Sunday, September 27, 2009

"Blind Bird"

Asalamulekum...





Shining sun rising behind the hill,
Blurring out view when sun set hide away on the blue seas...

Clouded coat of the darkness,
Followed the moon with thousand little stars smiling around...

How wonderful the world,
Cheated shine by the sun in the morning,
Sun go down when the night has come...

How wonderful the world,
How fortune enough the eyes...

How pity that blind bird,
They can feel the world by flying crossing through the sky,
Find fabulous place that only them able to seeing,
Spread their wings fly away to the somewhere...

But...

Without an eyes of blind bird,
how does it feel...

Kantin Pojok, May 09



Walekumsalam...

Saturday, September 19, 2009

Timang Timang Anak Bunda

Asalamulekum...


Timang Timang Anak Bunda

Ku senantiasa elu elukan usapan lembut jemarimu kala menggerayangi sekujur tubuhku dengan penuh limpangan kasih sayang...

Ku sesaat terlelap dalam hangat pelukmu tersimpuhku dalam indahnya mimpi mimpi yang kau ceritakan hingga malam datang berganti pagi menjelang...

Timang timang anak Bunda... Lantunanmu penuh kegemasan saat itu...

Tiada kata dinginnya malam menusuk tiap pori porimu, pula terik matahari yang luar biasanya menyengat, namun dirimu Bunda tetap setia ada menemaniku dengan penuh rasa haru bahagia...

Timang timang anak Bunda... Kala ku mulai merengek manja padamu...

Kini anakmu telah beranjak merangkak menelusuri selur belur keadaan sekitar tuk menuangnya kedalam ember pikiran...
Bunda tersenyum mengarahkan dengan senyuman dan hangatnya belaian...

Timang timang anak Bunda... Kini mulai jarang kudengar...

Kedewasaan hendak anakmu gapai lewat perantauan meninggalkan teduh naungan atap rumah...
Bunda seakan tahu nantinya anakmu kan beranjak jua, dan doa Bunda pun seakan tameng pelindung tiap langkah...

Timang timang anak Bunda... Kini samar terdengar dari kejauhan...

Sepanjang galah tak ada kata henti hingga terpampang nyata sebuah mimpi didepan mata ini...
Cinta anakmu pada Bunda pun begitu besarnya dan tak terukur hingga akhir hayat nanti...

Jogja, 15 September 09

Seorang anak bodoh perantauan dengan Bunda-nya...
Miss You So Mom...


Walekumsalam...

Sunday, September 13, 2009

Light on My Cigarette

Light on My Cigarette

On the holly's night, behind mango's tree,
One of butterfly rolling my scared face...

Sometimes I hope the name of death doesnt come on busy time,
Dispute we know holidays is the best time to die...

Before sun go down and before sun arise...

Pray for the past, wish for the brightness come on the present, and unknowing thought suddenly come...

On the lights of my cigarette...

Feel like life without home...

My best friend to share on my side called a coup of coffee...

Hmmm... Wonderful time on peace...

I dont need something else...

I guess it could be disturb me...

And here at this moment still waiting a die call my life...

(Jogja, Feb, 09)

Tuesday, September 01, 2009

Nampak Sepi dan Gelap

Asalamulekum...





Mentari terik mencekik ragaku kala hendak kuberanjak dari kasur nan tak empuk ini, suasana jelang siang ini sangat mendukung dengan yel yel ‘kembalilah tidur’ mengiang ngiang tanpa hentik disekitar daun telingaku.

“sudahlah Iblis, kutahu kau ingin menggodaku dengan bujuk rayumu yang telah terkenal seantero jagad itu. Namun ku tak ingin diperintah oleh makhluk yang tahu apa sebenarnya ada atau ada hanya karena phobia takut manusia terhadap Tuhan, maka adalah dirimu”

Suasana hening tanpa ada seorang pun dalam kamar ini membuat otakku tak normal lagi tuk berfikir, hingga sesumbar kata mirip teriakan ku ucapkan.

“Iblis, sejarah mengatakan bahwa kau berhasil merayu Adam dan Hawa hingga mereka di usir dari keabadian Surga, dan dilempar ke bumi, tempat dimana manusia berada sekarang dengan beribu tingkah mirip binatang”

Sejenak hening kembali datang. Tanpa suara.

“Iblis, kenapa kau tak mau sekedar hanya bertukar sapa denganku?”

Tak ada suara yang membalas sapaku, lampu yang menyala dalam kamar sedari tadi malam ku padamkan. Tirai gorden kamar kutup rapat, tak ingin ku diganggu sinar busuk mentari sialan itu. Ku benci matahari yang membuatku kehausan dan panas yang tak terkira. Mentari pun masih mencoba menembus tirai gorden seperti mengintipku dalam diam tanpa kata. Handuk dan beberapa pakaian tebal kekeluarkan dari dalam lemari tuk menutup tiap cahaya mentari yang masih saja tak mau mengalah masuk kedalam kamar. Dan suasana kamarku kembali larut dalam kegelapan. Senyum pun kukembang.

Malam kelam dan gelap sangat membuatku bahagia, tak ada kebisingan kendaraan saling berpacu, tak ada jerit kondektur bus teriak teriak mencari penumpang, dan tak ada manusia yang keluar rumah sekedar tuk beranjak menuntaskan aktifitas serba formal yang itu itu saja dan begitu sangat membosankan.

Tak adakah malam abadi dibagian bumi ini?

Tak adakah sinar hangat rembulan yang tak mati kala mentari datang jelang pagi?

“hahahah, anjing mana ada” teriakku

Kemana semua kawanku saat ini, ku ingin bercerita. Hanya ingin bercerita tuk mengurangi rasa sepi yang menajalar ke sekujur tubuhku, mengalir dalam tiap desir darahku. Hingga membuatku ketagihan tiap saat, dan tak ingin menjauh darinya. Kegelapan hari hari dan kenangan lalu semakin memperpedih langkah ini tuk melangkah, terutama kala mentari bersinar.


(Jogja, Ulang Tahunku ke 21 untuk semua Temanku)

Walekumsalam...

Monday, August 03, 2009

Tuhan, Mendengarkan Kau?

Asalamulekum...



Tuhan, ada beberapa Agama yang jadi ajaran untuk hidup lebih baik yang Kau cipatakan, dengan beberapa orang Nabi yang datang sebagai perantaraMu, pula beberapa Kitab Suci yang kesemuanya berbeda namun tetap satu tujuan yaitu tuk memujamu...

Tuhan, tak pernah kudenganr dalam beberapa Agama ciptaanmu dan Kau utus di muka bumi ini mengizinkan menghilangkan nyawa sesama manusia ataupun menghilangkan nyawa sendiri, namun realitas membuktikan bahwa kesemuanya sudah banyak mengakar diberbagai penjuru bumi, dan mereka para pelaku sebenarnya tahu akan berujung di nerakaMu...

Tuhan, menurutku dirimu itu ada untuk apa dalam hidup makhluk ciptaanMu belum secara pasti ku tahu...

Tuhan, entah berapa banyak dosa dan pahala yang telah kulakukan tak pernah sedikitpun kucoba ambil tahu, tentunya pula kusadari takkan pernah bisa walau kucoba segenap raga berusaha tuk tahu...

Tuhan, adakah nyata diriMu? Melihatkan kau pada biadabnya makhluk ciptaanMu di bumi ciptaanMu? Mendengarkankah kau akan derita makhluk ciptaanMu yang senantiasa tanpa henti memohon belas kasih dan sayang dariMu?

Tuhan, kini semakin besar keraguan yang berkecamuk dalam perasaan dan pikiranku ini akan ada dan nyatanya diriMu...

Tuhan, apa salah atau benar tindakan makhluk ciptaanMu yang sedikit melenceng tuk tak mengakui keberadaanMu?

Tuhan, dari dahulu kala kucari tahu tentang diriMu dalam buku sejarah, dan pula kubaca dari beberapa kitab suci tentang ada nyatanya diriMu tergambar disana, memberi bukti bahwa memang layak makhlukmu mengagumi tanpa henti dengan balutan ketakutan tuk menjauh sejengkal pun dariMu...

Tuhan, tapi itu sekarang hanya seperti cerita dongeng yang telah usang dimakan waktu ciptaanMu...

Tuhan, kini apa Kau mengenal kata Mati yang mungkin kini telah bersemayam dalam dengan penuh damai dalam namaMu...

Tuhan, Rest in Peace...

(The Armstrong, August 2009)


Walekumsalam...

Sunday, July 12, 2009

Senandung Jelang Malam

Asalamulekum...

Langit seakan meredup ditelan rombongan gelap malam malam yang diutus oleh sang rembulan. Dinginnya angin meniup sepoi menghantarkan bau tentang kehidupan yang seakan meninggalkan pluh keringat membekas karena sengatan mentari yang nampak begitu teriknya siang tadi.

Dua gelas kopi hitam pekat menemani sepanjang hariku menyendiri dalam keramaian kantin dan nampak begitu tak menghiraukan hiruk pikuk mahasiswa lainnya yang sedang terkejar oleh padatnya aktivitas, sedari pagi menjelang sore membaca buku cerita pendek berjudul "Mata Yang Indah", saat membacanya ku pun teringat pada seseorang.

Nampak olehku beberapa mahasiswa dengan ekspressi yang menurutku berlebihan dengan deheman lirih dan gelak tawa membahana sedang bercerita tentang sesuatu yang tak kumengerti, pula untuk apa ku ambil pusing tuk mengutil pembicaraan orang lain. Biarkanlah mereka melakukan yang mereka bisa dan moga itu bermanfaat.

Jelang malam hari, dengan lagi lagi segelas kopi dan sebatang rokok ku mulai berpikir tentang apa yang seharusnya dilakukan tuk membuat hari nampak tak membosankan dengan ribuan aktigitas yang jika dijabarkan tak cukup waktu dan kata tuk mengungkapkannya. Maka kusimpulkan tak usah hari dan waktu itu dipikirkan. Namun, cukup dirasakan dan diluapkan dengan kemampuan dan didasari pada rencana dan kesanggupan tuk bertanggung jawab. Ironi dan absurd memang jikalau karunia akal tak dipergunakan tuk membuat kehidupan jadi lebih baik, dengan rencana matang tuk menggapai impian menjadi nyata butuh modal pikiran yang benar benar terlatih.

"Halah, pikiran kan membuat semuanya nampak membosankan bung" sapa spontan sisi lain dalam diriku.

"Bagaimana kamu mengatakan hal demikian, kamu kira dengan perasaan saja bisa menghasilkan kebahagiaan?" tanyaku padanya.

"Lantas apa kamu berpikir dan bertindak tanpa harus memikirkannya terlebih dahulu?" sangkal sisiku yang lain lagi sembari mengusap dagunya.

"Huh, kok pikiranku jadi kacau begini, kamu lagi datang dengan tiba tiba saja mengerocos. Aku bertindak tentunya menerka perasaan apa yang bakal ditimbulkan jika aku melakukannya. Itu saja, selebihnya mungkin saja kadang kuberpikir sekehendakku, namun itupun hasil dari perpaduan antara pendapat dari hati dan pikiranku." membuat mereka berdua diam karena ada jawaban 'aku' disana.

"Sungguh rumit kau kawan menjelaskan perjalanan hidupmu." seseorang yang lain datang dari sisi yang lain dalam hidupku, dan kuberi nama dia Realitas.

"Hey kau Realitas, kau datang ketika kubutuhkan saja, dan juga ku tak terlalu membutuhkanmu, kau tak berperasaan." tanyaku pada realitas dengan nada sinis.

"Hahaha" gelak tawa dari Realitas "okelah kalau begitu kawan" lantas pergi dengan lenggakan tangan dipinggang dan tawa yang membuat otakku terus berpikir keras tentang apa yang sedang direncanakan si Realitas itu.

"Ku berpegang pada yang benar benar saja yang lainnya mungkin saja dengan kekuranganku yang selalu berbuat salah yang membuatku khilaf"

"Oh yah????" si bandel dari diriku yang lain meneriakiku dari luar dinding keterbatasan dalam hidupku, kuberi dia nama Materi.

"Tentu saja aku bisa melakukannya bung Materi... Lihat saja nanti, ku takkan berpaling padamu, dan kau yang kan selalu mengikuti jejak langkahku..." jawabku spontan.


Malam ini semakin tak menetu buat pikiran dan perasaanku, nampaknya suasana malam kan memberikan sedikit pencerahan. Suasana malam tunggulah kedatanganku sebentar lagi, ku ingin tidur dalam pelukanmu, dan membutuhkan ciuman manis darimu hingga pagi nanti menjelang membuyarkan selimut kasihmu hingga kita berjumpa lagi tuk menikmati hidup dengan segala hiasan berlian kebohongan, dan sinar intan kemunafikan, dalam ruangan kenaifan tuk menerima apa adanya.

Walekumsalam...

Wednesday, July 01, 2009

Kalau Kamu Rembulan, Aku Bintang

Asalamulekum...

Senjakala membawa angin berhembus menyapa hijaunya padi di sawah, seakan memberi sebuah isyarat pada hijaunya padi padi yang beranjak menguning tuk menari nari menyambut rembulan datang menggantikan terik mentari yang kelelahan seharian bekerja menerangi seantero jagad. Seakan siang hanyalah mimpi yang tak berhak digapai oleh rembulan, begitu pun mentari dikala malam menjelang.

Kemarin perasaanku telah kuungkap padamu. Ku tak bermaksud tuk menerima jawaban “iya” darimu, ataupun yang lebih buruk jawaban “tidak” darimu. Bukan berarti ku tak butuhkan jawabannya! Namun, dirimu telah menjadi bagian dari sejarah perasaanku saja itu sudah cukup. Karena dirimu mengajariku secara tak langsung sebuah kata tentang “cinta”.

Kemarin lega sudah kecamuk antar urat saraf pikiranku yang selalu mengiangkan dirimu menyanyi merdu tentang namamu. Hanya ada satu perasaan yang kurasakan kali ini, yaitu perasaan yang mungkin terasa sukar tuk ungkapkan dengan kata kata. Yaitu, bahagia bisa merasakan lalu mengungkapkan, walau belum secara langsung.

Sometimes I feel

Like I am drunk behind the wheel

The wheel of possibility

However it may roll

Give it a spin

See if you can somehow factor in

You know there's always more than one way

To say exactly what you mean to say

Perlahan alunan lagu ini menemaniku mengingat ingat tentang senyumanmu. Seakan silih berganti raut wajahmu saling bergantian mengisi kekosongan dalam pikiranku. Ough, nampak jelas dirimu disana sedang dengan ekspresi serius tuk mencerna satu persatu kata kata konyol yang sedang kuceritakan padamu, lalu tiba tiba tawa renyah pun mengalun disusul ekspressi mikir ala Socrates memegang dagu menanggapi ceritaku. Selesai ku bercerita. Secara spontan, kamu mengambil alih pembicaraan tentang cerita masa kecilmu. Dan sungguh luar biasanya cerita masa kecilmu dengan penuh manja, dan kutanggapi dengan senyuman sembari mengatakan “sepertinya sampai sekarang pun begitu…” Dan ekpresi cemberut pun kamu keluarkan dengan satu tangan dengan cepatnya menjitak kepalaku.

Kuingin, tak ada satu hal pun berubah dari dirimu.

Dengan kebodohanku mengungkapkan perasaan “cintaku” padamu.

Karena…

Kalau kamu jadi rembulan, maka aku kan jadi bintang…

Disaat sang gelap gulita malam menjelang dengan menyelimuti hangat sang rembulan, maka dengan mengendap endap sang bintang pun datang tanpa undangan dari sang rembulan tuk menemaninya, begitupun sang gelap gulita malam yang sebelumnya tak pernah kenal dengan sang bintang. Walau kekuasaan sang gelap gulita malam dengan mampu memiliki sang rembulan, tetap saja sang bintang setia ada di dekatnya. Hanya sekedar tuk ada didekatnya tanpa memerdulikan acuh dari sang rembulan! Walau sang rembulan memang tak bisa berbuat apa apa tuk melepaskan cengkraman mesra nan melankolis sang gelap malam, dan sang bintang hanya bisa diam dengan harap harap cemas tuk sedikitpun berharap tuk digubris oleh sang rembulan. Minimal berikan sedikit senyuman tanda keberadaan sang bintang saja sudah cukup teriak batin sang bintang.

Ketika waktu itu sang gelap gulita malam datang menjemput sang rembulan tuk berdua saja tanpa adanya sang bintang yang dianggap oleh sang gelap gulita malam sebagai pengganggu. Tetap saja sang bintang terus mengendap endap setia berada di dekat sang rembulan. Kata sang bintang hanya ingin menjaga sang rembulan saja. Meski sempat sang bintang merasa cemburu ketika sang gelap gulita malam datang menjemput sang rembulan pada saat sang bintang hendak memberikan sebuah kado ulang tahun sang rembulan yang telah disiapkan beberapa hari yang lalu. Dan sang rembulan memang tak bisa menolak keanggunan dan pesona dari gelap malam yang sangat berbeda tentunya bila dibandingkan dengan redup redup sang bintang. Dan berlalulah sang rembulan didepan mata sang bintang yang cemburu. Didalam kado itu sebenarnya ada sedikit ungkapan perasaan sang bintang untuk sang rembulan, yang mungkin saja takkan dipedulikan oleh sang rembulan.

Namun, dari situ sang bintang belajar tuk bisa menerima apapun yang terjadi. Begitupun jika sang rembulan memang lebih memilih sang gelap gulita malam dari pada dirinya. Asalkan tetap sedia bersinar walau redup redup dan penuh rasa tanpa pamrih berada dekat sang rembulan saja sudah cukup.

Kebahagiaan dari sang bintang adalah berada dekat sang rembulan.

Begitu pun diriku kala dekat denganmu, bahagia, itulah yang kurasakan. Apalagi dengan ditambah senyumanmu. Terasa komplit sudah. Dan tentu saja tak menutup kemungkinan rasa naïf-ku menginginkan yang lebih dari hanya sekedar itu saja.

At your side… doesn’t need to worry… possibilities of happiness is real…



Walekumsalam...

Friday, June 19, 2009

Senyuman Tuk Labirin Waktu (Puisi)

Asalamulekum...


Menunggu... selalu saja ramai diikuti iring iringan kata terlambat dan selalu menyebalkan menggoyangkan ekornya di akhir jejak tiap langkahnya...

Waktu... kadang bahkan tak jarang kata acuh kudendangkan seakan mengejek berupa kata acuh ke daun kupingmu, dan kau tanggap dengan palingan wajah sembari kedua tangan kau lekatkan dengan ekspresi yang begitu angkuhnya...


Senyumku... melepaskan seolah rela dirimu yang telah berlalu tanpa seutas senyuman khasmu yang kau berikan gratis kemarin kemarin, dan diriku bagaikan sehabis menuntaskan sebuah karya diatas kanvas seolah hati tak apa apa karnanya...


Senyummu... Ohw dikau yang telah pergi jauh bersama orang yang telah mendahuluiku menggenggap tanganmu begitu eratnya di depan mataku sore itu, seperti malam yang datang memeluk sang rembulan saat bintang bintang menari ria saat mentari tidur dengan nyenyaknya...


Suaraku... Hanya mampu kulukiskan di atas seutas kertas tanpa ada manipulasi kebohongan yang mungkin terdengar begitu melangkolisnya...


Tulisanku... Sebaris tak sadar menjadi lembar, hingga begitu banyaknya kubercerita tentangmu dan tentangmu tanpa ada sedikit campur tangan dari mulutku, hingga kumenyadari kau telah memilih seseorang mungkin dikarenakan dirimu terlalu lama menungguku mengungkapkannya hingga seakan dalam mimpi kumelayang tinggi nan jauh dan terjerembab dalam ruang labirin waktu yang mungkin takkan ada habisnya...


Waktu... seutas senyuman untukmu sebelum dan sesudahnya, anggaplah aku terlalu naif tak mau dikalahkan olehmu, aku kan menjadikan dirinya seperti dinding tembok bercat putih dan diriku mungkin rela menjadi seekor cicak yang terus diam tanpa suara melangkah perlahan meninggalkan penuh jejak langkahku disana hingga tanpa ada sangkut paut mulutku berbicara sepatahpun tanpa ada sangkut paut olehmu waktu kelak di dinding hatinya...


Djendelo, The Armstrong


Walekumsalam...

Sunday, June 07, 2009

Rembulan Pun Tahu Mentari Muncul Menjelang Pagi

Asalamulekum...


Indahnya gemercik air terjun diatas pegunungan yang dihiasi bulir bulir embun yang masih terisa di pucuk daun bermahkotakan bunga dengan rupa penuh akan warna.

Pagi ini musim hujan pun datang, dan disini kumasih sendiri dengan kehidupanku yang menurut penduduk sekitar aneh. Senyumanku takkan luput kala berpandangan mata dengan para penduduk yang dengan sengaja ataupun tidak bertatapan mata saat ku melakukan aktifitas dengan berjinjingkan peralatan lukis di pundak dan sebaki ubi goreng tetangga yang tahu dengan jelas tujuanku menetap sekian lamanya di kampung ini. Disalah satu kampung yang dikelilingi pegunungan yang menjulang tinggi kelangit, tak kalah tingginya dengan gedung pencakar langit ala Amerika. Dengan menatapkan mata kesegala pelosok yang terlihat hanyalah hijau dan hijau. Pula disamping hutan yang lebat terhampar birunya danau. Tak jarang diriku terpaku oleh menyeruaknya warna warni pelangi sehabis hujan lokal datang bertamu. Dan disanalah diriku kehilangan dirimu.

Sabtu, dua tahun sebelum kepergianmu...

Kulingkarkan cincin perak buatan asli kampungmu ini dijari manismu dengan sumpah tuk menemanimu hingga ajal menjelang. Senyumanmu yang tak mampu kulupakan, dengan menghilangnya hampir seluruh bola matamu kala tersenyum membuatku semakin gemas hendak membelainya manja, dan tak ingin sedetik pun menjauh darimu. Kita telah berjanji tuk menyatukan hati kita yang diawali oleh sebuah persahabatan kala dibangku kuliah.

Waktu pertama kumengenalmu, nampak dalam anganku sosok seorang gadis kecil yang dahulunya sewaktu kelas 2 SD pernah singgah dalam dunia cinta monyetku. Dan setelah kuberanikan diri tuk bertanya padamu tentang hal itu, kamu malah menjawab dengan tangan berlenggok di pinggang.

"loh? ternyata kamu toh yang dulu sering nitipin wafer Superman di dalam tasku?"

Pertanyaan itu disusul oleh senyuman. Dan degub jantungku pun tak karuan kala itu, hendak meledak kiranya jikalau bisa. Dan memang waktu itu hanya satu tahun kuhanya bisa menatapmu dengan tatapan kosong layaknya anak kecil mengagumi manisnya gulali, namun kali ini perasaan itu memang semanis dengan paras wajahmu yang gulali pun serasa kalah manisnya.

Itu sekitar 25 tahun yang lalu di Sumatera, tempat dimana kumeminangmu dan melangkah mengalun bahtera rumah tangga di sebuah desa kecil dan terpencil dengan pemandangan indah salju abadi Gunung Jayawijaya sebagai pemandangannya, tepatnya di perbatasan Timika dan Jayawijaya, diatas sebuah gunung tinggi dan disebuah rumah yang berhasil ku beli dari pameran lukisku ke 14-ku di Jogja.

Waktu seakan semakin menyayat nyayat dinding perasaanku kala mengingatmu meninggalkanku dengan seorang anak laki laki yang kita beri nama Cicero Al-Gazali yang berarti Cecero seorang konseptor tentang paham Humanisme agar memandang manusia satu dengan lainnya lebih mementingkan perasaan ketimbang pikiran, dan Al-Gazali berarti berilmu pengetahuan yang tak terbatas.

Kini dia telah genap berusia 2 tahun, dan tak mampu kumenahan tangis kala memandang matanya kala senyum sangat mirip dengan indah matamu.

Kini kuketahui bahwa rembulan pun tahu mentari muncul menjelang pagi yang berarti syahduhnya rembulan yang menghilang ditelan waktu akan berganti dengan indahnya sang mentari yang terbit kala pagi hari menjelang. Rembulan itu dirimu dan Mentari kecil ini adalah anak kita berdua.

PS: Kusayang kamu... Dan selalu merindukanmu...


Walekumsalam...

Sunday, May 17, 2009

Puisi "Penjejak Malam"

Asalamulekum...



Mari merasakan dan mengungkapkan segala sesuatu yang ada di dunia ini lewat filsafat...

Selimut lembah malam menutupi raga dari cekaman terik sang mentari yang semakin menampakkan kehebatannya ditengah kondisi alam yang tak menentu...

Seperti sebuah bintang dari kejauhan diluar batas lintas kecepatan mata berkedip, menyendiri sendiri di keramaian lautan angkasa bertabur jutaan planet dengan atmosfer perasaan yang begitu naif untuk mudah tersentuh...


Tawa mengikuti jejak langkah tangis lembar jawaban sebuah arti kehidupan begitu nampak oleh indra namun aksi menunggu reaksi tuk mampuh menjamak dan memilah ribuan pertanyaan yang menunggu giliran kini tertumpuk bak jutaan fosil bangkai yang memenuhi tingkah imajinasi...


Siang begitu panas membendung alur pikir dan rasa, formalitas taraf hidup seakan menjadi lumut tanpa warna dan rasa yang melekat abadi dan tanpa henti memaksakan kehendak tuk memberontak mencoba keluar dari lingkar labirin tanpa akhir kebenaran dalam lingkup kebohongan yang buram dan tak jelas...

By: The Armstrong




Walekumsalam...