Saturday, June 12, 2010

Roads Not Only Unidirectional


I left the bench, lay the final candidate hardback book above ...

Now onwards it so memorable, it does not mean a break also the road traveled but others prove the wide streets and waited for the lead ...

Ridiculed, scorned and avoided as an option?

Proud of, admired and approachable as an option?

So where happiness when taking an option?

Reflected in the increasingly heavy regret taking steps to immediately and stop running ...

Smile in the hard work to knock down all the things people said about the impossibility ...

Life's only once, from toddlers to teenagers to adults to older workers bound senile and forgotten until death comes as the end ...

As long as there semagnat eternal flames of burning tanks, even the wind from all corners of the eyes with a flick of the wind storm about to come crashing into the ranks of future plans will not melt the heart with trepidation ...

Just choose one way and sacrificed as a serious one, realize your dreams, or stop in place and then die ...

Cafeteria, May2010

Wednesday, March 31, 2010

The Early Morning Babble


The old man with a cane propped on his hands so as not to headfirst fall to the ground while a voice over the hum in his mouth as like to sing some song either, but it was presumably he could no longer sing a melodious and as exciting as when he is still young man, briefly recalled memories knocked on his mind "fitting myself so likewise the future like an old grandpa who passed just now, go ahead of the death was old age will come true, if we were not die young ..."

The morning sun haven't come to shine, ah very noisy the bustle of the highway on this morning, what a busy day and where they will be go, looking for life may be? Ah yes they are looking for a bite of life with a fist drenched in sweat profusely out of their pores to pore myself feel alive today, for the sake of the family and for the future lives complicated and full of surprises meander will be matters that suddenly all coming like the time of a maze box.

"Where are you going to go with four bags safari uniform, complete the same with the eagle emblem on the chest, was like a father Umar Bakri, just when about to go teach ..."

Greetings sarcastically late morning more like wailing voice-driven of the table above fractions asbestos, almost without tone and intonation, well the name is sarcasm. Returned by a friend who felt "Ah, you just take care of your mind, take them duel and decide who will wins, and the winners are the considered as the lord of yourself"


"Oh you think I'm crazy!"

"Perhaps you are overly sensitive my young man, the narrator habits often solitary and had a sensitive levels above average is already inherent in you"

"Needless to say, if the tellers are able to rhyme the word heart in writing"

"Well come on, let's tell the others. One does where you are today? Are there other activities besides looking for a needle in your ID and a haystack of life, or to find the heart where the harbor of the poem and rhyme?"


"Hmmm seems to look for heart today and tomorrow, but tomorrow is not just a rhyme rhyme harbor, but the harbor of love and dreams ..."

"Ah you say the word sounds corny my friend ..."

"Hahaha do not have to be taken dizziness is a friend, my only one narrator, to be heard or risk humiliation well which always greeted with a smile ... The story tellers would not swallowed the time ..."

Yogyakarta, 31 March 2010

Saturday, March 06, 2010

Ikan Kecil (Roman Absurd)



Didalam sebuah kolam kecil itu, dengan air keruh yang terlihat begitu hijaunya bak menyatu dengan jutaan lumut yang telah terurai, hingga saat kusentuh airnya begitu kental dan bau amisnya menyeruak membuatku mual dalam sesaat dan segera berlari lari kecil menuju ke air pancuran didekat kolam itu yang nampak lebih jernih tuk menyeka tanganku yang baunya tak tertahankan.

Seketika sejuk air yang masih jatuh perlahan membasahi sekujur tangan hingga lenganku, jemariku pun ambil ulah dengan tak henti hentinya menjentikkan air itu kemana mana, begitu terlanaku pada air jernih ini, pikiranku pun seketika melayang mengingat masa balitaku dulu, 15 tahun yang telah lalu.

Sewaktu balita, betapa cintaku pada air waktu itu, hingga kini pun begitu.

Hingga saat itu musim hujan telah tiba, satu persatu rintikan hujan jatuh perlahan tapi pasti dari langit mengundang ketertarikanku yang tengah diliput rasa ingin tahu yang menggebu gebu, dan seketika rasa penasaran berbalut kegirangan yang terpancar dari raut wajahku tanpa berpikir panjang langsung keluar kepekarangan rumah sembari membuka semua pakaianku satu persatu hingga nampak tak jauh beda dengan kerbau yang sedang berlumuran lumpur di sawah, dan tentunya telanjang bulat.

Tapi, waktu itu kan masih dalam ruang lingkup kanak kanak mana sempat memikirkan ataupun merasakan tentang adanya malu. Maka terguyurlah aku ditengah buraian air hujan yang menjatuhiku satu persatu dengan begitu manjanya. Ku menari nari berputar putar tak jelas arah dengan menyanyikan sepatah lagu twinkle twinkle little star how I wonder what you are berulang ulang. Bagaimana tak kuhafal lagu ini, jikalau hampir tiap pagi hari siaran tv nasional dinyanyikan oleh seekor komodo berperut buncit dan berwarna hijau, dan saat senang seperti ini dengan spontan kulantunkan perlahan lagu ini. Hingga tak sadar rapuhnya kakiku tersandung batu dan terguling guling di kubangan air hujan yang telah menyatu dengan lelehan tanah, membentuk sebongkah lumpur cair kecoklatan, membuatku nampak seperti adonan kue coklat yang siap masuk dalam oven. Namun ini tak membuatku gentar apalagi menangis, malah justru membuat ulahku semakin menjadi jadi. Sekujur tubuhku yang telah terselimuti kubangan lumpur terlihat begitu menikmatinya, apalah kebahagiaan terpenting buat anak kecil selain tertawa walau terliput banyaknya kekangan aturan dari keluarga yang melarang ini dan itu, dan tak lupa waktu itu gelak tawa kebebasan kudendangkan. Ku telah lupa diri sesaat! Dan sekali lagi, mana sempat ku memikirkannya!

Apakah masih ada yang lain yang dibutuhkan manusia selain kebebasan dalam kebahagiaan.
Namun malang tak bisa ditangkal. Kebebasan, kebahagiaan waktu ku balita hanya bersifat sementara. Dan seketika lenyap tawa bahagiaku, lenyap sudah nyanyianku, lenyap pula kebebasan yang saat itu masih tak tahu apalah artinya kata itu, lenyaplah semuanya berganti jerit tangis tanpa henti yang terus menerus ku teriakkan dalam kamarku, tak lupa mengacak acak seluruh isi kamarku yang pintunya dikunci dari luar dengan begitu gemasnya, seprei dan selimut kuhamburkan kemana mana dengan rasa kesal yang amat mendalam, seluruh pakaianku yang tertata rapih dalam lemari yang di urut sesuai warna dan bentuknya oleh Bunda kukeluarkan hingga berserakan tak karuan memenuhi seluruh lantai kamarku berbagi tempat dengan seprei dan selimut.

Kesenanganku saat itu telah direnggut oleh rasa cinta kasih Bunda akan kesehatanku nantinya, yang berujung dengan jeweran yang sebenarnya tak begitu sakit sakit ketelingaku dan diikuti dengan tamparan lembut berulang kali kepantatku yang waktu itu masih berlumur lumpur yang membuat pakaian Bunda kotor juga dan pula tak tertutupi sehelai benang pun. Digiringnya ku ke dalam kamar mandi dan diguyurlah aku dengan air dari timba berulang ulang hingga nampak bersih kembali, dan sesekali air mengalir masuk kedalam mulutku yang terusan bernyanyi tangis, kemudian ku dimasukkan ke dalam kamar dan memakaikanku piama tidur, kemudian mengunci kamarku dari luar, agar tak kembali melakukan hal bodoh yang telah membuat Bunda khawatir.

Tangisku pun telah terhenti seiring gema suara adzan magrib yang memekak dari mesjid samping rumahku yang kemudian di susul berhentinya denting hujan yang mengetuk perlahan diatas genteng genteng rumah yang kulihat dari sela tirai gorden jendela kamarku di lantai dua yang pintunya terkunci dari luar.

Saat keberbalik arah menuju saklar untuk hendak menyalakan lampu kamarku, karena gelap malam mulai merangsek masuk kedalam kamarku. Seketika seolah tak sadar dengan apa yang telah terjadi kumerasa tak mengenal lagi di mana aku sedang berada sekarang. Apa yang terjadi dalam kamarku! Seruku dalam hati yang lugu dicampur bimbang. Seraya tersenyum kecut mengingat kembali beberapa menit yang lalu saat kekhalafanku kambu, ku katakan betapa bodohnya anak yang melakukan ini dan memukul pelan dahiku. Kamarku kali ini tak jauh berbeda dengan kamar milik Kapten Hook dalam film Peterpan yang telah kutonton lima kali, karna begitu tertariknya aku pada tokoh Petepan yang tak ingin merasakan jadi anak dewasa. Malah jika dilihat lebih jelas kamarku mirip dengan kapal pecah dan karam ketengah lautan mirip di discocery channel siaran favorit Ayahku yang mantan anak buah kapal waktu mudanya.

Entah mengapa dengan sendirinya naluri dasar diriku yang di samping rajin menabung di celengan plastik berbentuk ayam, ku juga suka dengan kerapian, tentunya sangat berbeda saat ini. Maka mulailah kurapikan seluruh isi kamarku yang telah kuhafal betul tata letak dan susunannya di karenakan Bunda selalu mengajakku membantunya tuk sekedar melipat baju dan merapikan tempat tidurku dan pula dari bayi hingga kuberanjak naik kelas 2 SD ini ku telah menempati kamar ini, di dalam kamar kecil berukuran 4 x 4 dengan warna biru tua yang mendominasi di antara tembok, lemari, gorden, hingga jendela dan pintu, bahkan seprei, selimut, bantal, dan pakaianku pun ternyata rata rata berwarna biru. Dan ini semua dikarenakan waktu kecil dulu aku suka sekali warna biru, begitu pun Bunda yang kurasa sangat dekat denganku diantara ke tujuh saudaraku yang lain, walau kenyataan kadang berkata sebaliknya. Warna biru hingga kini pun masih menyimpan begitu banyak misteri bagiku, dan ketertarikanku padanya bukan dari materi sekarang, namun pada hal hal yang berwarna biru seperti langit cerah yang berwarna biru, pula warna biru ini yang membuatku jatuh cinta pada hujan hingga saat ini.

Biru langit yang cerah, bermahkotakan putihnya awan yang seolah berjalan kesana kemari diatas langit berganti kemelut awan hitam yang datang tiba tiba membumbung berkumpul menjadi satu menutupi seluruh warna birunya langit, menutupi sinar terang sang mentari, perlahan menjatuhkan titik demi titik airnya keseluruh permukaan bumi, bulir air yang menggenang perlahan membentuk kubangan disana sini, dan membuatku tersenyum lebar seketika itu entah mengapa. Kurasakan dalam tiap kesendirian saat hujan, seakan hujan bercerita tentang tiap bulirnya yang terjatuh membentuk bulatan, yang jika dilihat tiap sisi dengan pandangan membelanya menjadi dua seakan bulir hujan itu memberikan seutas senyuman yang melebar hingga terbentur pada bulatan lain yang juga ikut tersenyum. Senyuman balas senyuman kataku dalam hati.

Dari sekitaran tempatku berada, suara suara kodok mulai berisik dengan nyanyian mereka yang tak kumengerti, mirip dengkuran Ayah saat tidur malahan. Dan nyanyian kodok semakin memperseru genderang riang bulir hujan yang mengetuk satu persatu di atas genteng rumahku.

Kembali ke ikan kecil di dalam kolam yang keruh dan berwarna hijau, ikan ikan kecil itu berenang renang kesana kemari di depan mataku sore ini di sebuah taman berhias hijaunya rumput hijau disekitarannya dan beberapa pohon kelapa disamping sebuah jalan setapak dari kumpulan batu batu krikil kecil di taman kampusku. Di sekitaran kolam taman pun terlihat beberapa anak kecil yang sedang mencari botol botol bekas dan memasukkannya kedalam karung yang dijinjingnya di pundak dan sesekali mereka saling lari lari kecil mengelilingi kolam dengan riang gembira, seolah tak ada masalah dalam hari hari mereka selama ini. Dan aku yang sendirian kala itu hanya memandang sekeling dan sesekali memandang mereka, dan ikan ikan kecil itu, tampak sedikit kemiripan diantara mereka, ikan ikan kecil dan anak kecil berjinjing karung di pundaknya.

Pula, disisi lain tak jauh dari kolam, tepatnya di belantara hijaunya rerumputan nampak rombongan mahasiswi yang berpenampilan begitu muslimahnya sedang berdiskusi seru tentang sesuatu, dan nampak dari ekpressi mereka satu persatu yang begitu khidmat mengungkapkan argument mereka tentang sesuatu yang tentunya menjadi tema diskusi merek, entah apa itu.

Tak jauh di samping dari tempatku berada, ada pula beberapa mahasiswa yang juga tak mau kalah seru berdiskusi tentang sesuatu, sesekali mereka tertawa bersamaan dan sesekali hanya satu yang tertawa, dan sebagian dari bahan diskusi mereka diakhiri dengan tawa dan tawa. Entah maksud dari tawa itu untuk mempererat jalinan pertemanan dari mereka, ataupun untuk tak menyinggung perasaan kawan yang berargumen namun jauh dari pokok pembahasan. Tak tahulah aku.

Dan aku sendiri, sembari menghisap dalam dalam sebatang rokokku sibuk memperhatikan sekitaranku sambil sekali kali menatap serius ikan ikan kecil yang terus terusan mondar mandir kesana kemari di dalam kolam berair keruh dan berwarna hijau didepanku. Sedikit ibah rasa dalam hatiku melihat ikan ikan kecil itu yang tak bisa merasakan kebebasan berenang keluar dari kolam kecil itu, terkekang ikan ikan kecil itu didalam kolam yang terbuat dari tembok yang di satukan dengan krikil krikil kecil seukuran kepalan tangan anak kecil. Hanya terdapat sebuah jembatan kecil yang membelah kolam itu, nampaknya sebagai pemanja mata manusia memandang kola mini agar sekiranya terlihat lebih indah, pula ini sebagai salah satu upaya pihak kampus tuk membuat mahasiswa mahasiswi agar tak bosan berada dikampus, walau hanya disekitaran kolam saja. Dan dijembatan itulah satu satunya tempat berteduh ikan ikan kecil dalam kolam yang bagiku sangat kotor dan bau ini, tempat ikan ikan kecil itu berteduh dari sengatan terik mentari kala siang hari dan gigil udara saat malam hati.

Begitu malangnya nasibmu ikan ikan kecil dalam kolam kotor ini. Apakah kalian merasa kekesalan yang mencuat pada pengkonstruksi kampus yang hanya menjadikan kalian sebagai tak lebih dari sebuah hiasan dari kolam ini?

Aku tak tahu mungkin kalian tak memilik pikiran tuk sedikit berpikir tentang semua yang telah terjadi pada kalian disisa kehidupan kalian dalam kolam ini yang kotor, keruh dan berwarna hijau ini. Namun kutahu bahwa kalian ini wahai ikan ikan kecil makhluk ciptaan Tuhan yang pasti memiliki rasa. Rasa tuk bebas seperti ikan ikan kecil dalam film kartun Nemo.
Pandanganku teralih pada julang tinggi pohon kelapa di sekitar kolam. Hidup pohon kelapa ini tentunya sangat berbeda dengan ikan kecil dalam kola mini. Tentunya sangat berbeda.
Pohon kelapa yang menjulang tinggi ke langit disamping kolam dengan suburnya, dan ikan ikan kecil itu bagaikan narapidana yang hanya tahu mondar mandir didalam jeruji kolam kecil dan berbau dilumuri air berwarna hijau. Pohon kelapa tak mempunyai batasan untuk tumbuh tinggi menjulang keatas langit selagi pohon kelapa itu mempunya kesanggupan, mengingat pepatah kuno semakin tinggi pohon maka semakin kencang angin yang sewaktu waktu mampuh mengoyahkan hingga tumbang menyatu dengan tanah.sangat berbeda dengan kalian wahai ikan ikan kecil bisikku pada mereka dengan haru, kalian hanya mampu berenang kesana kemari didalam sebuah kolam kecil yang tak tahu secara jelas berdiameter berapa… hmmm, yang jelas kecil.

Begitu kecil dan sempitnya ruang lingkup hidupmu wahai ikan ikan kecil yang malang. Inikah salah satu bentuk nyata dari kenaifan sifat dasar manusia? Padahal, daratan sebagai tempat hidup manusia di dunia ini lebih kecil dari tempat seharusnya kalian hidup wahai ikan ikan kecil yang terkekang tak bebas dalam kolam kecil ini, yah tempatmu di air yang lebih besar dan luas wilayahnya di dunia ini daripada daratan tempat manusia berkembang biak.

Hujan itu air yang jatuh dari langit dan di daratan pun tak keluar dari ruang terjang sang hujan, bahkan lautan dan samudera pun di bawah kuasa hujan tuk mengetuk bumi dengan badai dan sekali kali angin kencang dimana tempat seharusnya kalian ikan ikan kecil bisa lebih bebas berenang mengelilingi dunia. Tahu kah kalian ikan kecil bahwa kalian hidup dari air yang datang dari langit, yah dari langit!

Kenyataan berkehendak lain terhadap bumi manusia dikarenakan air yang seharusnya tempat hidupmu ikan ikan kecil, gara gara air yang jatuh dari langit atau hujan.

Air hujan yang membuat tanah tempat manusia bermukim menjadi lembek hingga akhirnya longsor, air bah dari sungai yang meluap hingga kedaratan menghilangkan tak hanya pemukiman tempat manusia hidup namun bahkan hingga nyawa tak terelakkan di lenyapkan oleh air. Bahkan yang masih melekat dalam ingatan manusia mengenai kedahsyatan air lewat ombak besar bernama tsunami melayangkan secara sporadis nyawa ribuan manusia. Dan sejarah pun mencatat mendetil kedahsyatan dari air tempat kalian ikan ikan kecil seharusnya hidup, bukan di kolam yang tak jelas warna airnya dan begitu kotornya di depan mataku ini. Dan semestinya dengan jelas kalian ikan ikan kecil tak layak tinggal di tempat seperti ini melainkan koloni kuman kuman dan bakteri bahkan cacing cacing pemakan kotoran yang layak bermukin ditempat seperti ini.

Air tempatmu hidup ikan ikan kecil tempat kalian bernafas melalui insang, begitu pun manusia hidup di bumi ini membutuhkan udara. Bagaimana mungkin ikan ikan kecil itu dapat bernafas melalui insang dengan air yang tak lagi bersih, begitu pun dengan manusia di bumi ini yang tentunya tak bisa bernafas lega dengan banyaknya polusi.

Seandainya manusia punya sedikit saja kepekaan rasa untuk bisa sedikit peduli merasakan kehidupanmu di air keruh nan kotor ini sebagai sesama mahkluk hidup di bumi ini. Meskipun hanya lewat tulisan.

Kolam kampus, 13 June 2009

Saturday, February 20, 2010

Bunga Di Taman


Alkisah ada sebuah taman, disana ada ribuan macam bebungaan serta merta menebar semerbak harum mewangi kemana mana. Di dekat taman ada seorang pemuda yang hidup penuh dengan kesendirian dan kesehariannya dipenuhi dengan kesibukan mengolah otak agar kelak bisa berguna tak hanya untuk diri sendiri tapi untuk orang lain juga. Baca, tulis, lukis, dan kawan pencerita mungkin keempat hal itu saja yang ada dalam hidupnya selama kurun waktu 21 tahun, hampir tak ada tangis dan penuh akan tawa menyempurnakan kehidupan yang seakan senantiasa dibuat agar terlihat sederhana. Kemewahan jauh dari penggapaian, walau hendak menikmati seteguk kemewahan pikiran dan pengalaman orang lain dalam novel novel kisah klasik mengenai fatamorgana glamor kehidupan seseorang yang ujung ujungnya kan berakhir jauh dari kesan bahagia, dari pengalaman orang lain tersebut membuat pemuda ini ingin hidup biasa biasa saja dan sederhana.

Koleksi buku buku dari penyair dan sastrawan abad 17 hingga 20 semacam William Shakespear, Frederic Nietzche, Gogol, Tolstoy, Albert Camus, Ivan Turgenev dan lain lain melengkapi perpustakaan kecilnya di rak buku di samping koleksi lukisan lukisan penuh perasaan akan segala macam hal yang ada disekitarnya.

Ditaman itu, penuh akan bebungaan dan rupa warna seakan menjelma seperti peri peri cantik yang senantiasa menarikan kebahagiaan tanpa adanya gangguan keegoisan dari manusia yang hendak menguasai mereka. Disana pemuda itu menatap birunya langit, cerah dan nampak beberapa awan awan yang terbawa arus angin, "apa awan awan itu merasa senang berada diatas langit" bisik hati pemuda itu.

Tiba tiba pikiran pemuda yang penuh akan imajinasi membayangkan gumpalan awan besar yang tengah menutupi terik mentari membentuk sesosok wajah wanita, wajah wanita yang sedang tersenyum padanya, yah hanya padanya sosok wanita itu tersenyum padanya. Beberapa saat wajah pemuda memerah karena malu, dia teringat pada kisah kisah klasik abad romantisisme legendaris "Romeo dan Juliet", dan hatinya pun berkata

"jikalau ku terlahir menjadi Romeo siapa yang hendak menjadi Juliet? seorang wanita dari keluarga yang jauh berbeda dariku yang penuh dengan kesederhanaan, akankah ada yang mau?"

Wajah murung pun mulai merambat membuat pemuda tak percaya diri tuk melanjutkan imajinasinya, hanya balpoin dan kertas putih dengan beberapa baris kata kata tentang hatinya yang mulai merasakan kesepian.

"yah, aku kesepian dan hendak mendapatkan kekasih yang dapat kujadikan tempat saling bertukar cinta dan kasih sayang... dan tentunya kutahu jikalau kawan mampu memberikan cinta dan kasih sayang, namun yang kuinginkan saat ini kekasih..." jerit hati sang pemuda yang tengah dirundung rasa yang tak percaya diri.

Tiba tiba ada suara entah dari mana datangnya, seakan terbawa oleh angin timur yang tengah berhembus menyapa daun telinga pemuda, mengatakan "cinta itu akan datang disaat kamu tak memikirkan akan mendapatkan cinta..."

Kembali wajah murung si pemuda tambah menjadi jadi, dia pun berteriak "bagaimana bisa kudapatkan cinta jikalau ku hanya menyendiri tanpa mencari!", dia teringat pada pepatah klasik "cinta akan datang disaat kamu mencari, namun kali ini angin timur itu membisikkan hal yang jauh berbeda cinta akan datang disaat kamu tak memikirkannya.

"ah sudahlah..." sedikit mengeluh pemuda itu berkata "biarkan saja semuanya di jawab oleh waktu dan angin..."

Mentari mulai tenggelam, dan rembulan bersiap datang berselimut malam, pemuda masih nampak murung tak tahu hendak berbuat apa untuk mendapatkan cinta, haruskah tak dipikirkan dan datang sendiri, ataukah mencari di setiap hati.

(to be continued)

(Jogja, 20 Feb 2010)

Tuesday, January 05, 2010

Eksistensi Sang Waktu



Langit pun tampak terukir raut sedih sore itu, terlihat dari kumulan awan hitam yang mengerubungi dan menutupi birunya langit sedari pagi menjelang ditandai dengan secercah sinar berupa senyum mentari yang perlahan muncul dari sela sela pegunungan di daerah barat. Tampak murung langit dengan ditandai mata langit sang mentari seolah terkatup dalam kemurungan mendung yang menutupi sumringah senyum mentari...

Megahnya pemandangan langit sore seperti dalam cerita cerita roman klasik yang mengilustrasikannya lewat paduan kata demi kata tentang langit yang nampak seperti bongkahan emas seakan tinggal harapan, kini tak ada lagi kicauan burung gereja yang hendak pulang ke sarang, tak ada lagi rombongan itik bersama majikannya yang menggiring mereka pulang kekandang, pula tak ada lagi terlihat riuh hiruk pikuk keramaian kota yang seakan terlihat seperti para gladiator bertempur dalam sebuah holocaust penuh kesengitan kesemuanya berteduh mencoba menghindarkan raga dari terjangan denting demi denting hujan yang berjatuhan perlahan dari kumulan awan hitam, langit menangis...

Deruh gemuruh mesin knalpot dan keluhan lelah penat manusia bermandikan peluh menghias seluruh tubuh yang lelah sehabis menuntaskan rutinitas serba monoton begitu melulu, mana pula bersifat formal yang harus dikerjakan mau tak mau, bernama kerja. Kesemuanya bergumul menghasilkan nada tanpa symphony, tanpa diakhiri dengan gerai tepuk tangan penonton, juga tanpa kepuasaan idealis seorang musisi diatas panggung, yang puas mungkin hanya Tuhan jikalau Tuhan memang benar ada...

Sang malam pun menjelang berwujud dalam reinkarnasi dari sang siang, nampak gelap tanpa ada hiasan ribuan bintang yang menari nari ditemani sang rembulan, tertutup satu penampakan yang tak diinginkan, mendung. Syahdu temaram lampu kota yang mengitari tiap emperan jalan ikut dalam jajaran harapan yang tak kunjung nampak malam ini...

Harapan dibumbui sedikit doa, ironik dan terlihat penuh kesian siaan dimata para manusia manusia yang jauh dari mimpi, sanga waktu pun tak mau tahu akan kesemua hal menyangkut keduniawian dan manusia pun tak tahu menahu siapa yang menggerakkan tingkah laku sang waktu, seakan kesemuanya terhipnotis takluk dalam perintah sang waktu, hingga ajal manusia pun menjadi permainan kecil sang waktu, dalam sekejap kehidupan seorang manusia dapat berubah 180 derajat, dari hidup sehat bugar tanpa cacat sebagai perhiasan di tubuh dapat berakhir dalam balutan kain putih menutupi jasad tanpa roh...

Terbesit pertanyaan memecah keheningan saat menatap rintikan hujan jatuh perlahan satu persatu, gelap malam seakan memeras air mata langit dari kumulan awan hitam...

"Apakah Tuhan itu adalah waktu itu sendiri? ataukah waktu adalah wujud dari Tuhan itu sendiri? Waktu kah yang menciptakan ide mengenai Tuhan? ataukah sebaliknya Tuhan menciptakan waktu?" tanya perasaan setelah bernegosiasi dengan pikiran hendak ditujukan pada diri sendiri hendak menjawab apa...

Tanpa pikir panjang diri menjawab "Lantas kafirkah aku bila hendak memilih waktu lebih dahulu ada ketimbang Tuhan itu sendiri?"

Perasaan menimbang dan berucap kata bijak "Alasanmu apa dulu?"

"Aku pernah beragama diantara salah satu dari ketiga agama yang diturunkan oleh keturunan dari Abraham atau Ibrahim, dan aku sempat mempejarinya agak tekun hingga nampak seperti seseorang yang tak pernah dibayangkan pernah ada dalam diriku yang saat ini dan didalam kitab sucinya aku dapatkan dimana konon langsung dari perkataan Tuhan yang turun lewat wahyu mengatakan kalau Tuhan pernah bersumpah tepatnya berjanji menggunakan kata Waktu/Masa... Apakah kuasa waktu itu hingga membuat Tuhan menggunakan kata waktu, bahkan jagad raya dengan kecepatan pemikiran teknologi manusia saat ini masih bimbang mengukur ketepatan cepat dari cahaya yang lebih cepat dari kedipan mata...

"Tuhan itu tak bisa dibandingkan dan disandingkan dengan apa pun itu" perasaan kembali mengatur agar laju pembicaraan tak sampai mengundang permusuhan dengan kaum agamawis, diikuti dengan anggukan setuju si pikiran...

"Iya, tapi apa salah kalau saya mempelajarinya! saya hanya ingin meneruskan perkembangan pikiran saya yang penuh keingintahuan tentang segala hal, dan waktulah yang selalu membuat deguban jantung menggebu tanda bersemangat tuk mempelarinya lebih dalam lagi, saya hanya ingin tahu intinya... Tak pernah terbesit kata tuk menjamah keeksisan Tuhan yang masih kucari apa benar benar ada atau pun tidak..."

Pikiran dan perasaan "..."

Sembari kuhisap sebatang rokok kretek bercampur racun nikotin, seduhan kopi hitam menurut para ahli mampu menetralkan efek nikotin berkat bantuan si kaffein. Tak lupa ku putar putar bolpoin hingga nampak seolah lagi berpikir tentang asal muasal sang waktu. Tak terasa malam pun semakin gelap, hujan pun sedari beberapa menit lalu tak nampak lagi, sekililing tempatku sekarang juga tak nampak lagi batang hidung manusia manusia yang sempat berteduh bersamaku disini hendak menghindar dari terjangan hujan. Hanya yang nampak dari ujung parkiran satu kendaraan tua yang menungguku dengan setia hendak kutunggangi menelusuri seluk beluk kehidupan dengan peralatan perang berupa perasaan ala humanism dan pikiran ala scientist sembari sesekali membertukan gemercing keduanya dalam ring imajinasi hingga ronde beberapa tulisan pun tercipta...

Kantin Pojok, Des 09

Walekumsalam...

Wednesday, November 18, 2009

Seberkas Kata Tentang Tuhan di Mata Hati Paijo

Biru langit berbalut putihnya awan, cerah hari ini. Secangkir kopi ditangan selalu siap tuk menemani memulai hari dikala jelang pagi. Rokok lintingan kusulutkan api, kertas putih mulai kugoreskan tinta tentang hari ini apa saja yang kan terjadi. Kicau burung nuri dalam kandangnya mulai nampak tak tahan tuk segera keluar dari sarang bambu itu, hendak menulusuri tiap lekuk putih awan di langit, sekepak demi kepak sayap sang burung perlahan kan menggapai awan andai hidup burung nuri kecil ini tak disekap dalam kandang. Teringat tentang kebebasan.

Andai tiap makhluk yang bernafas dan memiliki kehidupan bisa dengan mudah merasakan kebebasan, tak ada aturan dalam bentuk apa pun, tak ada perintah mengenai kewajiban yang berujung pada pahala dan larangan yang kan berujung pada dosa. Surga dan neraka, entah apa benaran ada kedua tempat itu atau hanya sebagai akal busuk manusia yang tak sudi menerima kematian. Agama ada karena keegoisan manusia dalam mengartikan kebenaran setelah kematian. Tuhan pun bahkan ada karena over paranoid pikiran manusia dalam menanggapi kematian. Itu hanya sekedar hipotesa pikir alam imajinasi dari bongkahan kerangka otak.yang membuktikan sekiranya tiap manusia bisa berpikir walau tuk memikirkan Tuhan sekali pun. Kenali dan pikirkan bagaimana seharusnya manusia berhubungan dengan Tuhan, manusia dengan Tuhan, dan manusia dengan manusia.

Manusia dan manusia takkan berakhir kala memperbincangkan tentang Tuhan, ditambah dengan alur pikir tiap manusia dan kepekaan rasa manusia yang tentunya berbeda dari manusia satu dan lainnya. Maka itu manusia hendaknya menjadikan Tuhan dan berbagai macam dan bentuk nama dari Tuhan satu dan Tuhan yang lain sebagai milik spritual pribadi bukan untuk di gembar gemborkan ke penganut ajaran lain dengan tujuan tuk membuat mereka ikut serta di ajran yang kalian percayai. Tuhan sekiranya mengerti akan apa yang dikerjakan oleh umatnya. Dan Tuhan tak memiliki sifat yang manusiawi, dimana hidup serang manusia penuh dengan akal busuk, keegoisan, kemunafikan, keserakahan, dan rasa selalu ingin melakukan kebenaran secara berlebihan.

Ada seorang kawan yang semenjak hidupnya dihabiskan untuk menyembah Tuhan tanpa pernah mempelajari Tuhan dan ajaran agama yang dia peroleh itu dari mana, yang jelas dia dapat ajaran itu setelah menginjak bangku sekolah, dengan nama sekolah mewakili suatu ajaran agama tertentu. Nama kawanku satu ini Paijo.

Tiap harinya Paijo berangkat kesekolah dengan kitab ajaran agama yang senantiasa dibawa dalam ranselnya, namun tuk sekedar dipahami kata per kata dari kitab tersebut tak pernah dia lakukan, hanya sekedar membacanya dan kemudian menghafalkannya, dan tentunya setelah terlebih dahulu guru sekolahnya menanyakan padanya bahwa

“kepada seluruh siswa agar segera membuka kitab di halaman bla bla bla, di kitab ini musti kamu pelajari sendiri dengan baik baik dan besok sudah kamu hafalkan dengan fasih dan akan kamu demonstrasikan secara nyaring di depan kelas dihadapan teman temanmu yang lain… dan apabila salah satu dari kalian tidak mampu melakukannya dengan baik dan benar maka akan dapat hukuman bla bla bla dikarenakan kemalasan kalian untuk belajar…”.

Seketika saat mendapatkan tugas sedemikian rupa dari gurunya, Paijo yang bukannya niat dalam hati dan sanubari tuk ingin mempelajari agamanya agar bisa lebih kenal dengan kebaikan yang datang dari Tuhan mengenai cara hidup manusia yang seharusnya di muka bumi ini, malah lebih ke ketakutan berlebihan akan sesama manusia, antara guru dan murid, antara yang belajar dan yang diajar. Paijo dalam hati berkata

“baru aku tahu bahwa Tuhan itu benar benar ada dan sangat besar kekuasaannya diseluruh jagad raya ini, dan sekarang mulai kuragukan akan hal tersebut diatas bahwa sang guru sekolah sangat berkuasa akan diri saya, dan mampu membuat saya melakukan apa saja, dan ketika guru menanyakan atau menyuruh saya melakukan ini dan itu dan sebagainya, saya diwajibkan tanpa adanya jawaban lain selain mengiyakannya semua perkataannya, dikarenakan jawaban tidak kan berujung pada hukuman… dan dimana Tuhan saat saya mempelajari tentang Tuhan saat itu?”

Paijo pun dengan giat belajar tentang agama tanpa adanya bimbingan yang nyata dari guru guruna di sekolah yang namanya mewakili nama agama tertentu. Belajar tentang Tuhan seorang diri memang menyenangkan dan tak kenal kata batasan kata batin Paijo, ketimbang belajar agama dari guru. Hingga Paijo mempelajari sejarah mengenai berbagai macam pembunuhan massal terkenal di muka bumi ini yang hampir semuanya mengatas namakan ajaran agama dan nama Tuhan yang saling berbeda beda satu dan lainnya, tapi yang sama di antara kesemuanya agama itu adalah mereka mengatakan dengan lantang dan dengan ekspressi garang haus akan darah bahwa ajaran mereka yang paling benar dan nantinya akan masuk surga dan ajaran agama lain itu adalah salah dan sudah sepantasnya masuk neraka nantinya setelah kiamat datang dan tiap tetes darah ajaran agama lain akan memberikan pahala pada ajaran agama yang membunuhnya.

“betapa manusia sudah lebih hebat dari Tuhan itu sendiri menurut apa yang telah saya pelajari dari kitab. Manusia sudah mampu meramalkan kehidupan setelah kematian, dan meyakinkan dengan kobaran api panas menyalak bahwa penghuni surga dan neraka adalah ini dan itu. Dan bahwa saya pribadi tak yakin seutuhnya apakah surga dan neraka itu benar benar ada, bahkan kiamat itu sendiri hanya merupakan suatu kemerosotan alur pikir manusia yang semakin frustasi menghadai kematian…”

Paijo kemudian masuk ke bangku kuliahan yang membuat dia bisa lepas dari tekanan guru yang membabi buta memaksa dia mempelajari tentang agama yang terkadang malah sering bertolak belakang dari alur pikiran Paijo sendiri tanpa bisa dan boleh menanyakannya dan memperoleh jawaban yang lebih mampu menjernihkan pikiran Paijo.

Salah satunya waktu Paij menanyakan pada gurunya dan berujung pada di kelurkannya Paijo dari kelas dan tak boleh masuk kelas selama seminggu. Waktu pelajaran mengenai sabar dan Paijo menanyakannya beberapa pertanyaan pada gurunya

“pak guru mengapa manusia harus bersabar?”

“karna Tuhan suka pada hambanya yang sabar.”

“lantas kenapa kalau manusia tak bisa menahan kesabarannya?”

“akan di masukkan ke dalam neraka tentunya.”

“apa surga itu ada hanya untuk orang orang yang sabar?”

“benar sekali Paijo!!!”

dengan ekspressi mulai jengkel dengan pertanyaan pertanyaan lugu Paijo, pak guru mulai tak menghiraukan pertanyaan pertanyaan Paijo, padahal Paijo merasa sangat butuh untuk mengenal pelajaran yang dibawa oleh pak gurunya.

“pak….”

“cukup Paijo! Pertanyaanmu sudah ada dijelaskan dalam kitab, dan kamu tinggal membacanya, dan besoknya kamu tinggal lakukan, gampang kan!”

“tapi pak, bukannya orang sabar itu di sayang oleh Tuhan? Lantas kenapa bapak tak sedikit saja sabar menjelaskannya pada saya, yang juga masih murid bapak…” dengan ekspressi lugu anak kecil yang ingin pergi ke taman hiburan pasar malam.

Pak guru sedikit pun tak menghiraukan ucapan Paijo barusan, dan mukanya mulai memerah dikarenakan pernyataan Paijo didengarkan oleh murid murid seisi kelas, dan bahkan beberapa guru dan murid dikelas lainnya mendengarkan. Dan untuk meredamkan rasa malunya dia pun kembali meladeni rasa ingin tahu Paijo

“baiklah Paijo kalau begitu apa yang ingin kamu tanyakan?”

“begini pak, perjalanan perang manusia satu dengan lainnya yang beratas namakan agama sudah banyak menelan korba, dan saya yakin seyakin yakinnya bahwa tiap ajaran agama di muka bumi ini tak pernah menganjurkan tiap kaumnya untuk menghilangkan nyawa kaum ajaran lain. Bagaimana menurut bapak?”

“ah, tentu saja Paijo tiap agama tak pernah mengajarkan bahkan untuk membunuh sekali pun.”

“lantas apa yang terjadi di perang salib pak? Perang dunia? Semuanya mengatas namakan ajaran agama tertentu melakukan peperangan…”

“itu… mungkin dikarenakan ketamakan dan keserakahan manusia yang selalu ingin merasa paling benar…”

“lantas dimana nilai sabar itu sendiri pada diri manusia yang mengerti pengertian dari sabar? Dan apa mereka tahu bahwa orang sabar itu disayang Tuhan?”

“aku tak punya pendapat untuk pertanyaan seperti itu Paijo…”

“baik pak, kalau para musisi yang sudah jelas menyatakan bahwa mereka seorang penganut atheis namun selalu membawa pesan perdamaian untuk sesama umat manusia tanpa memandang manusia itu siapa, dan pertanyaannya adalah apakah mereka akan masuk surga atau neraka?”

“…”

“dan pula kalau orang yang berperang mengatas namakan agama akan masuk surga ketika mereka mati dalam medan perang tersebut? Dan sebelum mereka mati tentu saja mereka sudah membunuh sekian banyak orang dari agama lain pada perang tersebut…”

“hmmm… lebih baik kamu keluar dari kelas ini sekarang juga Paijo! Dan untuk seminggu dari sekarang kamu boleh tak masuk dalam kelas saya, seminggu itu kamu lakukan intrpeksi pikiran kamu yang mulai kacau… silahkan keluar sekarang juga!”

Paijo yang tak tahu menahu akan kesalahan apa yang dia buat membuatnya tertekan dan terus mengiang beribu pertanyaan dalam pikirannya, hingga sampai satu kesimpulan bahwa… bahwa agama itu sebenarnya tak pernah ada, dan manusia lah yang membuatnya, apa pula guna agama apabila hanya sebagai pelampiasan nafsu keduniawian?

Hari demi hari berganti dengan kesibukan baru yang diemban oleh Paijo, yaitu mempelajari tiap ajaran agama, tak perlu tahu agama itu agama apa…

Satu keyakinan dalam benak Paijo setelah mempelajari tiap agama yang mendominasi di muka bumi ini hanya punya dua tujuan sama dan tak ada bedanya yaitu berbuat baik sesama manusia dan hubungan baik dengan Tuhan.

Tuhan lebih bersifat pribadi untuk jiwa manusia kata hati Paijo...

Sunday, September 27, 2009

"Blind Bird"

Asalamulekum...





Shining sun rising behind the hill,
Blurring out view when sun set hide away on the blue seas...

Clouded coat of the darkness,
Followed the moon with thousand little stars smiling around...

How wonderful the world,
Cheated shine by the sun in the morning,
Sun go down when the night has come...

How wonderful the world,
How fortune enough the eyes...

How pity that blind bird,
They can feel the world by flying crossing through the sky,
Find fabulous place that only them able to seeing,
Spread their wings fly away to the somewhere...

But...

Without an eyes of blind bird,
how does it feel...

Kantin Pojok, May 09



Walekumsalam...

Saturday, September 19, 2009

Timang Timang Anak Bunda

Asalamulekum...


Timang Timang Anak Bunda

Ku senantiasa elu elukan usapan lembut jemarimu kala menggerayangi sekujur tubuhku dengan penuh limpangan kasih sayang...

Ku sesaat terlelap dalam hangat pelukmu tersimpuhku dalam indahnya mimpi mimpi yang kau ceritakan hingga malam datang berganti pagi menjelang...

Timang timang anak Bunda... Lantunanmu penuh kegemasan saat itu...

Tiada kata dinginnya malam menusuk tiap pori porimu, pula terik matahari yang luar biasanya menyengat, namun dirimu Bunda tetap setia ada menemaniku dengan penuh rasa haru bahagia...

Timang timang anak Bunda... Kala ku mulai merengek manja padamu...

Kini anakmu telah beranjak merangkak menelusuri selur belur keadaan sekitar tuk menuangnya kedalam ember pikiran...
Bunda tersenyum mengarahkan dengan senyuman dan hangatnya belaian...

Timang timang anak Bunda... Kini mulai jarang kudengar...

Kedewasaan hendak anakmu gapai lewat perantauan meninggalkan teduh naungan atap rumah...
Bunda seakan tahu nantinya anakmu kan beranjak jua, dan doa Bunda pun seakan tameng pelindung tiap langkah...

Timang timang anak Bunda... Kini samar terdengar dari kejauhan...

Sepanjang galah tak ada kata henti hingga terpampang nyata sebuah mimpi didepan mata ini...
Cinta anakmu pada Bunda pun begitu besarnya dan tak terukur hingga akhir hayat nanti...

Jogja, 15 September 09

Seorang anak bodoh perantauan dengan Bunda-nya...
Miss You So Mom...


Walekumsalam...

Sunday, September 13, 2009

Light on My Cigarette

Light on My Cigarette

On the holly's night, behind mango's tree,
One of butterfly rolling my scared face...

Sometimes I hope the name of death doesnt come on busy time,
Dispute we know holidays is the best time to die...

Before sun go down and before sun arise...

Pray for the past, wish for the brightness come on the present, and unknowing thought suddenly come...

On the lights of my cigarette...

Feel like life without home...

My best friend to share on my side called a coup of coffee...

Hmmm... Wonderful time on peace...

I dont need something else...

I guess it could be disturb me...

And here at this moment still waiting a die call my life...

(Jogja, Feb, 09)

Tuesday, September 01, 2009

Nampak Sepi dan Gelap

Asalamulekum...





Mentari terik mencekik ragaku kala hendak kuberanjak dari kasur nan tak empuk ini, suasana jelang siang ini sangat mendukung dengan yel yel ‘kembalilah tidur’ mengiang ngiang tanpa hentik disekitar daun telingaku.

“sudahlah Iblis, kutahu kau ingin menggodaku dengan bujuk rayumu yang telah terkenal seantero jagad itu. Namun ku tak ingin diperintah oleh makhluk yang tahu apa sebenarnya ada atau ada hanya karena phobia takut manusia terhadap Tuhan, maka adalah dirimu”

Suasana hening tanpa ada seorang pun dalam kamar ini membuat otakku tak normal lagi tuk berfikir, hingga sesumbar kata mirip teriakan ku ucapkan.

“Iblis, sejarah mengatakan bahwa kau berhasil merayu Adam dan Hawa hingga mereka di usir dari keabadian Surga, dan dilempar ke bumi, tempat dimana manusia berada sekarang dengan beribu tingkah mirip binatang”

Sejenak hening kembali datang. Tanpa suara.

“Iblis, kenapa kau tak mau sekedar hanya bertukar sapa denganku?”

Tak ada suara yang membalas sapaku, lampu yang menyala dalam kamar sedari tadi malam ku padamkan. Tirai gorden kamar kutup rapat, tak ingin ku diganggu sinar busuk mentari sialan itu. Ku benci matahari yang membuatku kehausan dan panas yang tak terkira. Mentari pun masih mencoba menembus tirai gorden seperti mengintipku dalam diam tanpa kata. Handuk dan beberapa pakaian tebal kekeluarkan dari dalam lemari tuk menutup tiap cahaya mentari yang masih saja tak mau mengalah masuk kedalam kamar. Dan suasana kamarku kembali larut dalam kegelapan. Senyum pun kukembang.

Malam kelam dan gelap sangat membuatku bahagia, tak ada kebisingan kendaraan saling berpacu, tak ada jerit kondektur bus teriak teriak mencari penumpang, dan tak ada manusia yang keluar rumah sekedar tuk beranjak menuntaskan aktifitas serba formal yang itu itu saja dan begitu sangat membosankan.

Tak adakah malam abadi dibagian bumi ini?

Tak adakah sinar hangat rembulan yang tak mati kala mentari datang jelang pagi?

“hahahah, anjing mana ada” teriakku

Kemana semua kawanku saat ini, ku ingin bercerita. Hanya ingin bercerita tuk mengurangi rasa sepi yang menajalar ke sekujur tubuhku, mengalir dalam tiap desir darahku. Hingga membuatku ketagihan tiap saat, dan tak ingin menjauh darinya. Kegelapan hari hari dan kenangan lalu semakin memperpedih langkah ini tuk melangkah, terutama kala mentari bersinar.


(Jogja, Ulang Tahunku ke 21 untuk semua Temanku)

Walekumsalam...