang dekat dengan jalan raya, dan pilihan jatuh pada Kedai Kopi Ningratri. Tepatnya beralamat di Jl. Kaliurang km. 5 sebelah kiri sebelum ringroad.

Si jimmy pun melaju dengan senyum kecut…

Sekitaran 30 menit berlalu…

Sampailah pada tempat tujuan. Suasana nampak ramai oleh para pemuda, pemudi, maupun para lansia (hehehe, orang yg udah beruban termasuk didalamnya). Si jimmy gw parkir dengan gagah berani dan beradab di depan kedai. Hooo ternyata di kedai begitu ramainya hingga tak ada tempat untuk menyendiri, kan kebiasaan aneh gw itu menyendiri di tempat yang ramai… (aneh emang).

“Mas pesan Kopi Dewa” kata gw pada pelayan kedai yang lagi asik nonton pertandingan sepak bola liga Italia.

(Kopi Dewa: semacang kopi yang diracik dengan komposisi air dan serbuk kopi 50-50 dalam gelas yang berukuran agak gede, bisa dipesan dengan variasi susu jikalau mau. Harga cukup miring, hanya 4500 rupiah, dan rasa boleh lah!)

“okeh, bung!” jawab pelayan kedai.

Kutatapi wajah para penikmat kopi perlahan satu persatu, siapa tahu ada yang gw kenal. Senyam senyum kiri kanan (supaya nampak sebagai orang yg ramah) Dan ternyata hasilnya nihil kagak ada yang gw kenal!

Jalan mondar mandir nyari tempat yang kosong, dan mata gw tertuju pada sebuah kursi kayu memanjang disamping orang orang yang lagi sibuk bermain kartu remi bersama teman2nya.

“mas, boleh duduk disini?”

“boleh bung, monggo…” jawab salah satu dari mereka.

“sendirian aja bung?” Tanya si bapak tua yang botak, yang kebetulan pake vespa juga kek gw, yang lagi duduk santai bercerita dengan kawannya, dan dia nyapa karna gw pake vespa. Mengapa sesama pemakai vespa musti saling sapa? Karena eh karena anak vespa Jogja itu terkenal dengan solidaritasnya, dan bapak tua botak itu membuktikan kebenaran akan hal itu.

“iya neh pak, lagi pengen sendiri ajah…” (hahaha, boong abis dah gw. Sebenarnya kagak ada orang yang mau gw ajak keluar malam, karena eh karena kalo gw yang ajak pasti acara keluar malamnya sampai pagi hari menjelang, dan sedikit orang yang mau ikut untuk hal seaneh tersebut…) sambil tersenyum ramah…

Si bapak botak pun nanya2 lagi.

“kok kagak nongkrong sama klub vespa bung? Kan hari malam mingguan?”

“lagi absen pak! Malam minggu kali ini cuman pengen ngabisin sambil gambar2” sembari ngeluarin peralatan gambar gw dari dalam tas yang gw jingging sedari tadi..

“ohwww, tugas kuliah opo?”

“kagak pak, cuman iseng iseng berhadia aja”

“loh, emang bung mau gambar apaan kalo boleh tahu?”

“gambar sketsa biasa sajjah pak, ini ada project dari kawan katanya pengen digambarin ceweknya. Kan lumayan pak di kasi sebungkus rokok”.

“wah, kalo begitu tetap semangat lah bung”.

“yoi dong pak!”

Si bapak botak pun kembali ngobrol dengan kawannya yg cuman melongok senyam senyum meliat gw ngobrol dengan kawan ngobrolnya.

Kertas sketsa gw udah siap, pensil 2b gw udah kagak sabar pengen mengoras gores. Kopi Dewa yang di bawa ama pelayan juga udah tidak sabar gw seruput, namun didahului oleh sebatang rokok udah mulai mengepul diseantero muka gw, mencari cari dimanakah mood dan inspirasi itu berada. Tanpa aba aba terlebih dahulu mulailah dengan khidmat gw menggambar.

Baru 20 menitan gw menggambar, dan baru setengah dari gambar sketsa gw selesai, rokok udah sebatang ludes, dan kopi baru 5 kali gw seruput. Secara kagak disangkah sangkah gw mendengar obrolan menarik antara bapak botak dengan kawannya yang kebetulan duduk di meja dekat meja tempat gw menggambar. Kira kira begini pernyataan dari bapak botak itu.

“hmmm, apa yang jadinya jikalau generasi muda sekarang ini sampai kekurangan kopi”

“kira kira bakal kurang generasi muda yang sukarela dan dengan bangga bermaksud ingin membuat negara menjadi lebih baik, dimana negara kita ini semakin terpuruk dalam ruang lingkup keterpurukan.”

Heh? Gw melongok kagak ngerti… *&^%$#@

Kira kira apa hubungannya kopi dengan keterpurukan bangsa? Belum sedetik gw berpiki lebih lanjut akan hubungannya antara kekurangan kopi dan bangsa Indonesia yang sedang terpuruk. Teman ngobrol dari bapak botak pun langsung melanjutkan jawaban dari pernyataan bapak botak.

“coba bayangin kalo negara kekurangan kopi, maka akan banyak kedai kopi yang tutup, dan kalo kita cukup teliti mengamati dengan seksama maka akan kita dapatkan para mahasiswa dengan jurusan yang saling berbeda ataupun satu jurusan, jurusan apapun itu, dengan secangkir kopi yang membuat mata melek dan pikiran melayang jauh ke mana mana, secara tak langsung saling bercerita akan pekerjaan apa yang bakal mereka teruskan nantinya dikala selesai kuliah”

Dan bapak botak melanjutkan…

“dan dikala cita cita secara tak langsung sudah diutarakan bersama kawan2, maka itu pun akan menjadi tonggak awal dari sebuah kesuksesan, ingat peribahasa yang mengatakan mulailah segala sesuatu dengan perencanaan…”

Temannya bapak botak menyambar dengan kata kata bijak pula…

“cerita tuka cerita menghasilkan berbagai macam ide untuk menjadi lebih baik, maupun hanya obrolan atau diskusi kecil kecilan di kedai kopi ditemani secangkir kopi yang semakin memperseru obrolan dikala mata seharusnya lelah telah menjalani pagi hingga sore menjelang dengan aktifitas kuliah dan berbagai macam hal yang tidak bisa dilakukan pada siang hari yaitu ngobrol ngalur ngidul kata orang jawa yang artinya ngomong yang menjalar kemana mana”

Bapak botak kembali beraksi dengan kata katanya…

“yah betul… ngobrol ngalur ngidul itu bisa ngabisin waktu yg tak seharusnya dilakukan kala beraktifitas, seperti kuliah ato kerja, karna kalo kuliah yg diomongin yah tentang pelajaran dan pelajaran, dan kalo kerja yah seputar kerja dan kerja… dan biar bagaimana pun tetap dan bahkan perlu ngomong ngalur ngidul itu ada… dan malam hari adalah waktu yang tepat… ditemani kopi sebagai penyemangat”

Hmmm, betul juga se menurut gw itu penting. Dan memang sebagai mahasiswa sulit membagi waktu ngobrol dikala pagi menjelang sore dikala aktifitas kuliah numpuk2, pasti dibatasi dengan tugas ini lah, ataupun jadwal kuliah, dan kalau dilakukan malam hari kayaknya pas sekali. Bercerita seputar pelajaran pada malam hari pun sebenarnya bagus dan tepat sekali, disamping sengatan sinar matahari begitu membuat otak menjadi encer dan sulit berfikir, rembulan dimalam hari membuat otak menjadi tenang dan semilir angin malam tambah mempersyahdu pikiran pikiran jernih keluar. Ditambah dengan kopi… euyyyy maknyuzzz tenannn…

Jadi kesimpulan dari obrolan bapak botak dan temannya bercerita akan jadi sia sia pikiran jernih para generasi muda dikala saatnya malam tiba untuk bercerita dan bertukar pikiran seputar dan tentang apapun jadi terhambat karena adanya ngantuk dan rasa lelah beraktifitas selama seharian dan susah ditahan tanpa adanya bantuan dari sang kopi.

Tak disangkah dan tak diduga pagi pun menjelang dengan cepatnya. Sketsa gw udah kelar dari tadi, ditambah satu buah puisi yang berjudul “Ningratri” (mungkin bakal gw posting pada postingan berikutnya).

Kira kira beginilah cerita tentang kedai kopi ningratri yang buka 24 jam non-stop meladeni para pecinta kopi. Yang akhir2 ini menjadi tempat kunjungan favorite gw untuk mencari inspirasi dikala ada project menggambar ataupun untuk merampungi project pembuatan buku puisi gw.


Walekumsalam...