Monday, April 25, 2022

Aku Dan Popok

Telah hilang, pergi menjauh ke entah apa namanya?

Hakikat kebahagiaan kah atau mimpi buruk yang menjadi nyata. 

Bau pesing dalam popok itu menjadi kawan, kawan yang sejatinya menjadi lintah dalam otak agar mau bernegosiasi dengan kehidupan.

Apalah itu berkembang, kala perasaanmu di lumuri dengan kemonotonan akan bising kendaraan di jalan.

Apa lagi itu wawasan dan ilmu pengetahuan, kalah langkahmu tak lagi jauh dan keberadaanmu pun tak diinginkan.

Makassar, Subuh hari dibulan Puasa

Monday, February 20, 2017

Mata Tertutup

Jadi sederhananya begitu, hidup lebih mudah jika dihadapi dengan mata tertutup dan buang otak jauh-jauh ke tempat sampah. Bahkan untuk berbicara dengan anjing musti meniru gaya dan cara berbicara anjing, untuk menghadapi bajingan musti berbicara dan bertindak layaknya bajingan, menjadi bunglon atau pun amfibi, beradaptasi dan lambat laun menjadi ahli, itupun jika ditekuni dan tidak malas.

Sebutlah pragmatis, oportunis atau mungkin jadi apatis sekalian, biar otak tak terlalu banyak pikiran, biar hati tak terlalu banyak menampung beban, maklum katanya otak itu sumber semua penyakit yang menyerang tubuh.

Jadi katanya hidup itu pilihan, memilih baik atau buruk, bahkan tidak memilih pun termasuk pilihan, menjadi bijak maka akan menjadi minoritas yang terkucilkan.

20|02|2017 07:49

Friday, January 06, 2017

Karena

Hanya karena kau tidak tahu,
Bukan berarti itu salah,
Hanya karena kau tahu sedikit,
Belum berarti itu benar,
Kadang hanya karena cara pandang berbeda,
Berbeda karena ilmu yang diserap hanya setengah,
Digali dan ditelusuri lebih dalam biar tahu,
Kalau baik untuk sesama itu benar,
Dan buruk untuk sesama itu salah,
Setidaknya setiap hal pasti ada alasannya,
Mengapa, apa, bagaimana, siapa, dan dimana...

06|01|2016 11:34

Tuesday, December 27, 2016

Mengalir

Biarkan mengalir katanya,
Dari mata air di pegunungan hingga ke lautan,
Mengalir hingga tak terlihat,
Mengalir membaur hingga menghilang,
Dari tawar jernih bening,
Menjadi asam dan tersesat tak tahu jalan pulang...

Ketika tak mengikuti alur maka kau kan di cap gila,
Mempermalukan asal usul dan nama sekolah,
Perlahan kawan berubah lawan,
Menjadi momok yang tak lagi dipandang selayak manusia,
Padahal kata gila hanya ungkapan,
Ketika jauh dari kata normal,
Normal yang mana semua harus sama dan seragam...

Jika semua hanya mengikut,
Seperti bebek yang penurut,
Apa guna ilmu banyak,
Buku demi buku kau lahap rakus,
Diskusi dan tukar ide kau ikut serta,
Berkarya pun tak pernah kau lupa,
Tapi itu dulu,
Apalah di ujung cerita pun hanya jadi pengikut...


27|12|2016 16:53

Thursday, December 15, 2016

Rakyat

Jadilah kata-kata yang diri sendiri tak mengerti pun dikeluarkan,
Dihambur-hamburkan bak butiran tahi kambing ditabur di tanaman,
Belajar dialektika katanya,
Baca buku pun baru satu dua puluh,
Belajar sarkas katanya,
Mulut tak selaras dengan kapabilitas otak,

Ah merongronglah para komentator,
Tahu sedikit sudah mengaku sebukit,
Padi menguning siap panen pun menunduk,
Banyak tahu balaga filsuf,
Si badut Socrates pernah bilang,
"Satu hal yang aku tahu bahwa aku tak tahu apa-apa",

Politik itu selayaknya jamban,
Agak penuh ambisi dalam perut,
Serta pantat sebelah kanan kegatalan,
Apapun dipertaruhkan,
Si kemayu Machiavelli bilang,
"Tak ada moral dalam berpolitik",

Rakyat adalah kekuatan,
Semenjak kata pemerintahan dibuat,
Jika rakyat masih bodoh dan gampang dibodohi,
Tirani akan terus beranak-pianak...

15|12|1016

Tuesday, November 22, 2016

Cinta

Kenapa kita lebih senang membagikan kebencian dan kesedihan ketimbang cinta dan kebahagiaan?

Satu membagi benci maka yang lain yang tidak tahu apa-apa ikut membenci,
Yang tak tahu ikut percaya tanpa mau tahu kebenaran seperti apa,
Awalnya hanya satu orang saja, menyebar benih yang dipupuk dengan sedikit kebodohan,
Lebih banyak, semakin banyak kebencian dimana-mana...

Ini zaman apa?
Digital memberi makan terlalu banyak informasi,
Semua yang lapar tanpa pikir langsung makan sana sini,
Buku-buku dan kebaikan ditanggalkan,
Pakaian dan warna kembali dibeda-bedakan,
Manusia dipetak-petakkan berdasar keyakinan...

Kebijakan ada dimana?
Mengapa tak hanya cinta saja yang dibagi?
Tak usah berlebihan,
Tak menyebar benci maka benci tak akan berkembang,
Diam bukan berarti tak peduli atau tak mendukung,
Bentuk keprihatin paling dalam adalah diam, seperti orang berkabung...

Cinta sudah mati, manusia yang membunuhnya.

22|11|2016, 09:47

Wednesday, November 02, 2016

Post Materialism

Dimana-mana,
Mereka terlihat saling bertukar pendapat tentang apa yang dibeli dan bukan apa yang dibuat,
Disana-sini,
Tanpa malu saling pamer apa yang dibeli dan bukan apa yang dibuat,
Apa mau dikata,
Suara dan hak pun diperjual-belikan sekarang,
Ah uang,
Kau bikin buta manusia,
Tak hanya buta,
Otak pun kau hilangkan,
Ah pemalas,
Bahkan mereka membeli kebahagiaan lewat apa yang mereka kenakan,
Pakaian, perhiasan, aksesoris dan kawan-kawannya mampu membuat hati mereka senang,
Ah kebahagiaan,
Ternyata hanya materi...

02/11/2016 12:53

Tuesday, November 01, 2016

Pemimpin Memuakkan

Rasa muak melihat badut-badut di ibukota,
Berlenggak-lenggok bak raja,
Gila harta gila kuasa,
Itu lihat di semua media,
Semacam tahi saja,
Dari jauh tercium baunya,
Semacam lihat orang berak saja,
Keserakahan tampak dari raut wajahnya,
Peraturan ini itu dibuat untuk mengatur rakyat katanya,
Untuk kesejahteraan rakyat katanya,
Katanya,
Kata nya,
Ternyata,
Rakyat pun mulai terbiasa,
Semua bohong ini bohong itu pun dipercaya,
Heboh publish ini share itu dimana-mana,
Ah mending semua tidur saja,
Jangan coblos mereka,
Biar para pemimpin tahu dan tak lagi jumawa,
Kalau tak ada pencoblos mereka cuma tahi belaka...

01/11/2016

Sunday, October 16, 2016

Negeri ku

Ini dia lucunya negeriku, punya 5 pulau besar dan sekitar 27.000 pulau kecil bertebaran dari barat hingga ke timur, sekitar 300 lebih budaya menghiasi keanekaragaman negeri ini, ada 150 gunung berapi aktif yang siap menyuburkan negeri kapan saja mereka mau. Namun selain pemimpinnya yang bodoh, jajaran mentri dan pejabat negeri pun saling membantu memperkaya diri sendiri lewat tingkah korup dan sok keraja-rajaan. Semua siaran televisi hanya menyiarkan seputar satu pulau saja, mau itu tetek bengek politik lah, budaya lah, ribuan artis goblok lah, macet dan harga sembako lah, dan lain lain blablabla. Padahal ini negeri punya kurang lebih 27.000 pulau, pemimpinnya pun berganti-gantian berasal dari satu pulau itu saja, dari pulau lain seolah dipersulit untuk sesekali berunjuk gigi. Bahasa negeriku pun diambil dari satu serapan saja, serapan pulau itu saja tentunya, bahasa kan penyambung budaya satu dan lainnya, ingat ada 300 lebih budaya berbeda.

Aduh negeriku yang tercinta, kerap kau pertanyakan tentang nasionalisme pada rakyatmu, nasionalisme omong kosong, di negeri ini takkan mungkin ada nasionalisme. Mungkin bakal ada sikap nasionalisme kalau negeri ini dipecah saja, tiap pulau merdeka dan keluar dari kekangan satu pulau yang berkuasa. Mungkin bakal ada sikap nasionalisme kalau kurikulum yang dipaksa untuk diserap dari ujung barat hingga ujung timur dihilangkan dan diganti dengan kurikulum yang sepenuhnya membahas seputar pulau-pulau mereka saja. Mungkin yah mungkin.

Undang-undang dan hukum negeri ini warisan barat, dimana barat tak jelas budaya mereka berasal dari mana, dimana barat dari jaman dahulu senangnya menjajah, dimana barat yah kebarat-baratan. Jadi terlalu banyak pertanyaan seputar barat yang tak jelas yang perlu dinalar dicari tahu jawabannya. Apa susah membuat undang-undang dan hukum sendiri? Apa masih kurang sarjana dan orang pintar negeri ini yang bisa bersatu membuat negeri ini berkembang dan menghindar dari kebobrokan pemimpin dan kebodohan yang merajalela?

Ah negeriku...


Samping tempat sampah, 16 Oktober 2016, 11:28

Monday, August 22, 2016

28

28...
Just getting married 114 days ago,
Waiting alone and counting second to second,
No candle, cake and gift,
What i'm looking for in life?
How much achievment that i have?
I dont know...

Turn off the light,
See me on the mirror,
Looking fat,
With beard and moustache,
Still waiting...

Silently... Then those mosquito start to talk,

"Its all about me" they said

"And nobody care..." I said

"Its alfoght..."

Friday, April 01, 2016

Ilusi

Kebenaran sejati itu tidak pernah ada kawan, yang ada hanya manipulasi kenyataan, hingga lewat perspektif dan cara pandang orang terdahulu maka lahirlah kata kebenaran, kebenaran hanyalah kata, kata-kata yg tertulis ataupun terlisan dari orang terdahulu tetap saja tak lebih dari sebongkah kata-kata. Mau itu kitab Tuhan lah yg dimana "dijanjikan" setelah kematian, mau itu filsafat atau buku2 apapun namanya tetap saja hanya kata-kata. Dan dimana kebenaran katamu? Kebenaran ada di kematian.


Jogja sumuk, 1 April 2016, 20:41

Wednesday, March 30, 2016

Post Liberal

Kau berlindung pada agama yg banyak massa nya, berharap pada Tuhan agar senantiasa dilindungi,  diberkahi langkahmu, rela mati demi ajarannya, surga yg cuma dongengan jadi tujuanmu, ah kau cuma si tengik anak kemarin sore. Bagaimana kalau kau sendirian? Berkoar-koar soal kebenaran layaknya anjing tanpa kepala pada segala macam mayoritas, sekarang minoritas kau sepelekan dan kau salahkan, hey kutu kupret penggemar komik ambil kaca dan lihat dirimu disana, lihat yg buruk lebih banyak dari yg baik, perhatikan kalau hidup damai tanpa musuh itu yg semua makhluk hidup inginkan...

Jogja mendung, 30 Maret 2016, 13:15

Saturday, February 06, 2016

Judge

Kebanyakan sih langsung judge, sekali berkata ini langsung judge, sekali berbuat ini langsung judge, yang bodoh melongok kepo karna kok ramai banyak yang ngejudge akhirnya ikutan ngejudge tanpa mau tahu yang dijudge apaan. Turun tanganlah para ahli judge yang sedari dulu sudah jago menjudge, beretorika dan membuat teori bualan seputar judge-judgean. Media ikut-ikutan menjudge demi pasar dan rating. Duh, otak kemana? Hati kemana? Tak tahu yang di judge itu perasaannya gimana apa? Bagaimana kalau kau yang di judge? Bagaimana kalau kau urus diri sendiri dulu yang tentu masih banyak yang perlu diperbaiki, semacam bercermin. Toh tak ada manusia yang tak pernah salah, memang agak panjang kalau mau di tindak lanjut, akan muncul banyak opini dan komentar blah blah blah, tapi tolong diam saja, kan katanya diam itu emas? Atau mungkin sudah ganti. Ah... Badut butuh piknik...

Sunday, January 31, 2016

Dusta

Ya ketika mengungkit kata kemungkinan, apalah daya nihilisme yg berujung bunuh diri akan menyeruak, menjadikan nyata tak lebih dari lelucon pasarmalam, bahkan anjing urban hanyalah kekonyolan pengais sampah restauran cepat saji, ah kau retorika menjanjikan wacana...


Jogja baks, 31 Januari 2016, 23:18

Tuesday, January 12, 2016

Money

Its all about money,
Fucking money?
All those bullshit role,
All of the greedy asshole,
So wheres God here?
Wheres Religion here?
Fucking money is your God,
Fucking money is your Religion,
Case closed.

Good bye my love.

Jogja, 12 January 2016, 14:29

Tuesday, September 08, 2015

Parasite

Quite people have the loudest mind,
Judge as a dumb because they always silent,
People on his time make boundaries,
Faraway because they can't understand,
Those old people watching around,
Trying make sense of their existence,
Until the time showed up,
He assumed all the people to shut up,
In time people changing,
Too late to realize,
When there's no more trust left,
When pathetic life become parasite,
In the end,
Don't criticize what you can't understand...

Jogja, September 8th, 2015, 14:13

Wednesday, August 26, 2015

Tanah

Telah kujajaki, kulahkahi dengan kakiku sendiri, tanpa alas biar jelas rasanya.
Terasa semua, seolah benakku dibanting, terjerembab menuju tempat apa namanya.
Kemana lagi sekarang?
Di bermacam puncak gunung, kuteriak dan bercerita pada pepohonan serta ilalang, tentang rasa dan tetek bengeknya.
Di pantai aku tiduran di pasir, menatap lembut sang mentari, mendengar lirih sunyi sang ombak, tertegun tak tahu akan seperti apa selanjutnya.

Solo, 26 August 2015

3 hari setelah ulang tahun ke 27

Monday, July 13, 2015

Batu

Banyaknya kata menuai tanya,
Sekenanya tanpa jawab,
Hendak berbuat apa tak di gubrisnya,
Batu tak pernah melunak,
Tiga malam berlalu,
Diam itu membingungkan,
Entah apa maunya,
Semua disalahkan,
Cermin ada dimana-mana,
Sesekali lihat diri sendiri,
Mungkin salah tak kemana...

Angin membelai daun di pepohonan,
Tak pernah lupa...

Wednesday, June 24, 2015

Karena

Karena hujan maka mendung ada memberi tanda.
Kamu akan pergi setelah berdua kita mengikat janji, menabuh mimpi, semua bersama kita untai kala musim tengah bersemi.
Karena bulan dan bintang menyinari.
Aku disini tak tahu menunggu apa, semua terasa hampa, tak ada tanda jawaban dari tiap tanya, tangan tak henti menengadah meminta, namun tak kunjung datang penghibur asa.

Thursday, June 04, 2015

Rindu Pantai

Kau bernyanyi, mengikut irama ombak ditepi pantai.
Kau menari, kala bulan purnama terang menyinari.
Aku termenung, melihat wajahmu tetiba murung.
Meratapi masa lalu yang suram, mengimaji masa depan yang kian kelam.
Tenggelam dalam fana, gaya hidup modern yang serba instan, dan manusia yang lupa kebaikan.
"apalah daya hati ingin berontak, namun kosong tanpa makna isi otak." teriakmu pada karang.
"ah dialektika, tak sudikah kau tadah air ditelapak tanganmu dan bercermin? Lihat apa yang telah kau perbuat, kau penuhi sekitar dengan cacian."
Tak ada lagi bunyi, semua diam serempak, bahkan sepoi angin tak lagi membelai rumput dan ilalang.
Kita berjalan pulang, tanpa kata...

Rindu pantai.
Toraja, 4 Juni 2015, 18:03