Sunday, October 16, 2016

Negeri ku

Ini dia lucunya negeriku, punya 5 pulau besar dan sekitar 27.000 pulau kecil bertebaran dari barat hingga ke timur, sekitar 300 lebih budaya menghiasi keanekaragaman negeri ini, ada 150 gunung berapi aktif yang siap menyuburkan negeri kapan saja mereka mau. Namun selain pemimpinnya yang bodoh, jajaran mentri dan pejabat negeri pun saling membantu memperkaya diri sendiri lewat tingkah korup dan sok keraja-rajaan. Semua siaran televisi hanya menyiarkan seputar satu pulau saja, mau itu tetek bengek politik lah, budaya lah, ribuan artis goblok lah, macet dan harga sembako lah, dan lain lain blablabla. Padahal ini negeri punya kurang lebih 27.000 pulau, pemimpinnya pun berganti-gantian berasal dari satu pulau itu saja, dari pulau lain seolah dipersulit untuk sesekali berunjuk gigi. Bahasa negeriku pun diambil dari satu serapan saja, serapan pulau itu saja tentunya, bahasa kan penyambung budaya satu dan lainnya, ingat ada 300 lebih budaya berbeda.

Aduh negeriku yang tercinta, kerap kau pertanyakan tentang nasionalisme pada rakyatmu, nasionalisme omong kosong, di negeri ini takkan mungkin ada nasionalisme. Mungkin bakal ada sikap nasionalisme kalau negeri ini dipecah saja, tiap pulau merdeka dan keluar dari kekangan satu pulau yang berkuasa. Mungkin bakal ada sikap nasionalisme kalau kurikulum yang dipaksa untuk diserap dari ujung barat hingga ujung timur dihilangkan dan diganti dengan kurikulum yang sepenuhnya membahas seputar pulau-pulau mereka saja. Mungkin yah mungkin.

Undang-undang dan hukum negeri ini warisan barat, dimana barat tak jelas budaya mereka berasal dari mana, dimana barat dari jaman dahulu senangnya menjajah, dimana barat yah kebarat-baratan. Jadi terlalu banyak pertanyaan seputar barat yang tak jelas yang perlu dinalar dicari tahu jawabannya. Apa susah membuat undang-undang dan hukum sendiri? Apa masih kurang sarjana dan orang pintar negeri ini yang bisa bersatu membuat negeri ini berkembang dan menghindar dari kebobrokan pemimpin dan kebodohan yang merajalela?

Ah negeriku...


Samping tempat sampah, 16 Oktober 2016, 11:28

Monday, August 22, 2016

28

28...
Just getting married 114 days ago,
Waiting alone and counting second to second,
No candle, cake and gift,
What i'm looking for in life?
How much achievment that i have?
I dont know...

Turn off the light,
See me on the mirror,
Looking fat,
With beard and moustache,
Still waiting...

Silently... Then those mosquito start to talk,

"Its all about me" they said

"And nobody care..." I said

"Its alfoght..."

Friday, April 01, 2016

Ilusi

Kebenaran sejati itu tidak pernah ada kawan, yang ada hanya manipulasi kenyataan, hingga lewat perspektif dan cara pandang orang terdahulu maka lahirlah kata kebenaran, kebenaran hanyalah kata, kata-kata yg tertulis ataupun terlisan dari orang terdahulu tetap saja tak lebih dari sebongkah kata-kata. Mau itu kitab Tuhan lah yg dimana "dijanjikan" setelah kematian, mau itu filsafat atau buku2 apapun namanya tetap saja hanya kata-kata. Dan dimana kebenaran katamu? Kebenaran ada di kematian.


Jogja sumuk, 1 April 2016, 20:41

Wednesday, March 30, 2016

Post Liberal

Kau berlindung pada agama yg banyak massa nya, berharap pada Tuhan agar senantiasa dilindungi,  diberkahi langkahmu, rela mati demi ajarannya, surga yg cuma dongengan jadi tujuanmu, ah kau cuma si tengik anak kemarin sore. Bagaimana kalau kau sendirian? Berkoar-koar soal kebenaran layaknya anjing tanpa kepala pada segala macam mayoritas, sekarang minoritas kau sepelekan dan kau salahkan, hey kutu kupret penggemar komik ambil kaca dan lihat dirimu disana, lihat yg buruk lebih banyak dari yg baik, perhatikan kalau hidup damai tanpa musuh itu yg semua makhluk hidup inginkan...

Jogja mendung, 30 Maret 2016, 13:15

Saturday, February 06, 2016

Judge

Kebanyakan sih langsung judge, sekali berkata ini langsung judge, sekali berbuat ini langsung judge, yang bodoh melongok kepo karna kok ramai banyak yang ngejudge akhirnya ikutan ngejudge tanpa mau tahu yang dijudge apaan. Turun tanganlah para ahli judge yang sedari dulu sudah jago menjudge, beretorika dan membuat teori bualan seputar judge-judgean. Media ikut-ikutan menjudge demi pasar dan rating. Duh, otak kemana? Hati kemana? Tak tahu yang di judge itu perasaannya gimana apa? Bagaimana kalau kau yang di judge? Bagaimana kalau kau urus diri sendiri dulu yang tentu masih banyak yang perlu diperbaiki, semacam bercermin. Toh tak ada manusia yang tak pernah salah, memang agak panjang kalau mau di tindak lanjut, akan muncul banyak opini dan komentar blah blah blah, tapi tolong diam saja, kan katanya diam itu emas? Atau mungkin sudah ganti. Ah... Badut butuh piknik...

Sunday, January 31, 2016

Dusta

Ya ketika mengungkit kata kemungkinan, apalah daya nihilisme yg berujung bunuh diri akan menyeruak, menjadikan nyata tak lebih dari lelucon pasarmalam, bahkan anjing urban hanyalah kekonyolan pengais sampah restauran cepat saji, ah kau retorika menjanjikan wacana...


Jogja baks, 31 Januari 2016, 23:18

Tuesday, January 12, 2016

Money

Its all about money,
Fucking money?
All those bullshit role,
All of the greedy asshole,
So wheres God here?
Wheres Religion here?
Fucking money is your God,
Fucking money is your Religion,
Case closed.

Good bye my love.

Jogja, 12 January 2016, 14:29

Tuesday, September 08, 2015

Parasite

Quite people have the loudest mind,
Judge as a dumb because they always silent,
People on his time make boundaries,
Faraway because they can't understand,
Those old people watching around,
Trying make sense of their existence,
Until the time showed up,
He assumed all the people to shut up,
In time people changing,
Too late to realize,
When there's no more trust left,
When pathetic life become parasite,
In the end,
Don't criticize what you can't understand...

Jogja, September 8th, 2015, 14:13

Wednesday, August 26, 2015

Tanah

Telah kujajaki, kulahkahi dengan kakiku sendiri, tanpa alas biar jelas rasanya.
Terasa semua, seolah benakku dibanting, terjerembab menuju tempat apa namanya.
Kemana lagi sekarang?
Di bermacam puncak gunung, kuteriak dan bercerita pada pepohonan serta ilalang, tentang rasa dan tetek bengeknya.
Di pantai aku tiduran di pasir, menatap lembut sang mentari, mendengar lirih sunyi sang ombak, tertegun tak tahu akan seperti apa selanjutnya.

Solo, 26 August 2015

3 hari setelah ulang tahun ke 27

Monday, July 13, 2015

Batu

Banyaknya kata menuai tanya,
Sekenanya tanpa jawab,
Hendak berbuat apa tak di gubrisnya,
Batu tak pernah melunak,
Tiga malam berlalu,
Diam itu membingungkan,
Entah apa maunya,
Semua disalahkan,
Cermin ada dimana-mana,
Sesekali lihat diri sendiri,
Mungkin salah tak kemana...

Angin membelai daun di pepohonan,
Tak pernah lupa...