Sunday, January 06, 2013

Mereka Yang Bertanya



Terdengar rintik hujan dalam ruang kosong itu,

Tak ada siapa dan hanya mereka,

Tak usah bertanya ada apa

Coba dengarkan suara mereka,

Lepas bercerita tentang sunyi dalam keinginan,

Tak ada tindak dan hanya rintikan,

Perlahan hingga rintikan berubah ketukan,

Diam dan dengarkan,

Jangan bertanya tentang mengapa,

Bagaimana, kapan, dan siapa,

Dengarkan sekali lagi sebelum mereka pergi,

Diam dan jangan bertanya lagi,

Ketika mereka telah pergi nanti kau ingin lagi,

Jadi diam dan biarkan,

Desahan mereka pudar,

Diam semua,

Hujan telah pergi…

Jombor, 31 Desember 2012, 23:20

The End of Last Year


Semua hal kau harapkan akan selalu ada dalam hidupmu, satu persatu akan pergi dan menghilang, meninggalkan jejak yang tak lebih dari sebuah kenangan, kadang membuatmu tersenyum, merindukannya, dan ingin agar kenangan itu kembali terjadi dalam kehidupanmu. Tapi tak pernah, semua tak lebih dari jejak, seperti jejak telapak kaki di pinggir pantai yang kemudian hilang tersapu ombak. Demi keegoisan, kadang kau ingin kenangan itu tetap ada, waktu coba kau lawan, dan semua rintangan seolah tak pernah ada, seolah hidupmu akan selalu sama selama ribuan tahun kedepan. Pernahkah kau sadar kalau dunia ini bukan hanya rumah yang kini tempati tinggal? Bukan hanya kota tempat kelahirmu yang selalu kau banggakan, dan bukan hanya tempat ini, dimana dulu hingga sekarang kita masih tetap setia bertukar cerita disini, tapi hanya ada kau dan aku, tak ada yang lain.
Kemarin, tepatnya sekita 5-6 tahun yang lalu, kita memanggil kata teman satu sama lain. Tertawa bersama, mabuk bersama, menulusuri tempoat keramaian hingga tempat paling sepi berdua, hanya berdua dan tak ada yang lain. Kita tak jarang menyandang panggilan gila, tapi apalah itu kegilaan jika ternyata mencari kesenangan pun tak bisa.
Jombor, 31 desember 2012, 23:12

Thursday, December 06, 2012

Nanti Ketika Pergi

Nanti ketika pergi, seperti matahari yang kini telah terbenam dan muncul lagi, apa kau nantinya akan datang kembali?

Nanti ketika pergi, akankah ingatan bisa pudar seperti warna yang nantinya akan kusam? Menghilang tak berbekas hingga nantinya tak perlu disesali...

Nanti ketika pergi, bolehkan mengharap kenangan berupa hujan yang menyisakan pelangi...

Nanti ketika pergi, mungkin ada yang lain akan mengganti...

Nanti ketika pergi, jangan ada lagi pesan yang tak sempat disampaikan seperti pesan dari api yang tak sempat disampaikan pada kepada kayu sebelum menjadi tiada...

Somewhere, December, 6, 2012, 09:08am

Wednesday, November 14, 2012

Question and Answer

              Seandainya dosa tidak pernah ada maka pahala tidak pernah ada, pahala tidak pernah ada maka dosa tidak pernah ada, tidak ada salah maka benar tidak ada, tidak ada benar maka salah tinggal rencana, cinta dan benci, sepi dan ramai, keberuntungan dan kesialan, cantik dan jelek, jahat dan baik, hujan dan kemarau, bahagia dan sedih, hidup dan mati, menang dan kalah, gelap dan terang, kering dan basah, pintar dan bodoh, sakit dan sehat, bahkan Tuhan dan Iblis, hampir semua hal memiliki kebalikan...

              Maka bagaimana dengan waktu? Kalau begitu siapa yang bisa menyalahkan waktu? Bahkan perbandingannya pun tak ada, bagaimana pun waktu selalu menang dan tak pernah tahu kata kalah...

               Semua menjadi tunduk pada waktu, bahkan muda pun larut dalam waktu dan tak terasa tua pun menjelma, yang baru menjadi lama, malam menjadi siang, dan bahkan semua hal ditentukan lewat detik ke detik dari waktu. Bahkan seandainya waktu tak pernah ada maka semua hal takkan pernah ada, takkan ada Nabi sebagai utusan Tuhan, takkan ada agama yang membawa ajaran Tuhan, takkan ada kitab suci dan berbagai aturan tentang agama, bahkan bumi dan seluruh alam semesta pun takkan pernah ada jika waktu tak pernah ada.

              Mengapa semua orang terlihat diam dan tidak agresif menanggapi respon dari waktu? Bahkan kematian pun takut pada waktu, kematian hanya akan menjadi ingatan lewat campur tangan dari waktu...

Somewhere, 14 November 2012, 22:41

Saturday, October 20, 2012

Dibuai Oleh Hujan Imajiner


Kau datang kesini, bercerita bahwa hidup tak selamanya linier dan hati tak selamanya tersier, padahal kau tak pernah mau tahu arti dari hidup, juga arti dari cinta. Kau dengan bangganya berkata bahwa hidup cukup dibawa santai dan tak usah terlalu dipikirkan. Aku terdiam mendengarkanmu bercerita, walau beribu penolakan dalam hati ini hendak berteriak, aku tetap diam, entah mengapa, aku hanya ingin mendengarkanmu bercerita, melihat ekspresi kekesalan yang tetap dianulir dengan senyuman terpancar mantap dari wajahmu ketika bercerita. Kau bilang waktu terus berjalan, sesekali berbalik belakang dan mempelajari kesalahan, tiap langkah itu kesalahan, apalagi kita masih muda, tiap kesalahan butuh perbaikan dan jika masa muda adalah tempat berbuat kesalahan maka masa tua atau masa dewasa adalah kebalikan dari masa muda. Kira kira begitulah kau bertesis tentang kehidupan, tentang metafora menjadi manusia yang benar benar manusia, tak hanya manusia yang berakal namun tak pernah menggunakan akal secara maksimal, manusia  yang berperasaan dan tahu benar menggunakan perasaannya.

Kau mencoba banyak hal yang kamu sukai, kau tahu bahwa kau akan gagal dan gagal, tapi kau tetap tidak peduli dan terus melangkah dengan kegagalan lainnya. Aku senang melihat kau seperti itu. 

“bagaimana dengan pikiran dan perasaanmu lewat goresan pensil dan penamu diatas kertas itu? Apa kiranya maksud dari semua itu?” tanyamu waktu melihat aku sedang menggambar.

“kehidupanku ada diatas tiap goresan pena dan pensil ini, aku coba menyerapi semua hal yang ada lewat menggambar” jawabku sekenanya.

“menurutmu apa itu kehidupan?”

“tak tahu. Kalau menurutmu apa itu kehidupan?”

“kehidupan itu hujan, datang bergerombol dari kegelapan, jatuh ke bumi dan memberikan kehidupan pada tiap hal yang terkena airnya. Kira kira seperti itulah.”

“kalau di musim kemarau seperti ini bagaimana?”
                                       
“gampang, bukannya kau tahu bahwa dari 100 persen dari pikiran manusia harusnya 98 persen imajinasi dan 2 persen ilmu pengetahuan? Iya kan? Jadi tinggal membuat hujan imajiner saja. Hidup tak usah dibuat susah, dipermudah dengan permainan pikiran saja, sedikit senyuman, dan anggap saja semua masih baik baik saja.”

“oh begitu…” jawabku sambil tak berhenti menikmati ekspresi dari wajahnya yang polos dan tanpa dosa, tapi sepertinya memang dia jauh dari dosa karena dapat dilihat dari pakaiannya dan segala macam hal yang melekat ditubuhnya menandakan dia seorang hamba Tuhan.

Jombor, 20 Oktober 2012, 07:35

Friday, August 24, 2012

Birthday 24

Yesterday on 23 August 2012 is my 24 birthday, no one say some word of congratulations just like other people when they on birthday. Really I dont care at all, but I just feel little bit ridiculous and, and sad. I dont know what to say when you was 24, I mean young and no one be your best friend, I mean someone that trusting you, someone that give you a part in their life, when your celebrating day come and they with pleasure will celebrate it together with you. I feel alone and ridiculous as clown known.

Well if the reality give this moment for me, then I will accept it in my life, save it in my memories as reminder, that my words that have saying long time ago is being real. "People born alone, work alone, success alone, win alone, and die alone...". What I already say is my consecuen when it prove into my life, so the point is I wouldnt say that I am sad while I am sad, I will say I am heavenly happy because my words come true.

Happy birthday for my self.

Thanks my shadow to be my partner all the time, shaking my hand when I celebrate something, hold my shoulder when I feel something, hug my dream when I feel down.

Because I never know what is sadness and happines. Both of them is come together in my meditation.

Monday, August 20, 2012

Animus Ambitiosus



Rain fall in the summer time,
Leave those trees on the withered,
Repudiate a void,
Make a bland taste, 
Paralyzing the expectance,
Considering by turn head in hand ,
Nothing more,
Changing core,
Nevertheless,
As people always like,
As people hopely right,
As people express too high,
Where the hiding shines appear,
When the shines of truth appears, 
Who will be the one to be,
As a matter of questionable,
As a matter of looking at the answer,
As a matter of simple swear,
I say no when you say yes,
You say good bye when I say hello,
Suddenly disappear and gone,
Even I haven't say apologize,
While the time try to chime,
Close the ears by drop the tears,
I am on my own,
I am as stupidity,
Less sense of  approximately,
I wanna going to hide,
Sleep on the reel of real,
Now the psyche on the seal...


Purwokerto, Monday August 20, 2012, 23:42

Saturday, July 21, 2012

Somnium et Mulier (Dream and Her)



“Don’t ever say that I never try, I trying hard to work it out,
I still didn’t understand when you come to take my hand,
If you got something to say, better to say it to me now...”

Seminggu berlalu begitu cepat hingga tak terasa aku telah terbebas untuk sementara dari jejaring mimpi dan kenyataan, yang aku pikirkan hanyalah apa yang terjadi dalam seminggu itu, seminggu dengan dia. Seminggu sebelum bertemu dengannya aku merasa bahwa hidup ini hanya ada aku dan mimpiku, kenyataan hanyalah kesempatan untuk membuktikan keberadaanku pada sekitar, yaitu keluarga. Satu hal yang tak pernah kurasakan seminggu sebelum bertemu dengannya adalah rasa dibutuhkan, siapa pun aku rasa akan melupakan apa yang menjadi keharusan jika ternyata apa yang anda cari adalah kebutuhan, kebutuhan yang dapat menghasilkan ribuan senyuman dan rasa bahagia, kebutuhan yang membuat anda ingin agar tiap momen yang terjadi dapat terekam jelas dalam ingatan. Namun, seminggu setelah kepergian dia, semuanya luluh lantak layaknya seperti bangunan istana megah yang seketika melumer dan mencair seperti es krim, keindahannya dan kemegahannya pun belum sempat dinikmati dengan sepuas hati lantas hilang begitu saja.

Pikiran datang mengganggu, mimpi yang telah kubangun dari 7 tahun yang lalu tiba tiba terlupakan begitu saja, serasa aku telah berselingkuh dan mencampakkan mimpiku. Pikiran pun berkata

“Apa kau sudah tak mau lagi mengejar dan membuktikan pada kenyataan akan mimpi mimpimu itu anak muda? Mimpi yang tadinya hanya berupa benang kusut tak berguna, hingga kau sulam menjadi sebuah pakaian yang layak dan enak untuk dipakai. Mimpi yang tadinya hanya berupa sebongkah tanah liat tak terurus, hingga kau sulap menjadi sebuah patung yang bagus dan mempesona orang yang melihat. Kemanakah rencanamu untuk mengukir tiap hari langkahmu diatas karya?”

Bisikan itu terus menghantui, membuat bayangan yang semula kabur hingga tampak menjadi semakin nyata, semuanya terjadi semenjak seminggu aku bersama dengan dia. Aku bingung ketika hatiku pun ikut ambil bagian dalam perkelahian antara aku dan pikiranku. Hati dengan kalemnya berkata

“Kau sekarang tengah dilema, kau harus memilih antara satu, memilih dia atau mimpimu”

Aku duduk melamun, membayangkan ketika keduanya dapat kupertemukan, mempertemukan dan kalau bisa mengakrabkan dia dan mimpiku. Membuatkan mereka berdua ada diantara hati dan pikiranku. Namun ketika pikiran tahu akan rencanaku ini maka dia pun menasehati dengan bijak

“Anak muda, kau masih muda dan jalan yang hendak kau tempuh masih panjang dan berliku, kau nanti akan sesekali terjatuh dan bahkan mungkin akan merasa begitu senang hingga kau merasa dapat menyentuh awan. Tapi ingatlah, kedua hal yang tengah kau rencanakan untuk dipertemukan akan begitu sulit untuk dipersatukan, apalagi membuat keduanya berjalan bersama dibawah kendaliku sebagai pikiranmu dan dibawah kendali perasaan sebagai perasaanmu. Namun yakinlah dengan mimpimu, karena mimpimu takkan pernah mengecewakanmu. Dan bagaimana dengan dengan dia? Apa dia takkan mengecewakanmu suatu saat nanti? Dan jika sampai dia mengecewakanmu maka tak hanya aku sebagai pikiranmu yang kesusahan, sedangkan perasaanmu yang sangat sensitif itu pun akan menjadi gila, dan yang paling penting dari semua dalam hidupmu adalah mimpimu, mimpimu akan hancur lebur menjadi debu. Pikirkanlah anak muda!”

Aku tak pernah tahu akan cinta seperti layaknya orang kebanyakan yang begitu mudah mengungkapkannya dengan kata kata dan tindakan, aku hanya merasa bahwa kebahagiaan itu melebihi segalanya. Karena satu hal yang manusia cari di dunia ini hanyalah kebahagiaan, membahagiakan keluarga, sahabat, teman, dan bahkan orang yang tak dikenal yang ada disekitar manusia tersebut. Aku dan dia, dia yang selalu membuatku bahagia walau hanya seminggu bersamanya, dan setelah seminggu berlalu semenjak aku tak bersama dia lagi, ada kekosongan yang melenakan, membuatku merasa ingin menjauh dari kenyataan, ingin menjauh dari tindak-tanduk pikiranku yang susah untuk dikendalikan, ingin menjauh dari perasaanku yang selalu saja terlalu sensitif dalam menanggapi berbagai macam hal. Aku hanya ingin berdua dengan mimpiku saat dia telah jauh.

Ada ketakutan waktu aku bersama dengan dia, ketakutan akan kehilangan mimpiku. Berbagai rencana kuperbuat dengan begitu bodohnya hanya agar dia bisa menjauhiku, namun ternyata yang kudapat lebih dari itu, dia pun membenciku seperti benci siang pada malam yang tak pernah ingin bertemu.

Tapi mimpiku takkan pernah meninggalkanku.
Untuk Retno
JNM, 20 Juli 2012, 14:55

Friday, July 06, 2012

Life, Death & Reincarnations



People born alone,
Die alone,
Waiting for new reborn...
Walk on the straigh side,
Think I was on the right line,
People know how to wisely wise,
But still stay tight on the silly face...
Write a story,
Begun to play,
Trying to replay...

Copernicus bilang kalau bumi hanya sebagian kecil benda di luar angkasa yang berputar mengelilingi matahari, matahari tak pernah mati, seperti ilusi terbenamnya matahari sebelum malam datang. Malam hanya perantara dan pembukti jika ternyata bumi berputar, berputar sembari mengelilingi matahari. Semua manusia hanyut dalam ingatan dari para pembual yang mengatakan jika matahari telah terbenam maka saatnya merebahkan raga menunggu matahari kembali datang, padahal matahari tak pernah pergi, manusia dan bumi tak pernah lepas dari pandangan matahari, matahari sang penguasa waktu. Cahaya buram dari bulan contohnya, matahari hanya berpura pura memantulkan cahayanya lewat bulan, dia melihat lewat pandangan lain yakni lewat keburaman cahaya bulan pada malam hari, apa manusia awas dan selalu bergerak, tak menghabiskan waktu yang telah dikuasai oleh matahari sejak jutaan tahun yang lalu dengan berleha leha dan tak melakukan sesuatu.
Musa pun datang ke atas puncak gunung Sinai sembari mengacungkan kedua tangannya keatas langit, meminta agar Tuhan menunjukkan wujudNya pada Musa, namun hanya cahaya saja yang nampak lantas Musa pun kehilangan kesadaran. Cahaya, ya cahaya dari matahari! Apa Tuhan itu matahari?
Maka mulailah perandaiaan angan menuju 10.000 tahun yang lalu di daratan dekat Laut Merah, Mesir. Pada zaman ketika para raja atau penguasa manusia masih bernama Firaun, Firaun di ibaratkan keturunan dari Tuhan, makanya setiap manusia pada zaman itu rela untuk menjadi budak, dicambuk untuk bekerja, bekerja dan hanya bekerja yang mereka lakukan, lihatlah hasilnya bahkan hingga sekarang hasilnya masih bisa nampak jelas di mata manusia, hamparan piramid. Sedangkan Firaun sendiri masih mempunyai Tuhan yang telah mereka percayai sejak keturunan Firaun pertama, entahlah, sejarah pun mengalah untuk mengetahui secara jelas kapan Firaun pertama ada. Tuhan dari paham Animisme atau kepercayaan leluhur dari Firaun konon bercerita bahwa dahulu kala Dewa Matahari turun ke bumi dan mengubah dirinya menjadi manusia bernama Ra. Singkat cerita Ra mempersunting satu satunya wanita pada masa itu, entah dari mana datangnya, ada yang bilang kalau ada begitu saja sebagai wanita pertama di dunia, ada yang bilang kalau datangnya dari mata air sungai nil, ada pula yang mengarang mengatakan kalau datangnya dari salah satu bintang dari atas langit, wanita itu Isis. Hasil dari perkawinan mereka adalah Horus atau yang sering kita dengar dengan sebutan Hours atau jam atau waktu. Waktu?
Matahari, kepercayaan leluhur, dan waktu. Dari jaman purba di daratan Eufrat dan Tigris pun sama halnya, mereka menerka waktu, menghitung waktu, hingga di jaman ketika Romawi sebagai penguasa ilmu pengetahuan dan penguasa daratan, di buatlah kalender yang hingga sekarang kita pakai. Semuanya dimulai dari lahirnya matahari baru setelah bulan desember, waktu dimana bumi mengelilingi matahari tuntas satu kali putaran, 365 hari, 12 bulan. Matahari terlahir kembali? Reinkarnasi?
Lantas dimana manusia perginya setelah kematian? Jika matahari ternyata terbit kembali setelah malam berganti pagi, jika matahari kembali hadir dan menstabilkan suhu bumi hingga musim pun lahir setelah 365 hari, jika ternyata matahari adalah penguasa waktu, dan bagaimana jika ternyata matahari itu adalah jelmaan Tuhan?
15.000 tahun yang lalu datanglah dua manusia pertama yang mempercayai keberadaan Tuhan, masa ketika setiap orang menyembah pada apa yang disepakati untuk di anggap agung, seperti pohon raksasa, gunung, api, dan lain sebagainya. Dialah Adam dan Hawa, dimana lewat keturunan mereka lahirlah agama agama yang beda masa maka berbeda pula cara dan hukum hukumnya. Noah atau Nuh yang membawa kitab Zabur dan entah apa nama agamanya, Musa atau Moses dengan Yahudi, Isa atau Yesus dengan Kristen, dan Muhammad dengan Islam. Semuanya berbeda dalam berbagai macam hal mengenai peribadatan, hukum-hukum, aturan, nama untuk Tuhan dan lain sebagainya, namun tetap saja satu artian dan tujuan mereka kepada Tuhan, semuanya pada takluk pada Tuhan, semuanya tidak bisa menjabarkan atau mencitrakan Tuhan, semuanya sama menganggap bahwa Tuhan adalah pencipta alam semesta beserta seluruh isinya. Menurut tiap agama ini, bahwa setelah kematian manusia, maka roh manusia itu akan menuju ke surga, apa itu surga? Apakah surga itu adalah tempat dimana manusia di lahirkan kembali dan melanjutkan kehidupan? Atau karena surga itu adalah tempat bersemayam Tuhan? Dimana disana nanti manusia bisa berinteraksi dengan Tuhan, namun sia-sia saja karena tiap agama tersebut diatas tidak mengatakan seperti itu, disana Tuhan pun masih berperan sama seperti ketika di bumi, Tuhan sebagai tempat meminta.
Sekitar 15.000 tahun yang lalu di India sudah ada kepercayaan mengenai Hindu, dimana Tuhan mereka di buat menyerupai patung yang dikenal sebagai Arca. 5000 tahun sebelum masehi di Yunani pun sudah ada kepercayaan yang mencitrakan Tuhan mereka pun dari patung yang menyerupai manusia namun tanpa pakaian, kepercayaan Pagan. Ribuan tahun sebelum Colombus menemukan benua Amerika pun suku Indian sudah memiliki kepercaya bagaimana dan apa Tuhan mereka, cara peribadatan, dan lain sebagainya. Buddha, Confusius, Zoroteism, dan berbagai macam agama lainnya di dunia ini pun memiliki aturan, hukum-hukum menurut ajaran mereka. Namun satu satunya yang dengan lugas mengatakan bahwa setelah kematian manusia maka akan dilahirkan kembali menjadi bayi untuk menyempurnakan kehidupan sebelumnya, yakni Buddha. Tapi Buddha tidak memiliki Tuhan seperti agama dari Adam dan Hawa atau seperti Tuhan yang lain dari ajaran yang lain, apa ajaran mereka bisa dikatakan sebagai agama jika tidak memiliki Tuhan? Lantas di mana letak Tuhan di ajaran mereka? Apa mungkin mereka menganggap bahwa setiap manusia yang telah menunaikan kesempurnaan hidup di dunia, menunaikan kebajikan tanpa henti pada tiap manusia dan pada alam, setelah kematian dan dilahirkan kembali lewat renkarnasi, hingga nantinya mereka menuju ke Nirwana maka mereka akan menjadi Tuhan? Saya tidak tahu, dan saya rasa mereka pun tidak menganggap seperti itu.
Ada kematian maka ada kelahiran, apa karena ada kelahiran lantas ada kematian? Apa pun itu, matahari takkan pernah mati, manusia dan ilmu juga takkan pernah mati, tak ada sesuatu yang baru di dunia ini, sama seperti malam berganti siang, ilmu hanya berlanjut dan berkembang tak jauh berbeda dari metamorfosis dari kupu kupu; dari telur menjadi larva, larva menjadi kepompong yang mirip dengan telur, lantas lahirlah kupu kupu.
Cerita ini hanya sepenggal cerita dari abad ini, satu dari jutaan orang yang coba bercerita tentang manusia; kematian, kelahiran, dan reinkarnasi. Reinkarnasi dalam artian dua orang menjadi satu, ada ibu dan ayah dalam satu bayi, begitu seterusnya. Ada diri anda pada keturunan anda, walau anda sudah mati. Surga kemungkinan seperti janin dalam kandungan, tak dapat diprediksi secara mutlak, kematian dan kelahiran ada disana tanpa ada satu pun yang bisa memastikannya.
Lantas apa itu kepastian?

Sebelah Barat Yogyakarta, 26 Juni 2012, 17:46